Tampilkan postingan dengan label dyah restyani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dyah restyani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Mei 2013

Migrasi Hati

Source Pict: Here
Oleh: Dyah Restyani

Di pembahasan mengenai ekonomi sumber daya manusia, ada tiga point yang menjadi fokus, yaitu persoalan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Ketiga hal ini sama pentingnya dalam mempengaruhi perekonomian suatu wilayah atau negara.

Di tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana migrasi dihubungkan dengan migrasi hati yang semu. Migrasi hati yang semu yaitu migrasi yang dilakukan karena dominan tertarik atau bahkan hanya tertarik pada hal-hal yang nampak bagus saja. Migrasi hati yang kerapkali menghiasi hubungan-hubungan antarmanusia.

Terkait migrasi, ada 2 penyebab utama seseorang melakukan migrasi, yakni:
1.      Daya tarik
Daya tarik sebuah kota atau negara lain seringkali menjadi alasan utama seseorang melakukan migrasi. Kota yang nampak lebih potensial, tampak lebih makmur dan penuh lapangan kerja tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja. Kota yang cepat tumbuh, birokrasinya baik, masyarakatnya terbuka, juga menjadi magnet kuat bagi para pengusaha untuk berbisnis di wilayah tersebut.

Seperti halnya daya tarik sebuah kota, setiap orang juga punya daya tarik tersendiri bagi orang lain. Seseorang (sebut saja si X) akan melakukan migrasi hati (baca: memutuskan hubungan lama dengan si Y dan membina hubungan baru dengan si Z) ketika hatinya tertarik pada individu Z. Daya tarik individu Z mungkin saja nampak begitu cocok dengan apa yang diinginkan si X, sehingga si X berani untuk melepaskan / meninggalkan Y begitu saja hanya untuk mengejar Z. Misalnya saja karena si Z lebih kaya, sering memberi aneka macam hadiah kepada X, juga selalu mengajak X jalan-jalan ke tempat-tempat mewah nan bergengsi.

2.      Daya dorong
Daya dorong mejadi faktor kedua yang menjadi alasan mengapa seseorang bermigrasi. Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong, yakni: a). Faktor ekonomi (berupa upah, kesempatan kerja, dan biaya hidup). Kurang mencukupinya upah, kurang tersedianya kesempatan kerja, serta biaya hidup yang tinggi di wilayah tempat tinggal seseorang seringkali menjadi faktor pendorong seseorang melakukan migrasi ke wilayah lain, ke wilayah yang kesempatan kerjanya lebih luas, upahnya lebih tinggi, dan biaya hidup yang terjangkau. Dikaitkan dengan migrasi hati, seseorang (X) berpindah hati ke dari Y ke Z karena Y miskin, tak pernah memberinya hadiah apa-apa, tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat bergengsi.

Selain faktor ekonomi, faktor kedua yang menjadi daya dorong seseorang bermigrasi adalah faktor sosial. Ketika seseorang merasa tak berguna, tak punya status sosial yang baik di tempat tinggalnya, maka besar kemungkinan ia akan bermigrasi ke tempat lain yang lebih terbuka dan lebih menerimanya. Jika dihubungkan dengan migrasi hati X, maka X berpindah hati ke Z karena di hubungannya yang sebelumnya (hubungan X dengan Y) tidak direstui keluarga Y. Begitu pula keluarga X yang amat sulit menerima Y karena alasan bibit bebet bobot yang tak jelas.

Faktor ketiga yang menjadi daya dorong migrasi yaitu faktor politik atau keamanan. Para penduduk yang berada di wilayah-wilayah perang, yang tak terjamin situasi keamanannya, tentu saja mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akan bermigrasi ke wilayah lain yang lebih aman. Sama halnya ketika X menjalani hubungan dengan Y, ketika ia kerapkali mendapatkan terror dari keluarga Y agar X menjauhi Y, maka mau tidak mau, X terpaksa harus memutuskan hubungan /  meninggalkan Y.


Brand Brain Migration = Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Selalu ada harga yang harus dibayar, baik oleh migran yang bermigrasi, maupun oleh wilayah yang menerima migran tersebut, serta wilayah yang ditinggalkan.

Bila SDM yang bermigrasi itu bermutu (berpendidikan tinggi dan punya high skill), maka wilayah baru yang dimasukinya akan mendapatkan manfaat sebab SDM yang baru masuk tersebut berpotensi menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya hubungan X, Y, dan Z. Ketika X ternyata adalah pasangan yang dapat melengkapi Z, maka hubungan keduanya akan menjadi simbiosis mutualisme.

Namun bila SDM yang bermigrasi itu kurang bermutu, maka SDM tersebut hanya akan menjadi beban bagi wilayah baru yang dimasukinya. Untuk contoh konkretnya, lihat saja Jakarta yang penuh seabrek manusia yang ‘rebutan’ oksigen. Hehehe. Okay, begitu pula untuk hubungan X dan Z. Jika ternyata X cuman bisa menguras kantong Z sedalam-dalamnya, maka X hanya menjadi beban dan berpotensi ‘ditendang’ dari kehidupan Z.

Migran yang bermigrasi hanya karena daya tarik suatu kota tanpa menghitung cost dan benefit kesesuaian kebutuhan kota itu dengan dirinya, biasanya setiba di kota tujuan hanya bingung tak tahu hendak melakukan apa, hingga akhirnya hanya menjadi beban tanggungan sebuah kota.

Namun jika migran bermigrasi karena daya dorong, biasanya dia akan lebih struggle karena kondisi di wilayah asalnya lebih buruk daripada kondisi wilayah yang baru didatanginya. Tapi hal ini juga tidak bisa dipastikan sebab kondisi setiap migran tentu saja berbeda-beda.

Jadi, untuk yang galau tingkat dewa dan ingin bermigrasi hati, silakan dihitung-hitung dulu cost dan benefitnya sebelum mewujudkan migrasi hati. Kalau di migrasi nyata, seseorang bisa saja datang dan pergi sesuka hati bolak balik ke kota A lalu ke kota B tanpa ada yang dikecewakan mendalam. Sedangkan untuk migrasi hati, selalu ada potensi akan ada yang’terluka’. :D

Semoga bermanfaat!...


---

Senin, 15 April 2013

Buku Bodo


Oleh: Dyah Restyani


Bertemu dengan orang baru, seringkali menjadi pengalaman menyenangkan tersendiri. Karena selain bertatap muka dengan wajah baru, kita juga bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Di acara Belajar Metodologi Penelitian Bareng DR_Consulting dan MIB yang diadakan Ahad 3 Maret 2013 lalu, saya berkesempatan mendapatkan pengetahuan baru dari salah seorang peserta kegiatan. Pengetahuan baru tersebut tidak ada tertulis di buku-buku, sebab hanya diperoleh melalui pendekatan kultural.

Namanya B, seorang alumni jurusan Akuntansi dari salah satu universitas di Makassar. Dia orang Maluku asli. Asalnya dari Maluku Tenggara, tidak jauh dari Kota Tual katanya. Dia cukup banyak bercerita tentang Maluku, sebuah wilayah yang saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana, tahunya cuman dari peta di atlas saja. Hehhee.

Dia bercerita tentang bagaimana keadaan transportasi di sana. Di Maluku, orang-orang dominan menggunakan sarana transportasi laut, dibandingkan dengan transportasi umum darat semacam angkot. Hal itu wajar karena memang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau kecil.

Satu hal menarik yaitu ketika dia sedang asik bercerita, berkali-kali hp nya berbunyi karena rentetan sms-sms yang masuk.

“Heran saya ini, selalu saja ada sms-sms togel yang masuk di inbox.” Katanya sambil tersenyum lebar nyaris tertawa.

Saya hanya tertawa kecil dan berkata
“Kamu pakai nomor tel***sel ya? Kalau nomor-nomor provider itu memang sering penggunanya dapat sms togel-togel itu. Adik saya juga sering, sampai kesal dia dan mau ganti nomor. Hehhehee”

“Iya, aneh sekali ini. Togel ini di daerah saya lagi marak-maraknya.”

“Oh ya? Togel itu seperti apa si? Saya malah nggak tahu togel itu kayak gimana.”

“Togel itu semacam taruhan. Jadi tiap orang yang ikut, pasang minimal 1 nomor. Satu nomor itu harganya seribu, biasanya mereka pasang minimal 1000 nomor, jadi ya minimal 1 juta.”

“Terus? Nomor-nomor itu dikemanain?”

“Nomor-nomor itu dikumpulin ke Bandar, lalu diteruskan ke pusat, katanya pusatnya di Singapura. Tapi saya nda tau juga apa itu benar atau tidak, dan kalau benar, jauh juga di Singapura. Nah nanti tiap ada nomor yang menang, dapat kabar lewat sms dari Bandar.”

“O..terus itu sistemnya gimana? Maksudnya ngundinya gimana? Pakai mesin random kali’ ya? Hehee”

“Iya, dengar-dengar begitu. Jadi pusat input nomor-nomor mereka, lalu pencet tombol randomnya, yang keluar nomornya itu yang menang. Sepertinya kayak gitu, saya juga belum pernah lihat langsung”

“Wah, menggantungkan nasib dari hasil pencet tombol doang donk ya?  Hihihiii..lagipula, apa iya bener nomor-nomor mereka diinput? Mungkin aja di servernya itu sudah ada database nomor urut dari angka 1 sampai 1juta, jadi mo mereka pasang nomor 999.991 juga dah ada di database. Kalau mereka input nomor kan pastinya ribet. Beda kalau databasenya dah ada, lalu si ‘pusat’ tinggal tekan klik tombol random.”

“Iya, itu dia saya heran juga di kampung saya lagi marak-maraknya menggantungkan nasib pada undian begitu. Bahkan sampai ada yang bisa bangun rumah baru, dan bayar sekolah anak-anaknya hanya dari togel. Makanya yang lain jadi pada tergiur dan ikut-ikutan.”

“Wuiihh….gila juga ya.. Lalu mereka biasanya pilih nomornya gimana?”

“Nah, di kampung saya itu ada yang namanya Buku Bodo. Itu semacam buku petunjuk nomor togel. Hahaa.. tapi para pemain togel itu biasanya lebih percaya mimpi daripada Buku Bodo.”

“Buku Bodo? B-o-d-o?”

“Iya.. bodoh.. Tapi kalau di Maluku bilangnya ya cuma ‘bodo’.”

“Itu kenapa disebut buku bodo? Isi bukunya apa? Ukurannya kayak gimana?”

“Ukurannya kayak buku besar akuntansi. Isinya itu nomor-nomor yang pernah menang, terus ada hitung-hitungannya yang saya juga tidak paham, soalnya hanya pernah lihat langsung 1 kali. Buku itu disebut buku bodo karena kalau yang main togel ngambil nomor dari situ lalu dia gagal, maka nasib buruknya itu disebabkan karena buku bodo, maksudnya itu karena kebodohan si buku. Makanya disebut buku bodo.”

“O..begitu. Menarik juga ya. Itu maksudnya hitung-hitung apa mereka di buku itu?”

“Semacam hitung probabilitas-probabilitas gitu.. Nomor yang menang dikali apa gitu, bingung juga saya, yang jelas isinya angka-angka.”

“Yang pertama kali bikin buku itu siapa? Terus itu buku kuno atau sejak kapan adanya?”

“Tidak tau siapa yang pertama kali bikin buku itu. Hahaa..itu bukan buku kuno, dulu tidak ada buku semacam itu. Buku itu sepertinya baru mulai ada sekitar tahun 2009 atau 2010. Karena sewaktu 2008 saya di kampung, belum ada fenomena buku bodo itu.”

“O..begitu. Lalu yang soal mimpi tadi itu gimana ceritanya?”

“Jadi kalau ada orang mimpi melihat angka, nah, keesokan harinya angka itu dipakainya untuk pasang nomor togel.”

“Hanya dari mimpi?”

“Iya. Mereka lebih percaya mimpi daripada buku bodo. Mungkin karena buku bodo itu pakai dihitung-hitung dulu, jadi agak ribet, sedangkan kalau dari mimpi kan berbeda.”

---

Belajar Probabilitas tanpa Melalui Bangku Kuliah
Dalam cerita buku bodo di atas, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat di wilayah tersebut sudah menggunakan konsep probabilitas. Mereka menggunakan konsep ‘learning by doing’ yang mereka tidak sadari.

Sekedar untuk mengingat kembali, di statistika, ada 2 macam probabilitas berdasarkan pengamatannya yakni:
- Probabilitas objektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan dari sesuatu yang dapat dihitung. Misalnya: menghitung probabilitas munculnya angka 3 dari 1 kali pelemparan dadu. Probabilitas munculnya angka 3 dari 1x pelemparan dadu yakni 1/6. Contoh lainnya yaitu penggunaan buku bodo dalam menentukan pilihan nomor kemungkinan juga termasuk dalam probabilitas objektif ini (penulis masih menyebut “mungkin”, sebab penulis sendiri belum tahu bagaimana konsep hitung-hitungan yang dipergunakan dalam buku bodo tersebut).
- Probabilitas subjektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang disimpulkan dari hal-hal yang bersifat intuitif. Probabilitas ini didasarkan atas penilaian seseorang dalam menentukan tingkat kepercayaan, tanpa melibatkan pengalaman sebagai dasar perhitungan probabilitas. Contohnya ya menentukan nomor togel berdasarkan mimpi.

Nah, pada akhirnya kita jadi tahu bahwa ternyata beberapa orang dari masyarakat Maluku Tenggara bisa belajar probabilitas tanpa harus masuk kelas statistika. Pelajaran probabilitas yang mereka peroleh dari wilayah-wilayah kultural, pada kenyataannya membuat mereka lebih tertarik untuk mendalaminya, hal ini lebih cenderung karena mereka melihat adanya sisi manfaat dari pelajaran probabilitas sederhana tersebut.

Seperti itu pula lah sebenarnya ilmu. Makin kita mengetahui manfaatnya apa, makin kita menyadari ilmu tersebut nantinya untuk apa, maka makin bersemangat pula kita ingin terus mempelajarinya dan menggalinya lebih dalam.

Yuk, terus belajar dan berbagi!... ;)

Happy Monday!... ^_^


*tulisan ini juga diposting di blogpribadi Dyah.
** illustration pict modified from freedigitalphotos.net

Sabtu, 07 Juli 2012

Pendugaan Parameter dan Konspirasi





Oleh: Dyah Restyani


Daripada suntuk, baca ekonomgila aja!.. Kali ini nyoba-nyoba nulis tentang pendugaan parameter dalam ekonometrika, dikaitkan dengan konspirasi. Gimana jelasnya? Langsung aja ya..


Pendugaan
Di dunia statistika & ekonometrika, kita mengenal yang namanya pendugaan. Nah, apa sih pendugaan itu?
Pendugaan adalah proses menggunakan sampel statistik untuk menduga atau menaksir hubungan parameter populasi yang tidak diketahui.
Jika kita hubungkan dengan penyelidikan konspirasi, maka pendugaan dalam teori konspirasi merupakan proses menggunakan data-data yang ada, untuk menduga atau menaksir hubungan antara subjek yang satu dengan subjek lainnya.

Atau secara sederhana, pendugaan adalah proses yang dilakukan oleh seseorang dengan mengumpulkan dan menganalisa informasi-informasi yang ada untuk kemudian menyimpulkan adanya keterlibatan kasus antara pejabat A dengan pejabat B. Bingung nggak? Yang jelas, gitu deh, kalau bingung, saya nggak tanggung.. Hihihii.


Penduga
Nah, untuk mengetahui pendugaan parameter, maka perlu juga kita ketahui definisi dari penduga. Apa sih penduga itu?
Penduga adalah suatu statistik (harga sampel) yang digunakan untuk menduga suatu parameter.
Kalau dihubungkan (lagi) dengan teori konspirasi, maka penduga merupakan informasi-informasi yang digunakan oleh seseorang dalam menginvestigasi adanya konspirasi untuk suatu kasus tertentu.


Ciri-ciri Penduga yang Baik
Ada beberapa ciri penduga yang baik, antara lain:

- Tidak bias
Suatu penduga dikatakan tidak bias apabila nilai penduga sama dengan nilai parameternya.
Kalau dalam teori konspirasi: terbukti adanya konspirasi apabila informasi-informasi yang dikumpulkan valid sesuai dengan fakta yang terjadi.

- Efisien
Suatu penduga dikatakan efisien bagi parameternya apabila penduga tersebut memiliki varians terkecil.
Penyelidikan konspirasi: bukti-bukti dinyatakan valid apabila informasi-informasi yang ada tertuju pada pihak yang jelas keberadaannya.

- Konsisten
Jika ukuran sampel semakin bertambah, maka penduga akan mendekati parameternya.
Jika informasi-informasi valid yang tertuju pada pihak yang jelas semakin banyak, maka semakin jelas bukti adanya konspirasi.


Wah, ternyata statistika bisa digunakan untuk menyelidiki konspirasi!.. Hehehee...
Ssst..yang jelas, tidak ada konspirasi apa-apa di balik tulisan ini. :D

Selamat weekend readers!... :D


NB: juga diposting di blog pribadi Dyah.
Source pict: antarafoto.com





Jumat, 29 Juni 2012

Credit Rating


Oleh: Dyah Restyani


Apa sih credit rating itu? Credit rating adalah peringkat yang mencerminkan opini dari Lembaga Pemeringkat tentang kemampuan suatu negara dan atau perusahaan dalam memenuhi financial commitment-nya. Hal ini diperlukan oleh calon investor yang berminat untuk memberikan pinjaman atau menanamkan modal dalam suatu negara. Salah satu Lembaga Pemeringkat misalnya yaitu Fitch Rating.

Seperti yang kita ketahui bersama, sejak akhir 2011, Fitch Rating menaikkan credit rating Indonesia yang tadinya BB+ menjadi BBB-. Artinya apa?

BBB- menunjukkan bahwa Indonesia telah masuk dalam kategori investment grade, yaitu berada pada peringkat yang menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia kondusif untuk berinvestasi. Lalu bagaimana dengan credit rating yang lain?

Tabel credit rating selengkapnya dapat disimak pada tabel berikut:



Sebagai perbandingan, di bawah ini data credit rating beberapa negara di ASEAN.


Dari tabel di atas, kita ketahui bersama bahwa Singapura adalah negara di ASEAN yang memiliki credit rating tertinggi diantara negara-negara ASEAN yang lain. Maka tak heran jika Singapura ibarat magnet bagi para investor. Para investor yang menanamkan modalnya di Singapura, selain mendapatkan keuntungan karena iklim investasi yang menguntungkan, juga memberikan kontribusi positif bagi Negara Singapura. Investasi yang masuk di negara tersebut tentu akan mendorong perekonomian Singapura sehingga melaju pesat setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana agar negara kita juga mampu mencapai credit rating AAA itu? Tentu hal tersebut merupakan PR jangka panjang yang sedang kita usahakan sedari dulu. :)


---

Semoga tulisan sangat sederhana ini bermanfaat untuk yang penasaran dengan credit rating.. :) btw jika ada yang salah, silakan dikoreksi :D

Jumat, 23 Maret 2012

Episode Bob Sadino: Roda Bob Sadino beserta Contoh ala Dyah


Siapa yang nggak kenal dengan sosok Bob Sadino? Seorang opa-opa yang sukanya mengenakan celana pendek kemana-mana, nggak peduli acaranya apa dan ketemu siapa, gayanya tetap saja santai dengan celana pendek setengah lutut. Bukan cuma penampilannya yang mengejutkan, namun juga karakternya.

Bob Sadino, seorang wiraswasta yang memulai usahanya dari jualan telur hingga akhirnya sekarang bisnisnya merambah ke sektor properti. Banyak yang bilang kalau Bob Sadino itu gila, nggak waras. Untungnya di sekeliling saya ada beberapa orang yang berkarakter out of the box seperti Bob Sadino, jadinya nggak terlalu kaget ketika membaca buku yang berjudul "Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!" ini.

Buku ini sebenarnya buku lama, terbitan tahun 2009. Tapi yang namanya ilmu, nggak ada habisnya untuk dishare.

Oke, dalam buku ini ada beberapa poin menarik tentang wirausaha ala Bob Sadino. Saya menyukai apa yang dipaparkannya. Memang gila, karena memang seperti itulah ia, sangat out of the box dan di luar kurva normal pada umumnya.

Roda Bob Sadino
Roda Bob Sadino, yang selanjutnya disingkat RBS adalah sebuah konsep yang dibuat Bob Sadino untuk menjelaskan tentang tahapan-tahapan/proses-proses pembelajaran para enterpreneur pada khususnya dan orang-orang pada umumnya. Roda Bob Sadino ini tidak hanya berguna dalam bidang enterpreneurship saja, namun juga berguna untuk segala bidang.

Menurut Bob Sadino, sejatinya seseorang itu mulai dari kuadran TAHU (teori), lalu bergerak ke kuadran BISA (praktik) sambil sesekali bolak balik ke kuadran TAHU, lama kelamaan kemudian bergerak ke kuadran TERAMPIL (kompetensi), kemudian yang terakhir adalah kuadran AHLI (pengakuan). Dan dari kuadran AHLI, bergerak lagi ke kuadran TAHU, demikian seterusnya.

Tidak semua orang melalui keempat kuadran tersebut. Ada yang dari kuadran TAHU langsung ke kuadran AHLI. Ada yang dari kuadran BISA, langsung ke kuadran AHLI. Namun, semuanya butuh proses.

Menurut Bob Sadino, lama berproses di kuadran BISA untuk dapat maju ke kuadran TERAMPIL, dibutuhkan waktu minimal 20 tahun!.. Itu artinya kalau mulai usahanya sejak punya anak, seseorang baru bisa dikatakan terampil di bidangnya ketika anaknya sudah masuk di perguruan tinggi (dengan asumsi bisnisnya tetap berjalan lancar dan asumsi ceteris paribus lainnya).

Kuadran BISA-lah kuadran yang paling menguji mental para pengusaha. Sebab kuadran BISA adalah kuadran dimana seseorang harus terus menerus bergerak menjalankan bisnis yang digelutinya.

Lalu bagaimana dengan kuadran TERAMPIL? Menurut Bob Sadino, orang-orang yang berada di kuadran TERAMPIL adalah orang-orang yang accountable, yaitu memiliki kemampuan mengatasi persoalan secara bertanggungjawab (sebab sudah memiliki kompetensi sebagai hasil belajar di kuadran BISA). Sedangkan kuadran AHLI, beda tipis dengan kuadran TERAMPIL. Di kuadran AHLI, segala kompetensi dan akuntabilitas yang dimiliki orang tersebut diakui oleh masyarakat/khalayak umum.

Contoh konkret:
Saya sekarang berproses di kuadran BISA sebagai layouter buku. Saya masih bolak-balik berdialektika dari kuadran TAHU (teori/pedoman tata cara layout) ke kuadran BISA (praktik melayout). Jika proses ini terus menerus saya jalani, maka lama kelamaan akan muncul kompetensi. 20 tahun kemudian saya akan menjadi seorang layouter profesional karena kompetensi yang saya miliki (meskipun kenyataannya, tidak butuh waktu sampai 20 tahun untuk menjadi seorang layouter profesional), maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Ketika nama saya sudah sangat dikenal dan diakui oleh dunia penerbitan sebagai layouter terbaik, maka saat itulah saya berada di kuadran AHLI.

Saya sekarang masih berstatus mahasiswa ilmu ekonomi concern bidang moneter (selama belum yudisium berarti masih mahasiswa kan ya? :D). Ini berarti saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika saya sudah lulus dan bekerja di sektor keuangan, berarti saya terjun ke kuadran BISA. Berprosesnya saya di kuadran BISA selama 20 tahun sebagai analis ekonomi akan memunculkan kompetensi tersendiri bagi saya dalam menganalisa perekonomian, maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Dan ketika nama saya diakui oleh masyarakat sebagai ahli, maka saat itulah saya beralih ke kuadran AHLI. Hmm..tapi kalau yang ini utopis banget deh kayaknya, soalnya makroekonomi advance aja ngulang sampe 3 tahun. =))

Saya sekarang masih berusia 20+ (yang jelas masih kepala 2 lah ya). Saya belajar memasak (kadang-kadang), saya suka membaca, hobi menulis, suka bikin perencanaan keuangan, dan sedang berproses belajar agama dengan baik. Saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika nantinya saya menikah, maka saya mulai memasuki kuadran BISA (praktik). Kegiatan praktik saya jadinya: mengurus suami dan anak-anak; membuat perencanaan keuangan keluarga setiap periode; mengajar anak-anak mengaji, beribadah dan belajar membaca; etc. 20 tahun kemudian, saya memasuki kuadran TERAMPIL, kuadran dimana saya sudah ada pada tahap mempersiapkan anak saya menjadi dewasa seutuhnya. Sayangnya kalau untuk case yang ini, nggak perlu pengakuan khalayak umum untuk bisa disebut AHLI (baca: ibu rumah tangga yang baik), sebab semua IBU tentu saja AHLI.. heheheh. Heduuww.. kalau contoh yang ini sangat amat utopis. Hahahhaa....

Nah..kira-kira seperti itu contohnya. Kamu bisa bikin contoh sendiri untuk dirimu. Pada intinya RBS bisa diterapkan untuk bidang apa saja. Jadi, di kuadran manakah kamu sekarang? :D

***

Kurva Phillips


Masih pada ingat kurva Philips kan? Kurva Philips adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara tingkat pengangguran dengan tingkat inflasi di sebuah negara. Menurut Kurva Philips, hubungan keduanya adalah berbanding negatif. Jadi ketika inflasi naik, maka pengangguran turun. Dan ketika inflasi turun, maka pengangguran naik jumlahnya. Kedua poin dalam makroekonomi ini menjadi pilihan yang begitu rumit.

Kita ingin menurunkan inflasi, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan jumlah pengangguran bertambah. Kita ingin mengurangi pengangguran, namun di saat yang sama hal itu akan menyebabkan inflasi menjadi tinggi. Lalu? Pilih yang mana dong?

Tiap negara punya prioritasnya masing-masing (sebab pola kurva phillips tiap negara juga berbeda-beda), meskipun kedua hal ini (inflasi maupun pengangguran) sama-sama penting. Mau contoh?

Indonesia: Inflation Targetting

Indonesia. Ya, negara kita ini cenderung memilih mengatur inflasi ketimbang pengangguran. That's why setiap tahunnya pemerintah kita lebih gencar mengumumkan target inflasi tahun depan. Dan di akhir periode pula, keberhasilan perekonomian selalu diukur dengan tercapainya target inflasi atau tidak. Belum pernah saya mendengar kehebohan pemerintah kita mengumumkan target pengurangan tingkat pengangguran di awal tahun dan mengumumkan realisasinya di akhir tahun (meskipun laporan statistikanya memang ada). Mungkin pengangguran hanya sekedar data statistika yang urgensinya masih kalah jauh ketimbang inflasi.
Inflasi sebagai salah satu dinamika perekonomian adalah hal yang diprioritaskan pemerintah sebab dampaknya langsung terasa di masyarakat. Seperti itu yang sering kita dengar dan kita baca di berbagai media. Iya benar. Hal itu memang benar. Ketika inflasi tinggi, maka harga-harga barang yang tinggi akan menyebabkan masyakat kita semakin tercekik dengan sulitnya memenuhi berbagai kebutuhan pokoknya. Singkatnya, inflasi dirasakan dalam jangka pendek dan memiliki efek langsung (direct effect).

Lalu, bagaimana dengan pengangguran? Pengangguran seringkali tidak menjadi prioritas utama sebab efek pengangguran tidaklah dirasakan langsung oleh masyarakat (indirect effect). Dampak yang ditimbulkan dari banyaknya pengangguran pun tidak dirasakan dalam jangka pendek, melainkan dalam jangka panjang. Walaupun demikian, jangan dianggap dampak dari melubernya pengangguran tidaklah dahsyat.


Islandia: Unemployment Targetting
Dari apa yang saya baca di buku The Geography of Bliss, saya menemukan kejutan bahwa Islandia, negara yang langitnya selalu hitam kelam di musim dingin, ternyata lebih memilih memprioritaskan mengurangi jumlah pengangguran ketimbang inflasi. Maka jangan heran dengan harga-harga yang mahal di Islandia.

Menyarikan dari apa yang ditulis oleh Eric Weiner, bagi mereka (warga Islandia), inflasi merupakan cubitan kolektif. Cubitan itu dirasakan oleh semua warga negara tanpa terkecuali. Sedangkan pengangguran adalah cubitan selektif. Cubitan yang hanya dirasakan oleh orang tertentu saja. Bagi mereka itu adalah sebuah ketidakadilan. Maka jangan heran, di Islandia, jika tingkat pengangguran mencapai 5%, itu dianggap skandal nasional dan presiden harus diturunkan.


Bagaimana dengan Indonesia? Apa jadinya ketika unemployment targetting dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan pemerintah mengendalikan perekonomian setiap tahunnya? Mungkin nggak ada yang mau jadi presiden karena jumlah rakyat Indonesia ada ratusan juta (yang berarti bila ada 5% jumlah pengangguran, itu sudah termasuk dalam kategori sangat banyak). :D

(artikel juga dapat dilihat di halaman web Ekonom gila terbaru: http://ekonomgila.web.id/2012/03/23/kurva-phillips/)

***

Kamis, 12 Januari 2012

Entrepreneurship dan Dunia Fotografi


Oleh: Dyah Restyani

Namanya Ali. Saat ia ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, kami sempat bertemu dan berbincang banyak hal, saya mengetahui bahwa ia adalah seorang fotografer. Dia memiliki sebuah studio foto mini di sebuah kawasan suburb di Australia. Tapi meskipun studio fotonya hanya di kawasan suburb, studio fotonya selalu ramai. Dan jika ditanya soal pendapatan, lebih dari cukup jawabnya.

Dia membuka studio foto khusus untuk foto passport. Sebuah bidang usaha yang unik menurut saya. Di saat sebagian besar fotografer membuka usaha dengan menerima jasa memotret apa saja, dia fokus di satu bidang saja.

Suatu hari, pasangan muda mudi datang ke studio fotonya dan memintanya untuk memotret. Tapi dia menolak. Mengapa? Sebab si pasangan muda mudi itu meminta untuk dipotret bugil (sesuatu hal yang sudah sangat umum di Australi).

Ketika saya tanya mengapa dia menolak padahal bayaran yang ditawarkan oleh pasangan muda mudi tersebut sangatlah tinggi, dia menjawab (kira-kira begini, abis ngomongnya cepet banget): “I don’t like to take the nude photograph. I only do what I like. And I only do business with my focus”.

Sesekali ia juga bercerita tentang pengalaman-pengalamannya selama memotret bayi-bayi lucu yang selalu aktif bergerak. Katanya, seringkali untuk mendapatkan 1 foto yang pas, butuh waktu 1 jam, karena ada saja yang dilakukan si bayi, entah itu gerak kanan kiri atau malah menangis karena takut difoto.

Ali menempuh pendidikan di universitas dengan jurusan fotografi. Dan karena ia sangat mencintai fotografi, setelah lulus, ia memilih bekerja menjadi fotografer panggilan untuk pesta pernikahan, ulang tahun, maupun foto keluarga. Lama kelamaan ketika kantongnya semakin tebal, ia mulai membeli sebuah tempat yang akhirnya ia sulap menjadi studio mini. Bersama beberapa kawannya, ia menjalankan bisnis tersebut sudah hampir 10 tahun.

Dari Ali, saya belajar bahwa bisnis yang dijalankan dengan baik dan memiliki prinsip, akan selalu dicari orang dan memiliki reputasi yang baik. Bisnis tidak sekedar soal uang, tapi ia lebih dari itu. Lebih bermakna daripada itu. Seperti yang dikatakan oleh Rhenald Kasali bahwa tujuan orang berwirausaha bukan untuk menjadi kaya, karena kaya hanyalah akibat.




NB: illustration was pick from e-photography.diengplateau.com

Senin, 05 Desember 2011

Gambling Shoes


Beberapa hari lalu saya nyoba pesan sepatu di salah satu toko sepatu online yang katanya membuat sepatu sesuai ukuran kaki. Sebenernya ada dua toko yang menarik minat saya. Toko A menawarkan design sepatu yang benar-benar sesuai lekuk kaki, jadi kita juga harus mengukur lekuk kaki dan lebar kaki dengan detil untuk tiap bagiannya. Sedangkan toko B, hanya memerlukan ukuran panjang kaki saja. Berhubung saya nggak begitu mengerti dengan metode pengukuran si toko A, walaupun disitu dah dijelaskan (tapi nggak ada videonya, jadi masih bingung), jadinya saya menjatuhkan pilihan pada toko B, walaupun sebenarnya model-model sepatu di toko A lebih bagus daripada yang di toko B.

Akhirnya beberapa hari lalu, setelah mengukur kaki dengan tepat saya pun memesan salah satu model sepatu yang ada di catalog online toko B dan mengirimkan ukuran kaki saya. Ini pertama kalinya saya mencoba membeli sepatu via online. Ukuran kaki kecil semacam kaki saya ini, kalau mau nyari sepatu harus bersama orang yang benar-benar sabar dan kuat keliling-keliling dari toko yang satu ke toko yang lain. Mulai dari toko yang menyediakan sepatu murah, sampai ke toko sepatu ber-merk, amat sangat susah mendapatkan ukuran yang pas. :D


Gambling
Adalah bertaruh untuk sesuatu yang belum pasti. Bersedia membayar untuk sesuatu yang belum pasti. Ada yang bilang apa yang saya lakukan adalah gambling. Benarkah itu gambling?

Saya sendiri kurang tahu pasti, yang jelasnya, saya berani mengambil risiko dengan harapan yang besar bahwa gain yang akan saya dapatkan nantinya sesuai dengan risiko yang saya ambil.

Menurut William Tanuwidjaja, gambling adalah komposisi loss dan gain yang sama besarnya. Jika dikaitkan dengan keputusan saya membeli sepatu, itu berarti, peluang mengalami kerugian sama besarnya dengan peluang mendapatkan keuntungan. Kalau ternyata sepatu yang dibuat hasilnya tidak cocok dengan kaki saya dan tidak bisa dipakai, maka itulah kerugian yang harus saya tanggung. Begitu pula jika ternyata sepatunya cocok, maka kemungkinan besar untuk selanjutnya saya akan tetap berkomunikasi dengan toko B ketika akan membeli sepatu lagi.

Jadi, apakah benar apa yang saya lakukan adalah gambling? Jawabannya, tidak. Apa yang saya lakukan bukanlah gamling.


Why This Is Not Gambling?
Bagi yang kakinya special (kekecilan atau kebesaran), proses hunting mencari sepatu yang cocok butuh usaha ekstra.

Kenapa saya mengatakan bahwa apa yang saya lakukan bukan gambling? Sebab, mengutip dari buku yang ditulis olehWilliam Tanuwidjaja, disebutkan bahwa gambling lebih mengarah pada pencarian keuntungan tanpa usaha dan pengorbanan yang layak.

Tindakan yang saya lakukan dengan mengambil risiko memesan sepatu online yang belum tentu cocok ukurannya, bukanlah gambling, sebab di dalamnya ada pengorbanan yang layak berupa: proses pengukuran kaki (emang mengukur kaki termasuk pengorbanan yah? Hehehe..), biaya lebih yang harus dikeluarkan (karena ada ongkos kirim dan biaya administrasi pengiriman karena beda bank dengan si penjual), dan pengorbanan waktu untuk menunggu selama dua mingguan (yang ini termasuk pengorbanan nggak ya? Soalnya nggak ditunggu-tunggu amat kayak nunggu saat antri beli tiket nonton). Yang jelas intinya ada pengorbanan yang layak, sehingga tindakan tersebut bukanlah gambling.

Lalu bagaimana dengan proses mencari sepatu dengan cara konvensional? Itu juga bukan gambling. Usaha mencari sepatu yang cocok dari satu toko ke toko lainnya, justru pengorbanannya kadang lebih besar karena tidak cukup waktu sehari untuk hunting dari toko yang satu ke toko lainnya, belum lagi saat bertemu penjaga toko yang tidak ramah dan tidak sabaran, cost yang harus dikorbankan ketika berkeliling hunting sepatu (transportasi, bayar parkir, etc).

Intinya beli sepatu (untuk ukuran kaki special) via online maupun dengan cara konvensional, dua-duanya sama-sama bukan gambling karena ada pengorbanan yang dilakukan untuk sebuah risiko yang telah dipilih.


So, how about you? :)

***

Makassar, 2 Desember 2011. 20.24 WITA

NB:
Terinspirasi nulis ini setelah nulis status FB:
“Nyoba pesan sepatu online yang dibuat sesuai dengan ukuran panjang kaki si pemesan. Agak gambling sih..soalnya belum tentu cocok. Sama gamblingnya dengan mengunjungi semua toko sepatu yang ada di Makassar dan belum tentu cocok juga. :D”
Abis nulis status itu, jadi mikir-mikir sendiri, benarkah itu gambling? Dan lahirlah tulisan di atas. :D

Rabu, 30 November 2011

Pasar-pasar Jodoh

Oleh: Dyah
Untuk kalian yang akan menikah, ingin menikah, dan atau baru saja menikah. :)
(untuk Mas Syarif dan Mbak Kiki, untuk Dilla dan Kak Ato, untuk semuanya :D)

“Nikah? Duh, please jangan bahas itu donk, gw stress dengernya.” 
“Nikah? Hahha..belom lah, kita kan masih muda, saatnya senang-senang dulu lah… Nikah itu perkara serius yang belum siap gw jalani.” 
“Nikah? Hmm..do’ain aja yaa..” 
Bla bla bla

Bicara soal nikah, tiap orang tentu punya respon yang berbeda. Berhubung kemarin menghadiri acara pernikahan teman (pernikahannya kawan saya Dilla dan Kak Ato yang sesama aktivis HMI), jadi ikutan nulis aja tentang nikah ah. Hihihii.. tapi bukan soal respon ataupun latar belakang kenapa orang menikah atau bagaimana agar mendapatkan pasangan yang ideal yang ingin saya bahas disini. (soalnya itu dah dibahas di tulisannya kak Yoga PS). Ini cuman catatan kecil nan ringan tentang jodoh.

Kata ustadzah saya, tiap orang sudah diatur jodoh, rezeki, dan waktu kematiannya. Kita nggak pernah tahu yang mana yang lebih dulu datang, apakah jodoh dulu atau rezeki non-jodoh dulu? (jodoh itu termasuk rezeki juga loh.. hehee). Yang jelas, yang manapun yang duluan datang, mau nggak mau ya ambil aja dan tentu harus disyukuri. :)

Tiga Sistem dalam Perekonomian (dan Dunia Perjodohan)
Masih inget kan kalau dalam ilmu ekonomi, kita mengenal beberapa sistem yang bisa digunakan untuk mengatur perekonomian, antara lain yaitu:
-          Sistem Pasar Bebas / Liberalism / Neoliberalism / Laizess Faire, dan sejenisnya
Dalam sistem ini, semua pelaku ekonomi berhak dan bebas menggunakan dan mengumpulkan sumber daya/asset sebanyak apapun mereka inginkan. Titik-titik penawaran dan permintaan bergerak bebas, tidak beraturan, dan sangat cepat. Bila dikaitkan dengan sistem dalam menemukan pasangan hidup, maka bila menggunakan sistem ini berarti seseorang mencarinya dengan bebas. Nggak ada aturan si A nggak boleh sama si B. Maka jangan heran, dalam sistem ini, ada sebuah kelemahan yang timbul, diantaranya misalnya yaitu tidak sedikitnya orang yang menjalani hubungan dengan orang lain yang dah punya pasangan, sebab kebebasan adalah hal utama dalam sistem pasar bebas ini.

-          Sistem Komando / Marxisme / Penganut golongan kiri
Berbeda halnya dengan sistem pasar bebas. Dalam sistem komando, segala sesuatu yang berkaitan dengan perekonomian diatur oleh negara, bahkan kepemilikan individu pun diatur dengan ketat oleh negara, segala sesuatu untuk negara. Sistem seperti ini cenderung sangat mengikat para warganya. Titik-titik penawaran dan permintaan dalam sistem ini bergerak secara kaku (rigid). Bila dikaitkan dengan urusan hati, contoh konkret untuk sistem ini yaitu dua orang yang menikah karena perjodohan. Ya, misalnya kisah siti nurbaya dan datuk maringgi. Hehhee.. Mereka dijodohkan, dan tidak berhak untuk menolak.

-          Sistem Islam
Nah, lalu bagaimana dengan sistem Islam? :) sistem islam yang saya maksud disini tidak hanya untuk para muslim dan muslimah saja, tapi untuk siapa saja, sebab saya percaya nilai-nilai islam itu nilai-nilai universal.

Jika dibandingkan dengan sistem liberalism dan marxisme, sistem islam adalah penyeimbang keduanya. Segala hal sudah diatur dalam islam, termasuk dalam hal memilih pasangan hidup. :) ada empat hal yang menjadi pertimbangan, yaitu: paras wajah, kekayaan, keturunan yang baik, dan agama. Namun yang menjadi point utama yaitu agama. Jadi, walaupun tampan, kaya, dari keluarga yang baik, tapi jika beda agama? Maka carilah yang lain. :)

Lalu, jika nggak tampan, belum kaya materi, dari keturunan biasa-biasa saja, tapi agamanya bagus, maka adakah alasan untuk menolak? :)

Bukan hanya soal memilih pasangan, tapi islam juga mengajarkan kita untuk tidak sekedar memilih yang baik, namun juga melalui proses yang baik.

Dua orang berbeda jenis kelamin yang ingin menikah, hendaknya saling berkenalan terlebih dahulu. Maksudnya dalam hal ini berkenalan lebih dalam agar saling mengetahui pribadi masing-masing, biasanya hal umum yang penting diketahui misalnya: prinsip hidup, kriteria ideal masing-masing, kebiasaan-kebiasaan buruk masing-masing pihak (apakah bisa ditolerir atau tidak), visi ke depannya seperti apa? (ingin membina rumah tangga yang seperti apa, ingin punya anak berapa, etc), ingin istrinya berkarir atau jadi ibu rumah tangga saja, dan lain sebagainya.

Selain itu, selama proses perkenalan (biasa disebut ta’aruf), harus ada muhrim atau perantara yang mendampingi, tampilkan diri apa adanya, dan jawab pertanyaan sesuai keadaan yang sebenarnya. Waktu maksimal ta’aruf biasanya 3 bulan, tapi tergantung masing-masing pihak, jika ternyata baru ta’aruf 1 minggu, tapi dua-duanya merasa tidak cocok, ya ta’arufnya tidak perlu dilanjutkan. Tapi jika ternyata ta’aruf 1 minggu sudah merasa sama-sama klop, maka pernikahan tidak perlu ditunda-tunda lagi.

Jadi? Ingin menemukan jodoh dari sistem yang mana? :)
Menentukan pasangan hidup itu perkara hati.
Seperti yang sudah disebutkan di awal, semua orang punya jodoh, rezeki, dan voucher hidup di dunia yang berbeda-beda. Kita hanya perlu menyiapkan diri untuk menerima yang mana saja yang duluan datang. :)
Jodoh kita adalah pilihan kita.

Gud Luck!...

***


Makassar, Ahad, 27 November 2011.


*NB: note ini juga untuk diri saya sendiri :D

Sabtu, 15 Oktober 2011

Opportunity Cost VS Opportunity Risk

Opportunity cost atau yang disebut juga sebagai biaya peluang merupakan sebuah istilah yang dilabelkan pada sebuah keadaan dimana kita harus mengorbankan biaya tertentu untuk mencapai suatu target tertentu. Konsep opportunity cost inilah yang kemudian melahirkan prinsip menyesatkan dalam pandangan orang-orang, yaitu mengeluarkan biaya serendah-rendahnya untuk mendapatkan profit setinggi-tingginya. Sebagai pembuka, let’s check this true story.

Seorang bapak yang sangat suka makan buah, pergi ke pasar buah dengan menggunakan mobil. Disana ia ditawari buah-buahan dengan harga tinggi. Mungkin karena ia datang menggunakan mobil maka para pedagang menawarkan harga yang tinggi padanya, demikian yang ada dalam pikirannya. Akhirnya beberapa hari kemudian si bapak pergi lagi ke pasar buah tersebut. Kali ini ia memarkir mobilnya agak jauh dari pasar buah, kemudian memutuskan berjalan kaki menuju pasar buah. Ia mendapatkan pepaya berukuran jumbo dengan harga Rp 4500,- yang pernah ia beli dengan harga Rp 6000,- ketika datang menggunakan mobil. Lumayan menghemat Rp 1500,-, dan akan sangat menghemat pengeluaran jika membeli dalam jumlah banyak. Namun saat itu ia hanya membeli satu. Si bapak begitu senang mendapatkan buah dengan harga murah. Akhirnya ia segera kembali ke tempatnya memarkir mobil. Alangkah terkejutnya ia ketika mengetahui mobilnya raib entah kemana.

Dari cerita di atas, si bapak rela berjalan kaki untuk mendapatkan buah dengan harga yang lebih murah. Pengorbanan tenaga untuk berjalan kaki yang dilakukan si bapak merupakan biaya peluang (opportunity cost) yang harus dibayarkannya untuk mendapatkan harga buah yang lebih murah.

Namun ada yang tidak diperhatikan si bapak, yaitu opportunity risk yang terjadi untuk keputusan yang diambilnya tersebut. Raibnya mobil si bapak merupakan opportunity risk yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Jadi dalam hal ini, setiap keputusan-keputusan yang dibuat, agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien, tidaklah semata-mata memperhatikan opportunity cost, namun harus memperhatikan opportunity risk.

Opportunity risk adalah besarnya risiko yang harus ditanggung dari setiap keputusan yang diambil. Risiko-risiko ini bisa berupa biaya yang harus dibayarkan pada saat itu juga, biaya yang harus ditanggung di masa yang akan datang, maupun hal-hal lain yang tak terukur secara kuantitatif

Opportunity risk menurut saya adalah alat analisa yang lebih relevan digunakan pada masa kini. Sebab dapat mengcover segala macam contoh kasus. Berbeda dengan konsep opportunity cost yang sudah mulai kurang relevan untuk beberapa kasus tertentu.

Contoh konkret opportunity risk misalnya sebagai berikut:
Seorang siswa yang baru saja lulus SMA, memutuskan untuk kuliah (abaikan saja alasan-alasan di belakangnya, apakah ia kuliah karena disuruh orangtuanya atau karena keinginan sendiri, bukan menjadi fokus kita).

Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, merupakan contoh keputusan yang memperhatikan opportunity risk. Seperti yang kita ketahui bersama, permintaan pasar tenaga kerja semakin hari semakin menutup peluang untuk calon tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan dasar. Permintaan pasar tenaga kerja di masa mendatang diprediksikan membutuhkan tenaga-tenaga professional dengan skill yang kompeten. Alasan-alasan tersebut yang mendorong si siswa memutuskan untuk kuliah.

Atau contoh lainnya yaitu: seorang mahasiswa yang memutuskan untuk bekerja sambil kuliah, yang akan mendapatkan penghasilan serta pengalaman kerja, namun harus menanggung opportunity risk berupa waktu untuk hangout dan berkumpul bersama teman-teman menjadi terbatas, serta harus ketat mengatur waktu sedemikian rupa agar kuliah tidak keteteran.

Dari dua contoh tentang opportunity risk di atas, kita dapat melihat perbedaan utamanya dengan opportunity cost yang hanya melihat dari segi biaya saja dan hanya untuk jangka pendek semata.

Konsep opportunity risk ini pada akhirnya melahirkan sesuatu yang kita sebut sebagai manajemen risiko. Untuk tulisan tentang manajemen risiko, mungkin kali lain akan ditulis oleh penulis EG yang lain.

Jadi, masih mendasarkan keputusan berdasarkan opportunity cost saja atau mulai beralih ke opportunity risk?

***
Makassar, 09.48 WITA, Sabtu, 15 Oktober 2011.

NB:
*Tulisan ini ditulis setelah mendapatkan pencerahan dari diskusi bersama Kak Yozeth Wandry.
*Tulisan ini juga diposting di blog prbadi Dyah.
*Tulisan ini merupakan kelanjutan (pengembangan) dari tulisan Benjamin Ridwan Gunawan.