Kamis, 05 Juli 2012

Pertarungan Tiga Incumbent


Oleh: M.Syarif Hidayatullah

Ada fenomena menarik dalam pemilihan Gubernur Jakarta kali ini, yaitu munculnya tiga orang “incumbent” yang diusung oleh tiga koalisi yang berbeda. Incumbent pertama tentunya adalah Fauzi Bowo yang merupakan Gubernur Jakarta saat ini, yang dimajukan oleh koalisi Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional. Kedua adalah Joko Widodo, Walikota Kota Surakarta saat ini, yang dimajukan oleh PDI-P dan Partai Gerindra. Ketiga adalah Alex Noerdin yang dimajukan oleh Partai Golkar, PPP, dan PDS.

Secara definitif, Joko Widodo dan Alex Noerdin tentunya bukan seorang incumbent, karena mereka bukan merupakan pejabat politik (gubernur) di daerah tempat pemilihan (Jakarta). Akan tetapi, sebagai Walikota Kota Surakarta dan Gubernur Sumatera Selatan, Joko Widodo dan Alex Noerdin memiliki keuntungan sebagaimana umum nya seorang Incumbent.

Dalam Ranah Ekonomi-Politik, keuntungan seorang incumbent sudah lama dikaji. Laver (2009), Prat (2009), dan Ashwort (2006) sepakat bahwa voters (pemilih) lebih memilih incumbent daripada calon alternatif. Menurut Ansolabeherre (2009), lebih populernya incumbent disebabkan popularitas yang mereka dapatkan karena kebijakan yang sudah mereka lakukan untuk konstituen. Hal tesebut dimungkinkan karena incumbent memiliki kemampuan untuk menggunakan kebijakan sebagai alat untuk menyenangkan pemilih mereka (Franzese, dkk, 2009).

Penulis menyebut Joko Widodo dan Alex Noerdin sebagai incumbent karena saat ini mereka memiliki keuntungan selayaknya seorang incumbent. Joko Widodo dapat membuktikan kapasitasnya dan mempromosikan dirinya melalui kebijakan yang dilakukan di Kota Surakarta. Sedangkan Alex Noerdin cukup menarik perhatian dengan kesuksesannya menyelenggarakan Sea Games tahun lalu. Dengan begitu banyaknya saluran informasi saat ini,  berbagai kebijakan Joko Widodo dan Alex Noerdin dapat dengan mudah terpantau oleh pemilih  yang berada di Jakarta.

Menilai Langkah para incumbent

Di Indonesia, “pesona” incumbent dalam Pilkada sangatlah besar. Hingga tahun 2008, dari 211 Pilkada yang diikuti incumbent, sebanyak 124 (60%) berhasil dimenangkan incumbent (Romli, 2008). Besarnya persentasi ini menunjukkan bahwa incumbent memiliki posisi tawar yang kuat dalam Pilkada.

Secara teoritik, pemilih (voters) akan memberikan hadiah (reward) berupa suara kepada incumbent apabila memberikan kebijakan yang baik, dan memberikan hukuman (punishment) berupa tidak memberikan suara apabila memberikan kebijakan yang buruk (Ansolabeherre, 2009). 

Keunggulan incumbent ini sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh Fauzi Bowo untuk memenangkan Pilkada Jakarta. Fauzi Bowo dapat memanfaatkan posisinya sebagai pejabat publik untuk membuat kebijakan populis dan menyenangkan pemilih. Akan tetapi, patut disayangkan, justru keunggulan ini tidak dimanfaatkan secara maksimalkan oleh Fauzi Bowo. 

Carut marutnya kehidupan Jakarta, sepertin kemacetan dan banjir, tentunya mencoreng muka sang Gubernur dan akan menghambat langkahnya untuk terpilih kembali. Media Survey Nasional (MSN) merilis sebanyak 86,4 % warga DKI menganggap buruk kinerja Gubernur Fauzi Bowo dalam menangani kemacetan. Survei yang dilakukan pada September 2011 itu juga menyebutkan, 84 % warga menilai kinerja Fauzi Bowo buruk dalam mengatasi banjir.

Waktu yang dimiliki oleh Fauzi Bowo untuk membuktikan kompetensinya melalui kebijakan publik tentunya sudah habis. Keunggulan yang masih dapat dimaksimalkan oleh Fauzi Bowo adalah kenyataan bahwa dia sudah sangat dikenal publik. Menurut Stokes (1963), pemilih cenderung memberikan suara kepada seseorang yang lebih mereka kenal dan dianggap berkompeten di posisinya. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa elektabilitas dan popularitas Fauzi Bowo masih sangat tinggi. Menurut survey MSN, elektabilitas Fauzi Bowo mencapai 30,7%, jauh di atas pesaing-pesaingnya.

Langkah Ekonomi-Politik yang diambil oleh Joko Widodo dan Alex Noerdin tampak lebih maju satu langkah dibandingkan Fauzi Bowo. Sebagai Walikota yang dicap sukses oleh banyak pihak, kehadiran Joko Widodo dalam Pilkada Jakarta tentu nya memberikan alternatif baru. Selain itu, keterlibatan Joko Widodo dalam proyek mobil Esemka, kurang lebih mendongkrak nama nya di level nasional. Sedangkan prestasi Alex Noerdin dalam penyelenggaraan Sea Games akan mampu menjadi poin plus untuknya. 

Joko Widodo dan Alex Noerdin merupakan contoh “incumbent” yang mampu memaksimalkan posisi publiknya. Performa mereka selama menjabat akan menjadi magnet bagi pemilih untuk memilihnya dalam Pilkada DKI Jakarta. Kemunculan Joko Widodo dan Alex Noerdin perlu diperhitungkan. Karena, walaupun bertarung bukan di daerah asalnya, Joko Widodo dan Alex Noerdin memiliki popularitas yang cukup tinggi. Menurut hasil survey Cyrus Network, elektabilitas dari Joko Widodo pada bulan Januari sudah mencapai 17,3%. Sedangkan Alex Noerdin diklaim memiliki elektabilitas yang tinggi. Hal ini tentunya memperlihatkan bahwa kinerja dan popularitas Joko Widodo dan Alex Noerdin mulai dilirik oleh pemilih di Jakarta.

Kelemahan terbesar yang dimiliki oleh dua incumbent ini (Joko widodo dan Alex Noerdin) adalah masih dipertanyakan kapasitas mereka dalam memimpin Provinsi sebesar dan sekompleks Jakarta. Joko Widodo memang dicap sukses dalam memimpin daerahnya, tapi perlu diingat wilayah yang dipimpin Joko Widodo adalah Daerah Tingkat II, yang scope nya tidak begitu luas. Sedangkan, Jakarta merupakan metropolitan terbesar di negara ini dan memiliki setumpuk permasalahan yang sedemikian kompleks.

Pertarungan tiga incumbent ini tentunya sangat menarik untuk ditunggu. Tanpa mengeliminasi calon gubernur (cagub) yang lain, harus diakui bahwa posisi sebagai incumbent merupakan keuntungan politis yang sangat besar. Ketiga Cagub tersebut memiliki keuntungan tersebut, tinggal bagaimana mereka dapat memaksimalkannya. Dengan adanya tiga orang incumbent, tentunya perhelatan politik terakbar di DKI Jakarta ini sangat menarik untuk disaksikan.

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...