Tampilkan postingan dengan label Ilmu Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Migrasi Hati

Source Pict: Here
Oleh: Dyah Restyani

Di pembahasan mengenai ekonomi sumber daya manusia, ada tiga point yang menjadi fokus, yaitu persoalan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Ketiga hal ini sama pentingnya dalam mempengaruhi perekonomian suatu wilayah atau negara.

Di tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana migrasi dihubungkan dengan migrasi hati yang semu. Migrasi hati yang semu yaitu migrasi yang dilakukan karena dominan tertarik atau bahkan hanya tertarik pada hal-hal yang nampak bagus saja. Migrasi hati yang kerapkali menghiasi hubungan-hubungan antarmanusia.

Terkait migrasi, ada 2 penyebab utama seseorang melakukan migrasi, yakni:
1.      Daya tarik
Daya tarik sebuah kota atau negara lain seringkali menjadi alasan utama seseorang melakukan migrasi. Kota yang nampak lebih potensial, tampak lebih makmur dan penuh lapangan kerja tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja. Kota yang cepat tumbuh, birokrasinya baik, masyarakatnya terbuka, juga menjadi magnet kuat bagi para pengusaha untuk berbisnis di wilayah tersebut.

Seperti halnya daya tarik sebuah kota, setiap orang juga punya daya tarik tersendiri bagi orang lain. Seseorang (sebut saja si X) akan melakukan migrasi hati (baca: memutuskan hubungan lama dengan si Y dan membina hubungan baru dengan si Z) ketika hatinya tertarik pada individu Z. Daya tarik individu Z mungkin saja nampak begitu cocok dengan apa yang diinginkan si X, sehingga si X berani untuk melepaskan / meninggalkan Y begitu saja hanya untuk mengejar Z. Misalnya saja karena si Z lebih kaya, sering memberi aneka macam hadiah kepada X, juga selalu mengajak X jalan-jalan ke tempat-tempat mewah nan bergengsi.

2.      Daya dorong
Daya dorong mejadi faktor kedua yang menjadi alasan mengapa seseorang bermigrasi. Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong, yakni: a). Faktor ekonomi (berupa upah, kesempatan kerja, dan biaya hidup). Kurang mencukupinya upah, kurang tersedianya kesempatan kerja, serta biaya hidup yang tinggi di wilayah tempat tinggal seseorang seringkali menjadi faktor pendorong seseorang melakukan migrasi ke wilayah lain, ke wilayah yang kesempatan kerjanya lebih luas, upahnya lebih tinggi, dan biaya hidup yang terjangkau. Dikaitkan dengan migrasi hati, seseorang (X) berpindah hati ke dari Y ke Z karena Y miskin, tak pernah memberinya hadiah apa-apa, tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat bergengsi.

Selain faktor ekonomi, faktor kedua yang menjadi daya dorong seseorang bermigrasi adalah faktor sosial. Ketika seseorang merasa tak berguna, tak punya status sosial yang baik di tempat tinggalnya, maka besar kemungkinan ia akan bermigrasi ke tempat lain yang lebih terbuka dan lebih menerimanya. Jika dihubungkan dengan migrasi hati X, maka X berpindah hati ke Z karena di hubungannya yang sebelumnya (hubungan X dengan Y) tidak direstui keluarga Y. Begitu pula keluarga X yang amat sulit menerima Y karena alasan bibit bebet bobot yang tak jelas.

Faktor ketiga yang menjadi daya dorong migrasi yaitu faktor politik atau keamanan. Para penduduk yang berada di wilayah-wilayah perang, yang tak terjamin situasi keamanannya, tentu saja mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akan bermigrasi ke wilayah lain yang lebih aman. Sama halnya ketika X menjalani hubungan dengan Y, ketika ia kerapkali mendapatkan terror dari keluarga Y agar X menjauhi Y, maka mau tidak mau, X terpaksa harus memutuskan hubungan /  meninggalkan Y.


Brand Brain Migration = Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Selalu ada harga yang harus dibayar, baik oleh migran yang bermigrasi, maupun oleh wilayah yang menerima migran tersebut, serta wilayah yang ditinggalkan.

Bila SDM yang bermigrasi itu bermutu (berpendidikan tinggi dan punya high skill), maka wilayah baru yang dimasukinya akan mendapatkan manfaat sebab SDM yang baru masuk tersebut berpotensi menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya hubungan X, Y, dan Z. Ketika X ternyata adalah pasangan yang dapat melengkapi Z, maka hubungan keduanya akan menjadi simbiosis mutualisme.

Namun bila SDM yang bermigrasi itu kurang bermutu, maka SDM tersebut hanya akan menjadi beban bagi wilayah baru yang dimasukinya. Untuk contoh konkretnya, lihat saja Jakarta yang penuh seabrek manusia yang ‘rebutan’ oksigen. Hehehe. Okay, begitu pula untuk hubungan X dan Z. Jika ternyata X cuman bisa menguras kantong Z sedalam-dalamnya, maka X hanya menjadi beban dan berpotensi ‘ditendang’ dari kehidupan Z.

Migran yang bermigrasi hanya karena daya tarik suatu kota tanpa menghitung cost dan benefit kesesuaian kebutuhan kota itu dengan dirinya, biasanya setiba di kota tujuan hanya bingung tak tahu hendak melakukan apa, hingga akhirnya hanya menjadi beban tanggungan sebuah kota.

Namun jika migran bermigrasi karena daya dorong, biasanya dia akan lebih struggle karena kondisi di wilayah asalnya lebih buruk daripada kondisi wilayah yang baru didatanginya. Tapi hal ini juga tidak bisa dipastikan sebab kondisi setiap migran tentu saja berbeda-beda.

Jadi, untuk yang galau tingkat dewa dan ingin bermigrasi hati, silakan dihitung-hitung dulu cost dan benefitnya sebelum mewujudkan migrasi hati. Kalau di migrasi nyata, seseorang bisa saja datang dan pergi sesuka hati bolak balik ke kota A lalu ke kota B tanpa ada yang dikecewakan mendalam. Sedangkan untuk migrasi hati, selalu ada potensi akan ada yang’terluka’. :D

Semoga bermanfaat!...


---

Senin, 15 April 2013

Buku Bodo


Oleh: Dyah Restyani


Bertemu dengan orang baru, seringkali menjadi pengalaman menyenangkan tersendiri. Karena selain bertatap muka dengan wajah baru, kita juga bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Di acara Belajar Metodologi Penelitian Bareng DR_Consulting dan MIB yang diadakan Ahad 3 Maret 2013 lalu, saya berkesempatan mendapatkan pengetahuan baru dari salah seorang peserta kegiatan. Pengetahuan baru tersebut tidak ada tertulis di buku-buku, sebab hanya diperoleh melalui pendekatan kultural.

Namanya B, seorang alumni jurusan Akuntansi dari salah satu universitas di Makassar. Dia orang Maluku asli. Asalnya dari Maluku Tenggara, tidak jauh dari Kota Tual katanya. Dia cukup banyak bercerita tentang Maluku, sebuah wilayah yang saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana, tahunya cuman dari peta di atlas saja. Hehhee.

Dia bercerita tentang bagaimana keadaan transportasi di sana. Di Maluku, orang-orang dominan menggunakan sarana transportasi laut, dibandingkan dengan transportasi umum darat semacam angkot. Hal itu wajar karena memang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau kecil.

Satu hal menarik yaitu ketika dia sedang asik bercerita, berkali-kali hp nya berbunyi karena rentetan sms-sms yang masuk.

“Heran saya ini, selalu saja ada sms-sms togel yang masuk di inbox.” Katanya sambil tersenyum lebar nyaris tertawa.

Saya hanya tertawa kecil dan berkata
“Kamu pakai nomor tel***sel ya? Kalau nomor-nomor provider itu memang sering penggunanya dapat sms togel-togel itu. Adik saya juga sering, sampai kesal dia dan mau ganti nomor. Hehhehee”

“Iya, aneh sekali ini. Togel ini di daerah saya lagi marak-maraknya.”

“Oh ya? Togel itu seperti apa si? Saya malah nggak tahu togel itu kayak gimana.”

“Togel itu semacam taruhan. Jadi tiap orang yang ikut, pasang minimal 1 nomor. Satu nomor itu harganya seribu, biasanya mereka pasang minimal 1000 nomor, jadi ya minimal 1 juta.”

“Terus? Nomor-nomor itu dikemanain?”

“Nomor-nomor itu dikumpulin ke Bandar, lalu diteruskan ke pusat, katanya pusatnya di Singapura. Tapi saya nda tau juga apa itu benar atau tidak, dan kalau benar, jauh juga di Singapura. Nah nanti tiap ada nomor yang menang, dapat kabar lewat sms dari Bandar.”

“O..terus itu sistemnya gimana? Maksudnya ngundinya gimana? Pakai mesin random kali’ ya? Hehee”

“Iya, dengar-dengar begitu. Jadi pusat input nomor-nomor mereka, lalu pencet tombol randomnya, yang keluar nomornya itu yang menang. Sepertinya kayak gitu, saya juga belum pernah lihat langsung”

“Wah, menggantungkan nasib dari hasil pencet tombol doang donk ya?  Hihihiii..lagipula, apa iya bener nomor-nomor mereka diinput? Mungkin aja di servernya itu sudah ada database nomor urut dari angka 1 sampai 1juta, jadi mo mereka pasang nomor 999.991 juga dah ada di database. Kalau mereka input nomor kan pastinya ribet. Beda kalau databasenya dah ada, lalu si ‘pusat’ tinggal tekan klik tombol random.”

“Iya, itu dia saya heran juga di kampung saya lagi marak-maraknya menggantungkan nasib pada undian begitu. Bahkan sampai ada yang bisa bangun rumah baru, dan bayar sekolah anak-anaknya hanya dari togel. Makanya yang lain jadi pada tergiur dan ikut-ikutan.”

“Wuiihh….gila juga ya.. Lalu mereka biasanya pilih nomornya gimana?”

“Nah, di kampung saya itu ada yang namanya Buku Bodo. Itu semacam buku petunjuk nomor togel. Hahaa.. tapi para pemain togel itu biasanya lebih percaya mimpi daripada Buku Bodo.”

“Buku Bodo? B-o-d-o?”

“Iya.. bodoh.. Tapi kalau di Maluku bilangnya ya cuma ‘bodo’.”

“Itu kenapa disebut buku bodo? Isi bukunya apa? Ukurannya kayak gimana?”

“Ukurannya kayak buku besar akuntansi. Isinya itu nomor-nomor yang pernah menang, terus ada hitung-hitungannya yang saya juga tidak paham, soalnya hanya pernah lihat langsung 1 kali. Buku itu disebut buku bodo karena kalau yang main togel ngambil nomor dari situ lalu dia gagal, maka nasib buruknya itu disebabkan karena buku bodo, maksudnya itu karena kebodohan si buku. Makanya disebut buku bodo.”

“O..begitu. Menarik juga ya. Itu maksudnya hitung-hitung apa mereka di buku itu?”

“Semacam hitung probabilitas-probabilitas gitu.. Nomor yang menang dikali apa gitu, bingung juga saya, yang jelas isinya angka-angka.”

“Yang pertama kali bikin buku itu siapa? Terus itu buku kuno atau sejak kapan adanya?”

“Tidak tau siapa yang pertama kali bikin buku itu. Hahaa..itu bukan buku kuno, dulu tidak ada buku semacam itu. Buku itu sepertinya baru mulai ada sekitar tahun 2009 atau 2010. Karena sewaktu 2008 saya di kampung, belum ada fenomena buku bodo itu.”

“O..begitu. Lalu yang soal mimpi tadi itu gimana ceritanya?”

“Jadi kalau ada orang mimpi melihat angka, nah, keesokan harinya angka itu dipakainya untuk pasang nomor togel.”

“Hanya dari mimpi?”

“Iya. Mereka lebih percaya mimpi daripada buku bodo. Mungkin karena buku bodo itu pakai dihitung-hitung dulu, jadi agak ribet, sedangkan kalau dari mimpi kan berbeda.”

---

Belajar Probabilitas tanpa Melalui Bangku Kuliah
Dalam cerita buku bodo di atas, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat di wilayah tersebut sudah menggunakan konsep probabilitas. Mereka menggunakan konsep ‘learning by doing’ yang mereka tidak sadari.

Sekedar untuk mengingat kembali, di statistika, ada 2 macam probabilitas berdasarkan pengamatannya yakni:
- Probabilitas objektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan dari sesuatu yang dapat dihitung. Misalnya: menghitung probabilitas munculnya angka 3 dari 1 kali pelemparan dadu. Probabilitas munculnya angka 3 dari 1x pelemparan dadu yakni 1/6. Contoh lainnya yaitu penggunaan buku bodo dalam menentukan pilihan nomor kemungkinan juga termasuk dalam probabilitas objektif ini (penulis masih menyebut “mungkin”, sebab penulis sendiri belum tahu bagaimana konsep hitung-hitungan yang dipergunakan dalam buku bodo tersebut).
- Probabilitas subjektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang disimpulkan dari hal-hal yang bersifat intuitif. Probabilitas ini didasarkan atas penilaian seseorang dalam menentukan tingkat kepercayaan, tanpa melibatkan pengalaman sebagai dasar perhitungan probabilitas. Contohnya ya menentukan nomor togel berdasarkan mimpi.

Nah, pada akhirnya kita jadi tahu bahwa ternyata beberapa orang dari masyarakat Maluku Tenggara bisa belajar probabilitas tanpa harus masuk kelas statistika. Pelajaran probabilitas yang mereka peroleh dari wilayah-wilayah kultural, pada kenyataannya membuat mereka lebih tertarik untuk mendalaminya, hal ini lebih cenderung karena mereka melihat adanya sisi manfaat dari pelajaran probabilitas sederhana tersebut.

Seperti itu pula lah sebenarnya ilmu. Makin kita mengetahui manfaatnya apa, makin kita menyadari ilmu tersebut nantinya untuk apa, maka makin bersemangat pula kita ingin terus mempelajarinya dan menggalinya lebih dalam.

Yuk, terus belajar dan berbagi!... ;)

Happy Monday!... ^_^


*tulisan ini juga diposting di blogpribadi Dyah.
** illustration pict modified from freedigitalphotos.net

Senin, 25 Maret 2013

Should I Accept the London School of Economics PhD Economics Offer?

Saya keterima di LSE? Aamiin. Hehehe. Bukannnnnnnn, judul ini memang berasal dari diskusi di sebuah forum bernama www.urch.com. Nggak tahu sih forum tadi terkenal apa nggak, cuman dapet dari google aja. Judul di atas ini saya dapat di laman ini setelah mencari-cari di google dengan kata kunci: [Ph.D in Economics LSE].

Image 

Beda Kelas Beda Pertanyaan

Nha, dalam diskusi itu ane kayak membaca Kompasiana, kadang yang lucu bukan artikel utama, tapi komentar-komentarnya. Dari sana ane melihat beberapa hal-hal sebagai bahan perenungan ane sebelum sekolah besok.

Pertama-tama, misal kamu ditanyain gitu jawaban Anda gimana? yang anak Ekonomi? Awalnya, kalo saya sih pengen nyakar-nyakar si penanya!!! (hehehe, selow selow).  Gimana nggak, dapat sekolah itu susah dan dapat satu beasiswa saja sudah alhamdulillah. Buat ane yang kecerdasannya di bawah rata-rata untuk masuk perguruan tinggi ternama, masuk LSE merupakan mimpi di siang bolong. Bagai pungguk merindukan bulan. Meskipun begitu, wajar bagi beberapa orang pertanyaan kayak gitu karena memang mereka sudah berada pada taraf bisa memilih.

Aye jadi inget, dosen aye pernah bilang, waktu awal sekolah S2 memang bukan pada kondisi belum bisa memilih, tapi suatu saat nanti jika sudah berada pada “kelas”-nya kita bisa kok kayak mereka. Uniknya, katanya ada fenomena menarik mahasiswa master pas sudah sekolah di luar negeri. Awal-awal punya ambisi bisa masuk di sekolah-sekolah top pas S3 entar. Eeee, akhirnya layu sebelum berkembang. Setelah ngalamin susahnya sekolah di master, lulus S3 di sekolah biasa-biasa aja udah syukurrrr  :D

Takut atau Over Expectation?

Perenungan lain setelah mbaca-mbaca diskusi kayak gitu, lama-lama ane mikirnya jadi beda gan. Iya sih si penanya pinter (Coba lihat profile-nya dan jika memang itu bener lho dia ngomongin profilenya. hohoho) dan pantes jika diterima di lembaga pendidikan bagus seperti di LSE. Tapi dia pun ternyata juga ditolak oleh 10 institusi yang lain yang menurut dia ok (Dia kebanyak ditolak sekolah Ivy League). Nah, pinter aja nyoba apply sekolah aja banyak apalagi kayak ane gan, dan mungkin agan-agan yang IPK-nya nggak cumlaude kayak ane kudu apply lebih banyak lagi (kite senasib). hehehe.

Selain itu, orang-orang dalam obrolan itu kok kayaknya mereka nggak takut ngomongin hal-hal yang gede. Misal dia si penanya udah daftar tuh ke rombongan top schools in economics. Lah, kenapa ane nggak nyoba kayak die? Bener apa nggak, katanya lulusan UGM itu nampa uga nrimo atawa gampang bersyukur. Belum tahu ada penelitian yang membuktikan sih, cuman dari beberapa pengamatan kayaknya seperti itu. hehe. Dan saya lulusan UGM :D Atau bisa jadi bukan karena nrimo  tapi karena takut nggak diterima? Haaaaa kalo ini sepertinya harus ane evaluasi, toh ane anak Ilmu Ekonomi UGM juga telah melewati persaingan ketat dengan ribuan calon mahasiswa buat lulus UM kemudian lulus skripsi hingga wisuda. Perenungan tahun kemaren sih yang ane dapat itu jangan terlalu jahat ama diri sendiri, PEDE dikit lah napa jadi orang. Hohoho.

Disamping minder, penyakit yang lain adalah tersering over expectation ama kampus atau institusi yang hendak kita masuki. Ane dulu mikirnya nggak bakalan lulus dari UGM, karena takut akan ekonometri, matematika dan statistika. Sampai aye pernah dapat E buat mata kuliah Ekonometrika II gan, sungguh ter-laa-luu. Eh eh lulus juga ternyata, meski pada akhirnya kemelut IPK-nya gan. Catatan lain, ane pernah nemuin dan kenal beberapa orang yang pernah kuliah di LSE, Cambridge, Harvard, Wharton, Boston, Cornell dll, dan kesemuanya masih makan nasi gan! So, kita yang masih sama-sama makan nasi, masih bisa kok  jadi mahasiswa di YuKe atau YuEs sono. [Jangan-jangan sama-sama nasi tapi beda lauk gan :P ]

Catatan redaksi: Jangan kalah sama Maudy Ayunda gan! Si eneng ini barusan diterima di dua universitas ternama untuk jurusan EKONOMI yaitu di Oxford University dan Columbia University dan konon akhirnya milih Oxford. Semangat Gan, jangan kalah! Stay Hungry Stay Foolish!

Note refleksi nggak jelas di tengah malam saat melawan masuk angin yang mendera …
Kwitang, 18 Februari 2013

Jumat, 23 Maret 2012

Kurva Phillips


Masih pada ingat kurva Philips kan? Kurva Philips adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dengan tingkat inflasi di sebuah negara. Menurut Kurva Philips, hubungan keduanya adalah berbanding negatif. Jadi ketika inflasi naik, maka pengangguran turun. Dan ketika inflasi turun, maka pengangguran naik jumlahnya. Kedua poin dalam makroekonomi ini menjadi pilihan yang begitu rumit.

Kita ingin menurunkan inflasi, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Kita ingin mengurangi pengangguran, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Lalu? Pilih yang mana dong?

Tiap negara punya prioritasnya masing-masing (sebab pola kurva phillips tiap negara juga berbeda-beda), meskipun kedua hal ini (inflasi maupun pengangguran) sama-sama penting. Mau contoh?

Indonesia: Inflation Targetting

Indonesia. Ya, negara kita ini cenderung memilih mengatur inflasi ketimbang pengangguran. That's why setiap tahunnya pemerintah kita lebih gencar mengumumkan target inflasi tahun depan. Dan di akhir periode pula, keberhasilan perekonomian selalu diukur dengan tercapainya target inflasi atau tidak. Belum pernah saya mendengar kehebohan pemerintah kita mengumumkan target pengurangan tingkat pengangguran di awal tahun dan mengumumkan realisasinya di akhir tahun (meskipun laporan statistikanya memang ada). Mungkin pengangguran hanya sekedar data statistika yang urgensinya masih kalah jauh ketimbang inflasi.
Inflasi sebagai salah satu dinamika perekonomian adalah hal yang diprioritaskan pemerintah sebab dampaknya langsung terasa di masyarakat. Seperti itu yang sering kita dengar dan kita baca di berbagai media. Iya benar. Hal itu memang benar. Ketika inflasi tinggi, maka harga-harga barang yang tinggi akan menyebabkan masyakat kita semakin tercekik dengan sulitnya memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya. Singkatnya, inflasi dirasakan dalam jangka pendek dan memiliki efek langsung (direct effect).

Lalu, bagaimana dengan pengangguran? Pengangguran seringkali tidak menjadi prioritas utama sebab efek pengangguran tidaklah dirasakan langsung oleh masyarakat (indirect effect). Dampak yang ditimbulkan dari banyaknya pengangguran pun tidak dirasakan dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang. Walaupun demikian, jangan dianggap dampak dari melubernya pengangguran tidaklah dahsyat.


Islandia: Unemployment Targetting
Dari apa yang saya baca di buku The Geography of Bliss, saya menemukan kejutan bahwa Islandia, negara yang langitnya selalu hitam kelam di musim dingin, ternyata lebih memilih memprioritaskan mengurangi jumlah pengangguran ketimbang inflasi. Maka jangan heran dengan harga-harga yang mahal di Islandia.

Menyarikan dari apa yang ditulis oleh Eric Weiner, bagi mereka (warga Islandia), inflasi merupakan cubitan kolektif. Cubitan itu dirasakan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Sedangkan pengangguran adalah cubitan selektif. Cubitan yang hanya dirasakan oleh orang tertentu saja. Bagi mereka itu adalah sebuah ketidakadilan. Maka jangan heran, di Islandia, jika tingkat pengangguran mencapai 5%, itu dianggap skandal nasional dan presiden harus diturunkan.


Bagaimana dengan Indonesia? Apa jadinya ketika unemployment targetting dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah mengendalikan perekonomian setiap tahunnya? Mungkin nggak ada yang mau jadi presiden karena jumlah rakyat Indonesia ada ratusan juta (yang berarti bila ada 5% jumlah pengangguran, itu sudah termasuk dalam kategori sangat banyak). :D

(artikel juga dapat dilihat di halaman web Ekonom gila terbaru: http://ekonomgila.web.id/2012/03/23/kurva-phillips/)

***

Minggu, 01 Januari 2012

Gilanya Infrastruktur Indonesia

Oleh: Muh. Syarif Hidayatullah*, 1110 kata

“Harus diakui, dibuatnya artikel ini sangat terpengaruh dari kenyataan bahwa penulis banyak berkecimpung dalam bidang infrastruktur setahun terakhir, sehingga pemikiran saya sedikit banyak terkotak dalam isu ekonomi infrastruktur. Tulisan ini saya dedikasikan kepada seluruh pembaca dan dibuat dengan maksud agar segenap pembaca bisa ada sedikit gambaran betapa buruk dan ribetnya infrastruktur yang ada di Indonesia. Dan tentunya tulisan ini penulis buat khusus untuk merayakan HUT Blog Ekonom Gila Tercinta. Selamat menikmatinya….”

Mana yang lebih murah, beli (mendatangkan) jeruk dari Medan atau beli (mendatangkan) jeruk dari China. Jawabannya jelas, mendatangkan Jeruk dari Mandarin jauh lebih murah dibandingkan mendatangkan jeruk dari Medan. Apakah hal ini disebabkan oleh rendahnya upah buruh di China?mungkin saja. Atau karena jeruk dari China adalah barang imitasi?itu bisa juga. Tapi, alasan sebenarnya adalah biaya logistik yang dikeluarkan eksportir dari China jauh lebih murah dibandingkan biaya logistik produsen Indonesia.

Medan-Jakarta tentunya jauh lebih dekat dibandingkan China-Jakarta. Tetapi, untuk membawa Jeruk dari Medan-Jakarta, distributor harus melewati 70 jenis pungutan (dari yang formal hingga liar) dan melewati jalan/pelabuhan yang kondisinya sangat jauh dari layak, sehingga biaya logistik di Indonesia menjadi sangatlah mahal. Contoh lainnya adalah, jika anda mengapalkan kontainer 40 feet dari Teluk Bayur (Sumatera Barat) menuju Jakarta, maka anda harus meronggoh kocek US$ 600, sedangkan biaya dari Singapura-Jakarta hanya membutuhkan US$ 185.

Jika anda mengapalkan jeruk anda dari Medan menuju Jakarta, maka harap bersabar ketika memasuki Pelabuhan Tanjung Priok. Waktu yang diperlukan untuk melakukan proses pemasukan barang di pelabuhan Tanjung Priok rata rata mencapai 7 hari, lebih lama dari proses kepabeanan yang memerlukan waktu 5,5 hari, sementara itu di Singapura hanya 1 hari, USA dan Jerman 2 hari, dan Jepang 3,1 hari.

Hal ini terjadi karena traffic di Pelabuhan Tanjung Priok sudah sangat tinggi dan kapasitas pelabuhan Tanjung Priok sangatlah terbatas. Sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia, ternyata Tanjung Priok hanyalah liliput di bandingkan pelabihan dunia. Kapasitas kontainer Tanjung Priok hanyalah 3,6 Juta teus. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 28 juta teus, Belanda 11 Juta teus, dan Malaysia 6,5 juta teus. Padahal Pelabuhan Tanjung Priok ini menopang 70% arus barang dan jasa di Indonesia.

Tidak selesai dipermasalahan pelabuhan. Buruknya infrastruktur di Indonesia juga meliputi akses jalan yang terbatas, Bandar udara yang sudah overloaded, dan rel kereta api yang sebagian besar masih peninggalan Belanda. Dan ironisnya lagi, banyak dari rel kereta api Indonesia yang tidak terpakai. Saat ini di panjang rel kereta api di Indonesia mencapai 7.883 Km, akan tetapi yang beroperasi hanya sepanjang 4.441 Km, sisa 3.442 Km dibiarkan menganggur.  

Masalah kemacetan, khususnya di Jakarta, juga disebabkan buruknya infrastruktur di Indonesia. Data menunjukkan bahwa kecepatan tempuh rata-rata kendaraan pada jam sibuk di Jakarta hanya mencapai 13-15 Km/jam, sangat jauh dibandingkan dengan kecepatan tempuh perkotaan di kota-kota di Jepang (20 Km/jam) ataupun di Inggris (40 Km/jam) (Parikesit, 2011).

Hal ini diperparah dengan kenyataan semakin menjamurnya kendaraan bermotor di Jakarta. Menurut data Polda Metro Jaya (2010), setiap tahunnya ada penambahan 364.810 unit sepeda motor dan 50.880 mobil baru di DKI Jakarta. Buruknya kualitas dan keamanan (maraknya tindak criminal di angkutan kota) menyebabkan masyarakat memilih untuk mengkonsumsi kendaraan pribadi dibandingkan naik kendaraan umum. Hal ini terbukti bahwa saat ini pangsa pengguna angkutan umum terus menurun. Pada tahun 2002, share penggunaan angkutan umum untuk pergi ke tempat kerja masih sebesar 38,3%, sedangkan pada tahun 2010 hanya 12,9% yang menggunakan jasa angkutan umum (JUTPI, 2010).

Buruknya infrastruktur Indonesia inilah yang selalu dikeluhkan oleh investor dan pebisnis Indonesia. Menurut hasil survey, 30% pebisnis Indonesia di 240 Kabupaten/Kota sepakat bahwa infrastruktur adalah hambatan utama dalam menjalankan bisnis di Indonesia. Permasalahan infrastruktur ini menyebabkan high cost economy yang pada akhirnya membuat konsumen tidak dapat menikmati harga barang yang murah. Diperkirakan biaya logistik di Indonesia mencapai 27% dari nilai GDP, padahal rata-rata negara maju dan berkembang hanya sebesar 10% dari GDP. Hal inilah yang membuat produk Indonesia sulit berkompetisi dengan produk dari negara lain.

2 Hambatan
Ada dua hambatan utama dalam pembangunan infrastruktur, pertama ketersediaan lahan, kedua keterbatasan anggaran. Masalah lahan menjadi momok utama dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Banyak proyek infrastruktur yang tidak bisa berjalan akibat ada salah satu bagian lahannya (yang bahkan hanya sebagian kecil) belum dapat dibebaskan.

Kedua adalah masalah pendanaan. Membangun infrastruktur tentunya butuh dana. Dan mustahil bagi pemerintah untuk menyediakan anggarannya. Menurut RPJMN 2010-2014, kebutuhan dana pembangunan infrastruktur mencapai Rp.1400 Triliun. Yang bisa disediakan oleh pemerintah (APBN) hanyalah Rp.600 Triliun. Sisa Rp.900 Triliun harus digantungkan kepada BUMN dan Swasta. Yang jadi pertanyaan, apakah sektor swasta bersedia untuk menanamkan modalnya di sektor infrastruktur Indonesia.

3 Harapan
Menyambut tahun 2012, ada harapan besar yang dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Pertama, adanya komitmen pemerintah melalui MP3EI. Kedua, disahkannya UU Pengadaan Lahan Untuk pembangunan Bagi Kepentingan Umum. Ketiga, dinaikkannya status Indonesia menjadiinvestment grade oleh Finch.

Pemerintah berkomitmen untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur melalui MP3EI. Tidak tanggung tanggung, ditargetkan hingga 2014, nilai investasi untuk infrastruktur mencapai Rp.1700 Triliun. Komitmen inilah yang harus terus kita tagih ke Pemerintah.

Terselesaikannya UU Pengadaan Lahan diharapkan dapat menuntaskan permasalahan lahan yang menghantui Indonesia selama ini. Dalam UU ini diatur empat proses pengadaan lahan, yaitu perencanaan, pengadaan , pelaksanaan dan penyerahan hasil. Menurut hasil kalkulasi penulis, lama waktu yang ditargetkan oleh UU ini untuk membebaskan paling cepat 238 hari, dan paling lama (dengan estimasi ada keberatan dari pemilik lahan) mencapai 512 hari. Hal ini tentunya cukup melegakkan karena selama ini untuk pembebasan lahan untuk proyek jalan tol membutuhkan waktu 4-5 tahun.

Finch baru saja menaikkan grade Indonesia menjadi investment grade (BBB-). Diharapkan kenaikan ini dapat memperderas arus modal asing ke Indonesia. Derasnya arus modal asing ini bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Saat ini terdapat 79 proyek PPP (public private partnership) infrastruktur senilai US$ 59 Milyar di Indonesia, dimana 13 diantaranya dalam status “ready for offer projects” (PPP Book 2011, Bappenas). Jika modal asing bisa diarahkan untuk membiayai keseluruhan proyek ini, tentunya akan menopang upaya percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

2 pekerjaan rumah
Untuk mempercepat keseluruhan proyek infrastruktur di Indonesia, setidaknya ada dua pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Pertama, segera menyelesaikan PP (Peraturan Pemerintah) pelaksana dari UU Pengadaan lahan. Kedua, perbaikan dari skema PPP. Perbaikan skema PPP bisa dimulai dari memperbaiki pipeline creation (penyusunan daftar proyek) dari PPP. Dalam hal pipeline creation, komitmen pemerintah masih dipertanyakan. Contohnya, dalam PPP Book 2011 yang diterbitkan oleh Bappenas, proyek pembangunan Monorail Jakarta dicantumkan sebagai proyek yang “already tendered”. Tapi, seperti yang kita tahu, Gubernur DKI Jakarta justru membatalkan proyek tersebut. Hal ini tentunya harus dievaluasi pemerintah, agar penetapan proyek PPP dilakukan dengan lebih baik.

Infrastruktur selama ini menjadi hantu dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Dan hantu ini akan selamanya menggentayangi perekonomian apabila pemerintah tidak menjalankan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Apabila percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia berjalan lancar, maka mimpi memiliki pendapatan perkapita US$ 14.500 di tahun 2025 dapat tercapai.



*kontributor EG.

Rabu, 30 November 2011

Pasar-pasar Jodoh

Oleh: Dyah
Untuk kalian yang akan menikah, ingin menikah, dan atau baru saja menikah. :)
(untuk Mas Syarif dan Mbak Kiki, untuk Dilla dan Kak Ato, untuk semuanya :D)

“Nikah? Duh, please jangan bahas itu donk, gw stress dengernya.” 
“Nikah? Hahha..belom lah, kita kan masih muda, saatnya senang-senang dulu lah… Nikah itu perkara serius yang belum siap gw jalani.” 
“Nikah? Hmm..do’ain aja yaa..” 
Bla bla bla

Bicara soal nikah, tiap orang tentu punya respon yang berbeda. Berhubung kemarin menghadiri acara pernikahan teman (pernikahannya kawan saya Dilla dan Kak Ato yang sesama aktivis HMI), jadi ikutan nulis aja tentang nikah ah. Hihihii.. tapi bukan soal respon ataupun latar belakang kenapa orang menikah atau bagaimana agar mendapatkan pasangan yang ideal yang ingin saya bahas disini. (soalnya itu dah dibahas di tulisannya kak Yoga PS). Ini cuman catatan kecil nan ringan tentang jodoh.

Kata ustadzah saya, tiap orang sudah diatur jodoh, rezeki, dan waktu kematiannya. Kita nggak pernah tahu yang mana yang lebih dulu datang, apakah jodoh dulu atau rezeki non-jodoh dulu? (jodoh itu termasuk rezeki juga loh.. hehee). Yang jelas, yang manapun yang duluan datang, mau nggak mau ya ambil aja dan tentu harus disyukuri. :)

Tiga Sistem dalam Perekonomian (dan Dunia Perjodohan)
Masih inget kan kalau dalam ilmu ekonomi, kita mengenal beberapa sistem yang bisa digunakan untuk mengatur perekonomian, antara lain yaitu:
-          Sistem Pasar Bebas / Liberalism / Neoliberalism / Laizess Faire, dan sejenisnya
Dalam sistem ini, semua pelaku ekonomi berhak dan bebas menggunakan dan mengumpulkan sumber daya/asset sebanyak apapun mereka inginkan. Titik-titik penawaran dan permintaan bergerak bebas, tidak beraturan, dan sangat cepat. Bila dikaitkan dengan sistem dalam menemukan pasangan hidup, maka bila menggunakan sistem ini berarti seseorang mencarinya dengan bebas. Nggak ada aturan si A nggak boleh sama si B. Maka jangan heran, dalam sistem ini, ada sebuah kelemahan yang timbul, diantaranya misalnya yaitu tidak sedikitnya orang yang menjalani hubungan dengan orang lain yang dah punya pasangan, sebab kebebasan adalah hal utama dalam sistem pasar bebas ini.

-          Sistem Komando / Marxisme / Penganut golongan kiri
Berbeda halnya dengan sistem pasar bebas. Dalam sistem komando, segala sesuatu yang berkaitan dengan perekonomian diatur oleh negara, bahkan kepemilikan individu pun diatur dengan ketat oleh negara, segala sesuatu untuk negara. Sistem seperti ini cenderung sangat mengikat para warganya. Titik-titik penawaran dan permintaan dalam sistem ini bergerak secara kaku (rigid). Bila dikaitkan dengan urusan hati, contoh konkret untuk sistem ini yaitu dua orang yang menikah karena perjodohan. Ya, misalnya kisah siti nurbaya dan datuk maringgi. Hehhee.. Mereka dijodohkan, dan tidak berhak untuk menolak.

-          Sistem Islam
Nah, lalu bagaimana dengan sistem Islam? :) sistem islam yang saya maksud disini tidak hanya untuk para muslim dan muslimah saja, tapi untuk siapa saja, sebab saya percaya nilai-nilai islam itu nilai-nilai universal.

Jika dibandingkan dengan sistem liberalism dan marxisme, sistem islam adalah penyeimbang keduanya. Segala hal sudah diatur dalam islam, termasuk dalam hal memilih pasangan hidup. :) ada empat hal yang menjadi pertimbangan, yaitu: paras wajah, kekayaan, keturunan yang baik, dan agama. Namun yang menjadi point utama yaitu agama. Jadi, walaupun tampan, kaya, dari keluarga yang baik, tapi jika beda agama? Maka carilah yang lain. :)

Lalu, jika nggak tampan, belum kaya materi, dari keturunan biasa-biasa saja, tapi agamanya bagus, maka adakah alasan untuk menolak? :)

Bukan hanya soal memilih pasangan, tapi islam juga mengajarkan kita untuk tidak sekedar memilih yang baik, namun juga melalui proses yang baik.

Dua orang berbeda jenis kelamin yang ingin menikah, hendaknya saling berkenalan terlebih dahulu. Maksudnya dalam hal ini berkenalan lebih dalam agar saling mengetahui pribadi masing-masing, biasanya hal umum yang penting diketahui misalnya: prinsip hidup, kriteria ideal masing-masing, kebiasaan-kebiasaan buruk masing-masing pihak (apakah bisa ditolerir atau tidak), visi ke depannya seperti apa? (ingin membina rumah tangga yang seperti apa, ingin punya anak berapa, etc), ingin istrinya berkarir atau jadi ibu rumah tangga saja, dan lain sebagainya.

Selain itu, selama proses perkenalan (biasa disebut ta’aruf), harus ada muhrim atau perantara yang mendampingi, tampilkan diri apa adanya, dan jawab pertanyaan sesuai keadaan yang sebenarnya. Waktu maksimal ta’aruf biasanya 3 bulan, tapi tergantung masing-masing pihak, jika ternyata baru ta’aruf 1 minggu, tapi dua-duanya merasa tidak cocok, ya ta’arufnya tidak perlu dilanjutkan. Tapi jika ternyata ta’aruf 1 minggu sudah merasa sama-sama klop, maka pernikahan tidak perlu ditunda-tunda lagi.

Jadi? Ingin menemukan jodoh dari sistem yang mana? :)
Menentukan pasangan hidup itu perkara hati.
Seperti yang sudah disebutkan di awal, semua orang punya jodoh, rezeki, dan voucher hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita hanya perlu menyiapkan diri untuk menerima yang mana saja yang duluan datang. :)
Jodoh kita adalah pilihan kita.

Gud Luck!...

***


Makassar, Ahad, 27 November 2011.


*NB: note ini juga untuk diri saya sendiri :D

Sabtu, 15 Oktober 2011

Opportunity Cost VS Opportunity Risk

Opportunity cost atau yang disebut juga sebagai biaya peluang merupakan sebuah istilah yang dilabelkan pada sebuah keadaan dimana kita harus mengorbankan biaya tertentu untuk mencapai suatu target tertentu. Konsep opportunity cost inilah yang kemudian melahirkan prinsip menyesatkan dalam pandangan orang-orang, yaitu mengeluarkan biaya serendah-rendahnya untuk mendapatkan profit setinggi-tingginya. Sebagai pembuka, let’s check this true story.

Seorang bapak yang sangat suka makan buah, pergi ke pasar buah dengan menggunakan mobil. Disana ia ditawari buah-buahan dengan harga tinggi. Mungkin karena ia datang menggunakan mobil maka para pedagang menawarkan harga yang tinggi padanya, demikian yang ada dalam pikirannya. Akhirnya beberapa hari kemudian si bapak pergi lagi ke pasar buah tersebut. Kali ini ia memarkir mobilnya agak jauh dari pasar buah, kemudian memutuskan berjalan kaki menuju pasar buah. Ia mendapatkan pepaya berukuran jumbo dengan harga Rp 4500,- yang pernah ia beli dengan harga Rp 6000,- ketika datang menggunakan mobil. Lumayan menghemat Rp 1500,-, dan akan sangat menghemat pengeluaran jika membeli dalam jumlah banyak. Namun saat itu ia hanya membeli satu. Si bapak begitu senang mendapatkan buah dengan harga murah. Akhirnya ia segera kembali ke tempatnya memarkir mobil. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui mobilnya raib entah kemana.

Dari cerita di atas, si bapak rela berjalan kaki untuk mendapatkan buah dengan harga yang lebih murah. Pengorbanan tenaga untuk berjalan kaki yang dilakukan si bapak merupakan biaya peluang (opportunity cost) yang harus dibayarkannya untuk mendapatkan harga buah yang lebih murah.

Namun ada yang tidak diperhatikan si bapak, yaitu opportunity risk yang terjadi untuk keputusan yang diambilnya tersebut. Raibnya mobil si bapak merupakan opportunity risk yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Jadi dalam hal ini, setiap keputusan-keputusan yang dibuat, agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien, tidaklah semata-mata memperhatikan opportunity cost, namun harus memperhatikan opportunity risk.

Opportunity risk adalah besarnya risiko yang harus ditanggung dari setiap keputusan yang diambil. Risiko-risiko ini bisa berupa biaya yang harus dibayarkan pada saat itu juga, biaya yang harus ditanggung di masa yang akan datang, maupun hal-hal lain yang tak terukur secara kuantitatif

Opportunity risk menurut saya adalah alat analisa yang lebih relevan digunakan pada masa kini. Sebab dapat mengcover segala macam contoh kasus. Berbeda dengan konsep opportunity cost yang sudah mulai kurang relevan untuk beberapa kasus tertentu.

Contoh konkret opportunity risk misalnya sebagai berikut:
Seorang siswa yang baru saja lulus SMA, memutuskan untuk kuliah (abaikan saja alasan-alasan di belakangnya, apakah ia kuliah karena disuruh orangtuanya atau karena keinginan sendiri, bukan menjadi fokus kita).

Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, merupakan contoh keputusan yang memperhatikan opportunity risk. Seperti yang kita ketahui bersama, permintaan pasar tenaga kerja semakin hari semakin menutup peluang untuk calon tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan dasar. Permintaan pasar tenaga kerja di masa mendatang diprediksikan membutuhkan tenaga-tenaga professional dengan skill yang kompeten. Alasan-alasan tersebut yang mendorong si siswa memutuskan untuk kuliah.

Atau contoh lainnya yaitu: seorang mahasiswa yang memutuskan untuk bekerja sambil kuliah, yang akan mendapatkan penghasilan serta pengalaman kerja, namun harus menanggung opportunity risk berupa waktu untuk hangout dan berkumpul bersama teman-teman menjadi terbatas, serta harus ketat mengatur waktu sedemikian rupa agar kuliah tidak keteteran.

Dari dua contoh tentang opportunity risk di atas, kita dapat melihat perbedaan utamanya dengan opportunity cost yang hanya melihat dari segi biaya saja dan hanya untuk jangka pendek semata.

Konsep opportunity risk ini pada akhirnya melahirkan sesuatu yang kita sebut sebagai manajemen risiko. Untuk tulisan tentang manajemen risiko, mungkin kali lain akan ditulis oleh penulis EG yang lain.

Jadi, masih mendasarkan keputusan berdasarkan opportunity cost saja atau mulai beralih ke opportunity risk?

***
Makassar, 09.48 WITA, Sabtu, 15 Oktober 2011.

NB:
*Tulisan ini ditulis setelah mendapatkan pencerahan dari diskusi bersama Kak Yozeth Wandry.
*Tulisan ini juga diposting di blog prbadi Dyah.
*Tulisan ini merupakan kelanjutan (pengembangan) dari tulisan Benjamin Ridwan Gunawan.

Senin, 04 Juli 2011

Kebahagiaan dan Skala Ekonomi dalam Hidup Kita

Apa yang dicari manusia dalam hidup? Kekayaan? Jabatan? Kebahagiaan? Tentu banyak yang menjawab kebahagiaan. Bahagia yang timbul darimana? Bahagia yang timbul dari kepemilikan harta yang banyak? Atau dari jabatan yang tinggi? Apa gunanya semua itu jika sama sekali tidak bermanfaat untuk orang lain? Puncak kebahagiaan tertinggi, konon yaitu saat kita bisa berbagi dengan orang lain. Berbagi sehingga orang-orang dapat tersenyum. Di tulisan kali ini saya akan menganalogikan kebahagiaan dengan skala ekonomi.

Seseorang dapat dikatakan berbahagia ketika apa yang ia bagikan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, namun juga bermanfaat untuk pihak-pihak lain sehingga pihak-pihak lain tersebut juga merasa bahagia. Dalam skala ekonomi, kita dapat mengibaratkan hal ini seperti increase return to scale. Increase return to scale yaitu ketika skala input yang kita gunakan dapat menghasilkan skala output yang lebih besar (baca: dapat membuat kita bahagia dan orang lain juga bahagia).

Jika apa yang kita bagikan ternyata hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri secara sementara, dan dalam jangka panjang tidak ada perubahan signifikan terhadap perkembangan diri kita, maka ini bisa diibaratkan sebagai constant return to scale. Constant return to scale terjadi ketika skala input yang digunakan sama dengan skala ouput yang dihasilkan. Dalam hal ini bisa dikatakan balance.

Berbeda lagi halnya ketika apa yang kita bagikan (what we share to others), justru tidak memberikan kemanfaatan yang signifikan terhadap diri kita apalagi orang lain. Hal ini disebut decrease return to scale, yaitu ketika apa yang kita lakukan tidak membuat kita bahagia meskipun ada sedikit manfaatnya. Misal: kita nggak suka ekonomi tapi terpaksa masuk fakultas ekonomi. Ketika kita terus menerus menjalani keterpaksaan, kita nggak bahagia meskipun tetap ada secuil ilmu yang nyangkut di ingatan kita, tapi kita juga nggak berminat untuk share dengan yang lain karena ketidaksukaan kita terhadap bidang ekonomi.

Dalam hidup, increase return to scale, constant return to scale, dan decrease return to scale merupakan fase alamiah yang bisa dialami siapa saja. Kita bisa saja mengalami increase return to scale untuk suatu bidang / moment tertentu dalam kehidupan kita, namun constant ataupun decrease return to scale untuk bidang yang lain ataupun untuk suatu waktu yang lain. Kita hanya perlu menikmati dinamikanya!..

Semoga bermanfaat!.. ^_^

Makassar, 12 Juni 2011, 00.08 WITA

***

Minggu, 22 Mei 2011

The Logic of Marriage and The Power Of Money

Oleh: Dyah

Tulisan ini berkaitan dengan tulisan tentang uang yang telah dibahas sebelum-sebelumnya. Mungkin semacam tulisan balasan (atau kelanjutan) untuk tulisan yang berjudul “Romansa Cinta yang Paling Tinggi bagi Ekonom (Gila)”. Di tulisan itu, ada satu kalimat menarik yang sekaligus menjadi inti tulisan, yaitu: “Kemunculan Uang itu Karena pada Hakikatnya Kita Saling Membutuhkan”.
Ya!.. saling membutuhkan uang sebagai alat tukar. Lamat-lamat saya coba mengamati, bisakah uang dianalogikan dengan pernikahan? Saya pikir bisa, sebab keduanya sama-sama berfungsi sebagai alat. Alat untuk lebih mendekatkan kita kepadaNya. Yaa…idealnya seperti itu :)

Pernikahan, Cinta dan Sejarah Uang
Barter (cikal bakal munculnya uang) terjadi ketika ada double coincidence of wants. Sama halnya sepeti pernikahan yang terjadi ketika ada double coincidence of wants. Eitss…benarkah? Tentu saja tidak seideal itu. Hal itu hanya terjadi di dunia ceteris paribus, alias jika semua hal dianggap konstan. Pada kenyataannya ada invisible hand (baca: Tuhan) yang turut berperan serta mengatur semuanya. Transaksi perdagangan antara A dan B tidak akan terjadi jika Dia tidak berkehendak mempertemukan keduanya, meskipun keduanya sama-sama (merasa) saling membutuhkan. Dalam bertransaksi, A bisa saja malah bertemu C dan atau D sebab ketika bertransaksi dengan B, tidak ada kesepakatan yang cocok meskipun keduanya sama-sama (merasa) butuh. Sama halnya dengan pernikahan, Dia tidak akan mempertemukan A dan B dalam pernikahan meskipun keduanya sama-sama ingin (wants) dan juga sama-sama (merasa) butuh. Pernikahan hanya terjadi ketika menurut Tuhan, kedua pihak tersebut benar-benar saling membutuhkan, jadi definisi butuh yang digunakan agar terjadi pertemuan adalah definisi butuh menurut Tuhan sebab Tuhan yang paling tahu segala macam yang dibutuhkan manusia. Meskipun logika Tuhan itu tidak dapat benar-benar dipahami manusia. Hehehhee.. Jadi ini ngambil contohnya untuk pernikahan secara umum aja. :)

Tiga Motif Orang Menyimpan Uang (dan Menikah/Menjaga Pernikahan)
Itu tadi baru soal pertemuan awal. Untuk yang selanjutnya, kita bahas tentang motif orang menyimpan uang yang ternyata logikanya sama dengan motif orang menikah (menjaga pernikahan). Apakah itu? Menurut J.M.Keynes, ada tiga motif orang menyimpan uang yaitu:

1. Transaction motive
Orang menyimpan uang agar dapat terus melakukan kegiatan transaksi selama hidupnya agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Sama halnya dengan pernikahan. Orang menikah juga agar dapat lebih berkembang melalui “transaksi-transaksi” pasca pernikahan. Dalam hal ini yang saya maksud sebagai transaction motive dalam pernikahan yaitu saling terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mendasar, seperti kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman. kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Walaupun kebutuhan-kebutuhan tersebut juga dapat terpenuhi dari hal-hal di luar penikahan, namun dalam hubungan pernikahan lah semuanya (kebutuhan-kebutuhan tersebut) komplit Insya Allah terpenuhi. Hihihiiii… Kata Allan dan Barbara Pease dalam buku Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps disebutkan bahwa, “seks adalah harga yang dibayarkan wanita untuk pernikahan, dan pernikahan adalah harga yang dibayarkan pria untuk seks”. Hihihihi… apakah benar demikian? Tergantung sudut pandang masing-masing. Menurus saya sih tidak seperti itu. Hehehee.

2. Precautionary motive
Orang menyimpan uang untuk berjaga-jaga bila ada kebutuhan mendesak di masa yang akan datang, intinya untuk menjaga diri dari hal yang tidak terduga. Sama halnya dengan pernikahan yang salah satu fungsinya adalah untuk menjaga diri dari godaan-godaan yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia.

3. Speculative motive
Orang menyimpan uang dengan harapan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar di masa yang akan datang. Sama juga dengan pernikahan yang dilakukan dengan tujuan mengharapkan ridlo dariNya.

Dari ulasan yang dah dibahas di atas, mungkin itu lah alasannya kenapa perempuan pada umumnya (punya citra) suka uang dan lebih tertarik untuk menikah, dibandingkan para laki-laki. Rupanya ada logika yang sama antara uang dan pernikahan. Percaya atau tidak percaya, jaman sekarang tidak sedikit perempuan yang sudah berkelimpahan dan mapan merasa tidak butuh untuk menikah sebab semua kebutuhannya sudah dapat terpenuhi dengan uang. Uang dan pernikahan, keduanya sama-sama alat, jika dipergunakan dengan baik, yaa..sesuai fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan hidup, untuk terus bergerak ke titik equilibrium..menuju kesempurnaan.

NB:
Tulisan ini dibuat dengan penyederhanaan. Uang jelas berbeda dengan pernikahan. Tulisan di atas hanya berusaha menunjukkan latar belakang keduanya (uang maupun pernikahan).
Tulisan ini dibuat gara-gara teringat waktu “nguping” pa’dhe saya yang ngasih nasihat pernikahan ke sepupu. Sebuah catatan yang pada akhirnya membuat saya semakin takjub dengan agama yang saya anut.

-*-

Makassar, Ahad, 22 Mei 2011, 3.26 AM.

Sabtu, 14 Mei 2011

Peran Pa’gandeng (Tukang Sayur) dalam Penciptaan Titik Equilibrium

Sayur!.. Sayur!.. Sayur!.. Tiap pagi suara tukang sayur keliling selalu menghiasi hari yang baru dimulai. Biasanya mereka berkeliling dari kompleks perumahan yang satu ke kompleks perumahan lainnya. Di Makassar, mereka biasa disebut dengan istilah Pa’gandeng (bacanya ‘e’ nya seperti saat baca ‘e’ pada kata ‘dendeng’). Para pa’gandeng ini tidak berasal dari Kota Makassar lhoh!.. Mereka berasal dari wilayah-wilayah kabupaten yang ada mengelilingi Makassar, biasanya dari Kabupaten Maros, Gowa, atau bahkan Takalar. Jaraknya tidak tanggung-tanggung yang mereka tempuh tiap harinya. Total jarak pulang pergi bisa mencapai 100 KM!... Terbayangkah bersepeda sejauh itu? Bagi yang belum terbiasa, harap tidak usah mencobanya, soalnya di tengah jalan nggak ada tukang tambal betis :P

Ya…meskipun banyak juga yang sudah memakai motor, tapi sebagian besar pa’gandeng yang ada di Makassar masih menggunakan sepeda ketika berkeliling menjajakan sayur dagangannya. Dan kedatangan mereka selalu disambut ramai oleh ibu-ibu. Bahkan tidak jarang jadi tempat gossip. Makanya jangan heran kalau pa’gandeng adalah sumber informasi yang baik. Hihihiii..ngasal deh kalo yang ini!... :D

Btw soal belanja, tahu kan hobinya cewek kalo berbelanja? Apalagi kalau bukan nawar!... :D
Ya!.. Keriuhan tawar menawar antara pa’gandeng dengan ibu-ibu yang membeli sayurannya selalu menjadi cerita lucu tersendiri. Beda 100rupiah pun seringkali si ibu-ibu nggak mau ngalah dari pa’gandeng. Eitsss..jangan salah.. itu bukan cuma soal hemat-menghemat anggaran, tapi juga menyangkut psikologis dan bisa ditinjau dari sudut pandang ilmu ekonomi juga lho!... :D

Pa’gandeng dan Titik Equilibrium
Proses tawar menawar antara pa’gandeng dengan pembelinya itu merupakan salah satu contoh proses terjadinya titik pertemuan antara supply dan demand sehingga membentuk titik equilibrium ketika harga telah disepakati.

Perilaku Konsumen yang Tidak Rasional
Kita semua sepakat kan bahwa pa’gandeng (tukang sayur) adalah pedagang kecil. Bila dibandingkan dengan sayuran di supermarket jelas berbeda. Harga sayuran yang dijual oleh pa’gandeng dengan yang dijual di supermarket, benar-benar kompetitif. Masing-masing punya keunggulan tersendiri. Seringkali malah harga sayuran yang dijual pa’gandeng lebih mahal daripada harga sayuran di supermarket, meskipun bagi sebagian orang tidak material (hihihii..minjem istilah akuntansi :D).

Pa’gandeng memulai usahanya di dini hari ketika orang-orang masih terlelap. Dan mulai mengayuh sepedanya seusai shalat subuh. Datang ke satu kompleks ke kompleks berikutnya, seharian menjajakan sayuran yang harus dilariskan hari itu juga, sebab sayuran bukan produk yang tahan lama.

Satu hal menarik yang membuat saya tergelitik, yaitu ketika ada pelanggan pa’gandeng yang nawarnya sadis. Padahal secara finansial sangat berlebih. Huehehehe.. Nah..untuk yang dah tahu konsep ekonomi, menurut saya kalau mau nawar beli sayur di pa’gandeng ya nawar sewajarnya aja. Malah seharusnya nggak usah nawar lhoh!... :p itung-itung bagi rejeki gitu… Hhaaahaa..

Lhoh? Kenapa? Kok malah nawarin nggak usah nawar? :) iya..soalnya kalau belanja di supermarket aja kita bisa, ngapain nawar saat belanja di pa’gandeng? Kalau ke supermarket, kita harus keluar tenaga menuju ke supermarketnya, apalagi kalau masih pagi-pagi banget pasti belom buka. Bandingkan dengan pa’gandeng yang memudahkan kita membeli sayur dari depan pagar rumah kita sendiri. Kita nggak perlu repot, nggak keluar tenaga. Yang capek cuma pa’gandengnya. Ditambah lagi kita pesan ke pa’gandengnya untuk membawakan sayur tertentu di keesokan harinya. Nah.. karena semua alasan itu, bisa kan kita sedikit menghargai usaha para pa’gandeng? ;) Caranya? Ya itu tadi.. kalo nawar nggak usah sadis-sadis. Wkwkwkkwk...

:p

Melalui jasa pa’gandeng, satu titik keseimbangan terjadi setiap harinya. ;) Dunia itu harus balance seperti neraca dalam akuntansi. Dan keseimbangan makrocosmos hanya dapat terjadi ketika terjadi keseimbangan di mikrocosmos lebih dulu (waduh apa nih artinya? Artinya kalo belanja di pa’gandeng ataupun pdagang kecil lainnya nggak usah nawar sadis-sadis kalo emang mampu dompetnya). ^_^ :D

-*-