Jumat, 23 Maret 2012

Kurva Phillips


Masih pada ingat kurva Philips kan? Kurva Philips adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dengan tingkat inflasi di sebuah negara. Menurut Kurva Philips, hubungan keduanya adalah berbanding negatif. Jadi ketika inflasi naik, maka pengangguran turun. Dan ketika inflasi turun, maka pengangguran naik jumlahnya. Kedua poin dalam makroekonomi ini menjadi pilihan yang begitu rumit.

Kita ingin menurunkan inflasi, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Kita ingin mengurangi pengangguran, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Lalu? Pilih yang mana dong?

Tiap negara punya prioritasnya masing-masing (sebab pola kurva phillips tiap negara juga berbeda-beda), meskipun kedua hal ini (inflasi maupun pengangguran) sama-sama penting. Mau contoh?

Indonesia: Inflation Targetting

Indonesia. Ya, negara kita ini cenderung memilih mengatur inflasi ketimbang pengangguran. That's why setiap tahunnya pemerintah kita lebih gencar mengumumkan target inflasi tahun depan. Dan di akhir periode pula, keberhasilan perekonomian selalu diukur dengan tercapainya target inflasi atau tidak. Belum pernah saya mendengar kehebohan pemerintah kita mengumumkan target pengurangan tingkat pengangguran di awal tahun dan mengumumkan realisasinya di akhir tahun (meskipun laporan statistikanya memang ada). Mungkin pengangguran hanya sekedar data statistika yang urgensinya masih kalah jauh ketimbang inflasi.
Inflasi sebagai salah satu dinamika perekonomian adalah hal yang diprioritaskan pemerintah sebab dampaknya langsung terasa di masyarakat. Seperti itu yang sering kita dengar dan kita baca di berbagai media. Iya benar. Hal itu memang benar. Ketika inflasi tinggi, maka harga-harga barang yang tinggi akan menyebabkan masyakat kita semakin tercekik dengan sulitnya memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya. Singkatnya, inflasi dirasakan dalam jangka pendek dan memiliki efek langsung (direct effect).

Lalu, bagaimana dengan pengangguran? Pengangguran seringkali tidak menjadi prioritas utama sebab efek pengangguran tidaklah dirasakan langsung oleh masyarakat (indirect effect). Dampak yang ditimbulkan dari banyaknya pengangguran pun tidak dirasakan dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang. Walaupun demikian, jangan dianggap dampak dari melubernya pengangguran tidaklah dahsyat.


Islandia: Unemployment Targetting
Dari apa yang saya baca di buku The Geography of Bliss, saya menemukan kejutan bahwa Islandia, negara yang langitnya selalu hitam kelam di musim dingin, ternyata lebih memilih memprioritaskan mengurangi jumlah pengangguran ketimbang inflasi. Maka jangan heran dengan harga-harga yang mahal di Islandia.

Menyarikan dari apa yang ditulis oleh Eric Weiner, bagi mereka (warga Islandia), inflasi merupakan cubitan kolektif. Cubitan itu dirasakan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Sedangkan pengangguran adalah cubitan selektif. Cubitan yang hanya dirasakan oleh orang tertentu saja. Bagi mereka itu adalah sebuah ketidakadilan. Maka jangan heran, di Islandia, jika tingkat pengangguran mencapai 5%, itu dianggap skandal nasional dan presiden harus diturunkan.


Bagaimana dengan Indonesia? Apa jadinya ketika unemployment targetting dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah mengendalikan perekonomian setiap tahunnya? Mungkin nggak ada yang mau jadi presiden karena jumlah rakyat Indonesia ada ratusan juta (yang berarti bila ada 5% jumlah pengangguran, itu sudah termasuk dalam kategori sangat banyak). :D

(artikel juga dapat dilihat di halaman web Ekonom gila terbaru: http://ekonomgila.web.id/2012/03/23/kurva-phillips/)

***

Dya Ry

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

6 Komentar:

  1. topik yang bagus untuk disimak. saya sangat setuju sekali jika indonesia mencontoh islandia. namun metodeny harus diubah dengan tidak menurunkan inflasi. sebab faktor inflasi itu sangat komplikatif tidak hanya bisa di lihat dr 1 sisi saja. inilah yang menjadi soal yang harus dijawab dengan pemerintah dan tim nya " Bagaimana menurunkan tingkat pengangguran tanpa menurunkan inflasi??"

    BalasHapus
  2. ini atas ane gimana sih... baca yg bener. jelas-jelas kalo menurunkan pengangguran tidak akan menurunkan inflasi, justru menaikkan inflasi. tugas pemerintah yg bener tuh " bagaimana menurunkan pengangguran tanpa menaikkan inflasi?" kan berbanding terbalik...

    BalasHapus
  3. menarik artikelnya... (y)

    BalasHapus
  4. Terima kasih, sangat membantu

    BalasHapus
  5. Artikel ini sangat membantu. Yang saya bingung adalah ada satu kejadian di sejarah yang bahkan kurva phillips ini tidak tergambarkan. Kondisi itu adalah stagflasi, dimana tingkat inflasi yang berkembang tinggi disertai pengangguran yang tinggi. Kondisi ini tentu sangat menhhawatirkan bagi tiap negara. Kejadiam ini pernah dialami US pada masa 1970an, pada saat awal mula berkembangnya fiat money pengganti standar emas.

    BalasHapus
  6. Tapi untuk kasus krisis moneter 1998 kok malah inflasi berbanding positif dengan tingkat pengangguran ya ?

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...