Tampilkan postingan dengan label Thontowi Ahmad Suhada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thontowi Ahmad Suhada. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012

Semoga ide turun dari langit

Oleh: Thontowi

“Apa sih kunci supaya kreatif?”, menurut saya kreatif bekerja bukan seperti mukjizat yang turun dari langit. Ada berbagai proses dan coincident dari sifat kreatif itu sendiri. Inti dari proses kreatif adalah ketika kita (1) menemukan suatu masalah lalu menganggapnya sebagai suatu masalah, (2) memiliki pengetahuan (knowledge) yang mendasari proses pengembangan solusi, (3) dan berfikir divergen (bentuk pemikiran terbuka, yang menjajagi macam-macam kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah-Guilford,1986). Pada sebagian besar proses kreatif yang produktif (mampu menghasilkan produk nyata) dibutuhkan pula trial-error yang cukup banyak dan tentu saja menuntut kesabaran, keuletan, dan fokus.  Ironisnya sikap fokus ini adalah inti dari berpikir konvergen yang merupakan kebalikan dari sikap berpikir divergen. Jadi, orang-orang yang berhasil menghasilkan suatu inovasi adalah orang-orang yang tetap bisa menjaga sikap berpikir divergennya ketika ia fokus dalam menghadapi suatu masalah (konvergen).

Kondisi pertama mungkin terlihat mudah, setiap hari kita mungkin berhadapan dengan berbagai masalah. Namun seberapa jauh kita menganggap hal tersebut sebagai suatu masalah? Sebagian besar dari kita bersikap pasif, abai, acuh, atau hanya sekedar mengutuk masalah tersebut.  Sebagian besar dari kita menganggap masalah tersebut sebagai suatu hal yang normal, wajar, atau dapat diterima. Sebelum Wraight bersaudara menemukan embrio pesawat, berjalan di darat adalah suatu hal yang normal dan dapat diterima. Bukan tidak mungkin suatu saat nanti berjalan di darat menjadi suatu hal yang aneh.

Knowledge yang dimaksud dalam poin kedua tidak harus merupakan pengetahuan yang kita dapat secara formal di sekolah. Kearifan lokal, budaya, kebiasaan, pengalaman dapat menjadi sumber dari pengetahuan dalam proses kreatif. Pencampuran berbagai disiplin ilmu dan pendekatan juga akan mendukung dihasilkannya proses kreatif. Tim heterogen yang terdiri dari orang-orang yang memiliki berbagai macam disiplin ilmu tentu akan lebih kreatif dibanding dengan tim homogen yang yang hanya terdiri dari satu disiplin ilmu.

Berpikiran terbuka adalah poin ketiga dari sifat kreatif. Kita harus mampu menggali setiap kemungkinan yang ada.  Terkadang proses kreatif tidak memerlukan poin satu (menemukan masalah). Pelukis, sutradara, artist, termasuk dalam kategori ini. Mereka yang mampu berpikir out of the box, diluar dari kebiasaan, dan terkadang gila. Hasil dari proses kreatif ini juga bukan berupa penyelesaian masalah namun lebih mengarah ke keindahan dan kecantikan.

Hasil dari sebuah proses kreatif itu sendiri memiliki berbagai macam kemungkinan, beberapa yang dapat saya petakan dapat dilihat sebagai berikut :


1. Menggabungkan berbagai fungsi dalam satu alat. Contoh paling mudah adalah handphone atau saat ini lebih dikenal sebagai smartphone, gabungan dari telepon, kamera, recorder, netbook, dsb.

2. Mensimplifikasi bentuk, memperkecil, memperingkas

3. Subtitutes, sebagai alternatif pengganti yang memiliki nilai lebih
4. Complementer, sebagai pelengkap suatu produk.  Inilah yang membuat proses kreatif dan inovasi tak akan pernah berhenti. Setiap penemuan sebuah produk baru akan menimbulkan masalah dan kebutuhan yang baru.  Mouse muncul karena adanya komputer, kaus kaki muncul karena adanya sepatu.
5. Meningkatkan performa produk sesuai atributnya (kecepatan, kekuatan, ketahanan)
6. Desain inovatif, indah, cantik. Ini merupakan hasil dari proses kreatif yang lebih didasari oleh sikap berpikir terbuka (3) dibanding penyelesaian masalah (1).
Sifat kreatif lebih mudah muncul pada lingkungan yang mendukungnya.  Lingkungan macam apa yang mendukung proses dan sifat kreatif?

1. Lingkungan yang memiliki berbagai keterbatasan cenderung meningkatkan sifat kreatif, keterbatasan merupakan sumber dari masalah, dan masalah adalah sumber dari kreativitas. Selain itu seperti disebutkan di atas, lingkungan yang heterogen cenderung meningkatkan kemungkinan munculnya proses kreatif dibanding linkungan yang homogen.

2. Lingkungan yang memiliki aturan terlalu ketat cenderung menghambat proses kreatif, namun tak jarang lingkungan seperti itu pula yang merangsang seseorang berpikir kreatif (untuk mengakali aturan-aturan tersebut). Contohnya adalah cracker (hacker), koruptor, dan “siswa-siswa cerdas” termasuk dalam kategori ini. Kata mutiara “aturan dibuat untuk dilanggar” sepertinya cocok dengan kondisi ini.

3. Setiap anak terlahir kreatif. Saya meyakini hal tersebut. Terkadang saya berpikir bahwa apabila saya dilahirkan pada era renaissance  saya mungkin bisa menjadi penemu hebat. Seringkali ketika saya berpikir telah menemukan hal baru ternyata hal tersebut sudah ditemukan oleh orang-orang sebelum saya. Menurut saya penemu adalah orang-orang  yang dilahirkan di zaman yang tepat dengan kreativitas yang tepat. Banyak orang-orang yang dianggap gila dan akhirnya dibunuh akibat ia kreatif pada masa yang salah. Mungkin hal tersebut terlalu ekstrim untuk zaman ini tapi ternyata pembunuhan tersebut masih ada walaupun dalam bentuk lain. Pembunuhan karakter kreatif. Seorang anak yang saat ini menemukan teori gravitasi akibat melihat apel jatuh dari pohon mungkin akan dianggap biasa saja (karena hal tersebut telah ditemukan sebelumnya), padahal anak itu mungkin melakukan proses kreatif yang sama dengan yang dilakukan Newton. Terkadang kita tak sadar bahwa pengetahuan kita saat ini bila tidak dikelola dengan baik justru akan menghambat sifat kreatif seorang anak untuk berkembang. Kuncinya adalah kita harus menjaga agar proses kreatif tidak dibatasi oleh masa lalu, pemahaman kekinian, dan didukung dengan reward yang sesuai.

4. Untuk poin keempat ini saya sebenarnya ingin menulis bahwa lingkungan ramah terhadap proses kreatif adalah lingkungan yang tidak mengedepankan standar. Namun ternyata standar memang diperlukan dalam proses kreatif itu sendiri pada fase tertentu. Tidak lucu kan kan kalo suatu saat kita membeli roti satu dan roti yang lain yang sama ternyata bervariasi bentuk dan rasanya. Jadi lingkungan yang ramah terhadap proses kreatif adalah lingkungan yang menempatkan sifat kreatif dan standar pada fase yang sesuai. Pada fase pembentukan ide, brain storming , sifat kaku dan acuan terhadap standar harus diminimalkan seminimal mungkin. Namun pada fase produksi , pengawasan, standar, dan aturan yang ketat harus tetap diberlakukan.

Mungkin memang benar ide, dan kreativitas itu turun dari langit. Namun selalu ada caraNya untuk menyampaikan ide itu kepada kita.

Minggu, 04 September 2011

Saham-Saham [Cinta]


Terkadang kau memulainya sebagai seorang investor dengan puluhan milyar cinta di tanganmu hingga serasa tak akan pernah habis ketika kau menginvestasikannya.

Terkadang bahkan kau tak menginvestasikannya segera, menunggu dan terus menunggu untuk menempatkannya di sebuah perusahaan impian yang tak kunjung tiba, padahal begitu banyak perusahaan yang baik bagimu namun kau tak menyadarinya.

Terkadang kau tak kunjung-kunjung menginvestasikan cintamu karena takut akan resiko yang akan kau tanggung. Padahal kau sendiri sadar bahwa tak ada cinta tanpa resiko.

Terkadang kau dengan mudah menanamkan sahammu pada sebuah perusahaan, namun setelah kau telah merasa mendapat capital gain yang cukup kau dengan mudah mencari perusahaan potensial yang lain.

Namun terkadang kau memulainya dengan menjadi seorang investor yang benar-benar pengaplikasikan teorimu, portofolio. Kau menginvestasikan saham-sahammu pada beberapa perusahaan berbeda.

Beberapa saat setelah kau menanamkan sahammu. Saham-saham itu mulai berkembang, memberikan deviden bagimu. Seberapa bijakkah kau tergantung pilihanmu, menanamkannya kembali sebagai retain earning untuk menumbuhkan perusahaan[cinta]mu lebih besar, atau berpangku tangan menikmati deviden atas saham yang kau tanamkan. Padahal terkadang perusahaanmu sangat berharap akan retain earning[cinta] namun tetap setia memberikanmu deviden meskipun kau tak menambah saham-sahammu di perusahaanmu itu. Perusahaanmu tetap setia mendengarkan pendapatmu, padahal tak jarang membawa mereka kepada kehancuran.

Terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan, yang selalu merasa miskin, yang selalu merasa bahwa perusahaanyalah yang paling menyedihkan di dunia ini, yang selalu berharap akan datangnya seorang investor.

Namun terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan yang tangguh, yang walaupun tak memiliki tangible asset, namun kau memiliki intangible asset yang hebat. Harga dirimu. Kau tak pernah berharap akan adanya investor yang membantumu. Kau cukup tangguh untuk berjuang sendirian.

Pemilihan permodalan menjadi sebuah dilema. Memilih untuk utang atau menjual saham. Yang menjadi persoalan adalah terkadang mereka yang memberikan modal [cinta] padamu salah mengartikannya sebagai utang, mereka menuntutmu untuk mengembalikannya beserta bunga.

Namun jangan patah arang. Untungnya selalu ada investor berbasis syariah. Yang menanamkan modal kepadamu tanpa mengharap riba, yang terkadang ikut menanggung kerugianmu, setia disaat suka maupun duka.


oleh : Thontowi A. Suhada
*kalau ada analogi yang kurang tepat atau pemakaian kata yang salah mohon dikoreksi yah =)

Jumat, 26 Agustus 2011

Megamind : X Y Behavior Theory Analysis



Film yang baik dan berkualitas selalu bisa memberikan inspirasi, dan seringkali justru sering saya temukan di film kartun. Inspirasi kali ini berasal dari Megamind. Alkisah dari sebuah planet yang yang akan hancur di luar tata surya kita dikirimlah dua orang bayi super, yang satu adalah bayi dengan kekuatan super,kecepatan super, kemampuan terbang (ya gampangnya mirip bgt sama Superman™) bayi ini kemudian dikenal dengan nama Metroman. Bayi yang kedua dianugerahi kejeniusan dalam merakit senjata, robot dsb, bayi ini kemudian menamai dirinya Megamind.



Singkat cerita si Metroman yang beruntung jatuh ke keluarga kaya yang baik, ditanamkan nilai-nilai kebaikan, hidup berkecukupan akhirnya tumbuh sebagai seorang pahlawan. Sedangkan si Megamind sialnya jatuh ke sebuah penjara dan dibesarkan oleh narapidara disana, ia kemudian mendapat perlakuan tidak adil dari lingkungannya, disakiti, dijauhi. Tumbuh dengan kebencian akhirnya dia memilih jalan untuk menjadi penjahat.

Metroman dan Megamind terlibat dalam sebuah endless fight, perang tanpa akhir, namun pada suatu titik si Metroman bosan menjadi pahlawan dan memilih untuk pensiun. Si Megamind yang putus asa karena kehilangan rival akhirnya memutuskan untuk “menciptakan” seorang pahlawan. Tanpa sengaja ia memilih seorang yang terlihat baik, polos, dan tanpa catatan kejahatan. Dengan alatnya si Megamind membuat orang ini menjadi berkekuatan super seperti Metroman. Namun ternyata setelah mendapat kekuatan justru ia memanfaatkan kekuatannya untuk kepentingannya sendiri, memiliki kecenderungan merusak dan menguasai. Singkat cerita akhirnya Megamind berhasil mengalahkan “pahlawan jahat” itu dan justru akhirnya Megamind menjadi pahlawan sejati kota tersebut.


Film tadi menggelitik ingatan saya untuk kembali ke kelas Organizational Behavior saya dulu. Pada pembaca juga pasti tau teori yang cukup terkenal ini, ya X-Y Behavior Theory ciptaan Douglas McGregor. Om McGregor mengungkapkan bahwa persepsi manusia terbagi menjadi dua, persepsi X dan persepsi Y.

Persepsi X memandang semua orang adalah pemalas, cenderung menghindari pekerjaan, dan hanya akan bekerja dengan baik apabila diawasi , singkatnya harus menggunakan pendekatan “carrot and stick”. Sedangkan kebalikannya persepsi Y memandang setiap orang adalah orang yang rajin dan pekerja keras, yang memiliki semangat untuk memajukan perusahaan sebagai sebuah achievement. Mereka cukup ditunjukkan visi dan mereka akan berjuang menuju kesana dengan kreativitas dan usaha mereka sendiri.



Sekali lagi saya tekankan bahwa ini teori mengenai persepi, cara pandang seseorang terhadap orang lain dan bukan teori yang membagi manusia kedalam dua golongan, Corect me if I wrong.

Kali ini saya mengajak pembaca untuk berpikir bersama memodifikasi teori tersebut dari teori persepsi mengenai “pemalas” dan “pekerja keras” menjadi teori persepsi mengenai “orang baik” dan “orang jahat”. Terlihat mirip? semoga yang saya pikirkan juga seperti yang anda pikirkan sekarang.


Tanpa kita sadari kita sering mempersepsikan orang lain sebagai orang baik dan orang jahat. Entah itu berdasar berita, cerita teman kita, ketok tular(word of mouth), maupun memang streotip yang ditanamkan kepada kita sejak kecil. Benarkah persepsi tersebut? Adilkah bagi mereka? Saya akan mengajak anda untuk bermain dengan persepsi anda tersebut.


Seperti saya ceritakan di epilog, sebagian besar orang jahat atau bahkan semua, mungkin tidak terlahir jahat. Karakter-karakter seperti Megamind terlahir dari pendidikan lingkungan yang salah, perlakuan yang tidak adil, kemiskinan dan hal-hal negatif lainnya. Apabila mereka diberikan kesempatan untuk berubah kemungkinan mereka akan menjadi baik bukanlah sebuah kemustahilan. Pada dasarnya saya berpersepsi bahwa pada dasarnya semua orang terlahir baik. Orang yang paling jahat sekalipun pasti memiliki “sebab” mengapa menjadi jahat, karena kita bersepsi bahwa semua orang terlahir baik.


Nah sekarang anggap saya telah dicuci otak dan sekarang saya bersepsi bahwa orang jahat pada dasarnya memang jahat. Wow? Menarik bukan? Setiap orang dilahirkan dengan bakat jahat, bakat untuk berbohong, licik, mencuri. Mereka berbuat jahat karena menyenangkan dan mudah dibanding harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagian besar orang tidak berbuat jahat karena mereka tidak memiliki kesempatan, contohnya sering kita lihat(atau bahkan kita sendiri?!) saat pengawas ujian lengah sebagian dari kita cenderung akan memanfaatkannya untuk mencontek. Sebagian lagi karena takut akan hukuman, contoh yang sama, sebagian dari kita takut untuk mencontek karena bila ketahuan akan tidak lulus. Dan sebagian lagi karena tidak memiliki kemampuan untuk itu, kita tidak mencontek karena tidak ahli untuk mencontek (sering saya takjub dengan kemampuan beberapa teman saya yang sangat ahli dalam mencontek).


Nah dari dua buah cara pandang diatas, manakah yang merupakan cara pandang Anda? Manakah yang menurut anda benar? Implikasi dari persepsi diatas sangatlah besar. Dalam tingkat ekstrem, bila anda berpersepsi pertama, anda akan memandang bahwa semua kejahatan yang dilakukan seseorang bukanlah salah orang tersebut. Kehajatan itu hanya akibat dari faktor-faktor eksternal yang disebabkan orang lain. Sehingga akan sangat tidak adil bila orang tersebut dihukum. Sedangkan bila anda berpersepsi kedua, anda akan selalu curiga pada semua orang. Memandang setiap orang akan bisa berbuat jahat kepada anda dan tentu saja anda akan menjadi paranoid.

Saya yakin pembaca dapat mengambil keputusan yang tepat atas persepsi yang anda miliki. Apakah kita memang Angel and Demon yang ditakdirkan untuk baik atau jahat? Ataukah kita manusia yang memiliki pilihan, sehingga pada suatu saat nanti kita memang pantas diberi ganjaran atas pilihan kita yang telah kita buat.


Tak lupa pada kesempatan ini saya mengucapkan Selamat Idul Fitri. Atas kesalahan dan kejahatan pada anda yang pernah saya perbuat saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga amal kita diterima di sisi-Nya, dan kita ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya kelak.


Oleh : Thontowi Ahmad Suhada

Jumat, 08 Juli 2011

Portfolio of Happiness

by Thontowi Ahmad Suhada

Kebahagiaan timbul dari berbagai hal. Seringkali kita bingung melihat nenek-nenek yang hidup seadanya bahkan kekurangan namun raut wajahnya selalu memancarkan kebahagiaan. Tak jarang pula kita melihat orang yang bergelimang harta namun justru wajahnya memancarkan penderitaan dan kegelisahan. Ini hanya soal dimana anda meletakkan kebahagiaan..

Kebahagiaan seseorang biasanya terletak di orang lain, suatu benda, atau ambisi mereka. Hal ini paling mudah dipahami pada fenomena orang yang berpacaran. Biasanya orang tersebut meletakkan kebahagiaannya di pasangannya. Orang tersebut baru akan merasa bahagia bila ia dicintai pasangannya tersebut. Begitu pula sebaliknya. Ia akan sedih bila cintanya tak berbalas.

Yang kedua adalah bahagia yang dibuat oleh diri anda sendiri. Bila dimasukkan dalam konteks di atas, orang ini mencintai karena ia bahagia dengan mencintai, bukan karena ada balasan dari pasangannya. Sering kita dengar syair lagu,”aku kan slalu mencintai walaupun kau tak pernah membalasnya” .Terlihat bagus?think again..terkadang hal ini justru jadi freaks! Terlihat dari fenomena cowok yang mengejar2 cewe walaupun si cewe tidak suka dan justru merasa sangat terganggu.

Yang ketiga adalah bahagia ketika melihat orang lain bahagia. Nah ini yang biasanya sulit. Seringkali kita justru berbuat sebaliknya. Bahagia melihat kesusahan orang lain. Bila dalam konteks di atas berarti kita mencintai untuk membahagiakan orang yang kita cintai. terdengar awam? Renungkan sekali lagi apakah kita sering melakukannya?

Nah, sebenarnya ketiga kebahagiaan di atas bukan dikotak-kotakkan, namun hanya untuk mempermudah penjelasan selanjutnya. Memang cukup sulit untuk melatih diri kita mengelola kebahagiaan kita, terutama agar selalu pada poin yang ke-3. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang juga ingin diberikan kebahagiaan dari orang lain, ingin dicintai, ingin mendapat balasan, tak bertepuk sebelah tangan. Nah, yang penting adalah bagaimana kita mengelolanya. Mencomot dari Teori Portofolio dan Analisis Investasi, kita mungkin bisa melakukan portofolio kebagaiaan kita, bila anda mencintai seseorang alokasikan harapan anda akan ada return, namun bukan 100%, yah 10-20% adalah tingkat return yang wajar. Sisanya alokasikan kebahagiaan anda pada pikiran bahwa anda mencintai karena memang dengan mencintai itu anda memperoleh kebahagiaan (nothing to lose) atau mungkin bahasa financenya risk-free. Nah sisanya alokasikan bahwa anda mencintai karena ingin membahagiakan seseorang yang anda cintai. Bila yang anda cintai tidak bahagia bila anda mencintainya, anda bisa segera mundur dengan perasaan bahagia. Bahwa ini semua adalah untuk kebahagiaannya.

Teori ini juga bisa diaplikasikan pada hal-hal lain, namun untuk alokasinya mungkin akan berbeda. Selamat berinvestasi =D

Minggu, 12 Juni 2011

Money, A Frozen Happiness


Oleh: Thontowi Ahmad Suhada

Hmm, sebenarnya ide tulisan ini sudah ada dari dulu, namun saya urungkan karena merasa bahwa saya belum berhak menuliskannya. Maklum dulu saya belum bekerja dan berpenghasilan, namun sekarang boleh lah, walaupun belum bekerja dalam arti yang awam.

Pernahkan anda merasa kehilangan ketika membelanjakan uang anda? Faktanya banyak dari kita yang merasa demikian. Namun bagaimana perasaan anda ketika anda menanam sebuah benih di taman anda misalnya, lalu merawatnya, memupuknya, dan akhirnya tumbuh menjadi sebuah pohon yang menghasilkan buah. Bagaimana perasaan anda ketika memakan buah tersebut? Bahagiakah? Adakah rasa kehilangan?

Tanpa kita sadari uang telah membekukan kerja keras dan kebahagian kita. Untuk lebih mudahnya akan saya buat alur sbb:
USAHA ~~~~~ PRODUK~~~~~KEBAHAGIAAN


USAHA~~~~~PRODUK~~~~UANG~~~~~~PRODUK~~~~~KEBAHAGIAAN?

Tentu hal ini tidak bisa dihindari karena pada dasarnya semakin hari kebutuhan manusia semakin banyak, dan sungguh mustahil untuk memproduksi semua barang sendiri. Selain itu manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain. Masih kurang? Kita tambahkan teori ekonomi mengenai Comparative and Absolute Advantage bahwa jika seseorang atau suatu negara melakukan spesialisasi terhadap suatu produk maka akan lebih efektif dan efisien.

Namun kembali ke fokus awal kita tadi, tanpa kita sadari kita merasa uang merupakan bagian terpisah dari usaha kita. Kita seakan membekukan usaha dan kerja keras kita dalam benda yang disebut uang. Uang mengisi jeda antara usaha dan kebahagiaan kita. Jeda waktu itulah yang sedikit demi sedikit memberikan rasa kepemilikan pada uang tersebut sehingga akan timbul rasa kehilangan ketika menukarkannya dengan sebuah barang/jasa. tanpa kita sadari dengan sistem ini, usaha akan lebih banyak menghasilkan residu berupa rasa lelah, bosan, susah dsb, sedangkan pembelanjaan uang lebih banyak menghasilkan residu berupa perasaan kehilangan.

Jadi..berhentilah merasa kehilangan ketika membelanjakan uang anda. Seharusnya anda merasa bahagia. Salah satu caranya adalah dengan mengulang proses anda usaha untuk mendapatkan uang itu. Wait! Anda justru merasa semakin tidak rela membelanjakan uang anda ketika membayangkan usaha anda? Artinya anda bekerja dengan gaji dibawah standar usaha anda, atau anda membeli barang yang terlalu mahal. Semoga artikel ini membantu untuk lebih menikmati hidup anda. Hidup itu harus dinikmati kawan =)

*inspirasi artikel ini muncul ketika tanganku beku karena kedinginan, need someway to make it warm, just write!


Minggu, 08 Mei 2011

Gross National Happiness

Oleh:  Thontowi Ahmad Suhada*

Gross National Happiness- Istilah ini mungkin terlihat mengada-ada atau menggelikan, sebagian dari kita mungkin hanya menganggap istilah tersebut adalah plesetan dari Gross Domestic Production (GDP) yang umum dipakai sebagai indikator kesejahteraan sebuah negara. Namun ternyata istilah tersebut memang ada. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh mantan Raja Bhutan Jigme Singye Wangchuck. Konsep tersebut kemudian dikembangkan secara serius oleh Karma Uru sebagai sebuah ukuran kesejahteraan penduduk. Konsep ini mendasarkan kesejahteraan pada 7 aspek yang cukup komprehensif, aspek tersebut antara lain :
  1. Economic Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran metrik statistik ekonomi seperti utang konsumen, pendapatan rata-rata, rasio indeks harga konsumen, dan distribusi pendapatan
  2. Environmental Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik lingkungan seperti polusi, kebisingan dan lalu lintas
  3. Phisical Wellness: Dinyatakan melalui pengukuran statistik metrik kesehatan fisik seperti tingkat severe illnesses
  4. Mental Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik kesehatan mental seperti penggunaan antidepresan dan kenaikan atau penurunan dari pasien psikoterapi
  5. Workplace Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran metrik statistik tenaga kerja seperti klaim pengangguran, job change rate, keluhan tempat kerja dan tuntutan hukum terkait pekerjaan.
  6. Sosial Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik sosial seperti diskriminasi, keselamatan, angka perceraian, tingkat konflik dan tuntutan hukum dalam keluarga, tuntutan hukum publik,dan tingkat kejahatan
  7. Political Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik politik seperti kualitas demokrasi, kebebasan individu, dan konflik asing.
Yah dari berbagai indikator di atas pasti langsung terbayang bagaimana nilai GNH Indonesia.
Konsep diatas tentu sangat idealis dan tentu sangat sulit menemukan data sekomprehensif itu. Namun konsep ini cukup mengilhami beberapa penelitian lain seperti penelitian sederhana yang dilakukan Adam Kramer, seorang psikolog dari University of Oregon. Dia mengukur GNH suatu negara berdasarkan tingkat penggunaan kata-kata positif atau negatif dalam status jejaring sosial seperti facebook. Status positif (senang, bahagia, semangat) mengindikasikan tingkat kebahagiaan yang baik, sedangkan status negatif (sedih, putus asa, kecaman) mengindikasikan tingkat kebahagiaan yang buruk.

Saya tidak ingin memperdebatkan GNP sebagai indikator yang layak dipakai atau tidak, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa di dunia ini telah mulai muncul berbagai pandangan baru tentang bagaimana bahagia itu, kesejahteraan itu. bahagia yang tidak hanya dari satu sisi, sejahtera yang tidak hanya dari satu sisi, entah itu sisi yang dapat terlihat, maupun yang tak terlihat. Sudah saatnya bagi kita membahagiakan orang lain baik itu teman kita, pacar kita, maupun lingkup yang lebih besar : masyarakat Indonesia dari berbagai sisi. Pribadi, Kepala keluarga, CEO, bahkan Presiden harus menyadari bahwa letak kesejahteraan tidak hanya bisa diberikan dengan materi. Menghargai, memberikan rasa aman, kebebasan bekerja, jaminan kesehatan, kualitas lingkungan, dan kondisi persaingan yang sehat; jauh lebih penting daripada sekedar uang maupun materi. Jangan sampai kita sudah merasa membuat keputusan, kebijakan yang terbaik namun ternyata menjadi sia-sia karena melupakan berbagai variabel diatas.
---------------------------------------------------
Live with Faith, Not with hate.
Work with smiles, Not with sighs
Love with sincerity, Not with falseness
And You will see Happiness
poet by  Reza Antonious
artikel by: Thontowi A.S

sumber :
  1. ^ Zencey, Eric (2009-08-10). "G.D.P. R.I.P". The New York Times. http://www.nytimes.com/2009/08/10/opinion/10zencey.html. Retrieved 2010-05-04.
  2. ^ McDonald, Ross (2005). Rethinking Development. Local Pathways to Global Wellbeing. St. Francis Xavier University, Antigonish, Nova Scotia, Canada. pp. 3. http://www.gpiatlantic.org/conference/papers/mcdonald.pdf.
  3. ^ Templeton, Sarah-Kate (December 5, 2004). "Happiness is the new economics". London: Timesonline. http://www.timesonline.co.uk/article/0,,2087-1388623,00.html. Retrieved 2007-01-08.
dari wikipedia =D

*) Mahasiswa Manajemen FEB 2007, seorang yang percaya bahwa Tuhan adalah seorang "Manager" bukan Ekonom, apalagi Akuntan (ngajak ribut ni  :p, profil menyusul)