Sabtu, 31 Desember 2011

Ekonomi Indonesia Ga Perlu di Apa-Apain, Apalagi Dibangun!

Oleh: Bhima Yudhistira*, 555 kata

Buat apa susah-susah menulis panjang lebar soal membangun ekonomi Indonesia yang sudah bagus ini? Coba kita lihat pake data statistik, pengangguran Indonesia 10,4% alhamdulillah Amerika cuma 9.1%, bunga bank Indonesia sampai 13% itu kan anugerah Tuhan juga. Belum lagi bicara  soal pertanian, Indonesia kan negara agraris kata nenek-nenek jaman dulu, betul, memang begitu. Buktinya, kita ga level makan beras dari Indonesia, terlalu makmur orang Indonesia, maunya impor beras terus. Ini kan potret negara yang berada dalam tingkat kemakmuran super tinggi, terus mau diapain lagi? Yah.. bukannya om Adam Smith pernah bilang, istilah ribet di buku ekonomi jadul, Laissez-Faire, mungkin maksudnya Leisure Fair semacam Fair ato Festival. Kan ada tuh Jakarta Fair, isinya festival dagang dan konser. Om Adam mikir ke arah itu juga, masa depan ekonomi dunia itu ya Santai (Leisure) dan ga perlu diurusin karena isinya cuma party-party aja (Fair). Jadi mikirin perekonomian Indonesia ga perlu menggunakan grafik biar dibilang pinter, atau angguk-angguk sok paham ikutan seminar internasional buat bahas ekonomi di negeri sendiri.

Om Adam aja bilang kita serahkan ke pasar biar ekonomi tetep jalan, jangan di utak-atik lah. Indonesia akhir-akhir ini tambah gencar membiarkan pasar bekerja walaupun di tuduh neo-lib (mereka yang nuduh sebenarnya ga paham), kalo ada petani garam nangis-nangis protes masuknya garam impor, biarin aja. Kalo ada petani di desa Mesuji di tembak gara-gara rebutan lahan sama juragan kelapa sawit, ya Biarin aja. Kenapa kita harus repot mengurusi gelapnya ekonomi negeri ini? Cuma satu kata jawabannya, Biarin aja.
Jadi kata-kata “Biarin aja!” jadi nge-trend gara-gara Om Adam. Emang dia jagoan ekonomi, salut sama Om Adam.

Nah yang lebih aneh lagi lulusan ekonomi jiplakan Om Adam turut jadi penggembira di negeri makmur ini. Mereka jauh-jauh berkelana sampe ke Amrik, buat belajar teori Om Adam, dimana gitu, Berkeley kalo ga salah. Pulang-pulang main ngatur ekonomi jadi sok jagoan. Mentang-mentang ijazah pake bahasa inggris, jadi bisa bikin rencana ekonomi Indonesia macem-macem. Ga baik itu untuk bangsa ini, Ekonomi ya di “Biarin aja”.

Belum cukup puas memang mengutak-atik ekonomi Indonesia yang sudah sangat bagus ini (berapa kali saya harus bilang kalo Ekonomi Indonesia memang top). Ada lagi professor macam Pak Mubyarto yang sibuk bikin buku tebel-tebel tentang ekonomi Kerakyatan, “udah pak ekonomi Kerakyatan ga laku di Indonesia kan semuanya berbasis rakyat”. Kapitalis juga rakyat, Koruptor juga rakyat, sama aja kayak Petani miskin rakyat juga. Jadi perumusan pembangunan ekonomi Indonesia pake sistem koperasi, dsb sebenarnya konsep kuno, karena Indonesia sekarang punya yang lebih bagus, KORPORASI. Kalo ga salah ini bentuk terbaru dari Koperasi. Luar biasa bukan negeri Indonesia. Sudahlah pak Mubyarto, mungkin sudah saatnya Om Adam dan kroco-kroco nya yang memimpin ekonomi kita, “Biarin aja” pasar yang kerja keras, kita tinggal menikmati. Itu kan persaingan, ngapain capek-capek membela hak buruh, dan petani yang jelas-jelas kita punya urusan perut sendiri yang lebih penting.

Mungkin dulu waktu jadi mahasiswa pemegang kebijakan kita berkoar-koar mari bangun ekonomi Indonesia, dan ketika status mereka naik jadi pejabat tinggi di BUMN, mereka sempat ga keluar kamar 1 hari buat merenungi nasib, “Goblok banget dulu pas jadi Mahasiswa ngapain gw ikutan demo ga mutu, panas-panasan lagi, seharusnya dulu bukan memperjuangkan "bangun negeri ini", tapi gw harusnya teriak-teriak ‘Rampok negeri ini!’ Indonesia udah terlalu kaya soalnya, kasian orang-orang kayak gw ini yang hari tua nya masih dibayarin negara (baca: Pensiun).”

Masih pusing soal membangun ekonomi Indonesia, kalo buat saya sih nggak, karena solusinya udah jelas “Biarin aja!”.

*Profil Penulis:
Nama: Bhima Yudhistira Adhinegara
TTL: Pamekasan-Madura, 03 11 1989
Jabatan: Ex- Menteri Riset BEM KM UGM (Pensiun 2011)
             Ex- Ketua Shariah Economics Forum UGM 2010
             Sekretaris Umum HMI komisariat FEB UGM
             Anggota dewan ASONe (ASEAN Student Organization Network)

Artikel:
Rekayasa Anggaran Akhir Tahun (Harian Nasional Republika)
Gerakan Mahasiswa di ASEAN (Harian Nasional Republika)
Gerakan Mahasiswa Islam di Asia Tenggara (Harian Kedaulatan Rakyat).

Olivia Kamal

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

4 Komentar:

  1. Mungkin ada baiknya Anda mempelajari lebih dalam tentang paham neo-classical dan juga aliran Keynesian / neo-keynesian.. Pelajari juga Dunia barat yang sering dibilang pembawa aliran "neo-liberal",yg sepertinya cukup Anda kecam :). Anda bisa telaah lebih lanjut bagaimana role of the government (which is to govern) in the economy.. Kata siapa infrastruktur bukan government mereka yg bangun? Kata siapa di "dunia barat" tidak ada komisi anti monopoli dan persaingan tidak sehat? Bahkan asal muasal Anti money laundering regulation juga berasal dari barat bukan? Apa menurut Anda semua itu ciptaan " market"?

    Neo-classical is not a perfect theory,,but then again what is so perfect in this world except for Allah SWT..

    For the record also,, indonesia ga pernah looh menerapkan neo-classical plek-plek.. Bahkan dulu saja,,di jaman masih banyak lulusan "berkeley",,kita punya Pelita/repelita (rencana pembangunan lima tahun).. :)

    Oh iya,, saya sebenarnya selalu bingung kenapa bbrp pihak suka memakai istilah "mafia berkeley",, pdhl skrg ini emang masih ada ya lulusan "berkeley" di pemerintahan kita?

    BalasHapus
  2. saya tidak sepenuhnya mengkritik aktivitas pasar, tapi aktor ekonominya yang saya kritik dalam artikel ini.. karena dalam sosialisme pun pasar tetap dibutuhkan hanya saja pasar yang berpihak kepada kelas tertindas. nah neo-liberal memanfaatkan pasar untuk kepentingan kelas pemodal, sehingga buruh tidak mendapatkan kesejahteraan. baru ketika buruh melakukan aksi, pemerintah yang telah melakukan kontrak dengan pemodal akhirnya mengabulkan permohonan buruh (misalnya UU jaminan sosial/ BPJS) karena ketika buruh aksi terus menerus maka produksi akan terhenti, kelas pemodal akan merugi.. itu yang saya kritik

    BalasHapus
  3. yang kolom komentar yang diatas atau dibawah? -___-

    ijin menanggapi

    poin angka pengangguran di amerika 9,1% itu karena belum melihat konsep statistiknya. The nonlabour force includes those who are not looking for work, those who are institutionalised and those serving in the military. jadi, orang yang ga punya pekerjaan tetapi sedang mencari pekerjaan dihitung sebagai 'sedang bekerja' :) what a pitty (sumber: http://www.tradingeconomics.com/united-states/unemployment-rate).

    Ekonomi amerika tanpa peran negara? memang pernah ekonomi full tanpa peran negara, tetapi pada tahun-tahun sebelum Great Depression. Amerika sekarangpun tetap ada peran negara :) jadi solusi biarin aja itu hanya membawa negara kita kepada great depression selanjutnya dimana hanya nunggu momen maturity economic environment itu muncul dan buum,,, hancurleburluluhlanta...

    The best Economics system itu adalah system yang cocok buat negara kita, poin penting kita tidak bisa memakai sistem ekonomi pure pasar mengingat moral, kekuatan entrepreneur, modal, dan bla bla bla... kita juga tidak bisa memakai pure kontrol pemerintah karena kebebasan berbicara, kebebasan bertindak, dan bla bla bla... yang cocok sementara ini ya yang hybrid kaya sekarang ini, dan admit it banyak masalah di negara ini :) tapi jangan lihat dari angka sekarang... angka pertumbuhan yang 6,5% itu, tingkat keberhasilan otonomi daerah, dan pertumbuhan tingkat entrepreanur yang dilihat...

    tapi
    diluar itu aku setuju dengan poin dimana bilang kalau korporasi itu penting, harusnya kebijakan pemerintah mendukung pembangunan korporasi (tentang kredit, dan kemudahan untuk memulai) :)

    BalasHapus
  4. Apakah yang dimaksud saudara makur, ekonomi hybrid adalah ekonomi tanpa ideologi? jadi untuk apa konstitusi kita mengatur kepemilikan negara dalam pasal 33? lebih baik konstitusi tak berguna itu kita amandemen saja, gantikan bahwa sistem ekonomi indonesia tergantung pada situasi dan kondisi, terkadang dibutuhkan Keynessian dalam krisis, dan dibutuhkan Liberalisme total ketika ekonomi kita sedang subur2nya.. benarkah demikian?

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...