Tampilkan postingan dengan label Yoga PS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yoga PS. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 November 2015

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Oleh: Pencerahan

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.
 Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.
siklus kebodohan
siklus kebodohan
Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:
  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir
Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Selasa, 22 September 2015

Gaji Anda Kecil dan Merasa Kurang? Baca Cerita Ini

sumber gambar: http://buruhmigran.or.id/

Seorang yang sedang mengalami kesulitan keuangan mendatangai Imam Syafi’i dan mengadukan krisis finansial yang dialaminya. Ia bekerja sebagai buruh dengan gaji lima dirham. Dan gaji itu tidak mencukupi kebutuhannya. Harga sembako terus merangkak naik. Upahnya habis untuk “basa-basi”. Bayar sana, bayar sini.

Setelah mendengar keluh-kesah orang itu, sang imam memberikan saran yang aneh. Imam Syafi’i justru menyuruhnya untuk menemui bos-nya dan meminta pengurangan gaji menjadi empat dirham!.

Koq aneh sih? Wong lagi krisis ekonomi koq malah disuruh nyunat gaji sendiri? Harusnya nyuruh demo naik gaji donk! Tapi karena ini nasihat dari orang sholeh, orang itu pun pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i meskipun dia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah beberapa lama kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengadukan kehidupannya yang tidak kunjung mendapat kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya kembali untuk mendatangi orang yang telah mengupahnya dan meminta majikannya untuk mengurangi gajinya (lagi), menjadi tiga dirham!

Lelaki ini Cuma bisa geleng-geleng kepala. Hidup sudah susah, ini diminta untuk hidup semakin susah. Mengencangkan pinggang Jennifer Lopez yang bahenol sih enak, lha ini mengencangkan pinggang sendiri yang sudah kurus kering! Tapi lagi-lagi orang itu pun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan membawa perasaan keheranan bercampur rasa pasrah.

Beberapa hari kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya yang tidak biasa. Dia bercerita, bahwa tiga dirham yang dia dapatkan justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan sekarang hidupnya menjadi lapang.

Dia bertanya, “Ada rahasia apakah di balik semua itu?”

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang dijalaninya itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari tiga dirham. Dan kelebihan dua dirham itu telah “mencabut” keberkahan harta yang dimilikinya ketika tercampur dengan harta yang lainnya. Sang Imam lantas mengutip sebuah sya’ir:
“Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya harta itu mejadi banyak. Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu harta itu merusaknya”.
Gaji dan Kepuasan Kerja

Cerita diatas saya ambil dari Talking in The Heaven karya Agus Setiawan dan Faisal Kunhi. Pesan moralnya sederhana: gaji bukanlah tolak ukur "keberkahan" sebuah pekerjaan. Ada orang gajinya puluhan juta yang kerjaannya cuma datang rapat, duduk, diam, bergaya interupsi sana-sini, pake "nyambi" jadi tersangka korupsi, eh masih beralasan gajinya kurang.

Tapi ada juga pahlawan yang mengabdi di pelosok negeri. Statusnya bukan pegawai negeri. Tunjangannya minim sekali. Tanpa fasilitas disana-sini. Dan mereka melakukannya sepenuh hati tanpa mengharap balasan suatu hari nanti. Mereka mengerti: rezeki Tuhan tak mesti berbentuk materi.

Dalam studi manajemen, gaji memang berkorelasi dengan kepuasan kerja. Tapi tidak selamanya linear. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman (2010), salah satu peraih Nobel ekonomi menunjukkan angka USD 75,000 adalah batasnya (untuk kasus Amerika). Jika pendapatan Anda dibawah 75rb dollar setahun, maka gaji adalah segalanya. Tapi jika Anda memiliki pendapatan diatas 75rb setahun (US dollar ya cuk, bukan IDR), maka “there’s something that money can’t buy”, dan Anda akan melakukan sesuatu bukan hanya semata-mata karena uang.

Berapa “angka pendapatan sehingga otak kita ga cuma mikir duit” di Indonesia?

Karena nilai 75rb USD sekitar 2x pendapatan perkapita, dan rata-rata pendapatan perkapita Jakarta adalah 135 juta, maka angka 270 juta adalah masuk akal. Artinya jika pendapatan kita selama setahun kurang dari 270 juta (22,5 juta per bulan), maka sangat wajar jika kita menjadi manusia mata duitan dan rela panas-panasan untuk berdemo dari pagi sampai sore hari demi kenaikan gaji.

Tapi daripada berorasi dan menutup jalan yang ujungnya malah bikin hidup orang lain susah, yang wajib kita lakukan adalah "memantaskan diri" untuk dibayar mahal. Dengan menciptakan nilai tambah yang bisa membantu dan mempermudah hidup orang lain.

Dan jika gaji Anda sudah puluhan juta dan kerjaan-nya cuma datang rapat, duduk, diam, sok interupsi sana-sini, jalan-jalan keluar negeri bawa family, sambil teriak-teriak minta kenaikan gaji, maka saran Imam Syafi’i diatas, patut untuk dicoba.

Kamis, 05 Maret 2015

Begalnomics: Kenapa Begal Tetap Ada Meski Sering Dihakimi Warga


Oleh: Yoga PS

Berita tentang kasus pembegalan di daerah Pasar Minggu membuat saya kaget. Perasaan baru seminggu yang lalu kawan seprofesinya di Tangerang harus menjadi steak medium well done karena dijadikan bahan eksperimen resep “Begal Bakar Tangerang” oleh warga yang menangkapnya.

Pertanyaan begonya: apakah mereka tidak takut mengalami nasib yang sama? Apakah tidak ada “begal warning” dari APEM - PANAS (Asosiasi Pembegal - Penadah Nasional) bagi para anggotanya? Apakah tidak ada efek jera bagi calon pembegal di seluruh dunia?

Jawabannya tentu seperti menjawab pertanyaan kenapa kejahatan masih tetap eksis kaya artis, padahal penegakan hukum terus berjalan dinamis. Penjara selalu terisi penuh. Neraka juga katanya bersedia menampung para manusia yang jahat. Tapi namanya juga manusia, selama ada kesempatan di tengah kesempitan, ya milh kesempatan. Coba adanya kesempatan atau dana umum, pasti milih dana umum. (Aduh koq malah ngomongin monopoli)

Demikian juga dengan pembegal. Saya yakin mereka tahu risiko diamuk warga dan dipaksa melapor ke malaikat izrail sang pencabut nyawa. Kasus begal dijadikan menu “begal guling” oleh warga sudah terjadi sejak lama. Tapi toh, beberapa bulan kedepan, saya yakin kasus pembegalan masih akan terjadi.

Secara ekonomi, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan pembegal akan terus berkeliaran di muka bumi. Dua faktor sederhana:

a.       a. Low barrier to entry – modal enteng
b.      b. High ROI (return on investment) – hasil mentereng

Begal: Profesi yang Menjanjikan

Secara ekonomis matematis, menjadi seorang begal adalah profesi yang menguntungkan. 

Jika Anda ingin jadi seorang politisi koruptor, maka modal yang Anda butuhkan tidak sedikit: pendidikan tinggi, modal capital untuk mendapatkan kekuasaan (termasuk bagi2 serangan fajar ke konstituen), dan modal sosial kepada calon partai pengusung Anda. Total bisa ratusan juta dan milyaran.

Bandingkan modal sebagai seorang begal. Cukup modal nekat, tampang sangar, fisik yang prima buat berantem, motor kenceng buat kabur, dan senjata tajam seadanya. Untuk sekali beroperasi sebagai begal, hanya dibutuhkan tak lebih dari 160 ribu rupiah (asumsi beroperasi berdua). Jika berempat ya 320rb. Murah banget kan?

Activity
Investment
Golok/parang
          50.000
Konsumsi warteg
          20.000
Bensin
          15.000
Sewa motor + Helm
          75.000
Grand Total
        160.000

Dan seandainya berhasil, berapa yang mereka dapatkan? Menurut berita di Media Indonesia, motor hasil begalan bisa dijual di kisaran 3 juta untuk bebek, dan 5 jutaan untuk motor ber-cc besar. Nah anggap saja dia sukses membegal motor matic dan dijual 3 juta, maka ROI-nya adalah 1775%! 

Jika yang begal punya koneksi lebih dalam, dia bisa bekerja sama dengan pemilik bengkel dan mempreteli bagian sepeda motor untuk dijual secara eceran. Menurut sumber yang sama, dengan metode seperti ini, ditotal-total bisa menghasilkan hingga 15 juta rupiah (tapi saya agak sangsi dengan perhitungannya). Ruarrr biasa bung. Dan proses pembegalan sekaligus kabur dari kejaran petugas bisa dilakukan dalam hitungan jam saja!

Sales
    3.000.000
COGS
        160.000
Net profit
    2.840.000
ROI
1775%

Bisnis dengan hasil mengkilat dalam waktu singkat ini hanya bisa disaingi oleh bisnis dunia hitam lainnya: prostitusi dan narkoba. Bedanya, dua-duanya ga bisa hanya modal nekat. Prostitusi ga Cuma modal ngangkang. Saya ga’ bisa membayangkan jika Anda nekat menjajakan diri seperti Miyabi meski tampang Anda seperti minyak babi. Disitu kadang saya merasa sedih.

Apakah Begal Tidak Takut Dihukum?

Saya yakin mereka tahu risiko menjadi begal. Risiko ditangkap. Digebukin warga. Dikirim ke akhirat sana. Atau minimal ngamar di penjara. Tapi semua itu risiko profesi. Seorang begal sejati pasti mengerti pepatah:
“What doesn’t kill me, makes me stronger”.

Setiap operasi begal yang berhasil akan menambah kepercayaan diri dalam curriculum vitae mereka. Dan setiap operasi yang gagal akan membuat mereka semakin berhati-hati dikemudian hari. 

Seperti kejahatan lainnya, begal adalah sebuah bisnis model. Ia akan tetap ada, selama pasar masih ada. Supply bertemu demand. Selama masih ada motor untuk dicuri, penadah yang menutupi, dan pembeli yang mencari.

Karena motif begal adalah motif ekonomi, yang bisa lakukan adalah mempersempit supply. Dengan terus berdoa dan berhati-hati, menghindari tempat sepi, belajar bela diri, dan membeli asuransi. Seperti kata bang napi di acara tipi masa lalu: Waspadalah! Waspadalah!.

Minggu, 27 Oktober 2013

Hidden Cost

Gambar dari www.trulia.com

Oleh: Yoga PS

Mana yang lebih murah, membeli barang di toko A dengan harga 45rb, atau barang yang sama di toko B dengan harga 25 rb yang terletak 3 km dari toko A?

Pertanyaan yang mengilhami tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi saya beberapa waktu yang lalu. Jadi ceritanya saya sedang makan di salah satu food court, nah kebetulan saya butuh kabel data untuk power bank. Kebetulan lagi, setelah menyantap nasi biryani India ditambah kari ayam (inget diet woi), saya menemukan counter hp.

Setelah pdkt ke mas yang jaga (biar dikasih murah) dan tanya sana sini, akhirnya saya menemukan kabel data yang saya butuhkan.

“Ini harganya berapa Mas?” tanya saya dengan muka sok imut.

“45 ribu bos”

Begitu mendengar kata 45rb, dalam hati tangan saya pingin reflex gampar muka mas-mas yang jualan. Masa kabel data doank 45rb, harga normalnya 20-25rb an kale… saya juga tahu pusat perbelanjaan mobile phone (kita sebut mall B) yang bisa memberikan harga segitu. Letaknya tak lebih dari 3 km dari food court ini. Tapi disinilah masalahnya sodara-sodara. Saya menerapkan perhitungan cost benefit dengan memasukkan unsur “hidden cost”.

Hitung Lagi

Hidden cost, menurut mantan mahasiswa ekonomi dengan IP cekak kaya saya adalah biaya “siluman”. Biaya yang sebenernya ada, tapi seolah-olah tidak ada. Dia itu seperti kentut: tidak berwarna, tapi kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya terserah Anda (mau nutup idung, muntah, apa keracunan).

Saya lalu melakukan cost benefit analysis. Pilihannya ada 2: beli sekarang dengan harga 45rb, atau pindah ke mall seberang dengan harga 25rb. Jika saya seorang Emak-emak yang rajin belanja di pasar, pasti pilihannya jelas: ambil yang paling murah donk! Which is 25rb.

Tapi karena saya adalah seorang homo economicus yang ga mau rugi, saya berpikir lebih ‘dalam’ (pemilihan kata ‘berat’ agak sensitive buat saya). Setelah melakukan kajian epistemologis, empiris, holistis, historis,  dan memasukkan berbagai variable ekonomis, akhirnya saya justru mengambil di toko abang-abang vampire penghisap darah bangsanya sendiri karena menjual kabel data terlalu mahal ini.

Lho koq bisa? 25 ribu kan lebih murah dari 45 ribu! Nenek-nya nenek juga tahu!

Iya memang lebih murah. Tapi itu baru cost of goods sold (COGS), tolong tambahkan “hidden cost” yang harus saya bayar jika mengambil barang di mall B.
  1. Biaya transport. Karena saya ga punya kuda atau onta, pilihannya adalah naik ojek atau taksi. Biayanya sudah 20rb sendiri. jalan kaki? Ntar laper donk… biaya makan disana rata-rata 30-40rb.
  2. Biaya riset. Jika saya sudah sampai di mall B, toko mana yang harus saya pilih? Kudu muter2 lagi kan.  Saya harus melakukan riset lewat scanning counter penjualan. Kudu ngeliat barang yang di display, penjual, dan competitor di tempat yang sama.
  3. Biaya waktu. Ini yang paling penting. Bepergian di 3km di Jakarta tidak seperti berjalan 3km di surga yang bisa sekejap mata (udah pernah ke sana emang?). Kita harus menghadapi kenyataan kepadatan penduduk dunia ketiga beserta polutan CO2 dengan kandungan timbal yang bisa menurunkan kecerdasan otak manusia.
Direct benefit

Ekonom menganggap manusia rasional. Meraka pada umumnya mengaku melakukan cost benefit analysis. Mengambil keputusan yang lebih menguntungkan, dengan kerugian minimal. Tapi jika manusia benar-benar rasional, maka ada tiga jenis manusia yang lenyap dari muka bumi:
  1. Penjahat kampungan,
  2. Perokok
  3. Penderita obesitas
Mengapa? Karena secara cost benefit, keuntungan sebagai penjahat kelas teri (maling ayam, jambret, curanmor) tidak sebanding dengan kemungkinan ditangkap dan dijadikan menu ayam bakar taliwang oleh massa.

Merokok? Jika orang rasional, mereka sudah tahu jika itu adalah racun bagi tubuh. Obesitas? Mana ada orang waras yang rela menimbun lemak dan menyiapkan tubuh jadi sarang penyakit?

Manusia, digerakkan oleh 4R (Rewards, Resource, Reason, Reinforcement) yang seperti sudah saya tulis sebelumnya. Dan mengenai rewards, manusia akan lebih menghargai direct rewards. Keuntungan didepan mata. Kenikmatan yang langsung dirasakan. Analysisnya menjadi direct cost vs direct benefit.

Karena itulah, untuk uang tak seberapa, manusia mencuri. Untuk kenikmatan di mulut selama 5 menit, manusia merokok. Dan untuk kepuasan perut beberapa jam, manusia makan berlebihan. Mereka tidak pernah memperhitungkan multiplier effect dan “hidden cost” yang harus dibayar dikemudian hari.

By the way, Jika ada hidden cost, apakah ada “hidden benefit”???

Jumat, 03 Mei 2013

“Mewaspadai” Tiket "NOL" Rupiah


Oleh: Yoga PS

Minggu-minggu ini ada beberapa airlines yang sedang gencar-gencarnya promo. Lebih tepatnya hanya dua: “Air Merah” dan “Si macan”. Bagaimana dengan “Singa airlines” yang baru saja terkena musibah di Denpasar? Untuk yang itu harga tiketnya sudah over priced. Sehingga sering saya coret dari daftar wajib LCC saat mencari tiket.

Si “Air Merah” baru saja meluncurkan promo Karnaval nol rupiah. Sedangkan “Si macan” memberikan promo “1 Rupiah” untuk tiket return. Kebetulan, saya membeli kedua airlines itu. Untuk “Air Merah” saya dapat ke Singapura 66 ribu dan Johor Bahru pp 400 ribu. Sedangkan “Si macan” akan mengantarkan saya ke Bali dengan biaya 600 ribu pulang pergi. Semuanya dari Jakarta.

Loh katanya nol rupiah? Koq masih bayar ratusan ribu?

Yang Gratis Itu Seat-nya

“Mana nol rupiahnya?”

“Gw udah select Nol, pas di proceed ke next step koq jadi ratusan ribu?”

“Nih airlines mau boongin konsumen ya?”

Komentar seperti ini sering dikemukakan ticket hunter. Semata-mata karena kita sebagai konsumen tidak tahu bahwa Airlines akan memisahkan biaya tiket dengan fuel surcharge, tax, dll. Kita bisa lihat contoh gambar dibawah.

cost breakdown tiket JB

Tertulis jika biaya tariff (seat) = NOL rupiah. Jadi Airlines tidak berbohong donk! Tapi kita harus tetap membayar fuel surcharge, dan airport tax (di Luar Negeri airport tax dimasukkan dalam biaya tiket - klo gambar diatas 200rb). Lagipula, disaat tiket normal bisa berharga ratusan ribu, maka harga diatas tergolong sangat murah. Makanya saya iseng-iseng beli hehehe.

Yang perlu dicatat, beberapa airlines memasukkan opsi asuransi, seat selection, on board meal, dan tambahan bagasi. Sebagai konsumen hemat menjurus kere, kita harus pintar-pintar “membuang” opsi-opsi tambahan itu. Konsumen yang ga ngerti, biasanya asal next-next aja. Tahu-tahu mereka kaget melihat biaya yang membengkak dan menganggap airlines melakukan kebohongan publik.

Tips gampangannya: baca semua terms & condition dan jika ingin murah, un-thick semua option tambahan.

Add on cost baggage and insurance

Motivasi Promo Seat

Btw, kenapa sih Airlines berbaik hati merelakan kursinya hingga gratis? Logikanya sederhana: meningkatkan load factor (tingkat keterisian pesawat). Sebagai informasi, dalam airlines ada beberapa “tingkatan harga tiket”. Tidak ada yang sama. Semua tergantung permintaan.

Missal ada 100 seat (tempat duduk) tersedia. Harga dimulai dari Rp 100 untuk 10 seat. Jika sudah laku, tiket merangkak menjadi Rp 120 untuk 20 seat. Jika semua terjual, harga berubah jadi Rp 150 untuk jatah 40 seat. Demikian seterusnya hingga misalnya harga menjadi Rp 200 untuk 30 seat terakhir (sekedar contoh doank. Tingkatan harga tergantung maskapai. Salah satu maskapai bisa sampai 8 tingkatan harga!).

Karena airlines business ada seasonal-nya, rata-rata load factor pesawat 70-80%. Tergantung musimnya. Pas musim liburan ya rame. Kalo ga pas liburan ya gitu deh. Banyak yang kosong. Nah, promo tiket sebenarnya adalah usaha untuk memberikan beberapa tiket dengan harga terendah di bulan-bulan low season. Bulan February-April dan sebulan setelah lebaran adalah best moment untuk mencari tiket promo. Dan jangan bermimpi ada maskapai yang memberikan promo di musim lebaran! (kecuali itu maskapai bapak kita sendiri).

Pola pikir airlines simple koq: daripada kursi dibiarin kosong, kenapa ga di diskon aja?

Jadi ya, happy hunting tiket promo! :D

Jumat, 01 Maret 2013

Eudaimonia




Oleh: Yoga PS

Suatu hari, Paulo Coelho, pengarang novel best seller Alchemist, sedang berlibur di Spanyol. Pada saat sedang berjalan di stasiun kereta, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Coelho ingin membantu pengemis itu, tapi sebelum memberi, ia berpikir: Hey, aku adalah seorang turis, pengemis seperti ini umum ditemui dimana pun.
Akhirnya ia pun bergegas pergi. Meninggalkan pengemis tadi.

Malam hari, entah mengapa, Coelho kembali terkenang wajah sang pengemis. Ia sudah bertemu ribuan peminta-minta, tetapi ekspresi sang pengemis menimbulkan iba yang mendalam. Ia sampai tidak bisa tidur. Terus menyesal. Mengapa ia tidak membantu orang yang kesusahan ketika ada kesempatan?

Besoknya, ia kembali ketempat sang pengemis berada. Nihil. Tak ada disana. Ia lalu memutuskan berjalan-jalan mengelilingi kota, berharap berpapasan dengan orang miskin yang terus menghantui hidupnya. Tapi tetap saja, hingga liburannya usai, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan.

Coelho lalu kembali ke Brazil. Berharap melupakan kejadian dengan pengemis itu. Tapi percuma. Sang pengemis terus hadir di kehidupan Coelho. Menciptakan penyesalan, ketersiksaan, dan penderitaan. Sadar jika Tuhan memiliki rencana besar, tidak butuh waktu lama bagi Coelho untuk kembali ke Spanyol. Kali ini bukan demi liburan penuh kesenangan, tapi menjawab teka-teki yang terus menghantui. Tujuannya Cuma satu: menunaikan kebaikan yang sempat tertunda!.

Satu-dua hari berlalu. Menjadi seminggu. Coelho sudah mengelilingi kota, hingga sudut-sudut tersempit. Hasilnya nihil. Pengemis itu bagaikan menghilang tanpa jejak. Waktu kepulangan sudah semakin mendesak. Coelho tidak menyerah. Ia menelpon agen perjalanannya, memberikan instruksi gila: tidak membeli tiket pulang ke Brazil. Ia takkan kembali sebelum menemukan pengemis malang yang seharusnya ia bantu.

Sampai akhirnya, suatu hari Coelho menemukannya. Di dekat stasiun kereta yang sama. Tak perlu berpikir lama, Coelho langsung menyerahkan semua uang yang ada di kantongnya. Lalu pergi, meninggalkan pengemis malang ini, meninggalkan Spanyol, dan kembali ke Brazil. Akhirnya ia menemukan kedamaian.

Kebahagiaan
Jika tujuan kehidupan adalah mencari kebahagiaan, maka apa yang dilakukan Coelho sungguh irasional. Bertentangan dengan logika ekonomi mana pun. Bagaimana mungkin ia menghabiskan ribuan dollar terbang dari Brazil ke Spanyol hanya untuk menemukan seorang pengemis!. Bukankah ketika kita memberikan harta kita, itu berarti kerugian secara ekonomis?

Tapi kenyataannya, kepuasan hidup tidak selalu dicapai hanya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Manusia adalah makhluk dimensional. Tidak hanya berurusan dengan kebutuhan ekonomis parsial, tapi juga social emosional, dan transcendental spiritual.

Salah satu filsuf klasik Yunani, Epicurus, memberikan nasihat untuk manusia yang sedang mencari kebahagiaan: Lakukan apa yang membuatmu bahagia, jangan lakukan apa yang membuatmu menderita. Maka lahirlah hedonism. Memusatkan perhatian pada kesenangan, dan sebisa mungkin menjauhi penderitaan.

Aristoteles, membantah pendapat Epicurus. Bagi dia, eudaimonia, kebahagiaan, didapat dengan  mengembangkan potensi yang diberikan Tuhan, bagi kebaikan kemanusiaan. Pendapat senada didukung oleh penganut utilitarianisme, dan juga altruism. Anda baru menjadi ada, ketika berguna bagi yang lainnya.

Riset-rise modern juga membuktikan, orang yang berbagi, cenderung lebih berbahagia. Penelitian Elizabeth Dunn dari Universitas British Colombia menunjukkan responden yang mendermakan uang mereka, cenderung lebih bahagia dari responden yang menggunakannya hanya demi kepentingan pribadi. Penyelidikan neuro-biologi dari Duke University lebih dahsyat lagi, membantu sesama akan mengaktifkan bagian otak yang disebut posterior superior temporal cortex.

Saya sengaja mengutip pengalaman Coelho diatas, karena betapa seringnya saya menunda dan melewatkan kesempatan berbuat kebaikan. Belum lagi kebiasaan melakukan perhitungan dan hati yang sering dicengkam ketakutan. Takut kekurangan, takut penderitaan, dan takut mengalami kerugian. Saya sering lupa jika eudaimonia hanya ada didalam kerja-kerja sederhana untuk sesama.

Mungkin saya harus mengucapkan sumpah Khudai Khidmatgar, prajurit perdamaian yang dibentuk oleh Abdul Ghaffar Khan, seorang muslim pengikut setia Gandhi:

Karena Tuhan tak perlu dilayani, sementara melayani makhluk-Nya berarti melayani-Nya, maka Aku berjanji akan melayani manusia atas nama-Nya.

Minggu, 21 Oktober 2012

Orang Miskin Naik Haji

Oleh: Yoga PS

Ilustrasi (Republika.co.id)
Haji itu ibadah yang diwajibkan bagi yang mau, bukan yang mampu. Karena pada dasarnya kita semua mampu, jika kita mau.

Mari berandai-andai. Anggap saja kita adalah masyarakat golongan miskin berpenghasilan pas-pasan dengan gaji UMR. Dengan penghasilan 1 juta, mampukah kita mengumpulkan uang 30 juta? Mampukah kita menunaikan rukun Islam kelima ini? Dengan biaya hidup yang terus mencekik, mampukah kita mengatasi harga-harga yang terus naik?

Secara teoritis ekonomis: bisa! Karena Tuhan itu Maha Kaya, yang kita butuhkan hanyalah perencanaan keuangan sederhana, dan keikhlasan komitmen untuk menjalaninya. Saya akan membagi tips financial road map sederhana, bukan lewat kejaiban sedekah yang diajarkan ustadz sebelah hehehe.

Financial Plan

Tapi sebelumnya, kita harus tahu berapa biaya untuk pergi haji 10 tahun lagi. Ini adalah goal point yang ingin kita capai. Melihat data historis, ONH tahun 2002 sekitar $2700 sedangkan pada 2012 ONH naik menjadi sekitar $3600. Melihat kenaikan ini, maka tingkat inflasi biaya haji sekitar 4% setahun.

Jika kita asumsikan cateris paribus bahwa laju kenaikan biaya ini tetap, maka pada 2022 biaya yang kita butuhkan sekitar $4800 (lihat table).
Sekarang mari asumsikan kita mampu menabung 1$ sehari (Rp.9500 – tergantung nilai kurs). Berarti ada 30$ per bulan. Dan 360 dollar setahun. Mari jadikan $360 ini modal awal dan tambahan investasi yang konsisten kita lakukan. Dengan nilai inflasi ONH 4% berarti kita membutuhkan instrument investasi dengan return lebih dari itu.

Apa saja pilihannya? Oh banyak sekali. Kita bisa menanamkannya di bank syariah, membeli reksadana syariah, membeli emas, berbisnis langsung, atau berinvestasi di saham-saham syariah. Untuk penyederhanaan hitungan, mari kita asumsikan uang tadi kita tanamkan di bank syariah dengan bagi hasil sebesar 5%. Angka ini saya dapatkan berdasarkan return riil yang ditawarkan di pasaran (pengalaman pribadi).

Cukup menabung 1 dolar sehari, maka dalam waktu 10 tahun kita sudah mampu berangkat ke tanah suci. Satu dolar saudara-saudara. Satu dolar itu seharga satu pak rokok, satu piring nasi goreng, dan pasti lebih kecil dari biaya pulsa yang kita keluarkan tiap bulan. Seperti kita lihat di table dibawah ini, dalam 10 tahun uang kita sudah mencapai $5100!!!. Insya Allah sudah cukup untuk berangkat haji.


Susu Aesop

Langkah konret yang bisa dilakukan adalah:
  1. Berdoalah dan luruskan niat
  2. Pergilah ke bank syariah, bukalah rekening baru khusus untuk dana haji Anda. Saya tidak menyarankan untuk membuka rekening khusus haji, karena berdasar pengalaman saya, dana itu tidak bisa ditarik dan bank tidak memberikan return investasi.
  3. Rincilah kebutuhan hidup, lalu pikirkan bagaimana cara mengurangi 1$ dalam satu hari (atau sesuai kemampuan Anda)
  4. Lakukan pemotongan dana di awal bulan, sisihkan $30 (atau berapapun) kedalam rekening haji.
  5. Investasikan dana itu dengan horizon waktu 1 – 5 tahun. Rentang waktu ini dipilih agar lebih fleksibel dalam melakukan reshuffle instrument investasi yang bisa dipilih.
Dan seperti semua perencanaan keuangan, hal terpenting adalah eksekusi, dan jangan terlalu banyak bermimpi. Aesop dengan sangat jelas mengingatkan hal ini lewat ceritanya tentang Pemerah Susu dan Embernya[1].

Alkisah, seorang pemerah susu telah selesai memerah sapi dan memanggul seember susu diatas kepalanya. Saat berjalan pulang dia berandai-andai.
"Susu yang saya perah ini sangat segar dan baik mutunya," Ia mulai berpikir.
"Jumlah ini akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. 
Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"
Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.

Karena itu, jika Anda miskin, yakinlah Tuhan itu Maha Kaya. Jika Anda tidak memiliki, yakinlah Tuhan itu Maha Memberi. Dan Jika Anda kebingungan, yakinlah Tuhan itu Maha pemberi petunjuk. Berdoalah, berusahalah, bersabarlah, dan katakanlah:

Tuhanku, izinkan aku memenuhi panggilan-Mu…

[1] http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Pemerah-Susu-dan-Ember-nya-57

Rabu, 25 Juli 2012

Wariausaha


Oleh: Yoga PS

Judul diatas nggak salah ketik. Juga bukan sengaja diplesetin biar tulisan ini dibaca. Jadi ceritanya Sabtu lalu (14/7) saya ada urusan untuk supervisi kegiatan brand yang saya tangani. Acaranya di Probolinggo. Kota yang berjarak sekitar 100 km dari Surabaya. Acaranya mulai jam 4 sore, tapi karena saya terlalu rajin, abis flight pagi Jakarta-Surabaya langsung meluncur ke alun-alun Probolinggo. Hasilnya begitu sampai, terbengong-bengong ga tau harus mau ngapain.

Daripada mati gaya, mending mati muda. Hehehe. Sambil menunggu EO menyiapkan venue acara. Saya memutuskan berjalan-jalan melihat-lihat kota. Naik delman istimewa kududuk dimuka. Aduh koq malah nyanyi… Suasana cukup lengang. Sebenernya saya pengen ke museum kota Probolinggo. Karena meski bukan lelaki hidung belang, saya doyan museum-museum sendiri. Hehehe.

Tapi perhatian saya tertarik begitu melihat ada tenda-tenda berdiri di sebuah tanah lapang. Sekitar 100 meter dari alun-alun, mengarah ke museum kota. Ternyata isinya pameran produk-produk UKM. Tapi yang bikin pemasaran, eh penasaran, adalah penjaga standnya. Menor-menor, dan rata-rata lekong melambai gitu bo’... Baru ngertilah saya begitu membaca judul acara di atas panggung:

“TRANSGENDER PROBOLINGGO MANDIRI: Transgender Menuju Wirausaha Mandiri”



Ampon kakak…

“Gaynomics”

Selama ini kaum transgender sering dipandang sebelah mata. Mereka dipandang orang aneh, pendosa, penyimpang, sampah masyarakat, dan kaum marginal. Setiap hari diuber-uber trantib atau pamong praja. Jika bekerja pun, paling-paling nyalon atau ngamen sambil mangkal di taman-taman mesum.

Penelitian dari Joesoef et al (2003) terhadap 296 waria di Jakarta menyebutkan jika 93% responden mengaku pernah dibayar demi seks. Pendidikan mereka memang rendah, 40% hanya sampai SD. Setelah diadakan penelitian kesehatan, 12.8% positive terkena Gonorrhoea Rectum, dan 43% memiliki kerentanan terhadap Syphilis. Aduh sodara-sodara, jangan tanya penyakit apa itu, saya Cuma asal nyomot dari jurnal. Ketularan juga belum. Belum ketahuan maksudnya (amit-amit).

Padahal kaum transgender semakin menarik perhatian pelaku bisnis. Di AS saja jumlahnya sudah mencapai 7% dan diperkirakan mencapai 30 juta jiwa (Miller:2012). Di Canada, konsumen transgender dalam hal ini kaum gay adalah konsumen yang fashionable, stylish, dan lebih memperhatikan penampilan daripada konsumen heterosexual (Ou Sha:2007). Penelitian dari Bill et al (2006) terhadap kaum gay di Brazil menunjukkan jika mereka adalah konsumen yang royal, loyal terhadap brand, rela membayar lebih mahal. (Kapan2 akan saya tulis mengapa kaum gay sangat stylish).

Ekonomi Tanpa Kelamin

Kaum transgender di Probolinggo berusaha membuktikan, jika mereka mampu menjadi manusia seutuhnya. Homo economicus. Makhluk yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan bekerja. Membangun usaha. Salah satu penjaga stan, seorang transgender dengan piercing di lidah dan cat rambut berwarna pirang (sebut saja Boy) mengatakan jika kegiatan ini dilaksanakan untuk membuktikan jika kaum transgender mampu memberdayakan diri secara ekonomi. Bahasa kerennya: punya spirit entrepreneurship!.

Ada yang membuka usaha catering, caffe, bengkel, salon, sampai berjualan produk kecantikan. Sepertinya diberi bantuan kredit oleh salah satu Bank Pemerintah. Tentu saja saya berharap dengan ini pandangan masyarakat terhadap transgender dapat berubah. Tidak lagi dipandang kaum sebelah mata. Dan tidak perlu ada lagi operasi “Sedap Malam”. Karena meskipun dilaknat dalam agama, setidaknya kita harus menerima mereka sebagai sesama manusia.

Anda tahu, uang tidak mengenal kelamin. Ia tidak peduli orientasi seksual pelakunya. Ekonomi tidak mengenal perbedaan kata Maho dan homo. Selama Anda mampu menghasilkan produk dan jasa yang berguna bagi masyarakat, uang akan mengikuti Anda. Pelaku wirausaha transgender Probolinggo ini masih lebih terhormat daripada mereka yang mengeruk harta Negara dengan prilaku koruptif yang ditunjukkan segelintir elit negeri ini.

Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama untuk menggali informasi lebih dalam. Ada acara sendiri yang harus saya hadiri. Selain itu, baru 5 menit berbincang dengan Boy, responnya semakin berlebaran. Eh, berlebihan. Membuat saya semakin ingin kabur.

“Makanya dibeli donk” kata si Boy sambil menepok pantat saya dengan mesra menggunakan kemoceng.

Auch cyinnn...

Acara belom mulai

SPG : (Sales Promotion 'Guy')

Contekan
Joesoef, et al. 2003. High Rates of Sexually Transmitted Diseases Among Male Transvestites in Jakarta, Indonesia. International Journal of STD&AIDS Volume 14

Perreira, et al. 2006. Brazilian Gays: Understanding the Construction of the Homosexual Identity through Consumption. Latin American Advances in Consumer Research

Sha, Ou et al. 2007. Understanding Gay Consumers’ Clothing Involvement and Fashion Consciousness. International Journal of Consumer Studies