Rabu, 11 Juli 2012
Hambarnya Janji Politik Pilkada Jakarta
Kamis, 05 Juli 2012
Pertarungan Tiga Incumbent
![]() |
Minggu, 25 Maret 2012
Solusi Gila untuk Kemacetan Jakarta
Oleh: Yoga PS
Jika Anda sedang berjalan-jalan di Jakarta, saat ini pasti Anda akan sangat mudah menemukan poster calon pemimpin Jakarta.
Dan lucunya “jualan” mereka rata-rata hampir sama. Gaya foto mereka sama-sama tersenyum cengengesan sok cool, sama-sama ingin membawa perubahan menuju Jakarta yang lebih baik, dan sama-sama menjanjikan solusi untuk tiga dosa utama ibukota Jakarta: macet, banjir, dan permasalahan social.
Untungnya saya bukan orang Jakarta (untungnya juga saya bukan orang utan). Tinggal disini juga baru sekitar 3 bulan setelah lulus kuliah. Jadi saya kurang peduli dengan kondisi politik kota ini. Tapi saya ingin mencermati solusi yang ditawarkan para calon pemimpin Jakarta. Tentang cara mengatasi kemacetan.
Macet
Tiada hari tanpa macet di Jakarta. Apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja. Tampaknya hanya saat libur saja Jakarta bebas macet: libur hari raya, dan saat libur hari kiamat. Hari biasa? Mana mungkin… apalagi sedang musim demo seperti sekarang.
Terkadang saya lebih memilih jalan kaki untuk menghadiri meeting dengan client daripada naik roda empat yang menghabiskan waktu 30 menit perjalanan hanya untuk menempuh jarak 2 km. itung-itung pelangsingan gratisan juga sih. Yang penting nggak jalan ditempat.
Mau naik busway? Pasti lama ngantri dan jalurnya sering diserobot pengendara lain. Belum lagi risiko terkena pelecehan seksual (atut kakak…) karena dempet-dempetannya minta ampun. Kita bisa mendapatkan pelajaran empati bagaimana rasanya menjadi ikan sarden. Naik ojek? Mending bawa motor sendiri lah. Karena ongkos ojek lebih mahal daripada taxi. Naik kereta? Kurang fleksible kalau tujuannya dalam kota.
Naik kopaja? Kudu banyak dzikir. Naik bajaj? Uda dilarang masuk tengah kota. Naik becak? Ntar dirazia satpol PP. Naik haji? Kelamaan ngantri. Pokoknya, naik apapun, ujung-ujungnya naik pitam. Macet dan crowded.
Lalu datanglah para “messiah” calon pemimpin DKI yang membawa solusi mengatasi kemacetan. Karena ini bukan tulisan promosi salah satu calon, pokoknya rata-rata ingin melakukan perbaikan transportasi umum agar pengendara kendaraan pribadi beralih menggunakan kendaraan umum.
Tapi seperti kata Andre Taulany Stinky, “Mungkinkahhh?”
Intangible Benefit
Logikanya sederhana. Manusia dianggap rasional. Semakin baik transportasi umum (murah, cepat, aman dan nyaman), maka seseorang pengendara kendaraan pribadi akan melakukan cost benefit analysis dan pada akhirnya memutuskan memarkir kendaraan pribadinya di garasi rumah untuk beralih menggunakan transportasi umum.
Tapi sayangnya manusia tidak rasional. Ia adalah makhluk yang “terkadang” irasional, dan melakukan pengambilan keputusan secara emosional. Termasuk soal pemilihan moda transportasi. Contoh gampangnya gini:
Anda punya mobil. Untuk kekantor, Anda harus merogoh kocek untuk bensin, tol dalam kota, biaya penyusutan mobil, dan tentunya parkir. Anggap saja sekitar 50rb sehari. Lalu ada pilihan lain. Anda naik busway yang sekali jalan kemana aja cuma Rp.3.500 saja. Mana yang Anda pilih?
Jika waktu tempuhnya hampir sama, saya yakin Anda tetap memilih mobil pribadi. Kenapa? Karena adanya intangible benefit. Keuntungan yang tidak terlihat secara ekonomis. Dengan membawa kendaraan pribadi Anda akan memiliki fleksibilitas, kekuasaan menentukan tujuan, dan feel good factor terhadap kepemilikan sebuah komoditas bernama kendaraan pribadi.
John Locke pernah mengemukakan teori stratifikasi social. Dan dari zaman revolusi industry sampai reformasi selalu ada stratifikasi social. Manusia dikelompokkan menjadi tingkatan-tingkatan tertentu. Penentu status social. Dan ternyata penandanya selalu sama: kekayaan pribadi. Jika zaman dahulu kekayaan Anda dilihat dari seberapa luas tanah Anda, maka sekarang dilihat dari jumlah rekening bank, merk baju, type handphone yang ditenteng, dan kendaraan yang dikemudikan.
Saya ingin berkata, membawa kendaraan pribadi akan mengangkat status sosial Anda daripada naik kendaraan umum. Dan masyarakat urban hidup dalam citra. Mereka sangat memuja pencitraan materialistis, sehingga diperlukan sebuah “rekayasa social” untuk mengubahnya.
Bagaimana cara mengubah mindset masyarakat agar merasa jika menaiki kendaraan umum lebih “bergengsi” daripada kendaraan pribadi?
Suri Tauladan
Suatu hari Gandhi didatangi seorang Ibu. Ia mengeluhkan kebiasaan anaknya yang tidak dapat berhenti makan permen. Ia meminta orang bijak ini untuk menasihati anaknya dan menyuruhnya berhenti makan permen.
Bukannya menasihati, Gandhi menyuruh sang Ibu kembali beberapa hari kemudian. Sang Ibu yang kebingungan bertanya-tanya mengapa untuk menasihati anaknya saja Gandhi harus menunggu beberapa hari akhirnya menurut. Beberapa hari kemudian ia kembali.
Akhirnya Gandhi menasihati sang anak untuk berhenti makan permen. Setelah itu, Ibu ini bertanya kepada Gandhi, mengapa ia harus menunggu berhari-hari untuk menasihati anaknya? Jawaban Gandhi sederhana.
Untuk menasihati anak agar berhenti makan permen, maka orang yang menasihati juga harus berhenti makan permen. Karena itulah, Gandhi mencoba berhenti makan permen agar bisa menasihati sang anak untuk tidak memakan permen lagi.
Pelajarannya? Pemimpin harus memberi contoh. Pemimpin tidak akan berhasil membujuk warganya menggunakan transportasi umum jika ia sendiri tidak pernah menggunakan transportasi umum untuk kegiatan sehari-hari. Bagaimana mungkin pemimpin berniat melakukan perubahan system transportasi umum jika ia sehari-hari duduk nyaman dalam kawalan vorijder polisi didalam mobil pribadi?
Jika misalnya ada gerakan “pejabat naik trans Jakarta”, maka suatu saat mungkin akan diikuti oleh public figure lainnya. Jika public figure dan tokoh masyarakat berlomba-lomba menggunakan transportasi umum, baru saya percaya jika “hasrat kepemilikan” kendaraan pribadi dapat ditekan.
Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang memberi contoh. Jika Anda ingin orang lain tidak korupsi, maka partai Anda sendiri jangan sampai korupsi. Jika Anda ingin orang lain bersikap baik kepada Anda, maka Anda sendiri harus bersikap baik kepada orang lain. Karena satu tindakan lebih menggema dari seribu pernyataan.
Well done is better than well said.
Ingat pesan Hilel yang mendapat pertanyaan dari seorang kafir tentang pelajaran kebijaksanaan dalam cerita klasik Yahudi. Kaum pagan ini berjanji untuk masuk agama Yahudi jika dia bisa membaca seluruh Taurat sementara dia berdiri di satu kaki. Hilel menjawab:
“Apa yang tak engkau sukai untuk dirimu sendiri, jangan lakukan kepada sesamamu. Itulah seluruh Taurat dan sisanya hanyalah komentar. Pelajarilah.”
Sabtu, 17 September 2011
Kisah Kasih Bajaj (Seri Sumbangsih untuk Jakartaku)
2. Sistem Transportasi Jalan Non-Utama
3. Sistem Transportasi to the point
Kamis, 02 Juni 2011
Para Atlet Ekonomi Ibukota
Fiuhhh!!.. Itulah ungkapan perasaan paling melegakan ketika berhasil masuk gerbong KRL JaBoDeTaBek. Meskipun pengalaman itu tidak saya alami setiap hari, tetap saja menegangkan karena saya harus bersaing dengan “atlet-atlet ekonomi” Jakarta. Hmmm atlet ekonomi? Siapa mereka? Ya, mereka adalah masyarakat kelas pekerja atau bahasa kerennya disebut working class people. Tulisan ini saya angkat dari perspektif pribadi saya tentang siapa dan bagaimana analogi aktivitas mereka dengan atlet sesungguhnya serta kaitannya dengan roda perekonomian bangsa. Selamat menikmati J. (nb: istilah atlet ekonomi adalah karangan saya sendiri hehehe)
Pertama, saya ingin mendefinisikan terlebih dahulu tentang siapa “atlet-atlet ekonomi” atau masyarakat kelas pekerja ini. Agar terasa lebih ilmiah, saya ambil definisi mereka menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) bulan Agustus tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas menurut status pekerjaan utama berjumlah 108.207.767 juta orang. Adapun komposisi yang membentuk jumlah tersebut berasal dari 7 kelompok utama yaitu:
1. Berusaha Sendiri
2. Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap/Buruh Tidak Dibayar
3. Berusaha Dibantu Buruh Tetap/Buruh Dibayar
4. Buruh/Karyawan/Pegawai
5. Pekerjaan Bebas di Pertanian
6. Pekerjaan Bebas di Non Pertanian
7. Pekerja Keluarga/Tak Dibayar
Untuk cerita ini, definisi yang tepat adalah status no. 4. Menurut saya dibandingkan dengan status pekerjaan yang lain, profesi buruh/karyawan/pegawai lebih sering terlihat bersliweran di ibukota. Ini asumsi pribadi saya loch, kalau anda kurang sependapat mari kita diskusi kapan-kapan (kapan ya?? :p). Oke kembali ke topik. Selanjutnya menurut hasil SAKERNAS terakhir bulan Agustus tahun 2010, penduduk yang berprofesi no. 4 tadi berjumlah 32.521.517 juta orang. Nah, orang-orang inilah yang kemudian saya sebut sebagai atlet-atlet ekonomi. Mengapa demikian? Alasannya meskipun berbeda bidang, kalangan pekerja dan atlet memiliki beberapa kesamaan dalam pola rutinitas sehari-hari. Dan untuk hal ini, saya masih menggunakan asumsi pribadi. Subjektif ya? Hehe tenang saja, insya Allah masih ada sisi objektifnya kok hehehe (maksa :p).
Kalangan pekerja yang diwakili buruh/karyawan/pegawai ini biasanya memulai aktivitas dari pagi buta atau sekitar jam 5 pagi. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar terhindar dari macet bagi yang naik motor, mobil dan bus atau supaya tepat waktu tiba di stasiun bagi yang naik kereta. Baik bus maupun kereta, keduanya sama-sama padat (pengalaman pribadi :p). Namun dari kedua moda transportasi tersebut, kereta/KRL masih lebih baik karena lebih tepat waktu (meski kadang suka telat juga). Kalau sampai mereka telat tiba di tempat kerja, mereka bisa kena semprot atasan. Bisa repot urusannya kalau begini. Lantas apa hubungannya dengan atlet? Berdasarkan pengalaman teman SMA saya yang seorang atlet renang, dia bahkan harus berangkat jam 4 pagi agar tiba di tempat latihan tepat waktu. Weww pagi buta sudah harus nyebur?? Brrrr. Saya sempat menanyakan alasannya dan dia menjawab bahwa itu adalah ketentuan pelatih dan juga agar setelah latihan dia bisa segera pergi ke sekolah. Kalau sampai dilanggar tentu akan mendapat sanksi dari om pelatih. Anyway, saya salut dengan teman saya ini karena meskipun harus latihan renang di pagi buta tapi prestasi belajarnya tidak terpengaruh sama sekali bahkan dia selalu peringkat pertama di kelas (ngiri :p). Nah, dari sini mulai tampak kan letak persamaan kedua profesi tersebut? Tapi cerita baru dimulai, masih banyak lagi yang akan diungkap disini hehe.
Setelah berjuang keras untuk sampai ke kantor, mereka pun harus menghadapi setumpuk pekerjaan dengan deadline yang semakin dekat. Terkadang saking banyaknya deadline, mereka harus rela lembur hingga larut malam. Sebagai contoh, kakak saya yang bekerja di salah satu bank di Jakarta harus bersiap pulang agak malam jika sudah menjelang akhir bulan. Hal itu merupakan aktivitas rutin yang umum dilakoni oleh karyawan lembaga keuangan. Dari situ jelas bahwa deadline menjadi kosakata yang lazim bagi working class people. Semua itu mereka tempuh dengan tujuan ingin memperbaiki kualitas hidup. Hal ini pun terjadi pada aktivitas para atlet Indonesia. Belum lama ini, kita lihat di tv bagaimana kerasnya latihan ala militer tim sepakbola U-23 Indonesia di Batujajar guna menghadapi SEA Games Palembang. Bahkan yang anehnya mereka sampai harus makan daging ular untuk melatih mental bertanding (come on, they are athletes not army!!). Well, meski berat dan kadang tak masuk akal mereka harus menjalaninya demi mewujudkan prestasi terbaik di SEA Games nanti (we proud of you, guys! J).
Kemudian dari sisi pendapatan, terkadang apa yang mereka kerjakan tak sepadan dengan gaji yang mereka dapat. Beberapa di antaranya dialami oleh karyawan/pegawai yang disalurkan melalui perusahaan outsourcing (termasuk kakak saya). Biasanya perusahaan outsourcing yang melakukan ketidakadilan ini memang punya track record yang buruk. Senior saya yang bekerja di salah satu bank syariah di Jakarta mengungkapkan bahwa perusahaannya pernah mem-blacklist beberapa mitra outsourcing-nya. Alasannya karena mereka sering telat membayar gaji karyawan dan bahkan tidak pernah memberikan uang tambahan apabila si karyawan tersebut lembur (what the hell!!). Ternyata kemirisan ini pun terjadi di kalangan para atlet khususnya pada atlet senior yang pernah berjaya di masa lalu. Kejayaan mereka di masa lalu baik di kancah regional maupun internasional berbanding terbalik dengan kehidupan mereka di masa tua. Bahkan terkadang mereka terpaksa menjual medali kebanggaan mereka demi menyambung hidup (Mr. President, pay attention please!).
Terakhir, dari sederet rutinitas mereka yang telah saya bahas di awal tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan mereka membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih dinamis. Menurut financial planner Ligwina Hananto, masyarakat kelas pekerja merupakan komponen masyarakat kalangan menengah yang keberadaannya dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Contohnya, jika mereka lapar atau sekedar ingin mengganjal perut setelah seharian bekerja, mereka akan membeli makanan semisal gorengan, siomay dan sebagainya. Rasa lapar mereka membentuk demand (permintaan) terhadap gorengan dan siomay. Permintaan tersebut kemudian membentuk supply (penawaran) yang berimplikasi pada penciptaan profesi tukang gorengan dan tukang siomay (sok-sok ekonom :D). Di sini terlihat betapa peran sosial ekonomi working class people begitu terasa manfaatnya bagi golongan ekonomi lemah. Sebagai catatan, analogi atlet yang dipaparkan pada tulisan ini hanya sebagai gambaran betapa kerasnya upaya mereka mengadu nasib di ibukota seperti halnya atlet yang terus berlatih keras agar bisa berprestasi. Harapan terakhir adalah semoga ada sekitar 2 % dari mereka (termasuk saya :p) yang bisa “naik kelas” menjadi pengusaha sehingga mereka tidak hanya menaikkan derajat kualitas hidup diri dan keluarga mereka tetapi juga orang lain. Amin J.
*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil desak-desakkan di KRL JaBoDeTaBek, curhatan pribadi dan pengalaman teman. Maaf jika terlalu ngawur karena yang nulis lagi dikejar deadline :P



