Minggu, 05 Juni 2011

Mengelaborasi Popularitas Pocong

Pada awalnya, saya akan memberikan judul tulisan ini Pocongnomics. Akan tetapi, mungkin sudah terlalu banyak judul yang serupa. Saya urungkan niat saya dan bertahan dengan judul ini. Sedikit gambaran bahwa tulisan ini tidak pernah saya tulis malam hari karena saya harus mencari data-data dan tentunya hal berbau pocong (agak merinding juga bikinnya..hehehe).

Popularitas Pocong: Go National
Perfiman Indonesia tidak pernah luput dari hal-hal mistis. Sudah sekitar 120 lebih film horor yang menghiasi bioskop-bioskop. Anda pasti tahu Suzanna yang sering memerankan hantu di film-film Indonesai zaman baheula. Sebagai contoh karakter Suketi (diperankan Suzanna) yang mampu memakan bakso sepanci besar dalam sekaligus atau Sundel Bolong yang mampu mengeluarkan kalajengking dari mulutnya. Semakin lama, karakter semakin beragam. Bukan hanya Nyi Roro Kidul, Tuyul, dan kuntilanak, tetapi juga Setan Pocong, Suster Ngesot, dan karakter hantu ala Indonesia lainnya.

Faktanya, sudah sejak tahun 1988, film Indonesia didatangi film bertajuk pocong dengan judul Setan Pocong. Akan tetapi, tidak ada lagi film pocong yang muncul hingga tahun 2006, Rudi Soedjarwo merilis film Pocong (Dendam yang Tak Bisa Mati). Namun film ini tidak lolos sensor. Hingga semakin lama muncul film-film lain berjudul Pocong. Hal ini yang menjadi alasan saya mengapa memilih tema ini. Setelah saya teliti (dengan kemampuan analisis statistika amatir) ternyata Pocong lebih populer dibandingkan dengan karakter setan yang lain (bahkan juga dibanding Anda). 18 Film berjudul pocong bersaing dengan 12 judul film Kuntilanak, dan 4 judul suster ngesot. Pocong boleh berbahagia karena dia menempati ranking 1 untuk popularitas dan tentunya namanya yang komersil.

Berbagai Prestasi Pocong
Secara agregat (ciye....makro banget ni), dari tahun 2007-2010, tidak ada film pocong yang masuk 10 besar terbanyak ditonton. Hanya ada satu film horor, yaitu Terowongan Casablanca yang menduduki peringkat 9. Akan tetapi, pada setiap tahunnya, film pocong berhasil menguasai pasaran penonton bioskop seantero Indonesia.

Pada tahun 2007, Pocong 3 menjadi film terlaris 8, Tali Pocong Perawan (2008) terlaris 3, dan Pocong Rumah Angker (2010) terlaris 4. Sedangkan untuk akhir kuartal tahun 2011, Pocong Ngesot dan Pocong Mandi Goyang Pinggul menduduki peringkat 4 dan 9 terlaris. Hampir setiap tahun, pocong tidak pernah absen di 10 besar. Mungkin pada 2009, si pocong tidak hoki saja. Dengan 6 film yang dirilis ternyata tidak satupun judul bertengger di 10 film terlaris. Akan tetapi si Pocong kembali menunjukkan keperkasaannya di tahun-tahun selanjutnya dengan ulah yang berbeda: ngesot dan goyang pinggul sambil mandi. Di film kuntilanak kesurupan (2011) pun sebenarnya Pocong ikut andil dalam banyak adegan, namun sayangnya tidak dimasukkan judul jadi tidak masuk kriteria.


Jika dilihat dari pendapatan kotor, dapat diraup dari film-film bertajuk pocong ini sebanyak 14 milyar rupiah (seandainya pocong tahu keuntungannya segini, pasti dia datang minta jatah...hehehe). Tentunya sih , menurut saya pribadi hal ini didukung oleh sedikit adegan “esek-esek” atau “semi esek-esek” yang semakin diminati (yang ini pocongnya minta jatah nggak ya?). jika dilihat dari share terhadap jumlah film nasional yang dibuat memang di tahun 2010 pocong sedikit menurun dari 7% menjadi 3%. Akan tetapi, jika melihat akhir kuartal ini, Si Pocong mencuri start dengan 2 judul saja sudah bisa meraih pendapatan kotor 9,5 milyar rupiah. Agaknya ini menjadi masa depan cerah bagi si pocong untuk tetap bernilai komersil dan populer. Benar-benar hebat si pocong ini. Penuh dengan strategi. Mulai dari starting point, hingga inovasi gerak dan perilakunya.

Dengan melihat kondisi yang ada, agaknya beberapa produser film melirik pocong sebagai karakter yang potensial. Dengan melihat segala perkembangannya Pocong mampu memberikan warna tersendiri bagi perfilman Indonesia, termasuk menambah daftar judul film produksi dalam negeri. Meski dinilai norak dan tidak mendidik (emang betul), saya sedikit berterima kasih kepada si Pocong, karena sedikit banyak beliau (hehehe...) membantu bangkitnya perfilman Indonesia (meski tidak untuk kualitasnya). Sedikit banuak juga pocong berperan dalam perfilman Indonesia. Melihat potensi secara keekonomian dan popularitas, mungkinkah Pocong akan berjaya di tahun 2011? Kita tunggu tanggal mainnya.

22 Mei 2011, Iseng di tengah libur panjang

Sumber:

*) Salah satu ekonom beneran di blog ini, aktif sebagai salah satu staf di badan yang ngurusin fiskal di Indnesia, lagi-lagi kami berhasil menyesatkan salah satu mereka!

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...