Sabtu, 07 Juli 2012

Pendidikan Organisasi dan Mark Up

Oleh: Ardhi Hiang Sawak



Banyak menyarankan kalau nanti sudah kuliah, jangan lupa untuk ikutan berorganisasi. Karena IPK katanya hanya mengantarkan pada meja wawancara, tetapi nanti yang mengantarkan kita ke meja direktur, ya, pengalaman kamu dalam berinteraksi dengan orang. Memang, pendapat seperti ini tidaklah salah, malah bisa dikatakan benar. Karena banyak sekali pengalaman juga yang telah mengatakan demikian, bahkan ayahku saja berkata demikian, karena beliau juga punya pengalaman mengenai hal ini.

Nah, sekarang yang menjadi duduk persoalan adalah bagaimana budaya kita dalam mengatur organisasi mahasiswa tersebut ketika sudah kuliah dan memiliki organisasi yang diikuti. Banyak yang akan kita rasakan, mulai dari hal yang biasa sampai yang luar biasa. Berterima kasihlah pada pak dekan karena kita telah diizinkan untuk berorganisasi, terima kasih pak.
           
Dalam kehidupannya, para mahasiswa aktivis kampus akan juga dihadapkan dengan banyak kegiatan dalam proses manajemen, dari planning, organizing, budgeting, controlling, hingga evaluating. Dari sekian proses tersebut, para mahasiswa ini pasti akan dihadapkan kepada proses membuat anggaran. Jangan bayangkan membuat anggaran mahasiswa akan serumit dan sekonfrontatif pembuatan anggaran di ruang badan anggaran DPR RI, sebuah ruang keramat bagi kelangsungan hidup bangsa. Dijamin mahasiswa tidak akan dibuat terlalu pusing dan sekelumit itu, karena semangatnya kan untuk belajar, walau belajar tapi tetap harus menjaga nilai-nilai moral pastinya.

Mahasiswa dituntut untuk membuat anggaran sebaik mungkin demi terwujudnya sebuah program kerja yang baik dan sukses. Mereka diminta untuk memprediksi dan memperkirakan berapa uang yang akan dikucurkan demi berlangsungnya sebuah program. Para kakak seniornya akan mengajarkan bagaimana mereka untuk mendesain sebuah anggaran. Pertama, tentang cara untuk menyesuaikan ide dengan dana, lalu yang penting adalah bagaimana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, disini, pasti jurus dari gunung sebelah barat akan mengajarkan yang sering kita sebut dengan dana “Mark-Up”.

Risk averse adalah sebuah sikap yang diajarkan juga di mata kuliah manajemen, bagaimana sikap ini dalam menghindari yang namanya resiko. Lalu para senior akan mengajarkan kepada juniornya untuk membuat dana “mark-up” agar resiko yang tidak diharapkan bisa ditanggulangi dengan dana ini. Terdapat semangat yang mulia disini, untuk mengajarkan para aktivis muda agar selalu berhati-hati, tetapi berbahaya jika itu dilakukan dengan salah.

Banyak kasus yang saya temukan seperti melakukan mark-up terlalu tinggi. Padahal di manajemen kita diajarkan untuk melakukan budgeting seefektif mungkin dan serealistis mungkin, karena kita memiliki kendala, yakni dana. Hal ini bisa dikatakan sebagai siklus atau memang hanya kesengajaan dari pihak tertentu dalam melakukan anggaran. Bayangkan jika hal ini terus berlanjut sampai nanti mahasiswa tersebut beranjak dewasa dan duduk menjadi orang-orang penting. Mungkin sampai sekarang, kasus korupsi paling banyak adalah tentang pengadaan barang, ada hubungannya mungkin dengan praktek ini, tapi siapa sangka, tidak ada yang tahu bukan.

Sudah sewajarnya dan sepantasnyalah mahasiswa melakukan budgeting sesuai dengan kebutuhan, daripada nanti terdapat banyak uang terbuang karena mrak-up berlebihan dan sudah seharusnya semangat untuk efisiensi anggaran kita budayakan, mengingat tentang budaya efisiensi, barang siapa yang bisa efisien, ya cepat majunya. Toh, mahasiswa buat acara bukan untuk profit, tapi nilai apa yang harus ditanamkan pada acara-acara mahasiswa.



*** 

NB: Source pict: masternewsmedia.org

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...