Tampilkan postingan dengan label Dipta Dharmesti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dipta Dharmesti. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Mei 2013

Blackberry Suicide (?)


By: Dipta Darmesti

Two days ago I saw the business news and I was surprised: Research In Motion (RIM) made Blackberry Messenger (BBM) available for Apple and Android products. Whoa, what the h*ll are they thinking?


As a business graduate, I used to learn that a business has to keep their competitive advantage. Yes, then what is a "competitive advantage"? A simple explanation from me, competitive advantage is one thing that make people turn to you, not anyone else. 

Once a company has its competitive advantage, the consumers will go to that company to find what they need. In a business, there is also a core competence. It is like "what your business is mainly about?" What I have learned during my studies is never outsource your core competence, so you can control your own business.



Back to RIM case, I found that the decision is weird. It is like I saw Mr. Krab gives a krabby patty to his rival, Plankton. I remember that I bought a Blackberry phone because it has the BBM and most of my friends use it. So, it would be easier to communicate between us. The BBM thing made Blackberry phone exclusive since no other phones have BBM. The BBM has been RIM's competitive advantage. 

People buy the Blackberry phone because it has the BBM. Now, RIM will share their secret weapon to their rivals. What will happen to the phone sales? I guess Blackberry phone is committing suicide or cannibalized by the applications (apps), since Blackberry phone is "nothing" without BBM. As a customer, I would prefer Android phones if it provides BBM as well as Blackberry phones.


RIM has to be focus on its core competence, whether they want to offer the phone or the apps. By the decision, it seems like RIM switched into the apps business and they slowly kill the phone. In the BCG matrix system, the BBM apps would be the question mark and the phone is the dog, and had been the cash-cow before. 

Anyway it is just my opinion. RIM can choose its own business strategy. I hope they will not spill the milk. Let's see what will happen next, will the question mark be a star or be the dog instead.

Jumat, 29 Juni 2012

Ya atau Tidak?

Oleh: Dipta Dharmesti


Tanggal 8 Juni 2012 yang lalu, saya mempresentasikan hasil riset saya yang lagi-lagi tentang perilaku konsumen online di Roma, Italia. Secara spesifik temuan saya ini menyorot perilaku pembelian impulsif. Apa itu? Pembelian impulsif adalah pembelian yang tidak direncanakan, mendadak pengen beli barang itu, gara-gara lihat iklan dan didukung dengan mood yang bagus.


Kalau dianalogikan, penelitian saya ini cocok untuk orang yang sedangkepepet cari jodoh (tapi sebaiknya jangan ditiru, hehehe). Orang yang sedang cari pasangan biasanya melihat-lihat lingkungan sekitarnya. Lingkungan dalam penelitian saya adalah online, jadi browsing lah. Waktu browsing itu, orang akan melihat berbagai stimuli eksternal, entah itu gambar, foto, tulisan atau informasi, animasi, dan sebagainya. Stimuli tersebut berasal dari luar diri orang tersebut.



Di dalam dirinya, orang juga merasakan sesuatu. Salah satunya adalahmood yang sedang dirasakan sewaktu browsing. Entah itu "browsing" cewek atau cowok ya, hehehe :p


Dua faktor itu mempengaruhi keputusan orang untuk "beli atau tidak." Kalau cari jodoh, berarti "nembak atau nggak ya?" Sebelum mencapai keputusan itu, ada hal yang disebut consumption impulse. Apa pula itu? Consumption impulse adalah perasaan mendesak ingin memiliki, mendapatkan, atau mengkonsumsi sesuatu. Orang kalau berhasil mengatasi si consumption impulse, dia bisa batal beli, atau jawabannya "tidak." Cinta tak harus memiliki #eaaaaa... Tetapi kalau tidak bisa mengatasinya, setelah browsing dan melihat warna-warni stimuli dunia, maka orang itu kebelet untuk mendapatkannya daaann... "dorr!" beli deh, tanpa direncanakan sebelumnya.



Stimuli eksternal harus melewati consumption impulse dahulu, sebelum orang bisa berkata "ya" atau "tidak." Sementara mood, tergantungmood-nya. Kalau mood orang sedang baik, kemungkinan dia terlalu bersemangat dan langsung bisa bilang "yes, I will" atau "no, I won't." Tapi bisa juga dia mood-nya nggak begitu bagus, tapi dia merasakebelet pengen punya pasangan, yea... berarti langsung bisa bilang "ya."



Frekuensi bertemu juga bisa mempengaruhi keputusan "ya atau tidak." Semakin sering orang bertemu stimuli yang seperti itu, semakin pintar dia mengatasi consumption impulse. Biasa ketemu cowok ganteng atau cewek cantik, kalau dipuji mereka berarti sudah kebal kan? Hehehe... Sebaliknya, kalau jarang ketemu, sekali ketemu langsung tertarik, merasa mendesak ingin memiliki, and then say "yes." :)



So, itulah hasil penelitian saya. Orang bisa mendadak beli sesuatu setelah browsing, tanpa direncanakan sebelumnya. Hal ini baik bagi pemasar online, karena jika pemasar memasang stimuli yang menarik, orang yang tadinya cuma iseng browsing bisa terpikat dan mendadak beli, hehehe...

Minggu, 12 Februari 2012

Stereotip Indonesia = Maid Country??


Oleh: Dipta Dharmesti

Saya sudah mengunjungi beberapa negara di Asia, antaralain Singapura, Malaysia, dan Hong Kong (HK). Saat ini pun saya berstatus internship di sebuah konsultan bisnis di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ketika berinteraksi dengan orang-orang di negara-negara tersebut, saya lebih suka menggunakan bahasa inggris. Awalnya, orang-orang pasti bertanya, "where are you from?" Saya jawab, "INDONESIA." Orang Malaysia dan Singapura kebanyakan mengira saya studi di sana karena berbahasa inggris, hehehe... Masih tampang S1 ^^ Yes, I am a master student, in Indonesia. Beda dengan HK. Orang sana sering mengira saya TKW di sana, wedew... Mending TKW profesional, lah dikiranya TKW buruh pabrik atau maid (pembantu rumah tangga) :S Waktu ke HK memang saya baru saja "lulus" dari pabrik sih, mungkin masih ada tampang buruh :p

Negara-negara yang saya sebutkan tadi merupakan negara-negara "sasaran" TKI. Saya bangga jadi orang Indonesia yang bisa mengunjungi negara-negara tersebut, tapi juga sedih, mengapa stereotip Indonesia adalah sebagai negara maid? TKI diasosiasikan sebagai pekerja "kerah biru", buruh atau pembantu. Sebagai contoh lagi, di Malaysia, walaupun saya bukan sebagai maid, tapi jika saya mengaku dari Indonesia, pasti orang bercerita, "Ah, my maid is from Indonesia, she is from Java." Nggak cuma orang Malaysia, orang Filipina pun bilang begitu. Walaupun yang diceritakan hal-hal baik, tapi ya tetap saja maid. Seolah orang Indonesia (terutama perempuan) yang kerja di negara itu adalah sebagai maid. Office woman di kantor tempat internship saya pun berasal dari Purwakarta, dan beliau baik sekali.

Stereotip "Indon = berpendidikan rendah atau Indon = stupid" sudah melekat di masyarakat negara tetangga. Pernah suatu hari, pulang kantor, saya yang berkostum blazer ini mencoba naik bis pulang. Karena baru pertama kali, saya menaiki arah yang berlawanan, padahal jalur bisnya sudah betul. Eh, sopir bis memarahi saya, padahal saya sudah menjelaskan kalau itu baru pertama kali naik bis. Si sopir itu memang menyebalkan, seolah-olah saya orang Indonesia yang tidak berpendidikan, ckckck... (catatan untuk menghibur diri sendiri: kalau tuh sopir pendidikannya tinggi, dia nggak bakal jadi sopir bis :p).

Di Hong Kong beda lagi. TKW di sana dandanannya nyentrik-nyentrik. Begitu pula di Singapura. Baju seksi warna-warni, rambut kadang-kadang dicat coklat, tapi bicaranya medok, hahaha. Saya ke negara-negara itu sebagai turis backpacker, bukan turis koper, sehingga bentuknya ya seperti orang kere jalan-jalan. Petugas imigrasi pun membutuhkan beberapa saat mempelajari employee pass di paspor saya. So, setelah orang menanyakan asal saya, di Hong Kong saya ditanya juga dari agen mana >.< Bedanya, kalau di Singapura, kebanyakan TKW maid tidak berbicara dalam bahasa inggris, sehingga untuk "menghindari" stereotip maid, saya terus menggunakan bahasa inggris, hehehe... That's why I prefer english to bahasa.

Dear Indonesia, mengapa yang dikirim maids, bukannya tenaga kerja profesional? Belum lama ini, pengiriman maid dari Indonesia ke Malaysia dihentikan karena banyaknya kasus, dan baru akan dimulai kembali bulan depan. Saya pribadi berpendapat, sebaiknya Indonesia mengurangi pengiriman maid dan menambah pengiriman TKI-TKI profesional. Why not? Banyak sarjana menganggur di negeri sendiri. Orang Indonesia sebetulnya tidak bodoh, masa membuat citra "bodoh" di negeri tetangga. Terus terang, saya merasa miris kalau orang-orang negeri tetangga ngerumpi tentang maid Indonesia mereka.

TKI sektor informal memang menyumbang devisa bagi Indonesia, namun jangan lalu yang dikirim TKI informal melulu. TKI formal berpendidikan tinggi pun menyumbang devisa, bahkan lebih besar. Adalah suatu kebanggaan bisa memenuhi kriteria internasional dan menyumbangkan devisa bagi negeri sendiri, namun akan lebih baik lagi jika citra INDONESIA di dunia internasional ditingkatkan dengan mengirim tenaga kerja "kerah putih" :)

Jumat, 03 Februari 2012

Country Marketing


By: Dipta Darmesti



What is marketed? Philip Kotler said that the answers are almost everything can be marketed: goods, persons, experiences, information, idea, and even a country. I am Indonesian, but I live in Malaysia for a couple of months. This is my second time. I've been in Malaysia last year, for holiday.

Well, related to the title, a country can be marketed. When I go to Jakarta, the capital of Indonesia, I can see a huge banner of Malaysia promotional ads, said that "Malaysia is truly Asia". Even a country put such an ads in another country's capital. Malaysia is very aggressive in promoting their country. Few months ago, my friends attended a blog competition, held by Selangor State Tourism Board. They were selected to enjoy tourism things in Selangor. In the Malaysian Embassy, Jakarta, I can take free booklets and Malaysia maps.

I live in Kuala Lumpur, the capital of Malaysia. I go around the city and I can't find any country's advertisement like I found in Jakarta before. I had an experience as a tourist in Malaysia. They have Hop-On-Hop-Off (HOHO) buses that go around the tourism objects in KL. The important thing is the low budget airline AirAsia is headquartered Malaysia, and they make Kuala Lumpur as a "gate" to go around Asia. Malaysia introduced their country well, and set good perceptions in foreigners' mind. That's what marketing for.

Marketing is not only about promotions. In the earlier marketing mix, there is "4P" which consists of Product, Price, Place, and Promotions. Those Ps should be met to obtain a successful marketing. Indonesia has many incredible tourism objects, but it's hard to access those objects, poor transportation, and it is a big problem. The "Place" element does not match. Poor transportation will cause higher price to go to the location, and only few people can afford it. Then, the "Price" element also does not match. And now, the "Promotion" element. One of my job is news-media monitoring. Almost everyday, I see bad news in Indonesian media: corruption case, violence, sexual harassment in the public transportation, etc. Indonesia is not that bad, many beautiful things inside. Those will cause some bad image about Indonesia. That's why Indonesia need to do "country marketing". Not only about tourism, but also in investment.

Recently, World Bank conducted a survey about the most interesting and friendly city for investment in Indonesia. The results are:
1. Yogyakarta
2. Palangkaraya
3. Surakarta
4. Semarang
5. Banda Aceh
6. Gorontalo
7. Balikpapan
8. Jakarta
9. Denpasar
10. Mataram

Yogyakarta is #1 :) This survey has good impact in Indonesia's country marketing. Hopefully it will reduce the bad image and attract more investors to go to Indonesia. Maybe we have to show up and promote the country aggressively, just like Malaysia do.

Sabtu, 05 November 2011

Banci-banci di Keuangan


Oleh: Dipta Dharmesti

Sesuai judulnya, tulisan ini mengingatkan kalau di konsentrasi manajemen yang paling eksak, keuangan, juga ada yang GeJe. Lho, kenapa GeJe alias hybrid alias "banci"? Jawabannya, karena tidak terklasifikasi. Nggak jelas mau dimasukkan kelompok mana.


Di financial management, pembahasan ini masuk ke dalam hybrid financing. Untuk dapat beroperasi, perusahaan membutuhkan biaya dan sumber pembiayaan. Hybrid, karena sumber pembiayaan perusahaan ini tidak dapat diklasifikasikan, mau dibiayai menggunakan utang atau modal sendiri (equity).

Setahu saya, ada 3 banci yang sering dibahas di keuangan (mohon ditambahi kalau ada yang tahu lebih banyak, hehe...). Here they are:

1. Leasing alias sewa bunga
Alasan utama leasing terjaring dalam kategori banci adalah karena secara akuntansi leasing tidak masuk dalam neraca, juga tidak termasuk capital (kecuali capital leases, itu saja dimasukkan ke dalam utang, padahal leasing kan "menyewa" :).

Oiya, kalau yang belum tahu, leasing itu secara garis besar ada dua: capital leases, yaitu kalau kita nggak punya mesin, terus lease ke perusahaan pengadaan mesin, biar mereka yang beli & mengeluarkan cost of owning, kita tinggal "sewa" mesin itu, terus lama-lama mesin itu jadi milik kita, kalau "angsuran"nya sudah hampir lunas atau di akhir periode leasing.

Jenis yang lain ada operating leases, mirip, cuma lessee (penyewa) tidak akan mempunyai hak untuk memiliki mesin tersebut. Leasing ini berguna untuk "mengejar" kemajuan teknologi. Perusahaan tidak perlu membeli langsung untuk menikmati suatu teknologi produksi tertentu....


2. Preferred stock
Stock itu kan saham, tapi preferred stock itu saham yang aneh. Pemegang saham ini menerima dividen yang jumlahnya tetap. Padahal kalau saham biasa, dividen yang diterima kan sesuai dengan kinerja perusahaan. Nah, karena dividen preferred stock tetap, maka mirip dengan sifat bunga utang. Seolah-olah perusahaan utang ke investornya & bayar bunga (kayak obligasi aja).

Tapi ini saham lho, bukan utang. Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan. Orang invest ke sana, jadi masuk sebagai modal. Jika perusahaan tidak membayar dividen preferred stock, maka dividen untuk saham biasa tidak boleh dibayarkan. Nah lo, gimana mau disebut "utang" kalau seperti itu? Intinya, konsep preferred stock ini juga GeJe, mau dimasukkan modal atau utang.


3. Warrant & Convertible Warrant
Bagi yang belum tahu, warrant itu hak untuk membeli saham perusahaan, dengan harga tertentu di masa mendatang. Mirip dengan option, tapi jangka waktunya lebih panjang. Warrant biasanya diperlakukan sebagai bonus kalau orang beli obligasi. Bagi yang belum tau lagi, obligasi itu surat utang perusahaan. Dengan membeli obligasi, perusahaan berhutang ke kita dan wajib membayar bunga.

Nah, dengan membeli sekian lembar obligasi, maka bonusnya warrant. Termasuk aneh, soalnya obligasi itu utang, tapi bonusnya warrant, masuk ke modal. Lebih aneh lagi convertible warrant, sesuai namanya, dalam jangka waktu tertentu, si warrant bisa berubah jadi saham. Aneh ya? Hehehe... Makanya disebut "banci" soalnya seperti transgender, bisa berubah dalam jangka waktu tertentu.


Saya baru bisa menjelaskan 3 banci, mungkin teman-teman pakar keuangan bisa menambahkan penjelasan saya karena konsentrasi saya sebetulnya di pemasaran, tapi malah dengan ngawur-nya merambah ke keuangan, hehehe...

Jumat, 07 Oktober 2011

Business Valuation at A Glance



By: Dipta Dharmesti


I actually write this to make an easy way to recall my memory about my job description. Last year, I worked in a medicine factory as a quality assurance specialist. But now I am a business valuation analyst of an American business valuation company. When my friends ask me, "Where do you work at?" My answer is, "In a business valuation company." Then they ask, "What is business valuation?"




Business valuation company is not popular in the country where I live, Indonesia. Here, people don't even care about valuing a business, because they don't know the purpose of business valuation. Let me explain, there are several reasons for a company to know their business value: employee stock options (ESOP) sharing, gift or property tax (if they want to share the tax income of some properties they have), stock options, partnership, marital dissolution, and more.


Business valuation is in the area of finance and accounting and I am totally new for this job. What do I do in my office? The essence of my job is making business valuation reports for the clients. Basically, there are three approaches of valuing a business:

1. Income approach
Each company must have periodical financial statements. It is an analyst's job to examine the financial statements, especially the revenue or income part, perform some calculations, and conclude the value of the firm or company. There are two major parts to be examined: capitalization of earnings (Cap. Earnings) and discounted cash flows (DCF) or cash flows. By the case and conditions (e.g. valuing controlling or non-controlling, minority or majority interests), analyst will decide to use control premiums or discount to adjust the value.

2. Market approach
Market conditions influence the value of a company. Talking about discounts, there are two kinds of discount considered: Discount of Lack of Control (DLOC) that represents shareholders' control of the firm, and Discount of Lack of Marketability (DLOM) that represents the ability for a firm to be marketed (sold).

Market approach consists of two methods:
- Public Company (PC) guidelines
This method compares client company's financial to public companies' that have similar business. Data collected from subscribed sites, and those subscriptions are expensive. Analyst has to see the business description and sort the companies which have similar business as client's. Beside the description, analyst had to see those public companies' sales.

- Merger & Acquisition (M&A) guidelines
When using M&A method, analysts will collect M&A transaction data of certain periods from subscribed sites. Then, like the PC method, sort the data, perform some comparisons and calculations. M&A tends to represent control of the firm, while PC method usually follows the nature of DCF.

Then, the analyst will decide to use control premiums or discounts, based on the case and conditions.

3. Asset approach
This kind of approach is based on client company's assets. Net Asset Value (NAV) used in this method. Again, analyst's job is to examine client's financials and perform some calculations before deciding the company's value. Control premiums or discounts can be used to adjust the value, based on the company's conditions.

In a business valuation report, there are company background, profiles, ownership, tax status, economic outlook, and industry analysis, beside the financial methods.

Senin, 19 September 2011

Apakah Atasan yang Baik Harus Galak?



Oleh: Dipta Dharmesti

Sekian tahun yang lalu saya "dicekoki" ilmu manajemen oleh dosen-dosen saya. Salah satunya ilmu untuk men-treatment karyawan, siapa tau di kemudian hari saya jadi bos :D Teori yang satu ini saya pegang sampai sekarang dan selama saya bekerja, teori ini sering nggak diaplikasikan oleh para atasan di tempat kerja saya. Malahan dulu sewaktu saya cerita kalau saya diajari teori ini, saya ditertawakan. Teman-teman saya enggan mengaplikasikannya.

Teori motivasi X dan Y pertama kali dikemukakan oleh Douglas McGregor tahun 1960-an. McGregor mengelompokkan karyawan menjadi 2 tipe, yaitu:

Tipe X
Tipe ini diasumsikan sebagai karyawan yang malas, tidak suka bekerja, dan (cenderung) berpendidikan rendah. Kalau di Indonesia ya SMA ke-bawah. Posisi atau jabatan karyawan ini biasanya level pelaksana atau blue collar. Untuk membuat karyawan tipe ini bekerja adalah dengan supervisi (pengawasan) dan aturan yang ketat. Petunjuk cara bekerja harus diberikan sejelas mungkin dan rinci (ini yang banyak dilanggar juga, si bos sering nggak sabar ngajari bawahannya). Atasan yang galak, rese, dan aturan yang ketat cocok untuk bawahan tipe X ini, supaya tidak menyimpang dari pekerjaannya.

Tipe Y
Tipe Y ini diasumsikan sebagai karyawan yang suka bekerja dan (cenderung) berpendidikan tinggi. Sarjana ke-atas, lah. Posisi dengan tingkat pendidikan seperti ini biasanya level staf ke atas, atau pengambil keputusan (yang banyak "pakai otak" :p). Oleh karenanya, supaya lebih termotivasi dalam bekerja, karyawan tipe ini lebih suka diberi kebebasan menggunakan otaknya. Kalau salah ya cukup ditegur dengan halus atau disindir. Bila karyawan tipe Y ini diperlakukan seperti karyawan tipe X, maka yang terjadi bukannya kerja produktif, malah jadi sebel dan berantem sama atasannya (lho malah curhat :p).

Contoh yang mudah dipahami untuk mengaplikasikan teori ini adalah dengan melihat bagaimana seorang supervisor lini produksi mendidik para operator mesin, dengan bagaimana seorang manajer mendidik supervisornya. Seharusnya sih berbeda :p

Hal yang mungkin membuat sulit untuk menerapkan teori ini adalah sesuatu yang disebut "seni membaca orang". Seharusnya seorang atasan memiliki rasa "seni" ini setelah bekerja beberapa saat dengan bawahannya, sehingga dapat mengidentifikasi "tipe" bawahan tersebut, apakah tipe X atau tipe Y.

Hal lainnya yang biasa bermasalah adalah "berkaca sebelum berbuat". Banyak orang tidak melakukan ini. Padahal hal ini penting lho. Sekedar berbagi informasi, dalam dunia profesi Apoteker, terdapat beberapa kode etik, salah satunya memperlakukan sejawat sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Jadi, harus "berkaca" dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau memiliki bawahan yang sudah "terbaca" perilakunya, maka sang atasan hendaknya berpikir dahulu seandainya dia menerapkan suatu kebijakan kepada bawahannya.


Hal sulit yang ketiga adalah tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan emosi. Bukan mengesampingkan persaan, karena manusia bukan robot, tetapi bila hal yang membuat bad mood itu ada di luar lingkungan kerja, sebaiknya jangan ditunjukkan saat bekerja, otherwise rekan-rekan kerja Anda yang jadi korban. Contohlah seorang teller atau resepsionis hotel yang tetap tersenyum kepada konsumen, walaupun mungkin sedang jengkel dengan rekan kerja atau keluarganya. So bagi teman-teman yang sudah jadi bos, jadilah bos yang baik bagi bawahan Anda. Bos yang baik nggak harus galak kok :)



Sabtu, 16 Juli 2011

Loyalitas = Kesetiaan :)

Oleh: Dipta Dharmesti

Di kuliah Advanced Consumer Behavior beberapa pertemuan yang lalu, ada artikel menarik dari Reto Felix tahun 2009 yang berjudul Explaining Loyalty: The Personal Relationship Analogy. Sekedar bagi-bagi ilmu saja nih, biar lebih mudah memahami "loyalitas" di bidang pemasaran.

Reto Felix membuat perumpamaan untuk menjelaskan loyalitas dengan hubungan sepasang manusia. Menurut dia, loyalitas atau kesetiaan itu ada 6 tipe, yaitu:
1. Behavioral loyalty
Tipe ini diumpamakan sebagai seseorang yang sangat setia dengan pasangannya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Intinya, kesetiaan itu sudah menjadi habit atau kebiasaan yang wajib dilakukan terhadap pasangannya yang hanya seorang itu, sehingga bila diwujudkan dalam perilaku pembelian suatu merek, yang dibeli ya merek itu terus karena sudah menjadi kebiasaan. Akan aneh bila kebiasaan itu tidak dilakukan.

2. True loyalty
True loyalty diumpamakan sebagai seseorang yang cinta mati pada pasangannya, sehingga ia dapat memahami dan memaafkan keburukan pasangannya itu. Bila sang pacar lupa menjemput, pasangannya masih mau jadi pacarnya. Dalam perilaku konsumen, misalkan saat membeli makanan di rumah makan langganan, bila masakan terasa kurang asin ataupun misalkan kurang kerupuk, pelanggan tersebut masih memaafkan dan mau untuk kembali ke rumah makan itu.

3. Inertia
Ini digambarkan sebagai orang yang pasrah, "aku terpaksa memilih pasanganku itu karena adanya ya hanya dia, yang mau sama aku ya cuma dia." Kalau diterapkan pada perilaku konsumen, ya, konsumen loyal pada perusahaan karena hanya perusahaan/produk/merek tersebut yang mampu memenuhi kebutuhannya (bisa juga perusahaan monopoli). Contoh: rumah tangga dengan PLN.

4. Latent loyalty
Kalau tipe yang ini sih sering ditemui, yaitu secret admirer. Seorang cowok suka dan setia pada seorang cewek, namun belum berani mengungkapkan perasaannya. Ya, otomatis belum "memiliki" si cewek itu dong. Ini biasa terjadi bila terdapat "halangan" untuk membeli suatu merek yang kita kagumi. Biasanya sih karena budget terbatas. Contohnya: kebanyakan orang setia pada merek mobil BMW, mengaguminya, dan ingin memilikinya, namun apa daya, uang belum cukup untuk membelinya.

5. Multi-brand loyalty
Tipe ini dianalogikan sebagai orang yang berpoligami atau poliandri, punya pasangan lebih dari 1 orang dan setia pada semua pasangannya itu. Ya, dalam perilaku konsumen, ada orang yang setia pada lebih dari 1 merek. Pembeli tipe ini tidak terlalu peduli pada merek, yang penting fungsi produk. Jenis produk yang biasa "diselingkuhi" adalah produk convenience, seperti tissue.

6. Confirmative loyalty
Tipe ini adalah tipe pasangan yang suka ngetes, masih coba-coba. Gimana tuh? Sudah punya pasangan, masih coba-coba sama yang lain untuk menguji. Kalau lebih bagus pasangannya ya dia akan kembali, tapi sebaliknya, bila bagus "yang lain", ya putus deh... Dalam perilaku konsumen, orang yang sudah setia pada 1 merek kadang-kadang masih mencoba-coba merek yang lain, terutama bila merek itu baru. Kalau merek lama ternyata lebih bagus, ya konsumen itu akan kembali menggunakannya, tapi kalau sebaliknya, si konsumen akan beralih ke merek yang baru.

Termasuk tipe apakah Anda? :)

Kamis, 30 Juni 2011

Marketing (Fun) Facts

Oleh: Dipta Dharmesti
 
Did You know....?


1. Coca-Cola diformulasikan oleh seorang farmasis (seperti saya :) bernama John Pemberton dari Eagle Drug and Chemical Company, Georgia, U.S.A. Penemuan Coca-Cola ini merupakan sebuah bukti bahwa farmasis memang pintar dalam memformulasikan sesuatu, namun bodoh dalam pemasaran (no offense lho... karena saya sendiri juga seorang Apoteker). Pada saat itu, minuman Coca-Wine sedang populer dan Coca-Cola merupakan versi non-alkohol dari wine tersebut. Ini yang membuktikan "kebodohan" sang penemu dalam marketing: Coca-Cola dijual sebagai obat paten! Kalau ditanya obat apa, menurut sang penemu, Coca-Cola dapat menyembuhkan kecanduan morfin, mual, pusing, bahkan impotensi. Hebat ya si Coca-Cola?

Sayangnya, si penemu malah tidak sukses, karena tidak mampu memasarkan produknya dengan baik. Dia menjual formula Coca-Cola kepada beberapa temannya, salah satunya Asa Griggs Candler, seorang pebisnis apotek, bank, dan pabrik obat (bukan Apoteker lho, karena dia jebolan SMU). Di tangan Candler, Coca-Cola mulai dijual sebagai minuman, bukan obat. Candler juga beriklan dengan memasang logo Coca-Cola di berbagai tempat, juga menyediakan "kupon Cola" yang mendongkrak penjualan, begitu seterusnya hingga Coca-Cola Company menjadi besar seperti saat ini. Ya, ahli kimia dan farmasi belum tentu ahli pemasaran bukan? Hehehe....


2. "Kodak", nama ini tentu tak asing di telinga kita. Para pencetus merek ini konon mencari satu kata yang pas dan dapat dibaca dengan bunyi yang sama di seluruh dunia. Setelah disurvei sana-sini ketemulah nama "Kodak".

Oh ya, another Kodak's fact yang bisa jadi pembelajaran dunia marketing adalah jangan terpaku pada satu produk. Pemasar berangkat dari kebutuhan dan keinginan konsumen. Gampang-nya, untuk membajak sawah secara efisien diperlukan suatu alat. Kira-kira mana yang menang: pemasar yang menyediakan traktor atau pemasar yang fokus membuat satu cangkul berkualitas bahkan bertatahkan berlian? Ilustrasi ini membuat kita lebih mudah memahami marketing concept. Demikian pula kasus Kodak. Dulu Kodak dikenal sebagai merek kamera film (langsung cetak!) dan film yang terbaik di dunia. Kodak terus berusaha membuat film berkualitas paling baik. Namun mereka terkena marketing myopia alias terlena dengan film-nya, sampai tidak menyadari adanya "celah" kamera digital yang dikembangkan Sony :) Saat kamera digital muncul, para produsen kamera film dan film terpukul. Bahkan banyak yang bangkrut. Namun, Kodak "selamat" karena mampu mengikuti digitalisasi, walaupun bukan (belum) sebagai market leader lagi.


3. Pernah dengar merek mobil "Datsun"? Sekarang jadi "Nissan". Pernah kan? Perubahan nama "Datsun" jadi "Nissan" disebabkan oleh pengucapannya. Merek mobil ini juga dipasarkan di Amerika Serikat. Orang sana yang berbahasa inggris tidak suka mengucapkan merek "Datsun" karena mirip dengan pengucapan "dead-son" yang berarti anak laki-laki yang meninggal. Pemasar kemudian mengganti mereknya menjadi "Nissan" yang dibaca seperti "nice-son" yang berarti anak laki-laki yang baik. Wha, padahal kalau di Indonesia kan artinya malah batu kuburan... Tapi orang Indonesia sih cuek aja, yang penting mobil bagus, hehehe... Language matters!
Kedua logo ini masih versi lama


4. Kenal Ronald McDonald? Yup, dia maskot McD yang bentuknya badut tersenyum :) Tapi di Jepang, maskot McD bukan si Ronald, tapi sepupunya Ronald, si Donald McDonald (kayak nama orang Sunda, euy!). Tahukah Anda bedanya? Perhatikan baik-baik senyum kedua maskot ini... Ya, si Donald giginya ga kelihatan! Masih ingat ajaran orang tua yang kalau menguap/tertawa mulutnya ditutupi? Ajaran Jepang juga demikian. Tidak sopan kalau gigi sampai terlihat. Maka, maskot McD di sana dibuat tidak terlihat giginya :D
Selain itu, orang Jepang punya masalah bilang huruf "L". Kadang-kadang mereka nggak bisa membedakan "R" dengan "L". Nah, biar selamat, si Ronald digantikan sepupunya: Donald.



5. Bagi penggemar kopi, kalau pergi ke timur tengah mungkin tidak menemukan Starbucks sebanyak di Indonesia. Starbucks mengalami beberapa kesulitan untuk memasuki pasar timur tengah, terutama di Arab. Kesulitan ini disebabkan oleh logo Starbucks. Di Arab (terutama Saudi), logo itu diprotes karena menampilkan sosok wanita tanpa jilbab dengan rambut terurai dan wajah terekspos. Sosok ini tidak sesuai dengan kaidah berpakaian di sana. Sedangkan masalah lainnya, logo tersebut mirip dengan Queen Esther, seorang ratu Yahudi-Persia. Masalahnya, orang timur tengah cukup sensitif dengan Jews atau Yahudi. Akhirnya pihak Starbuck mengklarifikasi bahwa logonya bukan Queen Esther, melainkan putri duyung. Sedangkan kemunculan logo tersebut dikurangi (di cabang Uni Emirat Arab lebih ditonjolkan tulisan "Starbucks Coffee" dengan font khas Starbucks).
Cabang Starbucks di Mall of Uni Arab Emirates