Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juni 2013

Roundabout Roundabout



Ada yang kenal manusia di samping ? Ini gambar dari film Into The Wild,


isinya tentang kehidupan pasca wisuda seorang Chris McCandless.



Banyak orang komentar, film ini bener2 menggugah, tapi menurut saya si biasa aja. Saya tenang-tenang kuliah sehabis SMA dan seiring berjalannya waktu, film ini pun melapuk dan hilang dari ingatan. 
Sampai kira-kira 3 minggu yg lalu, film ini kembali muncul dan mengusik pikiran.
Pemicunya ada 2:
dp bbm temen & quotes dari dialog film tsb di tumblr (tuh quotes-nya ada di gambar di atas).
FYI, sebentar lagi saya lulus kuliah (setahun lagi sih :p)

Keberanian si McCandless untuk lepas dari hidup a'la peradaban modern memang menggugah.
Tapi itu tetap terdengar mustahil untuk saya. Pikiran saya jauh lebih tertarik menyoroti pandangan pendapat McCandless soal karier (liat gambar Emile Hirsch di atas), dan apa pemicu lahirnya pendapat tersebut.

Bicara karier, ingatan saya langsung lompat ke buku dibawah ini:
                                           Judulnya,"Your Job is Not Your Career". Buah karya Pak Rene Suhardono inilah yg pertama kali memperkenalkan saya perbedaan antara karier dan pekerjaan. 
Kalo saya gak salah, karier itu lebih mirip "alur jalan" atau "path", sedangkan pekerjaan adalah titik langkah yang dilalui selama meniti "path" tersebut.

Buku itu juga sukses menjabarkan soal passion. Sesuatu yang sepengertian Saya berarti:
Sesuatu yang sangat kita minati, hingga sering tanpa sadar kita latih dan pelajari secara mendalam. Jadi pendorongnya murni karena kita menyukai aktivitas / pekerjaan tersebut. 
Klimaks buku itu kalo saya gak salah, ketika kita sampai pada suatu titik, dimana passion itulah profesi kita (full time job)
Saya gk tau bener gk itu yg dimaksud sebagai pesan dari penulis buku itu. Abis bacanya udah lama bgt si, hehehehe...

Setelah buku itu, pikiran saya lompat ke sebuah analogi atas kehidupan rata-rata manusia, era sekarang:

Yup, 2 kata: rat race

Penjelasan soal istilah ini bisa didapat melalui komik dibawah ini:

tak ketinggalan curcol bernutrisi tinggi dari Bang Tyler Durden :

Kalo masih gak paham, berarti katro... atau mungkin, tanpa sadar 
anda telah sukses terjebak dalam "rat race".
(kok kalo selip dikit bisa mirip ama death race ya hehehehhe...)

Ok ok, cukup soal resensi dan testi soal buku dan film. 
Let's be original a little bit...

Setelah semua hal di atas, otak saya keinget sama kebijakan naiknya UMR Jakarta Desember lalu,
Waktu itu, saham Astra International terjun bebas saat isu mulai beterbangan dan penurunan terus terjadi sampai 2 hari pasca penetapan resmi aturan tsb.

Intinya pesan yg ingin disampaikan pelaku bursa saham adalah,
"Kami gk terlalu suka dengan hal ini."
Ok, lalu pikiran saya mencoba mengaitkan hal ini dengan inflasi,
langkahnya kira-kira begini:

> UMR: Batas bawah gaji bagi pemangku jabatan terbawah

>> UMR naik, pekerja (employee) yg misalkan tadinya udah ngurangin belanja karena gajinya gak cukup, akan kembali "menormalkan" / menaikkan pengeluarannya.
Atau semisal sang pekerja tidak merasa perlu "menormalkan" pengeluarannya, maka dia bisa nabung atau investasi.

>>> UMR naik, pengeluaran gaji naik, maka HPP (COGS) naik.

>>>> kalau gak ada reorganisasi operasi atau kenaikan harga jual / kuantitas penjualan, profit perusahaan (employer)  tergerus.

gini ilustrasinya:
Jadi, kalau:
-b2 naik
-c3 naik

Maka ada ada 2 skenario:
 -Skenario A: Perusahaan menaikkan harga jual, karena beban produksi meningkat (perusahaan enggan memangkas profit margin. (cost push inflation).

-Skenario B: Para pekerja memilih untuk menaikkan standar hidup, dus membeli lebih banyak barang & jasa (demand pull inflation).

Jadi, kalo bener b2 & c3 sama2 naik, ya sama aja bohong.
Kenaikan upah pekerja langsung terhapus sama kenaikan harga barang & jasa di pasar,
dan jikalau si pekerja sempat menaikkan konsumsinya,
dan hal seperti ini terjadi secara agregat
(rata2 pekerja melakukan hal serupa),
maka kemungkinan tingkat konsumsi para pekerja akan turun lagi,
karena permintaan yg meningkat akan berpeluang menaikkan harga.
(mempertimbangkan sedikitnya lahirnya produk baru atau lapangan pekerjaan baru).

Berhari-hari saya mikirin, berharap dan ngebayangin, saya bisa ketemu semacam bukti ilmiah soal kemungkinan terjadinya hal di atas...
Sampai akhirnya post Suhu Kongming88 ini muncul di kaskus:













Penjelasan dari Suhu Kongming88:
kolom pertama (FCRPI) nunjukin IHK (indeks harga konsumen) / tingkat harga barang & jasa di pasar
kolom kedua (FCWI) nunjukin labor price index. (upah pekerja)
walaupun gak sangat kuat, tapi korelasi keduanya positif
(Jika IHK naik, LPI ikut naik dan bila IHK turun, LPI juga turun.)

kenapa?

karena kenaikan biaya tenaga kerja memaksa produsen menaikkan harga jual produknya 
(cost push inflation).

Doooorrrr !!!!!
 Akhirnya datang juga hal yg saya tunggu-tunggu...
Lo tuh tinggal bener2 spesifik ngebayangin apa yg lu mau dapetin !
layaknya orang lagi ngebidik sasaran tembak !
Maka yg lo bayangin itu datang / terjadi di saat paling tak terduga...

Ok, back to the topic,
Kalo UMR aja naik, otomatis gaji pekerja2 di tingkat lebih atas juga ikut naik.
Minimal liat kalo pegawai negara naik gaji, pasti rame-rame (serentak bareng-bareng).

Jadi kalo udah kaya gini, masih relevankah mimpi dalam bentuk kalimat,
Kapan ya naik gaji ?
Malah, kalau Saya boleh usul, kalimat di atas bisa diganti dengan kalimat,
Kapan ya saya bisa berkontribusi lebih ?
Kapan ya saya bisa handle lebih banyak tanggung jawab ?
Kapan ya saya bisa lebih pintar ?
Saya kira semuanya kembali ke awal,
kalo mau karier yang asik,
ya harus punya kerjaan yang asik juga.

Bayangin gini, kalo di rat race, bentuk rodanya tu tegak ke atas kan
(cek gambar tikus yg ber-hustlin' ria di atas)
Roda tegak itu kan perlambang harapan si tikus akan naik dia ke anak tangga berikutnya, yg berati nominal gaji yg lebih tinggi, yang kemudian diartikan sebagai  level kehidupan / kesejahteraan / kebahagiaan yg juga lebih tinggi
Namun sayang seribu sayang, semua itu hanyalah sebuah ilusi...
dan bahkan bisa dibilang cuma imajinasi yg tercipta akibat kekurang pahaman atas proses terjadinya inflasi !

Selanjutnya, mau gimana ?

Ada pepatah bilang, merubah kerjaan gk semudah membalik telapak tangan,
Ya memang iya, Saya juga setuju,
makanya sebelum merubah kerjaan, coba rubah dulu itu isi pikiran...
Sekarang bayangin aja, kalo roda di rat race itu jatuh, runtuh, dan tengkurep kaya roundabout di bawah ini:


Maka praktis yang anda kejar ya cuma mempercepat putaran roundabout atau beratraksi melewati pegangan / rintangan yg ada (tergantung cara pandang anda ini sih ;) )
Inget aja rasa seru / excitement waktu main kaya ginian semasa kecil dulu.

Selanjutnya soal menggapai sesuatu yg lebih tinggi, atau memberi efek positig bagi lingkup yang lebih luas.
Ya... anggap aja  roundabout-nya berbentuk kaya' di bawah ini:


Jadi, selalu ada, yang harus dipanjat...

Soal apa dan gimana bentuk implementasi roundabout ini di alam kehidupan sadar anda,
Maka ada 1 hal yg harus anda temukan: passion.

Temet Nosce,-

Minggu, 12 Mei 2013

Jungkat - jungkit Ekonomi 2


Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi...

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.


Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:
kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.



USD adalah "bos" dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.



Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:






















Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on...

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar "investment grade"  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.



 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.



Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah "made in China" sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in..., made in... lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a'la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).


Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi "duta" bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa "merumahkan" pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)


Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.


Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).

- Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga -

Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak... bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti...
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

- Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga -

      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi... (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.
Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya...


Q: Udah, itu aja ?

A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 

Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya "An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations",  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,
sekian.


Minggu, 28 April 2013

Jungkat-jungkit Ekonomi 1


Yang Kaya Makin Bergaya Yang Miskin Makin Aking

Main jungkat-jungkit harusnya menyenangkan
Gak kaya' duo gajah di atas...
Ekonomi juga begitu, menyenangkan walau melelahkan, makin cerdas menuju tujuan.

Interaksi antar pelaku ekonomi, mirip gambar hand car di bawah ini:


Sewaktu bocah, John Lennon ditanya, "Kalo udah gede mau jadi apa?" Lennon jawab: BAHAGIA.
Nah, kalo menurut saya, namanya bahagia, paling terasa pas main.
Terutama main jungkat-jungkit !










Ekonomi + Jungkat-jungkit =


Main jungkat-jungkit dalam ekonomi kudu tau hal dibawah ini:

Aturannya >>  Ada yang naik, ada yang turun. Vice Versa.
Trik              >> Tahu & ngerti isi pikiran, tujuan, dan keinginan temen main kamu.
Tips              >>  Ciptakan & jaga selalu, keseimbangan diri sendiri ! 

Sekarang mari kita liat, para pemain besar jungkat-jungkit ekonomi:

Bank Sental

Pemain yg satu ini banyak mau. Gak suka kalau hand car yg terlalu lambat, gak juga boleh terlalu cepat, maklum, beliau mudah mabuk (bayangin kamu naik jungkat-jungkit yang gerak sekenceng sayap lebah, gimana?).
Jadi, saat hand car dirasa terlalu lambat, maka beliau akan melakukan gerak ekspansi. Giliran isi perut mulai naik ke tenggorokan, beliau segera menyerukan kontraksi.
Btw, ECB itu Bank Sentral Eropa, The Fed punya Amerika Serikat, kalo BoJ itu Jepang. Indonesia punya juga, namanya Bank Indonesia.

Pemerintah

Kalo yg ini denger2 si pengayom banget sifatnya. Tapi yg pasti beliau sangat memperhatikan keseimbangan antara "pesona" dan sifat "disiplin".
Pesona untuk menarik perhatian investor asing dan mengangkat martabat bangsa (katanya...), sembari disiplin menjaga kewibawaan dan kekuasaan di depan rakyat (gk pake jelata ya...).

Perusahaan

Perusahaan disayang pemerintah, karena nyerap banyak tenaga kerja. Perusahaan sangat menjaga keseimbangan neraca serta proporsi pengeluaran dan pemasukan. Perusahaan mengutamakan keberlanjutan usaha dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas main jungkat-jungkit ekonomi.

Bank


Bank asal Jerman ini, pemilik bursa saham di Amerika Serikat. Juga sempat jadi pemilik 67% rumah di suatu negara bagian, pas Krisis Perumahan di Amerika Serikat kemarin.













Kalo yg di atas ini, eksis pas jemuran derivatifnya sukses diterbangin oleh angin Boaz. 
Bank penemu intrumen derivatif saham ini, sekarang berstatus sebagai Bank terbesar di  AS.

Bank mungkin sering salah, tapi gak berarti jahat. Kerjaan mereka tu ngumpulin duit trus nyalurin tu duit ke tempat yang berpotensi ngasih cuan. Apalagi bank2 di negara maju sulit untung dari spread, karena suku bunga di negara maju tu udah rendah banget.
Jadi mereka masuk ke segala sub-pasar (yup, yg namanya pasar, cuma ada 1), 
demi meraih laba juga melayani krediturnya. 
Lebih dalam soal Bank, silahkan baca artikel pengupas pola pikir Bank ini.

Pasar cuma ada 1 (globalisasi menghapus segala batas). 
Ekonomi agak beda, karena tiap negara punya pemerintah dan bank sentral sendiri2.

Namun dalam hidup individual, kita gk cuma mainin satu jungkat-jungkit
*Kita main dengan pemerintah2 (kalau melancong ke luar Indonesia, otomatis berurusan dengan pemerintah setempat). 

*Kita main dengan Bank (ada orang yg rekening Bank-nya cuma 1 ?)

*Kita juga berurusan dengan berbagai Perusahaan (sebagai karyawan, sebagai investor di pasar modal, juga sebagai konsumen).

Yang penting, jangan sampe kita merasa selalu kalah, namanya jungkat-jungkit wajar kalo naik-turun.
Kadang di atas kadang di bawah. 

Tinggal cara kita mengatur diri (jaga keseimbangan, ngatur napas, suara, adrenalin) dalam menjalani pengalaman hidup.

Karakter pemain2 besar belum dijabarin,
Sabar... pahami yg ini dulu...

Baru nanti lanjut ke bagian 2...



Jungkat-Jungkit, Cita-citaku Selangit
Jungkat-Jungkit, Hilang Segala Pikiran Sakit
Jungkat-Jungkit, Dompet Makin Sempit
Jungkat-Jungkit, Hore ! Ekonomiku Bangkit !

Kalau Banyak yang Kaya' Aku
Apalah Guna Berseteru
Ketika Solusi Dunia Tergenapi
Awan & Api, Itu Urusan Nanti



                 sumber gambar
Sumber gambar lainnya: Google

Senin, 01 April 2013

Uang & Darah: Sebuah Analogi


Alam sangatlah efisien,
semua benda buatan alam, mempunyai sketsa yg serupa.


Globalisasi membuat batas antar wilayah tak lagi berarti,
terutama untuk benda ciptaan manusia yg satu ini: U A N G.

Setiap negara penganut USD sebagai bentuk cadangan devisa & punya SDR di IMF
otomatis punya skema aliran dibawah ini:

**Suatu negara ibarat tubuh makhluk hidup**

Darah berfungsi sebagai alat transportasi penghantar gizi dan oksigen dalam tubuh manusia.
Uang melancarkan aktivitas ekonomi masyarakat suatu negara (transaksi tak lagi barter, repot).

Darah (pada manusia) memiliki klasifikasi golongan (A, O, B, Ab) di tubuh jenis apa ia dapat berfungsi.
Mulanya, uang memiliki zona eksklusif dimana ia dapat beroperasi (Rp on INA, JPY on JPN)

Seiring waktu, manusia belajar soal efisiensi, maka sekarang negara-negara yang hampir serupa dapat memakai satu currency (EUR on Euro Zone).

Fungsi uang pun berjalan semakin optimal, quote konversi currency yg dulunya: USD/EUR 
perlahan berubah menjadi EUR/USD.

Indikator perekonomian (GDP, BoP, etc) ibarat indikator kebugaran tubuh.
GDP yg terus bertumbuh, mengindikasikan sebuah tubuh yang sehat.

Sampai di sini dulu,

Temet Nosce.





PS:
credit to: Maha Suhu Funda-Trader

Minggu, 12 Februari 2012

Membangkitkan Prof Leontief dari Alam Kubur


Oleh A.P. Edi Atmaja

ABAD Industri telah membuat Bumi kian renta. Pembangunan ekonomi dan industri dijadikan dalih buat perusakan lingkungan hidup. Pohon-pohon ditebangi. Hutan-hutan digunduli. Sumber daya alam dikeruk dengan demikian rakusnya tanpa menyisakan ruang bagi berkicaunya burung-burung.

Pergolakan rakyat di beberapa tempat di Nusantara, sebagaimana yang telah dan tengah terjadi di Papua, Sumatra, dan Nusa Tenggara, adalah lantaran kerakusan kapitalisme dan penganut-penganutnya. Kelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat lokal diletakkan di nomor sekian setelah laba. Kearifan lokal yang menghamba pada alam ditelikung. Cukong-cukong kapitalis bermain dengan bengis tanpa menyediakan ruang bagi kemanusiaan.

Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yang diperkenalkan oleh World Commission on Environment and Development (WCED) sejak 1987, rupanya mentah di tataran pelaksanaan. Protokol Kyoto 1998 beserta trisulanya, emissions trading, clean development mechanism (CDM), dan joint implementation (JI), tak dicamkan secara serius, bahkan oleh negara pencetusnya, Amerika Serikat. Semua itu semakin meneguhkan bahwa ekonomi adalah faktor penentu yang mampu mengatasi faktor-faktor yang lain, seperti politik, hukum, dan, bahkan, moral.

Padahal, ada keterkaitan serius antara kegiatan ekonomi dan kerusakan lingkungan.

Wassily Leontief, penerima hadiah Nobel di bidang Ekonomi tahun 1973, menjelaskan tesis itu dalam sebuah model, yang dinamakan Tabel Analisis Input-Output. Model itu bisa digunakan untuk menganalisis dampak kegiatan ekonomi terhadap kerusakan lingkungan dan, sebaliknya, dampak kerusakan lingkungan terhadap kegiatan ekonomi.

Dampak penebangan pohon untuk pendirian pabrik, misalnya, dapat diprediksikan. Hilangnya pohon-pohon tentu bakal memperkecil daerah resapan air, sehingga dipastikan akan timbul banjir. Banjir bisa menghambat proses produksi: karyawan tidak bisa sampai ke lokasi kerja karena banjir. Belum lagi, ketika banjir bandang terjadi, tentu bisa merusak pabrik, yang lalu bakal mematikan proses produksi.

Dalam contoh Prof Leontief, dipaparkan pengaruh pengikisan tanah terhadap efektivitas sebuah dam dalam menghasilkan aliran listrik. Untuk itu, diperlukan beragam data yang lengkap soal kemiringan lahan, tingkat pengikisan tanah, dan sebagainya. Setelah data diperoleh, pendangkalan dam atau debit air bisa dihitung. Data itu juga bisa dipakai untuk mengukur voltase listrik sesuai dengan kekuatan turbin yang digerakkan listrik. Kemudian, akhirnya diperoleh dampak pengikisan tanah terhadap listrik yang dihasilkan. Pasokan aliran listrik jelas akan memengaruhi kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

Semua pelaku usaha, apalagi yang berskala besar, semestinya memerhatikan model ekonomi ini. Kegiatan yang mereka lakukan akan berimbas pada keberlangsungan usaha mereka di masa datang. Sementara itu, buat Negara Berkembang semacam Indonesia, model ini tepat guna mengerem pembangunan yang jor-joran tanpa dipikir dan dianalisis masak-masak.

Dalam sumbangsarannya, Prof Leontief bilang, informasi (data) yang rinci menjadi suatu keharusan untuk menerapkan Tabel Analisis Input-Output. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama sangat mesra yang melibatkan seluruh disiplin ilmu, tak cuma ilmu ekonomi.

Prof Wassily Leontief lahir di München, Bayern, Jerman, pada 5 Agustus 1905. Dalam usia 19 tahun ia sudah menerima gelar Ekonom Terpelajar, yang kini setara dengan Master of Arts (MA). Pada 5 Februari 1999, ia meninggal di New York City, Amerika Serikat.

Semoga semua pelaku ekonomi negara ini, dan juga negara lain di dunia, segera sadar. Dan tak perlu menunggu Prof Leontief bangkit dari alam kubur untuk mengomeli kalian. [09022012, 13.15]

*) Teori ekonomi yang dipaparkan di sini mengacu sepenuhnya dari Simon Saragih, “Prof Dr Leontief: Dampak Polusi terhadap Ekonomi Bisa Diperhitungkan sejak Dini”, dalam Esai-esai Nobel Ekonomi, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008).

Sabtu, 11 Juni 2011

"Senjata Ampuh Indonesia Yang Namanya UMKM" ( Usaha Mikro, Kecil dan Menengah )


Oleh : Artanto Budi Nugroho

Ada tiga alasan utama kenapa ekonomi rakyat merupakan suatu isu penting di dalam perekonomian Indonesia :
1. Kemiskinan hingga saat ini masih merupakan salah satu masalah serius
2. Masalah pengangguran yang juga sulit dituntaskan
3. Suberdaya Manusia Indonesia yang melimpah dan kurangnya ketersediaan lapangan kerja
Pendefinisian ekonomi rakyat hingga saat ini belum tuntas. Apa yang dimaksud dengan ekonomi rakyat? Siapa yang termasuk rakyat dan siapa yang tidak? Apakah seorang konglomerat berwarga negara dan tinggal di Indonesia bukan termasuk rakyat, sehingga perusahaannya tidak dianggap ekonomi rakyat?. Namun ada semacam kesepakatan umum bahwa usaha-usaha yang masuk di dalam kategori ekonomi rakyat adalah usaha mikro (UMI), usaha kecil (UK), atau gabungan usaha mikro dan kecil (UMK). Perusahaan tersebut pada umumnya tidak terdaftar, tidak memiliki izin usaha. Kebanyakan dari UMK digolongkan sebagai sektor informal.
saya sebagai anak muda sangat prihatin dengan kondisi indonesia saat ini, terutama bidang pendidikan yang saat ini kalo saya liat hanya berbasis ilmu ukur saja ilmu nyata (praktek lapangan) sangat jarang sekali di ajarkan. padahal ilmu nyata sangat penting juga untuk di ajarkan ke pada generasi2 penerus bangsa, kebanyakan bisanya menganalisi saja tapi gax bisa mempraktekannya di dunia nyata terutama bidang ekonomi kerakyatan khusunya Kewirausahaan berbasis UMKM.
menanggulangi kemiskinan dan pengangguran cara terbaik adalah dengan menumbuhkan jiwa UMKM kepada masyarakat, bayangkan dengan banyaknya jumlah penduduk di indonesia maka peluang itu sangat terbuka lebar, klo pemerintah serius menerapkan ini maka roda perekonomian di tingkat masyarakat bawah (entry level) akan berputar dan kemiskinan bisa di kurangi dan Masyarakat akan bisa membiayai kebutuhannya sehari2 tanpa mengandalkan orang lain dan menciptakan peluang ekonomi sendiri.
penerapan umkm sebenarnya mudah klo memang digarap secara serius oleh pemerintah. disini fungsi pemerintah adalah sebagai agen pemberdayaan masyarakat dan regulator. Agen pemberdayaan masyarakat ini memiliki fungsi untuk merubah main set (pola pikir) masyarakat miskin jadi masyarakat yang produktif. disini funsi pemerintah adalah mengajarkan bagai mana cara berwirausaha yang baik dan berkelanjutan, bagaimana memanagenya supaya tetap berputar melawan arus waktu dan persaingan, bagaimana mencari sumber dana untuk lebih mengembangkannya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan itu klo serius di tangani maka perekonomian indonesia suatu saat nanti akan seperti CHIna, sedangkan dari sisi regulator adalah sebagai pengampu kebijakan yang diharapkan mampu mengatur dan memberi dukungan terhadap alur keberlangsungan UMKM di indonesia.
misalnya : ada masyarakat miskin atau pengangguran dia mau berusaha dan serius keluar dari jurang kemiskinan tetapi masyarakat tersebut tidak tau akses bagaimana dapat mengeluarkannya dari kemiskinan ini mau pinjem dana di bank swasta sangat sulit karena tdk memiliki jaminan utang yang diminta bank, pinjam sana sisi gx noleh karena orang miski takut gax bisa bayar, maka disinilah peran pemerintah sangat penting sebagai regulator dan fasilitator, regulator adalah sebagai penentu kebijakan ekonomi mikro, misalnya : pemerintah mengeluararkan kebijakan tentang kredit lunak untuk UNKM, adanya Program Pengentasan Kemiskinan, adanya Kredit Usaha Rakyat, dsb. sedangkan fasilitator adalah dimana pemerintah sebagai agen yang memfasilitasi masyarakat untuk mau keluar dari yang namanya miskin. misalnya : pemerintah secara berkelanjutan mengadakan pelatihan-pelatihan wira usaha, pelatihan keterampilan, pelatihan bagaimana cara menjual produk yang baik, dsb. semua itu sebenarnya sudah ada tetapi tingkat keseriusan untuk mengelolannya untuk saat ini yang sangat rendah karena fokus utama pemerintah bukanlah pengentasan kemiskinan, terbukti dari urutan klasifikasi program MDG,S (Milllenium Development Goal's) pemerintah yang menempatkan pemberantasan kemiskinan ada di urutan no 4 di bawah reformasi birokrasi, pendidikan nasional dan kesehatan masyarakat.
Salah satu kunci keberhasilan usaha mikro, kecil dan menengah adalah adalah tersedianya pasar yang jelas bagi produk UMKM. Sementara itu kelemahan mendasar yang dihadapi UMKM dalam bidang pemasaran adalah orientasi pasar rendah, lemah dalam persaingan yang kompleks dan tajam serta tidak memadainya infrastruktur pemasaran. Menghadapi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif, penguasaan pasar merupakan prasyarat untuk meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, peran pemerintah diperlukan dalam mendorong keberhasilan UMKM untuk memperluas akses pasar, membantu memfasilitasi pendanaan, dan memperluas market sharenya dengan dibuktikan oleh regulasi dan kebijakan2 yang pro UMKM.
Kegagalan pola pembangunan ekonomi yang bertumpu pada konglomerasi usaha besar telah mendorong para perencana ekonomi untuk mengalihkan upaya pembangunan dengan bertumpu pada pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan terbukti menjadi katup pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis
Untuk itu diperlukan upaya untuk meningkatkan akses UMKM pada informasi pasar, lokasi usaha dan jejaring usaha agar produktivitas dan daya saingnya meningkat, permodalan serta akses pasar . Maka dari itu menuntut adanya peran dan partisipasi bebagai pihak terutama pemerintah dan kalangan perguruan tinggi untuk membantu dan memfasilitasi akses informasi bagi para UMKM yang sebagian besar berada di daerah pedesaan atau kota-kota kecil.
bayangkan jika satu KK memiliki satu UMKM dan usaha itu dapat berkembang baik maka saya yakin pengentasan kemiskinan bukanlah hal yang mustahil dilakukan walopun tidak sepenunya hilang paling tidak bisa mengurangi banyak yang namanya kemiskinan
Merupakan suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) adalah sektor ekonomi nasional yang paling strategis dan menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga menjadi tulang punggung perekonomian nasional. UMKM juga merupakan kelompok pelaku ekonomi terbesar dalam perekonomian di Indonesia dan telah terbukti menjadi kunci pengaman perekonomian nasional dalam masa krisis ekonomi, serta menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi pasca krisis
Itu artinya, usaha mikro yang memiliki omset penjualan kurang dari satu milyar, dan usaha kecil memiliki omset penjualan pada kisaran satu milyar, serta usaha menengah dengan omset penjualan di atas satu milyar pertahun, memiliki peran yang sangat besar dalam proses pembangunan bangsa ini.
Peran usaha mikro, kecil dan menengah dalam perekonomian negara sangat penting dan strategis, karena telah terbukti menjadi penyelamat perekonomian pasca krisis dan menjadi penyedia lapangan kerja terbesar. Tersedianya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan diharapkan akan membantu mewujudkan masyarakat Indonesia yang aman dan damai; adil dan demokratis; serta sejahtera. Sehingga sektor UMKM perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional masa mendatang.
UMKM yang tangguh dan tersebar di seluruh penjuru tanah air merupakan modal besar dalam memelihara dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dukungan terhadap sektor ini sekaligus dapat mengurangi dan menetralisir dampak negatif yang telah ditularkan oleh negara maju yang berbasis kapitalisme, yaitu semakin melebarnya kesenjangan ekonomi antar kelompok masyarakat (yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin). Kemudahan dan ketersediaan informasi pasar bagi UMKM akan sangat membantu mengembangkan usahanya. Jika informasi pasar sudah dapat diakses dengan mudah dan cepat, paling tidak akan menumbuhkan motivasi bagi para pelaku UMKM untuk menjalankan usahanya dengan lebih serius, sehingga UMKM berkembang lebih maju. Kemajuan UMKM berarti kemajuan bagi perekonomian negara, sehingga menumbuhkan kemandirian bangsa agar dapat lepas dari jeratan neo kolonialisme dan kapitalisme global yang di dengung-dengungkan negara barat.

Kamis, 09 Juni 2011

New-Kerakyatan


Oleh: Meikha Azzani

Menarik membaca tulisan dengan judul Rabun Jauh Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Mimpi Ala Bang Toyip (Priyok Pamungkas). Yang dapat saya simpulkan dari keduanya adalah adanya angin baru yang bertiup untuk kemandirian perekonomian Indonesia. Berdasarkan Pembukaan UUD 1945, tujuan Negara Indonesia adalah menuju masyarakat adil dan makmur. Alat untuk mencapai masyarakat yang adil-makmur terdapat dalam batang tubuh UUD 1945 Pasal 30, bahwa Indonesia memiliki tiga kuda dalam perekonomian, yaitu perusahaan negara, swasta, dan koperasi.

Digambarkan, perusahaan milik negara akan focus melayani kepenting public. Dalam perkembangannya kini, perusahaan milik negara kemudian berkembang mencari untung. Sektor swasta sendiri terus bergeliat mencari peluang untuk meningkatkan profit. Dari banyak literatur yang saya baca tentang perekonomian Indonesia, sector swasta ini sering kali digambarkan sebagai buaya yang serakah merauk keuntungan dari masyarakat yang serba kekurangan. Efek kapitalisme, dengar-dengar yang menjadi bensin sector swasta. Dan koperasilah, yang dalam literature buku Ekonomi SMP-SMA digambarkan sebagai sector kerakyatan yang nasibnya kini mati enggan hidup sungkan. Walaupun begitu, banyak juga koperasi yang memiliki potensi financial yang luar biasa. Bahkan lembaga-lembaga microfinance yang targetnya berasal dari rakyat kecilpun ternyata mampu tumbuh menjadi lembaga keuangan yang maju.

Dari sinilah benang emas tulisan, Ekonomi Mimpi-Rabun Jauh Ekonomi Kerakyatan-Ekonomi Mimpi Ala Bang Toyip bersatu padu bak pengantin baru. Bahwa Ekonomi Kerakyatan haruslah bercita-cita menjadi besar. Percayakah Anda jika saya bercerita mengenai kesuksesan Honda, Hitachi, Google, maupun KFC? Pada awalnya, perusahaan-perusahaan tersebut merupakan usaha rakyat. Home industries. Karyawannya tak seberapa. Tapi beriring waktu dan banyak factor pendukung lainnya, usaha-usaha gurem tersebut tumbuh menjadi perusahaan yang besar dan kuat. Percaya Indonesia bisa?

Negara besar pasti memiliki perusahaan-perusahaan dalam negeri yang besar. Logikanya menjadi mudah, jika Indonesia ingin menjadi negara besar maka diperlukan banyak perusahaan besar di Indonesia yang kompetitif dengan perusahaan asing. Inilah ideologiny: New-Kerakyatan. Dimana usaha-usaha rakyat mampu menjadi usaha yang besar yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan terakhir membantu negara mencapai rakyat adil-makmur. Tapi tunggu dulu, sebelum kita mengobarkan semangat tersebut lebih jauh, kita ingat-ingat dulu adakah di Indonesia usaha gurem yang kemudian menjadi besar? Ada! Contohnya yang paling mudah adalah Sampoerna. Dan selanjutnya kemudian, kita memang mendorong adanya perusahaan franchise Angkringan yang buka cabang di Singapura.

Dan karena setiap mazhab memiliki asumsi untuk mengembangkan suatu teori maka dalam Mazhab New-Kerakyatan ada asum-asumsi yang diperlukan, diantaranya adalah:

a. Pasar Bebas
Kita semua memahami apa saja asumsi yang adalam pasar bebas. Dan itulah yang harus dijamin keberlangsungannya

b. Institusi
Pasar bebas dapat dipastikan keberlangsungannya selama infrastrukturnya mendukung, dan sebaliknya. Kedua hal ini memiliki hubungan mutualisme yang saling menjaga keberlangsungannya.

c. Fanatisme produk
Dulu ketika SD, saya kira ada slogan “Aku Cinta Produk Dalam Negeri”. Pada masa kini fanatisme tersebut ternyata sangat diperlukan, seperti orang-orang Korea yang ramai-ramai menggunakan Hyundai. Saya kira, bagi bangsa yang mau menjadi bangsa yang besar, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menciptakan indentitas yang dicintai masyarakat umum. Pada poin ini, kesannya memang bertentangan dengan ‘pasar bebas’ karena preferensi dikendalikan, tapi saya kira itu fair selama Indonesia mampu membungkusnya dengan tepat.

Fanatisme produk di Indonesia sejauh ini baru dilahirkan oleh pariwisata dengan slogan “Visit Indonesia”. Kemudian, banyak pemerintah daerah, pihak swasta, backpackers, wisatawan dalam negeri yang juga menyerukan slogan tersebut setelah mengunjungi tempat-tempat luar biasa di Indonesia. Pada akhirnya, hal itulah yang akan menghidupkan pariwisata dan daerah-daerah terpencil nan eksotis di Indonesia.

Saya kemudian membayangkan, disinilah produk-produk asli Indonesia memerlukan sentuhannya. Terkait Fanatisme Produk, rasanya seru ya kalau dibahas di jurnal tersendiri. Tungulah! :D

d. Uang dan Pemerintah
Intinya, negara punya uang dan haruslah cerdas menggunakan uang tersebut (bangun gd.DPR aja bisa). Di Jepang, ada lembaga penjaminan kredit, namanya Small and Medium Enterprise Agency (SMEA) yang didirikan pada tahun 1948. Di Indonesia namanya Askrindo. Fungsi SMEA sangat terasa pada saat perekonomian Jepang mengalami resesi atau stagnasi pada tahun 1970-an, 1980-an. Setiap tahunnya, pemerintah Jepang menanggung kerugian antara 0.2-0.6 triliun yen. Kerugian itu untuk membayarkan UKM yang tidak mampu membayar hutangnya. Semangat yang ditangkap di sini adalah semangat dukungan dari pemerintah untuk membesarkan rakyatnya. Indonesia dengan KUR, sudah mampukah menciptakan perusahaan sekelas Honda?

Sejauh ini, yang ada dalam pikiran saya tentang mazhab New-Kerakyatan adalah memberikan kebebasan sebesar-besarnya bagi rakyat untuk berusaha kaya dengan cara-cara yang halal dan toyib. Lebih jauh, bentuknya mungkin bisa dipikirkan bersama lebih dalam lagi untuk ngomporin Presiden SBY agar mempercepat perekonomian Indonesia, salah satunya dengan mendorong sector swasta rakyat yang kecil mungil potensial :D. -me

sumber gambar

Senin, 06 Juni 2011

Menguak Mitos Prinsip “Mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”

*Benjamin Ridwan Gunawan

Sudah pada sering mendengarkan kalimat pada judul di atas? Orang-orang kita banyak yang suka cari gampangnya saja, pakai usaha sesedikit mungkin tapi inginnya dapat sebanyak mungkin. Contohnya apa? Melakukan Korupsi, suap, dan jalan pintas lainnya untuk mendapatkan pendapatan secara instant. Well, itu adalah hal yang tidak baik. Memang prinsip ekonominya jalan, namun sama sekali tidak memberikan manfaat buat orang lain, boro-boro manfaat, yang ada malah merugikan orang lain.

Kalau di versi kampungnya contoh kegiatannya adalah dukun, atau ngepet. Ingin kerjanya sedikit tapi hasilnya banyak. Hahaha dah ga jamannya begituan, yang ada babi jaman sekarang pada disembelihin buat dijadiin tas atau jaket (hati-hati bagi temen-temen yang beli barang dari kulit, bisa jadi itu adalah kulit babi ngepet :P)

Ada dua hal dalam prinsip ini, yang pertama adalah biaya, dan yang kedua adalah pendapatan. Biaya, adalah apa yang kita keluarkan untuk memperoleh pendapatan di masa depan, dalam prinsip ini, biaya yang dikeluarkan harus seminimal mungkin.

Pendapatan, adalah manfaat yang diperoleh atas biaya yang kita keluarkan di masa lalu, dalam prinsip ini, pendapatan yang harus kita peroleh adalah semaksimal mungkin.

Bisa dibilang ini adalah prinsip hasil turunan dari konsep kapitalisme, memberdayakan apa yang kita miliki untuk memproleh sesuatu yang belum kita miliki sebelumnya.

Pokok masalah: Namun ada sesuatu yang sebenarnya kurang dimengerti oleh orang-orang mengenai prinsip ini. Ada hal yang harus dimengerti lebih dari sekedar mengeluarkan biaya serendah-rendahnya. Melakukan berbagai cara hingga menghalalkan cara apapun walaupun hal itu merugikan orang lain demi memperoleh pendapatan semaksimal mungkin, yang bahkan pendapatan tersebut pada akhirnya hanya dikuasai sendiri tanpa dibagi dengan yang lain.

Pembahasan: Dalam hal ini biaya tidak selalu dinilai dengan uang, bisa juga dengan tindakan atau usaha. Sedangkan pendapatan juga bisa dalam bentuk selain uang seperti, pangkat, kehormatan, penghargaan atau bisa juga kekasih.

Untuk mampu memperoleh pendapatan setinggi-tingginya dengan biaya yang harus dibayarkan dengan harga yang minimal, tidak semua orang dapat melakukannya. Membutuhkan kemampuan yang tinggi agar bisa bekerja dengan efisien dan efektif untuk memperoleh pendapatan tinggi.

Contohnya begini, untuk memperoleh uang satu miliyar bisa dilakukan dengan banyak cara (kecuali korupsi apalagi ngepet ya), misalnya melakukan wirausaha, bekerja pada perusahaan multinasional, bermain saham atau bahkan menjadi pemain bola tingkat dunia. Seberapa efisienkah anda dalam melakukan usaha atau mengeluarkan biaya sehemat mungkin, hemat waktu dan juga hemat uang (efisien dalam hal ini memiliki arti yang sama dengan hemat).

Sesuaikan juga dengan keahlian yang benar-benar anda kuasai, jangan terpengaruh dengan gosip yang sedang nge-trend di masyarakat. Jangan dikira, berwirausaha adalah jalan tercepat memperoleh uang satu miliar tadi. Bila anda tidak ahli dalam wirausaha maka anda melakukan kegiatan yang tidak efektif.

Atau anda mencoba menjadi pemain bola tingkat dunia, satu kontraknya, anda akan dibayar satu miliar. Bila anda tidak pernah bermain bola, bahkan parahnya lagi anda tidak tahu bola sepak itu berwarna apa ya sebaiknya jangan melakukan ini untuk jalan pilihan anda memperoleh uang satu miliar anda.

Lakukanlah pekerjaan yang merupakan keahlian anda, atau lakukan pekerjaan yang anda sukai, maka jalan untuk memperoleh pendapatan yang anda harapkan dapat menjadi lebih efisien dan efektif.

Saran, dan kesimpulan: walaupun sekarang lagi nge-trend yang namanya entrepreneurship, jangan memaksakan diri semuanya harus jadi wirausaha. Entrepreneurship bukanlah melulu tentang wirausaha, membangun perusahaan sendiri, yang dimaksud Entrepreneurship di sini adalah jiwa yang kuat, jiwa mandiri, dan jiwa kepemimpinan. Intinya, mau jadi apapun dirimu, milikilah jiwa entrepreneurship, bahkan menjadi seorang penulis ekonom gila sekalipun. Dobraklah batasan dalam pekerjaan yang kamu lakukan, lakukan inovasi, kuatkan dirimu, maksimalkan keahlianmu dan peroleh pendapatan maksimal dengan efisien dan efektif dari pekerjaan yang kamu kerjakan. Maka mengeluarkan biaya serendah-rendahnya dapat berarti melakukan pekerjaan yang kamu kerjakan dengan efisien dan efektif, karena kamu benar-benar menyukai pekerjaan itu, menguasainya dan akhirnya kamu dapat melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik.

Memperoleh pendapatan setingi-tingginya, hal itu menjadi tak mustahil lagi, dengan bekerja sepenuh hati, pendapatan yang akan kamu perolehpun juga akan maksimal.

Selamat menikmati informasi dari tulisan yang ala kadarnya ini :D


*Sebagai lelaki yang bercita-cita menjadi CEO terbaik sedunia, saat ini si penulis sedang menyukai cerita-cerita tentang kepemimpinan dan dedikasi pada hidup, sehingga tiba-tiba muncul ide tentang tulisan ini.