Rabu, 01 Mei 2013

Migrasi Hati

Source Pict: Here
Oleh: Dyah Restyani

Di pembahasan mengenai ekonomi sumber daya manusia, ada tiga point yang menjadi fokus, yaitu persoalan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Ketiga hal ini sama pentingnya dalam mempengaruhi perekonomian suatu wilayah atau negara.

Di tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana migrasi dihubungkan dengan migrasi hati yang semu. Migrasi hati yang semu yaitu migrasi yang dilakukan karena dominan tertarik atau bahkan hanya tertarik pada hal-hal yang nampak bagus saja. Migrasi hati yang kerapkali menghiasi hubungan-hubungan antarmanusia.

Terkait migrasi, ada 2 penyebab utama seseorang melakukan migrasi, yakni:
1.      Daya tarik
Daya tarik sebuah kota atau negara lain seringkali menjadi alasan utama seseorang melakukan migrasi. Kota yang nampak lebih potensial, tampak lebih makmur dan penuh lapangan kerja tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja. Kota yang cepat tumbuh, birokrasinya baik, masyarakatnya terbuka, juga menjadi magnet kuat bagi para pengusaha untuk berbisnis di wilayah tersebut.

Seperti halnya daya tarik sebuah kota, setiap orang juga punya daya tarik tersendiri bagi orang lain. Seseorang (sebut saja si X) akan melakukan migrasi hati (baca: memutuskan hubungan lama dengan si Y dan membina hubungan baru dengan si Z) ketika hatinya tertarik pada individu Z. Daya tarik individu Z mungkin saja nampak begitu cocok dengan apa yang diinginkan si X, sehingga si X berani untuk melepaskan / meninggalkan Y begitu saja hanya untuk mengejar Z. Misalnya saja karena si Z lebih kaya, sering memberi aneka macam hadiah kepada X, juga selalu mengajak X jalan-jalan ke tempat-tempat mewah nan bergengsi.

2.      Daya dorong
Daya dorong mejadi faktor kedua yang menjadi alasan mengapa seseorang bermigrasi. Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong, yakni: a). Faktor ekonomi (berupa upah, kesempatan kerja, dan biaya hidup). Kurang mencukupinya upah, kurang tersedianya kesempatan kerja, serta biaya hidup yang tinggi di wilayah tempat tinggal seseorang seringkali menjadi faktor pendorong seseorang melakukan migrasi ke wilayah lain, ke wilayah yang kesempatan kerjanya lebih luas, upahnya lebih tinggi, dan biaya hidup yang terjangkau. Dikaitkan dengan migrasi hati, seseorang (X) berpindah hati ke dari Y ke Z karena Y miskin, tak pernah memberinya hadiah apa-apa, tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat bergengsi.

Selain faktor ekonomi, faktor kedua yang menjadi daya dorong seseorang bermigrasi adalah faktor sosial. Ketika seseorang merasa tak berguna, tak punya status sosial yang baik di tempat tinggalnya, maka besar kemungkinan ia akan bermigrasi ke tempat lain yang lebih terbuka dan lebih menerimanya. Jika dihubungkan dengan migrasi hati X, maka X berpindah hati ke Z karena di hubungannya yang sebelumnya (hubungan X dengan Y) tidak direstui keluarga Y. Begitu pula keluarga X yang amat sulit menerima Y karena alasan bibit bebet bobot yang tak jelas.

Faktor ketiga yang menjadi daya dorong migrasi yaitu faktor politik atau keamanan. Para penduduk yang berada di wilayah-wilayah perang, yang tak terjamin situasi keamanannya, tentu saja mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akan bermigrasi ke wilayah lain yang lebih aman. Sama halnya ketika X menjalani hubungan dengan Y, ketika ia kerapkali mendapatkan terror dari keluarga Y agar X menjauhi Y, maka mau tidak mau, X terpaksa harus memutuskan hubungan /  meninggalkan Y.


Brand Brain Migration = Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Selalu ada harga yang harus dibayar, baik oleh migran yang bermigrasi, maupun oleh wilayah yang menerima migran tersebut, serta wilayah yang ditinggalkan.

Bila SDM yang bermigrasi itu bermutu (berpendidikan tinggi dan punya high skill), maka wilayah baru yang dimasukinya akan mendapatkan manfaat sebab SDM yang baru masuk tersebut berpotensi menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya hubungan X, Y, dan Z. Ketika X ternyata adalah pasangan yang dapat melengkapi Z, maka hubungan keduanya akan menjadi simbiosis mutualisme.

Namun bila SDM yang bermigrasi itu kurang bermutu, maka SDM tersebut hanya akan menjadi beban bagi wilayah baru yang dimasukinya. Untuk contoh konkretnya, lihat saja Jakarta yang penuh seabrek manusia yang ‘rebutan’ oksigen. Hehehe. Okay, begitu pula untuk hubungan X dan Z. Jika ternyata X cuman bisa menguras kantong Z sedalam-dalamnya, maka X hanya menjadi beban dan berpotensi ‘ditendang’ dari kehidupan Z.

Migran yang bermigrasi hanya karena daya tarik suatu kota tanpa menghitung cost dan benefit kesesuaian kebutuhan kota itu dengan dirinya, biasanya setiba di kota tujuan hanya bingung tak tahu hendak melakukan apa, hingga akhirnya hanya menjadi beban tanggungan sebuah kota.

Namun jika migran bermigrasi karena daya dorong, biasanya dia akan lebih struggle karena kondisi di wilayah asalnya lebih buruk daripada kondisi wilayah yang baru didatanginya. Tapi hal ini juga tidak bisa dipastikan sebab kondisi setiap migran tentu saja berbeda-beda.

Jadi, untuk yang galau tingkat dewa dan ingin bermigrasi hati, silakan dihitung-hitung dulu cost dan benefitnya sebelum mewujudkan migrasi hati. Kalau di migrasi nyata, seseorang bisa saja datang dan pergi sesuka hati bolak balik ke kota A lalu ke kota B tanpa ada yang dikecewakan mendalam. Sedangkan untuk migrasi hati, selalu ada potensi akan ada yang’terluka’. :D

Semoga bermanfaat!...


---

Dya Ry

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

1 Komentar:

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...