Tampilkan postingan dengan label ALLPOSTS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALLPOSTS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2016

Mengejar Valuasi, Cerita Perusahaan yang Sengaja Rugi


“Serem”. Kata yang tak saya sangka akan diucapkan oleh Pak W, salah satu petinggi biro iklan multinasional ketika mengomentari belanja iklan jor-joran dari perusahaan e-commerce. 

Malam itu pertengahan tahun 2015. Kami sedang makan malam dalam rangka memperkenalkan direktur baru kami kepada partner, salah satunya media agency dimana Pak W bekerja. Kita sedang berdiskusi tentang hebohnya startup. Karena tiga tahun terakhir adalah surga bagi “perusahaan online”. Semua berinvestasi jor-joran, termasuk untuk belanja iklan.

“Kelihatannya sih bagus, tapi siapa siapa bisa jamin tahun depannya? Contohnya si Rocket internet (group dibalik Lazada, Zalora dll), tahun lalu dia spending gila-gilaan. Tapi kalo tiba-tiba dia decide untuk tutup operasinya dari Indonesia? Kita yang pusing dikejerin media”.

Dia kemudian menyinggung strategy “burning money” serta “cut loss” yang biasa terjadi dalam dunia start up. Burning money berarti mereka rela rugi, sedangkan cut loss maksudnya mereka bisa kapan saja hengkang saat dirasa perusahaan yang mereka bangun tidak berkembang.

 “Sekarang di dunia ini, ada dua jenis perusahaan”. Pria botak yang sempat menjadi direktur salah satu airlines itu lalu bercerita.

“Ada operation company, dimana perusahaan mencari untung dari proses operasi yang dilakukan. Mereka memproduksi barang dan jasa, lalu dijual dengan margin untuk mendapatkan keuntungan. Nah selain itu, ada namanya valuation company. Mereka tidak mengejar keuntungan dari operasi, tapi valuasi bisnis yang dilakukan oleh potensial investor”.

Bakar Duit, Dapat Duit

Ia lalu mencontohnya Traveloka. Online travel agent yang iklannya bisa kita lihat setiap hari. Bagaimana mungkin tiket yang dijual di Traveloka bisa lebih murah dari website airlines sendiri?

“Karena mereka tidak mengejar keuntungan. Komisi di bypass ke konsumen, ditambahin subsidi. Convenience fee tidak dibebankan ke pembeli. Mereka berani rugi, yang penting traffic masuk, dapat user gede yang pada ujungnya membuat Traveloka seksi dimata investor”.

Beberapa media meng-klaim Traveloka berpotensi menjadi startup unicorn, perusahaan dengan valuasi 1 milyar dollar. Dengan tingginya potensi traffic, user, dan masa depan industri travel di Indonesia, tak heran jika mereka mendapat suntikan dana dari Global Founders Capital, salah satu venture capital elit dunia yang punya uang ga berseri.

Mungkin karena itu juga start up macam Go-jek dan Grab Bike melakukan hal yang sama. Rela “bakar duit” dengan mensubsidi tarif antar penumpang dan barang, ngasih komisi lumayan ke driver, hingga ngiklan kemana-mana.

Go-jek dikabarkan mendapat pendanaan dari beberapa private equity macam Northstar Group dan Sequoia capital yang nilainya lumayan gede (konon total bisa ratusan juta dollar). Sedangkan Grab dapat 350 juta dollar dari China Investment Corporation. Pokoknya , kalo duit para venture capital ini dibelikan es dawet, kita bisa bikin kali Ciliwung full of dawet.

Valuasi

Apa yang dicari oleh venture capital ketika memodali sebuah perusahaan startup?

Back to basic: duit. Venture capital bukan orang bego atau sinterklas yang rela duitnya dibakar begitu saja. Seperti kata pepatah:

“Dibutuhkan ikan kecil untuk menjadi umpan ikan besar”

Mereka berinvestasi karena percaya akan nilai dari business model yang diciptakan. Sekaligus pasti berharap return di kemudian hari. Setiap investasi yang dilakukan pasti sudah ada perhitungannya. Berapa tahun harus merugi, kapan harus mulai melepas subsidi, kapan harus profit taking, termasuk menghitung valuasi saat “exit strategy”.

Ya, mayoritas venture capital mensupport startup untuk “dijual” lagi. Mereka mendanai masa inkubasi, mendapat jatah saham, untuk kemudian dijual ke pemodal lain  dengan keuntungan yang berlipat-lipat. Itulah yang disebut “exit”. Studi dilakukan Tyebjee and Bruno (1984), mayoritas venture capital sudah punya strategy untuk keluar saat mereka baru mendanai startup itu.

Sedangkan berdasarkan riset yang dilakukan Miloud et al (2015), valuasi startup yang dilakukan venture capital berdasarkan beberapa faktor:
a.      
 Product differentiation – sejauh mana produk itu benar-benar unik dan punya “disruptive effect”
b.       
Industry growth – apakah industri ini berprospek cerah?
c.       
 Entrepreneur dan manajerial – siapa dibalik tim manajemennya?
d.      
 Network – sejauh mana startup itu mampu membangun jaringan

Intinya jika Anda ingin dapat funding jutaan dollar dari venture capital: temukan industry yang akan booming, ciptakan produk yang inovatif, miliki tim yang solid, dan kembangkan jaringan seluas-luasnya.

Karena mimpi utama semua venture capital adalah ketika startup yang didanai-nya bisa go public dan listing di bursa saham. Ketika itu terjadi, mereka telah lulus ujian sebagai seorang kapitalis yang sukses menciptakan mesin pencetak uang. Seperti kata salah satu maestro valuasi saham, Warren Buffett:

“Price is what you pay. Value is what you get”.

Sabtu, 13 Februari 2016

Cikal Bakal Nanti Dinyatakan Sekarang Tidaklah Sia sia


Dulu gelap ya pake senter karena tiang listrik kudu nunggu arah mata angin eh, bukan,
ukuran sudut datangnya sinar matahari, eeeeeeh, salah3,
momen jatuhnya wangsit dari atas,
Ckckck, emang deh ni tulisan kagak secakep buah jeruk atau sesakti botol kaca.

Betul kalau duit bagong dipakai untuk beli kapal feri, maka laut mana yang dapat memisahkan kita ? Jawabnya blom... itu nanti,...
Ckckck... ngawur lagi, maap3.

Berbanding lurus-nya harga sisa mayat pohon dan cairan mayat mahkluk mikro dengan bargaining power daerah-daerah primadona era 2009-2012. Maka daerah sektor jasa, sektor padat modal, dan padat kecantikan jadi pilihan beroperasinya cahaya, ("pake" jadi be   "senter" ).

Kentalnya kadar laut, hutan, dan bunderan HI dalam percakapan wong londo dan kaum ajinomoto terkait Indoonesia, akhirnya mendapat topping baru berupa kereta2 yang katanya sih masih terlalu mahal.

Bagaimana pun juga yang namanya kereta, wajar mahal.
Kudu bebasin lahan super panjang, dimana kalo bukan pemerintah yang turun tangan, niscaya mangkrak. Kereta juga lambang dan hadiah bagi kelas menengah yang telah taat bayar pajak dan senantiasa mencintai masakan daging pasangannya. (no daging mentah, no no).

Proyek kereta cepat dapat jadi ajang pengingat soal Pareto Law. Sedikit tapi Unggul, Kecil tapi Gesit, untuk menimbulkan kegembiraan masif dan teriakan histeris, dari hati masyarakat, 11-11 sama bulutangkis laah...

Soal sifat asli terlalu mudah bahagia / puas (dimana-mana edi emang kagak asik) tapi juga terbilang lambat soal bikin enak,
dapat diobati dengan belajar bedanya kecepatan & percepatan, (bedanya ngitung delta r & delta v saat dibandingkan dengan durasi) antara:
kereta di atas rel dengan boil2 di jalur tol bawah,
perbandingan cepat lambat aliran arus bolak-balik saat liburan,
juga perbandingan kondisi dalem kereta yang bisa ngobrol haha-hihi,
dengan kondisi tol macet yang cuma bisa mencet klakson ! (do talk to stranger kids, it's 2016).
Apalagi klo dalem hutan ada halte dimana penumpang bisa turun menjelajah sembari menikmati minum sebelum berendam dalam danau,
beeuhhh.... sembuh dah tu panas dalem sisa kampanye.

Sementara Antareja masih senantiasa menghantam penghalang tercapainya ramalan terakhir kita,
soal keluar masuknya kereta di terowongan Jakarta.

Maka kalau gelap, semoga pendek
laksana Matahari bangun kepagian,
Kalau dingin, ya pake sweter, sweater, sweeter (permen dong...), biar kita keringetan.
Kalau basah yang ya disapu, ampe keram... kagak kering2...
dan kalau panas dan terik, ya semoga keretanya bolak-balik sekencang cahaya dari senter, biar kita nyampe barengan, sehat utuh dan malah bertambah, gembiranya.



Selamat Valentine...


spectrum of waves merges into a media
u have u'r own
watch it
so does they all
embrace it
as channel producer shift mind and paradigm
so do secret widely shot on dim
unaware 
as another you
raising swear
oh what a view
so when you fall in love darling
again
watch it
is it u
the channel
or the producer
who's awesome
love is in the air
sure
love is all
all that is

By Petaniuang

sumber gambar senter
sumber gambar twinflame

Senin, 16 November 2015

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Oleh: Pencerahan

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.
 Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.
siklus kebodohan
siklus kebodohan
Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:
  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir
Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Minggu, 01 November 2015

won(RED)ing


Corong2 utama pengisi wawasan masyarakat seminggu lalu pada asyik kompakan menaikkan gelombang getaran dari suatu lembaga global bidang kesehatan, bahwasanya daging merah memicu kantong kering
(ooh... teringat daku akan imutnya rendang ama semur 'maren)

Ok...
Ok...

padahal 3 meeeeh 2, minggu lalu mereka asyik bercengkrama dengan para bahan makanan lain (klo gw si, makan di rumahnya ehhhhm, daging merah, mending nunggu traktiran penuh, dr ongkos sampe perbekalan).

makes me won(RED)ing though...

hey, semua itu soal pikiran kan.

ada yg berkutat sama gengsi karena merasa seluruh dunia melototin dirinya
atau ngerasa santai aja karena yakin sluruh semesta ngedukung dan sayang ama dia.

termasuk soal daging merah tadi.

waktu kecil saya pernah motong ruas daging ujung jari saya sendiri
tanpa ada orang lain yang bilangin / memerintahkan,
jadi denger entah dari mana ya lakuin aja
di situ saya kenal warna daging saya sendiri (bukan "katanya" atau "dibilangin kalau")
jadi merah itu adalah pijakan awal,
mungkin sudah menjadi masa lalu,
vitalnya memang di masa sekarang / saat ini / momen ini.

mungkinkah hal semacam itu hal eksklusif anak kecil ?
karena kalau orang dewasa, kan pasti sudah paham lampu merah,
hitung-hitung agar,
bapak2 tenang
ibu2 tenang
dirimu ya kapan2

apalagi ada benda, gagasan, fakta, citra, area, atau apalah
yg kalau kita gak dengerin,
kita bakal jadi objek "very rare (bleu, a cold raw center), rare, medium rare, medium, medium well done, or well done" (thanks wiki)  di sana.

udahlah,
santai aja




sumber









Selasa, 13 Oktober 2015

Maaf Belum 8

Tell me synchronicity ain't real mate'
this creature is wandering around the web since February 4, 2009 - 9:07pm
Made by Deer700's
 atTeiboku's updates (online)

and pop up right on Goog's the moment I'm thinkin' of it.
Time ain't linear yach...
Heheheheh

Ok,
Barisan huruf soal pelemahan terhadap KPK telah kembali, wahai 99% yang tercinta.
Pengkondisian terukur atas tanda baca, sudut tampilan, derajat suhu kata, serta timing pemunculan dan cara menyebut deret angka yang apik, diharapkan dapat memperpendek nafas anda senantiasa. (ini semua demi kedataran hidup anda semua ! prdx).
Asal jangan sampai disusul aksi berikut yach... :

Jadi...

Coba lihat dan ingat, bentuk para pelaku (sudah divonis).
Lalu bawa dalam gelapnya hikmat, quotes (yang katanya) dari Rumi, berikut ini:


Coba ingat momen dimana isi kepala mendadak berisik,
di kala ajakan 'tuk beli kacamata terbang Mbak Piktorya atau pun bungkus belalai lentur para Mas2 pengolah rumput, menari-nari di depan mata.

Coba ingat juga momen memuncaknya toleransi tinggi kuping anda, atas rangsangan getaran ber-amplitudo dan bertekanan udara tinggi yg berasal dari kendaraan berlabel 
"Diet 20 tahun makan sayur doang".

Ngikut yang alami ? Itu alami ?

Konon katanya,
Harmoni antara gerakan mulut dan tangan dengan tarian semesta tidak akan
menjadi kegiatan yang menggelitik bagian tengah badan ataupun menggelorakan tengkorak, leher, punggung dan selangkangan
jikalau,
otak tidak terkoneksi dengan hati (sampai kabel / jalurnya beneran terasa).

Ok, itu dulu soal persona,
sekarang bicara sistem.

Banyak penyelenggara konstitusi yang katanya jadi takut mengambil tindakan, akibat atau setelah (gitu ya ?) "lembaga -itu- menjadi terlalu sangar".
Padahal kalo kata Pak Pemimpin saat kampanye,"orangnya baik-baik, orangnya pintar-pintar."
(Mungkin ini yang bikin doi bisa jadi pemimpin).
Jadi masalahnya bukan otak, walau standar deviasi tetep ada sih.

Soal ganjaran atas kesalahan atau pelanggaran. Masih beredar opini berbau, "kurang berat".
Mulai dari "si vital tengah2"-nya dimatiin, keglamoran-nya dimatiin (saya ndeso, maap klo salah eja) sampe seluruh hartanya disita negara.

Jadi, karena pekat langit malam berbanding lurus dengan pekatnya rasa kantuk gw,
maka gw share aja solusinya:

  1. Barang sitaan dari pelaku, dikonversi jadi ORI, SUN, aset2 setara obligasi bagi pemerintah Indonesia.
  2. 33% dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1 dialirkan ke "Pelaku Fund". Dengan gathering dilakukan secara berkala bagi seluruh pihak terkait (keluarga inti para pelaku termasuk pastinya).
  3. NAV masing2 keluarga para pelaku dapat dijadikan agunan untuk mengambil pinjaman produktif di Bank2 yang bersedia (orang elite, lobby udah pada punya lah ya).
  4. 66% dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1, dialirkan ke pasar saham untuk membeli saham2 berkategori super growth namun masih berada di luar LQ45, saat longsoran dewa (ini para FM di sekur2 dan Jamsos pada paham banget. Kasih mereka yg urus deh....
  5. 0,9%  dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1 dialirkan ke dana haji.
  6. Sisanya hibah untuk keluarga tersangka.
Jadi Saya termasuk gak setuju kalau harta koruptor disita negara.
Alasannya: masalah transparansi dan,
daya serap anggaran (rasa takut akibat si sangar, udah saya singgung tadi.)

Obligasi negara Indonesia dipilih demi mengurangi kemungkinan intervensi dari kreditur (negara lain serta entitas lainnya.) Juga memperbaiki risiko spill-over (inget komparasi antara kasus Yunani dan Siprus terkait pemegang obligasinya ?)

Penyertaan hasil penyelewengan kedalam pasar modal ini dapat meringankan hukuman para calon tersangka apabila tertangkap nantinya. (udah bantu mencegah rapat kabinet mendadak saban longsoran dewa, lumayan kan...).

Nanti kalau sudah terbiasa, para calon tersangka diharapkan tidak lagi terjebak dalam  herd mentality yang berisiko menciptakan bubble harga suatu aset (denger2 rumah dan tanah Jakarta terjal banget slope up-nya gegara aksi para calon dan sudah tersangka...)

Selain itu, daripada currency2 hasil ngembat yang bukan hak-nya di pake beli daging mentah (belajar  juggling)  atau dilarikan ke luar negeri, ya mending jadi tanggul penyeimbang aliran hot money (jadi bos betulan lo pada).


It's not like everybody's gonna win this time,
but at least
the party are spreadin' outta the rabbit hole.

Itu untuk mereka, 
kalo untuk anda yang belum (ehem)
ataupun tau gak akan terjerat dan jadi tersangka,
ya...
pastiiin aja tetep napas sampe perut, agar lagu dan tari dari dalam diri, senantiasa harmoni dengan yg punya semesta.


not perfect yet ? keep thriving, ephemeralization !


Nite' nite'
;)



Selasa, 22 September 2015

Gaji Anda Kecil dan Merasa Kurang? Baca Cerita Ini

sumber gambar: http://buruhmigran.or.id/

Seorang yang sedang mengalami kesulitan keuangan mendatangai Imam Syafi’i dan mengadukan krisis finansial yang dialaminya. Ia bekerja sebagai buruh dengan gaji lima dirham. Dan gaji itu tidak mencukupi kebutuhannya. Harga sembako terus merangkak naik. Upahnya habis untuk “basa-basi”. Bayar sana, bayar sini.

Setelah mendengar keluh-kesah orang itu, sang imam memberikan saran yang aneh. Imam Syafi’i justru menyuruhnya untuk menemui bos-nya dan meminta pengurangan gaji menjadi empat dirham!.

Koq aneh sih? Wong lagi krisis ekonomi koq malah disuruh nyunat gaji sendiri? Harusnya nyuruh demo naik gaji donk! Tapi karena ini nasihat dari orang sholeh, orang itu pun pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i meskipun dia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah beberapa lama kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengadukan kehidupannya yang tidak kunjung mendapat kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya kembali untuk mendatangi orang yang telah mengupahnya dan meminta majikannya untuk mengurangi gajinya (lagi), menjadi tiga dirham!

Lelaki ini Cuma bisa geleng-geleng kepala. Hidup sudah susah, ini diminta untuk hidup semakin susah. Mengencangkan pinggang Jennifer Lopez yang bahenol sih enak, lha ini mengencangkan pinggang sendiri yang sudah kurus kering! Tapi lagi-lagi orang itu pun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan membawa perasaan keheranan bercampur rasa pasrah.

Beberapa hari kemudian orang itu kembali datang menemui Imam Syafi’i dan mengucapkan terima kasih atas nasihatnya yang tidak biasa. Dia bercerita, bahwa tiga dirham yang dia dapatkan justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan sekarang hidupnya menjadi lapang.

Dia bertanya, “Ada rahasia apakah di balik semua itu?”

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang dijalaninya itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari tiga dirham. Dan kelebihan dua dirham itu telah “mencabut” keberkahan harta yang dimilikinya ketika tercampur dengan harta yang lainnya. Sang Imam lantas mengutip sebuah sya’ir:
“Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya harta itu mejadi banyak. Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu harta itu merusaknya”.
Gaji dan Kepuasan Kerja

Cerita diatas saya ambil dari Talking in The Heaven karya Agus Setiawan dan Faisal Kunhi. Pesan moralnya sederhana: gaji bukanlah tolak ukur "keberkahan" sebuah pekerjaan. Ada orang gajinya puluhan juta yang kerjaannya cuma datang rapat, duduk, diam, bergaya interupsi sana-sini, pake "nyambi" jadi tersangka korupsi, eh masih beralasan gajinya kurang.

Tapi ada juga pahlawan yang mengabdi di pelosok negeri. Statusnya bukan pegawai negeri. Tunjangannya minim sekali. Tanpa fasilitas disana-sini. Dan mereka melakukannya sepenuh hati tanpa mengharap balasan suatu hari nanti. Mereka mengerti: rezeki Tuhan tak mesti berbentuk materi.

Dalam studi manajemen, gaji memang berkorelasi dengan kepuasan kerja. Tapi tidak selamanya linear. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Kahneman (2010), salah satu peraih Nobel ekonomi menunjukkan angka USD 75,000 adalah batasnya (untuk kasus Amerika). Jika pendapatan Anda dibawah 75rb dollar setahun, maka gaji adalah segalanya. Tapi jika Anda memiliki pendapatan diatas 75rb setahun (US dollar ya cuk, bukan IDR), maka “there’s something that money can’t buy”, dan Anda akan melakukan sesuatu bukan hanya semata-mata karena uang.

Berapa “angka pendapatan sehingga otak kita ga cuma mikir duit” di Indonesia?

Karena nilai 75rb USD sekitar 2x pendapatan perkapita, dan rata-rata pendapatan perkapita Jakarta adalah 135 juta, maka angka 270 juta adalah masuk akal. Artinya jika pendapatan kita selama setahun kurang dari 270 juta (22,5 juta per bulan), maka sangat wajar jika kita menjadi manusia mata duitan dan rela panas-panasan untuk berdemo dari pagi sampai sore hari demi kenaikan gaji.

Tapi daripada berorasi dan menutup jalan yang ujungnya malah bikin hidup orang lain susah, yang wajib kita lakukan adalah "memantaskan diri" untuk dibayar mahal. Dengan menciptakan nilai tambah yang bisa membantu dan mempermudah hidup orang lain.

Dan jika gaji Anda sudah puluhan juta dan kerjaan-nya cuma datang rapat, duduk, diam, sok interupsi sana-sini, jalan-jalan keluar negeri bawa family, sambil teriak-teriak minta kenaikan gaji, maka saran Imam Syafi’i diatas, patut untuk dicoba.

Minggu, 23 Agustus 2015

Wahai Blogger Bayaran, Tolong Perhatikan 3 Hal Ini

Di suatu siang yang damai, tiba-tiba ada email masuk:

“Hi Yoga, how are you? We met in ***** at the ****** my name is Bunga a Jakarta based blogger/instagramer, I have a proposal to do a collaboration with you, please check it out and let me know what you think about it.”

Oh si Bunga, bukan nama blogger sebenarnya. Ia berbasa-basi menanyakan kabar sambil tak lupa mencantumkan “proposal kerjasama”. Isinya? Mulai data statistik follower, contoh brand yang pernah di endorse, dan tak lupa: rate card harga.

Dia memasang tarif jutaan untuk sekali post di socila media (blog/twitter/instagram/facebook). Bagi yang belum tahu, blogger sekarang sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Dan untuk urusan rupiah, jangan salah. Blogger yang sudah punya nama, bisa mematok harga belasan jutaan rupiah untuk sekali postingan di media sosialnya.

Bayangin cuk! Ngepost di media sosial doank dapat belasan juta! Masih mau pake media social Cuma buat curhat dan nge-share link bokep? (terkutuklah engkau wahai spammer link bokep!!!).

Tim marketing brand-brand besar menggunakan blogger (atau istilah kerennya Key Opinion Leader) untuk menembak ceruk pasar yang tak terjangkau media konvensional. Selain itu emotional bonding antara blogger dan para pengikutnya adalah hal yang paling dicari. Semakin berpengaruh seorang blogger, maka semakin mahal ongkos nge-postnya.

Dari berbagai penawaran blogger yang sering saya terima, setidaknya ada 3 hal yang perlu kita perhatikan sebelum mengajukan “rate card” dan menjadi paid blogger (blogger yang dibayar oleh brand).
  1. “Siapa” lebih penting dari “Berapa”
http://opusfidelis.com
Hal pertama yang sering ditanyakan pihak brand atau agency adalah “Bro/Sis followernya berapa?”. Angka pengikut memang penting, tapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting: “Profile followernya seperti apa? Siapa mereka?”.
Pertanyaan “Siapa” akan menentukan apakah blogger itu cocok untuk merepresentasikan brand. Karena pada akhirnya, fans/follower adalah tujuan utama sebuah brand beriklan. Jika Anda berjualan terasi masak tentu lebih pas jika bekerja sama dengan @farahquinnofficial dengan follower ratusan ribu daripada @princessyahrini yang punya jutaan pengikut.
Lagipula zaman sekarang fans/follower di dunia maya bisa dibeli. Pingin menang lomba di facebook yang berdasarkan likes? Pake aja like ads. Ingin memenangkan pemilihan presiden? Bikin aja tim sukses untuk jadi cyber warrior #eh...
  1. Hard vs soft sell
http://cdn.onextrapixel.com
Dalam blog, content is the king. Seorang blogger berbayar harus mau dan mampu memasukkan brand ke dalam content blog mereka. Secara sederhana, ada dua cara untuk “menyelundupkan” brand yang di endorse, hard sell dan soft sell.

Hard sell disini bukan berarti menjual dengan kekerasan, tapi lebih pada pola komunikasi brand seorang blogger kepada pengikutnya. Hard sell is straightforward selling. Blogger akan menunjukkan produk/jasa, men-highlight kelebihan atau fiturnya, dan biasanya ditutup dengan call to action untuk membeli/berpartisipasi. Contoh:

“Eh tau ga sih Terasi XYZ? Itu lho terasi yang mengandung Omega 4 dengan vitamin Z kompleks. Bisa menyedapkan makanan sekaligus menyehatkan pikiran. Cobain deh, Cuma 10rb. Dapetin di IndoApril dan Betamaret terdekat ya! #terasi #terasiXYZ #hidupterasi #akucintaterasiXYZ”

Sedangkan soft sell adalah jualan “halus”. Brand akan di infuse senatural mungkin. Bahkan di beberapa post instagramer berbayar, mereka tidak menyebut merek, yang penting brand itu terlihat di gambar. Contoh:

“Lagi pingin masak ayam goreng presto pake sambel terasi nih. Pas belanja di G-ant terus nemu promo terasi baru. Ada yang udah pernah nyoba? #lunch #ayamgoreng #sambal #terasibaru”.

Penggunaan hard sell vs soft sell biasanya bergantung dari tujuan brand dan pilihan blogger itu sendiri. Karena ada beberapa blogger yang “anti berjualan garis keras”. Dalam artian, mereka tidak ingin fans mereka “diracuni” postingan bersponsor yang bisa mengurangi kredibilitas postingannya.
  1. Post relationship
www.poketors.com
Yang tak kalah penting untuk diingat ketika seorang blogger mempromosikan sebuah brand, adalah hubungannya dengan brand setelah periode kerjasama itu berakhir. Pernah ada kejadian sebuah maskapai memberangkatkan blogger jalan-jalan. Saat pulang, ternyata pesawatnya delay. Dodolnya, si blogger yang kzl (kesel) mem-post ke media sosial. Terjadilah perang dunia ketiga antara maskapai dan blogger. Lha wong uda dikasih tiket gratis koq masih ngeluh kalo delay sebentar?

Hukum fisika yang berlaku: jangan pernah mendiskreditkan sebuah brand jika Anda masih ingin mendapatkan job dari dia.

By the way, semua yang saya tulis diatas berdasarkan perspektif seorang brand owner. Ada yang mau berbagi pengalaman sebagai paid blogger?

Rabu, 22 Juli 2015

For the Greater Benefit


Aksi
Manusia diciptakan untuk bersenang-senang.
Kalau sadar, rasa senang oleh umum dikaitkan dengan suatu aksi.
Kalau aksi kaya' gini ?













Mmmm... dirasa aja,
Sebagai pelaku aksi, sebelum dan setelah momen itu rasanya gimana ?
Terus para penerima aksi bakal ngerasa gimana ?
lalu para saksi mata bakal ngerasain apa ?

Teknologi
Teknologi adalah katalis dan multiplier bagi akibat dari suatu aksi.


Beberapa klik dan ketik dari Sang Ibu Jari dapat meluncurkan jutaan rasa dan emosi, dari pikiran maupun hati.

Momen sebelum dan saat bulan puasa kemarin, Saya dapat pelajaran:
Adalah se-jiwa muda (kita sebut Tuan De) yang memberi kritik keras melalui media sosial atas tindakan jiwa muda lain (kita panggil Bos Cr) yang mengunggah  penampakan sebuah mobil agak mahal nan baru, lengkap disertai kalimat2 euphoria nan girang, pada medsos yang sama.
Tuan De menganggap aksi berkategori "riya" aka pamer dari Bos Cr amatlah kampungan dan tidak patut ditiru. Kritik Tuan De nyata menjaring dukungan dari jiwa-jiwa lain sementara Tuan Cr memilih memberi reaksi tawa dan lanjut menikmati mobil barunya di dunia nyata.


Momen pembelajaran di atas sontak mengingatkan saya atas opini yang beredar soal sedikitnya duit yang muter di masyarakat, sementara PMN & dan proyek2 konstruksi belum terasa trickle down effect-nya.

Beruntungnya, Indonesia punya Pak Rhenald Kasali, menciptakan artikel berikut,"Ketika Indonesia Dilanda Pesimisme." Dengan bagian vital sbb:

Dalam era social media, pesimisme amat cepat menular. Ia bisa menjadikan suatu bangsa kalah, karena mereka memilih bertengkar, tak sabaran menunggu rebound.

Saya meyakini, opini selain dari dalam diri, jauh lebih berisiko dan belum tentu akurat dalam menghadapi sifat eksklusif dan kompleks dari setiap momen. Maka adalah vital bagi manusia untuk bisa merasa dan memahami bahasa hatinya sendiri.

Nah, tapi, apa mungkin hidup tanpa menerima saran, nasihat, ataupun omongan dari orang lain ?
Padahal interaksi adalah hal dasar penjamin kesehatan manusia tohk...

Mau beda ? Atur ulang

Kalimat di atas ngembat dari lagu si Miles Kane, yang berjudul Rearrange.

Mau membenahi aksi, kudu bermula dari yang dalam dulu.

Contoh filosofi aplikatif dari idola saya,

"what others do and do not do is not my concern , what i do and do not do is my only concern."

Kalau dia... di kala orang lain diharuskan duduk menghadapi naik dan turunnya hidup dengan gerak perut terbatas atau malah terikat, dia menyegarkan suasana dengan lebih mampu berdiri tegak, berjalan anggun, tersenyum indah sambil membantu orang banyak. Hebat.

Yang paling aplikatif ya kerelaannya ngasih advis di jam-jam ajaib tanpa memungut bayaran.
Salut, salut,
Imbalan surganya menyusul ya ci, hehehehhe

Sementara kalau Saya, demi "e&e" (efektif dan efisien), mengukur atau menimbang kadar energi positif dan negatif dari suatu aksi tidaklah perlu.
Timbun saja energi positif dalam kepala dan hati agar kita kita menarik energi positif semaksimal mungkin.
Lalu saat interaksi dari berbagai jiwa itu datang, anda cuma akan fokus ke yang positifnya.
Jadi pas ketemu jiwa yang berbahagia ya lo ikut bahagia, pas ketemu jiwa berenergi negatif ya lo stay positive.

So....
Apalagi alasan guna beraksi laksana Tuan De ?
Mau nambahin beban di otak ?
Memicu penyusutan cinta di hati ?
atau berniat mengurangi aset momen bahagia kita dengan jiwa lainnya ?

Coba dirasa lagi,
aksi Bos Cr bila dilihat dari berbagai sisi yang beda, dengan visi berazaskan masa depan dan dilandasi niat bertanggung jawab, maka pandangan kurang menyejukkan atas aksi Bos Cr bisa jadi hanyalah ilusi, buah penumpukan energi negatif pada diri penerima aksi dan saksi mata sendiri !

Karena jika dilihat dengan mata yang tepat, setiap aksi mengandung banyak potensi positif di masa depan, asal bermodal niat positif di momen sekarang, dan legawa melupakan dan melepaskan momen yang lampau.

Sumber gambar:
the different
running no
into the sky

Senin, 11 Mei 2015

Sedikit Resep Penciptaan Brand Community

Ditengah dunia marketing yang semakin horizontal seperti saat ini, brand community memegang peranan vital dalam penguatan brand. Peer support influence istilah kerennya. Karena konsumen zaman sekarang, berkat kecanggihan teknologi dan gajet, semakin terkoneksi dengan konsumen yang lainnya.

Revolusi digital membuat konsumen semakin mudah untuk mereview, memuji, merekomendasikan, hingga menghujat dan mencaci maki produk yang mereka gunakan. Dan ditengah bombardir iklan yang mengklaim produk yang dijual adalah “kecap nomer 1”, banyak konsumen menggunakan rekomendasi teman sebagai dasar pengambilan keputusan pembelian.

Untuk itulah brand community berperan penting. Coba bayangkan konsumen brand-brand besar semacam Apple, Harley Davidson, Linux, hingga klub bola macam Manchester United dan AC Milan. Mereka memiliki brand community yang otomatis menghasilkan evangelist. Kaum loyalist yang akan memperjuangkan brand hingga titik darah penghabisan. Berani menghina Harley didepan anak moge yang sedang touring? Anda harus siap-siap dicium. Dicium sama aspal jalanan.

Asyik kan kalo kita bisa punya brand community sendiri. Brand kita ada yang ngebelain, ada yang ngejagain, dan yang paling asyik: mereka rela mempromosikan secara gratis. Brand community ini ada yang lahir dengan sendiri, tanpa campur tangan marketer, tapi juga bisa hasil settingan pemasar.

Bagaimana cara membuatnya? 

Saya mendapat brand community development model dari Yuswohady lewat sebuah training community management pertengahan maret lalu. Jika diringkas, menurut saya ada 3 bagian besar: Siapa, Apa, dan Bagaimana.

Siapa.
Siapa yang Anda sasar? Apakah Anda ingin menyasar semua konsumen? Coba pikir lagi. Karena komunitas ibu-ibu akan berbeda pendekatannya dengan kaum eksekutif muda.

Apa.
Komunitas Anda itu, nantinya bakal ngapain sih? Apakah Cuma hang out bareng. Ataukah seminar bertukar pikiran? Atau bersama-sama memikirkan cara menguasai dunia?

Bagaimana.
Bagaimana mewujudkannya? Ini sudah mulai masuk ke tataran teknis. Bagaimana Anda menghubungi mereka? Bagaimana mendapatkan member baru? Pesan-pesan apa yang ingin brand sampaikan?

Untuk lebih mudahnya, mari kita berandai-andai. Andai kita ini berjualan batu akik. Dan untuk menciptakan diferensiasi, kita ingin menciptakan batu akik dengan nama brand: Akik Sakti. Setiap batu akik yang kita jual, ada signature AS di batunya.

Nah, kita ingin memasarkan batu Akik Sakti ini lewat pendekatan komunitas, sekaligus menciptakan loyalist pecinta batu akik dengan merk Akik Sakti. Jika kita breakdown, ada 7 langkah yang harus kita lakukan.

7 Steps of Community Management Model

Langkah pertama adalah menentukan: siapa target pasar Anda. Untuk itulah kita butuh segmenting. Menentukan segmen yang kita sasar. Anggap saja kita ingin menyasar kaum pria mapan berumur 40 tahun keatas yang menyukai batu akik.

Kedua: tentukan komunitas yang akan disasar. Kaum pria mapan berumur 40 tahun keatas itu luas. Mungkin kita bisa mempersempit dengan pria umur 40, berada di kota besar, berada di level direktur atau manajerial perusahaan.

Langkah selanjutnya adalah menentukan common interest (tiga) and needs (empat). Pada tahap ini consumer insight sangat dibutuhkan. Contohnya ada insight jika umur 40 adalah masa “puber kedua” dan masa keemasan dalam hidup. Yang mereka butuhkan adalah aktualisasi diri dan pengakuan atas keberhasilan.

Langkah kelima: menghubungkan brand value dengan community value. Karena kita tahu pria umur 40 butuh lambang kesuksesan, kita bisa mengasosiasikan batu akik sakti dengan kesuksesan dan pencapaian diri.

Langkah keenam, merumuskan content activity. Apa pesan yang ingin kita sampaikan. Karena kita ingin menghubungkan akik sakti dengan kesuksesan, maka kita bisa menciptakan kegiatan yang berkorelasi dengan “sukses” dan pencapaian hidup di umur 40 tahun. Kita bisa saja melakukan pameran batu Akik Sakti disambi gathering bulanan dengan mengundang pengusaha yang akan berbagi tips menuju sukses.

Langkah terakhir, sinergized activity. Kita tidak bisa hanya melakukan stand alone activity. Tapi pendekatannya harus 360 derajat. Kombinasi offline-online, direct-indirect, ablove the line dan below the line.

Pameran Akik Sakti harus ditunjang dengan program community yang teratur, mekanisme membership yang jelas, newsletter yang konsisten, gathering plus sharing, digital conversation, hingga media amplification.

Jika kita sabar dan tulus, insya Allah para bos-bos penggemar batu akik akan melihat Akik Sakti sebagai batu akik yang berbeda. Akik yang harus dikoleksi, karena akik yang terbukti membawa tangga kesuksesan.
7 steps of community development (Yuswohady - inventure)
7 steps of community development (Yuswohady - inventure)
Untuk materi training community management selengkapnya, bisa di download disini.

Hati-hati Investasi ke Teman Sendiri

http://assets.kompasiana.com/statics/files/1421714340464192718.jpg
Seorang teman kuliah yang kini menjadi bankir mengeluh: uang yang diinvestasikan lebih dari 80 juta terancam hilang. Dicuri tuyul? Sayangnya tuyulnya punya dua kaki dan berjalan-jalan di muka bumi. Uangnya belum balik karena dibawa lari partner usaha yang ia pinjamkan.

Koq bisa?

Jadi ceritanya, dia memiliki teman yang dipercaya sejak kuliah. Sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Bunga adalah laki-laki. Mereka sudah mengenal sejak masuk kampus. Teman saya, sebut saja Melati (yang juga seorang lelaki), menjalani suka duka organisasi kampus bersama Bunga.

Mulai dari makan bareng, jalan-jalan bareng, naik gunung bareng, semoga aja ga bikin bendungan kaya bareng-bareng. Oh kalo itu berang-berang ding. Ya pokoknya mereka sudah sehati dan sejiwa. Bagaikan bat dan man. Jika tidak bersama ga bisa jadi batman dan melindungi kota Gotham.

Sampai akhirnya Melati lulus lebih dulu. Sedangkan Bunga masih harus memperdalam ilmu di dunia perkulian. Melati kemudian diterima di salah satu bank BUMN dan berkantor di kawasan Sudirman.
Suatu hari, Bunga menawarkan ide kerjasama

menjual beli bebek. Bunga akan membeli dari peternak di desa, dan menjualnya ke rumah makan di kota. Melati dijanjikan mendapat keuntungan per ekor bebek yang terjual. Berapa? Ga tanggung-tanggung cuy, bisa 30%.

Singkat kata singkat cerita, mungkin karena sudah percaya 100% dan tergiur keuntungan, Melati meminjamkan uangnya ke bunga. Ga banyak-banyak dulu. Lima juta, sepuluh juta. Pembayaran return dari bunga berjalan lancar. Melati kipas-kipas duit berbau bebek. Lebih enak dari bebek Pak Slamet tentunya.

Karena cuan-nya lumayan, Melati mulai mempromosikan kesaktian Bunga berdagang bebek ke teman-teman kantornya. Mata teman kantor Melati langsung berubah menjadi batu bacan: hijau terang gemilang karena melihat keuntungan yang dijanjikan. Invest saham yang risikonya besar aja bisa dapat 20% udah bagus, lah ini bisa sampai 30%? Ibarat janda ngaku perawan, siapa yang bisa ngelawan?

Total jendral, terkumpul duit yang lumayan. Melati sendiri menanamkan 80 juta. Eh setelah dikirim uang dalam jumlah besar si Bunga koq ga pernah kasih kabar ya? di telpon ga aktif, di dunia maya ga pernah kasih kabar apa-apa. Setelah dicek di Jogja, Bunga ga punya kandang bebek. Ga ada mobil usaha. Lha selama ini jualnya gimana caranya? Rumahnya disamperin, keluarganya sudah pindah. Bunga hilang tak berbekas. Meninggalkan investor yang harus siap-siap medical check up karena stress duitnya dibawa kabur.

Pelajaran

Ketika Melati menceritakan kasus ini, saya langsung memberinya selamat:

“Wah hebat lu, learning cost 80 juta”

Karena bagi Melati dan kita semua, ini adalah pelajaran. Namanya juga usaha, pasti ada aja apesnya. Yang penting mau belajar dan bangkit lagi. Apa learningnya? Setidaknya ada tiga.

Pertama, pelajari business modelnya. Tanpa bertanya terlalu detail dan melakukan re-check, Melati percaya 100% melihat itung-itungan keuntungan di kertas. Dia tidak pernah mempelajari bagaimana sustainability dari bisnis ini, apa worst case-nya, bagaimana supply chain-nya, dan apakah semuanya masuk akal? Mendengar janji return 30% sudah membutakan mata Melati.

Kedua, cek kondisi lapangan. Selama ini ia hanya percaya laporan lisan Bunga. Melati ga pernah turun melihat proses pembelian bebek dari peternak, atau penjualan ke rumah makan. Pokoknya kalo kata Bunga jualan bagus, ya bagus. Kalo sedang seret dan butuh modal, ya dia tambahin. Selama ini yang penting setoran return lancar, Melati tidak mau ambil pusing soal urusan teknis bebek.

Ketiga, manusia bisa berubah karena uang. Karena teman yang baik, belum tentu partner bisnis yang baik. Sampai saat ini Melati masih tidak percaya jika Bunga benar-benar kabur membawa uangnya. Dia masih ingat karakter Bunga selama masih kuliah. Tapi sayangnya, Bunga yang dikenal sejak kuliah, bisa saja berubah. Everybody changing my friend.

Mendengar kisah ini saya Cuma bisa mendoakan agar Melati segera bangkit. Karena insya Allah selalu ada berkah dibalik musibah. Siapa tahu karena kepepet bayar hutang Melati akhirnya buka usaha dan malah jadi sukses?

Untuk Bunga, saya doakan agar tidak terjadi hal-hal buruk. Semoga masih hidup. Masih memegang amanat investor. Dan masih mau menjalin komunikasi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena sebaik-baiknya harta, adalah nama baik yang terpercaya.

Kamis, 05 Maret 2015

Begalnomics: Kenapa Begal Tetap Ada Meski Sering Dihakimi Warga


Oleh: Yoga PS

Berita tentang kasus pembegalan di daerah Pasar Minggu membuat saya kaget. Perasaan baru seminggu yang lalu kawan seprofesinya di Tangerang harus menjadi steak medium well done karena dijadikan bahan eksperimen resep “Begal Bakar Tangerang” oleh warga yang menangkapnya.

Pertanyaan begonya: apakah mereka tidak takut mengalami nasib yang sama? Apakah tidak ada “begal warning” dari APEM - PANAS (Asosiasi Pembegal - Penadah Nasional) bagi para anggotanya? Apakah tidak ada efek jera bagi calon pembegal di seluruh dunia?

Jawabannya tentu seperti menjawab pertanyaan kenapa kejahatan masih tetap eksis kaya artis, padahal penegakan hukum terus berjalan dinamis. Penjara selalu terisi penuh. Neraka juga katanya bersedia menampung para manusia yang jahat. Tapi namanya juga manusia, selama ada kesempatan di tengah kesempitan, ya milh kesempatan. Coba adanya kesempatan atau dana umum, pasti milih dana umum. (Aduh koq malah ngomongin monopoli)

Demikian juga dengan pembegal. Saya yakin mereka tahu risiko diamuk warga dan dipaksa melapor ke malaikat izrail sang pencabut nyawa. Kasus begal dijadikan menu “begal guling” oleh warga sudah terjadi sejak lama. Tapi toh, beberapa bulan kedepan, saya yakin kasus pembegalan masih akan terjadi.

Secara ekonomi, setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan pembegal akan terus berkeliaran di muka bumi. Dua faktor sederhana:

a.       a. Low barrier to entry – modal enteng
b.      b. High ROI (return on investment) – hasil mentereng

Begal: Profesi yang Menjanjikan

Secara ekonomis matematis, menjadi seorang begal adalah profesi yang menguntungkan. 

Jika Anda ingin jadi seorang politisi koruptor, maka modal yang Anda butuhkan tidak sedikit: pendidikan tinggi, modal capital untuk mendapatkan kekuasaan (termasuk bagi2 serangan fajar ke konstituen), dan modal sosial kepada calon partai pengusung Anda. Total bisa ratusan juta dan milyaran.

Bandingkan modal sebagai seorang begal. Cukup modal nekat, tampang sangar, fisik yang prima buat berantem, motor kenceng buat kabur, dan senjata tajam seadanya. Untuk sekali beroperasi sebagai begal, hanya dibutuhkan tak lebih dari 160 ribu rupiah (asumsi beroperasi berdua). Jika berempat ya 320rb. Murah banget kan?

Activity
Investment
Golok/parang
          50.000
Konsumsi warteg
          20.000
Bensin
          15.000
Sewa motor + Helm
          75.000
Grand Total
        160.000

Dan seandainya berhasil, berapa yang mereka dapatkan? Menurut berita di Media Indonesia, motor hasil begalan bisa dijual di kisaran 3 juta untuk bebek, dan 5 jutaan untuk motor ber-cc besar. Nah anggap saja dia sukses membegal motor matic dan dijual 3 juta, maka ROI-nya adalah 1775%! 

Jika yang begal punya koneksi lebih dalam, dia bisa bekerja sama dengan pemilik bengkel dan mempreteli bagian sepeda motor untuk dijual secara eceran. Menurut sumber yang sama, dengan metode seperti ini, ditotal-total bisa menghasilkan hingga 15 juta rupiah (tapi saya agak sangsi dengan perhitungannya). Ruarrr biasa bung. Dan proses pembegalan sekaligus kabur dari kejaran petugas bisa dilakukan dalam hitungan jam saja!

Sales
    3.000.000
COGS
        160.000
Net profit
    2.840.000
ROI
1775%

Bisnis dengan hasil mengkilat dalam waktu singkat ini hanya bisa disaingi oleh bisnis dunia hitam lainnya: prostitusi dan narkoba. Bedanya, dua-duanya ga bisa hanya modal nekat. Prostitusi ga Cuma modal ngangkang. Saya ga’ bisa membayangkan jika Anda nekat menjajakan diri seperti Miyabi meski tampang Anda seperti minyak babi. Disitu kadang saya merasa sedih.

Apakah Begal Tidak Takut Dihukum?

Saya yakin mereka tahu risiko menjadi begal. Risiko ditangkap. Digebukin warga. Dikirim ke akhirat sana. Atau minimal ngamar di penjara. Tapi semua itu risiko profesi. Seorang begal sejati pasti mengerti pepatah:
“What doesn’t kill me, makes me stronger”.

Setiap operasi begal yang berhasil akan menambah kepercayaan diri dalam curriculum vitae mereka. Dan setiap operasi yang gagal akan membuat mereka semakin berhati-hati dikemudian hari. 

Seperti kejahatan lainnya, begal adalah sebuah bisnis model. Ia akan tetap ada, selama pasar masih ada. Supply bertemu demand. Selama masih ada motor untuk dicuri, penadah yang menutupi, dan pembeli yang mencari.

Karena motif begal adalah motif ekonomi, yang bisa lakukan adalah mempersempit supply. Dengan terus berdoa dan berhati-hati, menghindari tempat sepi, belajar bela diri, dan membeli asuransi. Seperti kata bang napi di acara tipi masa lalu: Waspadalah! Waspadalah!.