Selasa, 28 Agustus 2012

Harga Barang dan Moral Manusia

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy

Kali ini saya akan sedikit berbicara soal “moral”. Hahahaha, sesuatu yang mungkin sangat diasingkan dari dunia ilmu ekonomi. Tapi, tidak apa lah, sekali-kali kita berbicara sebuah hal yang agak abstrak dan membosankan. Karena kalau tulisan saya bagus terus, jadinya gak normal (emang tulisan saya bagus? :P)

Mungkinkah para pembaca Ekonom Gila yang budiman pernah berpikir sejenak di tengah kegalauan malamnya, di tengah jari-jari yang berdzikir dengan BB sambil berkicau di Twitter atau update status di Facebook, yakni berpikir soal dari manakah datangnya harga?

Pikiran paling awam soal bagaimana harga muncul adalah ongkos produksi. Mbah Adam Smith menjelaskan, yang singkatnya, bahwa harga itu munculnya dari biaya tenaga kerja untuk membuat barang itu, ditambah ‘sedikit’ agar kegiatan produksi itu dapat dilakukan lagi. Jadi misalnya ada pak Ahmad yang berdagang sate rusa, maka harga sate rusa yang dijual dikalikan dengan jumlah unit yang dijual hasilnya lebih besar dari biaya dia menggaji pegawainya untuk memburu rusa, menyewa senapan, menguliti rusa, dan membakar sate-sate di atas bara. Juga tidak lupa biaya untuk membeli tusuk sate, bumbu sambel kacang dan lain sebagainya. Mudah bukan?

Melompat jauh dari masa Adam Smith (percayalah! bahwa pencarian nilai atau harga adalah cerita yang panjang dan penuh intrik seperti sinetron, hahaha lebay, maaf saya melompat-lompat), Karl Marx melihat lebih jauh dari Adam Smith bahwa harga itu adalah dari biaya untuk tenaga kerja (ditambah alat-alat kerjanya), biaya tenaga kerja sebelumnya yang membuat alat kerja produksi tersebut, biaya tenaga kerja untuk membuat alat yang digunakan untuk membuat alat produksi, dan demikian seterusnya. Lalu, Karl Marx mengangkat teori nilai lebih yang sudah saya tulis di awal berdirinya blog Ekonom Gila ini. Nah terlepas perdebatan Marx itu, Eduardo Porter dalam buku The Price of Everything menyimpulkan bahwa dari pikiran Karl Marx ini justru dapat diambil sebuah pelajaran lain yakni, “harga dari barang berkaitan ‘lebih jauh’ atas barang itu sendiri dari yang kasat terlihat”. Maksudnya, terkadang atau mungkin seringkali, harga bukan hanya masalah biaya produksi.

Mau contoh? Buat kamu yang suka minum kopi tapi bukan pakar kopi, mungkin akan terbingung-bingung mengapa harga kopi di Kedai Kopi dan Starbuck sangat berbeda jauh. Mungkin, tidak perlu jauh-jauh harga kopinya, harga ice tea-nya (alias es teh!) saja, pasti sudah berbeda. Tapi mungkin saja bagi mereka yang memang pakar dan penggila kopi akan melihat kopi dari sudut pandang yang berbeda dan akhirnya menjatuhkan nilai atau harga kopi Starbuck jauh di atas Kedai Kopi. Sama seperti kalau kalian pergi ke galeri-galeri lukisan di Bali, bagi yang awam pasti akan terbingung-bingung bagaimana lukisan abstrak gak jelas seorang maestro harganya jauh melangit dibandingkan lukisan abstrak pelukis pemula. Padahal biaya kuas, cat dam kanvas-nya mungkin tidak jauh berbeda. Bapak Adam Smith salah dong? Lalu dari mana datangnya harga itu?

Saya sebenarnya paling suka dengan teorinya harganya Walruss, yakni harga itu ditentukan oleh mekanisme pasar. Coba lihat kasus kopi dan lukisan di atas, faktor yang terlibat di dalamnya amat luas. Mulai dari perspektif konsumen awam, ahli, kapasitas, pengalaman, nama besar dan lain sebagainya. Akhirnya harga dijatuhkan pada pasar. Maka pasarlah yang menentukan harga. Logika pasar tanpa intervensi penguasa adalah simpel, ongkos produksi adalah batas bawah harga, dan harga yang terjadi adalah tergantung oleh kekuatan penawaran dan permintaan di pasar. 

Walaupun jujur saja, saya terkadang masih ‘grogi’ untuk berani mendefinisikan apa itu “pasar”.  Saya hanya sering berpikir dan merenung apakah pasar-pasar yang ada selama ii sudah benar-benar manusiawi? Atau kalau mau pertanyaan yang lebih berbau ekonom ketimbang sosialis, apakah pasar yang tercipta memang benar-benar berujung pada sebuah kesejahteraan masyarakat seperti yang selama ini dijanjikan oleh ilmu ekonomi?

Mengapa demikian? Coba saja, jika kita berikan lukisan Sang Maestro ke sebuah lingkup khusus dan spesifik, seperti misalnya pada suatu kasus: berikan pilihan kepada para keluarga korban perang di Palestina atau Iraq berupa Lukisan Sang Maestro atau Bahan Pangan dan Pakaian, mana yang lebih mereka pilih? Jika harga itu adalah “logika” dasar penentuannya, maka semua manusia akan memilih si Lukisan bukan? Tentu karena harganya yang lebih tinggi? Tapi dalam konteks ini, saya tidak yakin pilihan itu akan dibuat. Lalu mengapa harus ada orang/pasar yang menilai itu sangat tinggi padahal lebih banyak orang lain yang tidak menganggap itu hal yang bernilai?

Kalau mau contoh kompleksitas pasar yang lain dan tidak sesentimentil di atas: misalnya seperti kamu pilihan Es The Kotak vs Hot Coffe Latte Starbuck di hari yang terik seolah-olah matahari ada dua. Mana yang kamu pilih? Prediksi saya adalah para pembaca yang budiman akan memilih Es The Kotak. Dari sini setidaknya dua pelajarannya adalah 1) Pasar itu adalah sebuah entitas yang rumit dan dinamis, sampai-sampai mahasiswa ilmu ekonomi hampir selalu dititipi untuk tidak lupa mengucapkan kata-kata “cateris paribus” di setiap penjelasannya tentang kurva-kurva penawaran-permintaan, 2) Antara harga dan nilai dapat terlihat jelas sedikit perbedaannya, setidaknya menurut saya (dari tadi saya menyamakan dulu term “harga” dan nilai”).

Harga bagi saya adalah apa yang sudah terjadi di pasar, apa yang sudah umat manusia sepakati ketika melakukan transaksi. Seperti harga saham, label harga di toko-toko pakaian, dan lain sebagainya. Nilai adalah dibalik harga, memengaruhi harga, tapi dia lebih kompleks dan menyangkut banyak hal, mulai dari situasi, selera, paradigma bahkan kepercayaan.  Nah,  pencarian nilai-harga inilah yang sudah dilakukan oleh banyak para ahli agama dan ekonom di jaman dahulu hingga modern. Tentang sebuah pencarian nilai, tentang sebuah keadilan, tentang etika manusia, tentang gaya hidup peradaban manusia, tentang kesejahteraan umat manusia. Semua bisa dimulai dari sini.

Baiklah, mungkin para pembaca yang budiman sudah membaca alur berpikir saya yang kali ini cukup jelimet kali ini, bahwa ini adalah kegalauan saya tentang masih banyaknya orang yang miskin dan membutuhkan banyak pertolongan oleh kita, namun di sisi lain banyak orang yang menghambur-hamburkan hartanya (berkaca dari harga yang mereka bayar) untuk sesuatu yang saya pribadi rasakan masih kurang fungsional, relevan dan kekinian dengan kesejahteraan manusia.

“Sayangnya”, saya tahu benar bagaimana konsep teori preferensi individu membangun konsep harga di masyarakat. Saya tahu alur model dan gambar-gambar kurva ala microeconomics yang mengantarkan kita pada rasionalisasi yang solid dan tidak terbantahkan tentang harga. Harga adalah hak mereka bagi manusia untuk memilih atau tidak. Semua diselesaikan secara fair di meja perundingan bernama pasar. Produsen yang meskipun punya andil dalam sebuah inovasi barang dan jasa, mereka pada dasarnya juga tergantung pada daya tarik dari permintaan konsumen. Bahkan mereka jauh lebih mulia karena seringkali menanggung risiko bisnis yang tidak pernah ditanggung oleh konsumen dalam proses inovasi. Konsumen pada dasarnya adalah raja (meskipun memang Say berkata supply creates its own demand).

Akhirnya, mengapa tulisan kali ini saya beri judul Harga Barang dan Moral Manusia karena sebagai manusia biasa dan bukannya pejabat, sebagai seseorang yang hanya menulis di Ekonom Gila, saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg bahwa salah satu cara untuk memberikan kesejahteraan pada umat manusia bermula dari paradigma preferensi konsumsi masing-masing manusia. Harga bermula dari paradigma, budaya, moral dan kepercayaan individu tentang sebuah perkara atas harga. Yap! Terkadang pemerintah bisa mengaturnya dengan kebijakan dan otoritasnya, tapi benar kata mereka yang anti-intervensi, bahkan pemerintah sendiri terkadang tidak tahu mana yang paling benar, tepat dan optimal. Jadi saya yang orang kecil ini hanya bisa membagikan ide tentang melakukan perubahan dari diri sendiri. Tentang keadilan menilai barang, tentang mendorong inovasi-inovasi umat manusia yang berdaya guna dan barokah, tentang kepedulian untuk berbagi dan menyadari bahwa memang terkadang kita diberikan kelebihan dan sudah semestinya mengikhlaskan hasil kerja keras kita kepada mereka yang lebih lemah dari kita.

Aghh.. tulisan ini kacau sekali :P
28 Agustus 2012

Tulisan perenungan bulan Ramadhan, sambil membaca buku The Price of Everything dan ingin dipost ketika lebaran, namun apa daya, internet di Balikpapan Lemot jadi di-post di sedapatnya.
Selamat Lebaran. Semoga Allah menerima amalan ramadhan saya, kamu dan kita semua. Aamiin

Aulia Rachman Alfahmy

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 Komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar yang lebih gila...