Tampilkan postingan dengan label Sejarah Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2013

"Pause" Paus



*pencet* tombol "pause" > *bunyi -klik-* >  "pause"


*Tarik napas...*
*rasain alirannya,-*
*buang napas...*


Hehehhe... saya belum tau (lebih tepatnya, malas mencari tahu) padanan kata yang tepat untuk kosa kata dari bahasa Inggris, yaitu: "pause", dalam bahasa Indonesia.

*Tarik napas lagi...*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya...*


Lalu berhubung kata "pause" mirip dengan model pengucapan nama hewan "paus", 
Saya malah merasa 2 kata ini memang ditakdirkan untuk bersanding & saling menemani dalam kolom judul tulisan ini.

*Tarik napas lagi...*
*rasain alirannya,-*
*buang lagi napasnya...*

-- selanjutnya lanjut sendiri ya, gak perlu saya komando, yg penting rasain dengan sadar aliran napasnya... --

Kenapa Paus ?

Tentu bukan karena Saya suka Paus, tapi lebih tepatnya karena suatu momen yg mirip jawaban,
 atas pencarian Saya akan ide untuk ditulis dalam blog ini dalam beberapa hari terakhir, berkaitan erat dengan pemicu awal mula rasa suka saya terhadap paus ini

^^^ sumpah, kalimat di atas itu, bener2 rumit, gw sendiri heran kok bisa muncul berentet gitu, mungkin itu efek suasana jam 3 pagi...

>>> Kuncinya: "London Whale", selanjutnya, biar komik yg berbicara:






Paus ini berasal dari salah satu awak Big Boys terbongsor yang bahkan CEO sekaligus Chairman-nya sering dianggap sebagai "perwakilan" dan "juru bicara" tak resmi dari kaum sejenisnya.

Naaah, yang seru (Saya tadi nyebutnya "momen")kemarin pagi muncul berita kalau Bank peternak paus ini (ingat, kerugian yg diceritakan di komik itu disebabkan dari 1 trader) berencana untuk menerapkan "pause" sejenak dari suatu unit operasinya...

Berikut beritanya:

J.P. Morgan Aims to Trim Ties to Foreign Banks

"It's important for us to pause and assess our business, particularly in select markets, to ensure we are well-positioned to meet our responsibilities for the long term," a spokesman said.
 Sumber WSJ

Menarik sekali menurut Saya, bagaimana organisasi yang bergerak di suatu bidang yang terbilang amat riuh, sibuk dan juga (dibikin) vital bagi perekonomian dunia masih berniat atau menyempatkan diri untuk "pause".

Soal kenapa riuh?
karena Peternak paus ini bukan bank biasa, mereka punya divisi brokerage, M&A, Asset Management, dan Trading juga. Liat aja keadaan di trading floor NYSE, gk kurang riuh tuh...

Soal sibuk, ya orang si kalo udah kerja nyari duit pasti sibu tong...

Soal kenapa sektor perbankan vital, Saya juga belum bisa mengolah jawabannya, tapi ngeliat gimana hebohnya BLBI
(kehebohan di tanah air sendiri gk cukup cuma 1sumber, nih ane tambahain:
definisi asli BLBI
kronologi BLBI
berita2 BLBI ;
Pak Kwik bahas BLBI ;
bonus bacaan soal TARP di USA)
nampaknya sektor perbankan ini dipandang berisiko tinggi dan amat dilindungi
(bank gak jelas aja ditombokin Pemerintah pake duit pajak rakyat, apalagi Bank gede...;)


Nah,kenapa "pause" ?
Tebakan Saya si, bisa jadi sang Penangkar Paus ini merasa malu karena masuk daftar tombokan Pemerintah negaranya, sehingga mutusin untuk "pause" sejenak dan melihat ke dalam diri, yang tujuannya menurut jubirnya:
meraih penempatan posisi terbaik dalam usaha mencapai tanggung-jawab2 jangka panjang organisasinya.

Bicara “penempatan posisi” berarti berada di posisi / melakukan hal, yang tepat dalam suatu keadaan, demi meraih / menjadi lebih dekat dengan tujuan (semisal: profit).

Gimana taunya kita sedang di “posisi” mana / apa ?
Pastinya kita kudu tau big picture dari keadaan terkini.

Gimana caranya tau latest real big picture ?
Kita kudu selalu in-tune dengan market dan semua aspek kehidupan di dunia.

Kalo udah gini, kita jadi bisa ngeliat apa yg dibilang orang “kesempatan emas” atau “opportunity” serta “jebakan betmen” aka “thread”.

Nah, tapi kan itu kalau  “kata orang", gimana caranya kita bisa tau mana yg “bener-bener” atau “asli” berbentuk kesempatan atau bahaya untuk diri kita ?


Ada yg bilang gak ada hal yang terjadi secara kebetulan, jadi urutan segala kejadian itu sudah terjadi secara apa adanya dan sebenarnya banyak banget artinya (kalau digali).

Pak Dosen Audit II pernah berkata:
Gak ada gunanya itu semua ilmu-ilmu dari luar, mau dari buku mau dari Ortu, mau dari Saya. Kalau kamu gak tau apa itu S&W kamu sendiri.

Ternyata gak cuma soal penginderaan akan O&T yang kurang maksimal,
melainkan input-input bernutrisi tinggi pun bisa berisiko jadi mubazir.
Gak enak lagi kalo ngalamin yang namanya, “information overload”, dimana kita gak tau input mana yang sebenernya berguna untuk diri kita.

Nah, yang namanya belajar itu kan pake beberapa aksi, seperti:
cari, baca, dengar saring, dan tanya.

Kalau yang digali itu S&W, yang terutama ya...
kamu harus sadar sepenuhnya,
dan aksi yg dipake itu adalah:
sendiri, nutup mata, relax, fokus ke dalam (misal: napas, denyut2) dan sadar (jangan jebol tidur).

Jadi demikian dulu,
Saya udah klenger dan mau pause dulu.

Temet Nosce,-



if it isn't wide spread into the folk
then it is not worth called as hoax
if not much cash has come from making firework
then let's make love, even if it only were transmitted via plurk
badger hibernate, life's escalate, human does it trough “pause”
my Mom loves noodle, so do I, but I love doodle a bit more
so go have your google, cause lots of info are false
or just sit back and relax, do feel the air & your pulse

Minggu, 12 Mei 2013

Jungkat - jungkit Ekonomi 2


Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi...

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.


Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:
kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.



USD adalah "bos" dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.



Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:






















Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on...

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar "investment grade"  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.



 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.



Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah "made in China" sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in..., made in... lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a'la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).


Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi "duta" bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa "merumahkan" pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)


Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.


Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).

- Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga -

Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak... bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti...
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

- Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga -

      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi... (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.
Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya...


Q: Udah, itu aja ?

A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 

Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya "An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations",  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,
sekian.


Selasa, 02 April 2013

Jepang & Cina: Kisah 2 Pendekar Asia Timur




Pasca PD II, Jepang mengalami fase ''economic miracle'' melalui kucuran dana dari Marshall Plan

Dari 1960-1980-an taraf hidup rata2 masyarakat Jepang membaik seiring munculnya golongan salaryman
Pada 1990, seiring terjadinya bust pada harga saham dan real estate, mimpi Jepang menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia bisa dibilang kandas...
Pasca bust, Jepang pun mengalami delfasi berkepanjangan


Sekarang kita beralih ke Cina,

Reformasi ekonomi yang dipimpin Deng Xiaoping memberi efek nyata:
Pembatasan partisipasi asing dalam pasar saham, nampak tidak berpengaruh banyak
Efek pada rata-rata harga, menunjukkan transformasi sukses menjadi negara maju


Sekarang sedikit kita tengok “sasarannya” :p
Lalu index saham yg jadi sarapan wajib para pelaku pasar:
TKP biang krisis global 2008 kemarin:
Kaget juga ngeliat gimana chart bisa bicara jauh lebih banyak dibanding kata-kata.

Jadi... kalo Indonesia nanti maju jadi pendekar perwakilan Asia selanjutnya,
bisa belajar "do's & don't" dari 2 pendekar di atas :)


Sumber gambar: google
Sumber chart   : http://www.tradingeconomics.com/





Senin, 10 Januari 2011

Ilmu Ekonomi: Ilmu Kedokteran dengan Jutaan Pasien dalam Satu Kali Praktik

Ini artikel lama, pernah dimuat di Himiespa Post, bulletin organisasi himpuna mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM. Bercerita tentang hubungan Ilmu Ekonomi dan Ilmu Kedokteran. Cocok buat anak Ilmu Ekonomi yang baru kuliah.

Oleh: Aulia R.

Jujur saja deh, ketika kalian wahai para mahasiswa ilmu ekonomi ditanya oleh orang lain dengan pertanyaan, “Jurusan apa kuliahnya nak?” dengan getir dan berharap orang tersebut dapat satu kali mengerti, kalian menjawab, “Ilmu Ekonomi Pak…”. Tapi, mungkin hampir 90% dari kalian akan ditanya ulang dengan pertanyaan seperti ini “Oh…Ekonomi, Jurusan?” (seolah berkesimpulan bahwa kita salah menangkap pertanyaannya sebelumnya dan mengulang pertanyaan dengan mempertegas kata “jurusan”. Agh! memangnya kita bodoh!). Akhirnya ada di antara kalian dengan sabar mengulang kata “ilmu ekonomi” plus penjelasan singkat tentang apa itu ilmu ekonomi. Ada juga di antara kalian dengan ketus mengulang kata “ilmu ekonomi” tanpa penjelasan apapun lalu pergi, atau mungkin kalian sedikit berbohong menjawab jurusan akuntasi atau manajemen agar orang itu berhenti bertanya-tanya lagi dan dalam hati bergumam “puas…puas!”. Sebuah pengalaman yang hampir pernah dialami oleh semua mahasiswa ekonomi jurusan ilmu ekonomi. Ngaku!?

Banyak di antara kalian mahasiswa ilmu ekonomi yang membeci jurusan ini bukan? Entah karena keabstrakannya, grafik-grafiknya, matematikanya, hingga “cacing-cacing” ekonometrikanya! Yup, itu keniscayaan, dan kalian sudah berpikir bidang pekerjaan lain yang nggak nyambung sama ilmu ekonomi kelak kalian lulus nanti. Rasa sesal itu pun menghinggap dan kalian tak kuasa menghilangkannya…4 tahun kuliah dalam kesia-siaan.

Tapi tahukah kalian? Di sudut ruang sana, di balik meja belajarnya, ada orang-orang yang sangat jatuh cinta pada ilmu ekonomi. Sekolompok orang yang mabuk asmara dengan the prince of science ini. Mereka bahkan gila dengan model-model ekonomi yang memiliki sopistikasi luar biasa tinggi. Di antara mereka bahkan ada yang sedikit terlihat gila dan aneh. Sama seperti Adam Smith yang tanpa sadar mencampurkan mentega ke dalam teh-nya atau Gossen yang harus menjadi orang sinting dalam menjelaskan konsep utilitas. Semua karena mereka “gila” dengan ilmu ekonomi. Mengapa mereka bisa gila atau jatuh cinta?

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi mungkin bisa juga karena di jurusan ilmu ekonomi-lah kita bisa bicara soal kesejahteraan, pertumbuhan, kemiskinan, pengangguran dan pembangunan. Kita banyak belajar sifat manusia yang rasional dan bagaimana mengarahkannya menjadi sebuah modal-modal menuju kesejahteraan. Atau bisa juga karena ilmu ekonomi penuh keasyikan soal debat-debat mazhab yang bagai perang tanpa henti: Klasik, keynesian, kapitalisme, sosialisme dan lain sebagainya. Mengajak para pecandu ilmu ekonomi untuk larut dalam dialektika yang mengasah intelektulitasnya. Ayik penuh intrik dalam suasana yang ilmiah.

Selain itu ada keasyikan lain dari ilmu ekonomi. Tanpa sadar ilmu ekonomi mengubah para ahlinya, ekonom yang punya kuasa dalam kebijakan, menjadi seorang dokter. Ya!. Mengapa? Kerja ekonom laiknya dokter. Bayangkan jika dokter dihadapkan pada seorang pasien yang sakit maka ekonom dihadapkan pada sebuah permasalahan ekonomi. Apa yang dokter lakukan? Secara garis besar: melihat gejala penyakit (indikator), berteori untuk mencari kemungkinan penyebab dan sumber penyakitnya, menyusun tindakan yang paling cocok (alternatif-alternatif kebijakan) dan terakhir mengobati! (eksekusi kebijakan). Hasilnya? Bisa berhasil bisa tidak. Jika dokter bisa melakukan malpraktik maka ekonom pun demikian. Bedanya! Jika dokter gagal berarti itu menyangkut nyawa satu orang maka jika ekonomi gagal itu menyangkut ratusan, ribuan bahkan jutaan nyawa! Hebat bukan!?

Maka para pecinta ilmu ekonomi adalah orang-orang yang bukan hanya memikirkan nyawa satu, sepuluh atau bahkan seratus nyawa, tapi mereka sedang memikirkan 10,55 juta jiwa pengangguran di Indonesia. Mereka yang memikirkan bagaimana cara mengurangi hampir 40 juta orang miskin yang hidup di negeri ini. Mereka adalah dokter bagi jutaan raga yang terlunta-lunta karena ketidaksejahteraannya!

Jelas! Bahwa ilmu ekonomi adalah hanya bagi mahasiswa yang berani mengorbankan dirinya untuk banyak orang. Hanya untuk mahasiswa yang rela belajar hingga larut malam dengan keyakinan bahwa itu ia lakukan demi jutaan orang. Demi mati-hidupnya suadara-saudaranya yang kurang beruntung. Ilmu ekonomi hanya bagi mahasiswa yang berani keluar dari zona nyamannya untuk belajar, membaca dan lalu mendedikasikannya kepada masyarakat.

Dengan demikian, masihkah kalian malu menjadi mahasiswa ilmu ekonomi? Masih malu menjadi dokter dengan jutaan pasien dalam satu kali praktik! Meski ia memberimu banyak pahala….masihkah??

(lupa dibuatnya kapan? yang jelas pada tahun 2007 dan terburu-buru karena udah diminta-minta sama redaktur Himiespa Post, terus buat spontan di warnet untuk langsung dikirim ke ybs. hahahahha
)

NB: Sebagai tambahan, ternyata Sir William Patty (1623-1687), seorang ekonom merkantilis awalnya adalah profesor anatomi di Oxford. Lalu, tokoh utama ekonomi mazhab fisiokrat, Francis Quesnay (1694-1744)juga seorang dokter yang sangat ahli di bidang bedah. Keduanya kemudian terjun di dunia keilmuan ekonomi dan menjadi tokoh-tokoh ekonomi yang dipandang dan terkemuka.

Jumat, 07 Januari 2011

“Keluhan” Karl Marx

Oleh: Aulia Rachman

Hari ini entah mengapa tiba-tiba pengen menulis soal Karl-Marx dan sedikit teorinya. Terutama teori nilai lebih Karl Marx yang Dia cetuskan dan menjadi sebuah postulat atau dalil kaum sosialis/komunis dalam mengambil sikap berseberangan dengan kaum kapitalis. Ngomong-ngomong soal “kapitalis”, saya sendiri tidak sepakat sih kalau kapitalis yang menjadi “musuh” Karl Marx ini.  Saya sebenarnya punya pembahasan sendiri soal “kapitalis” ini. Tapi untuk memudahkan logika umum/populer para pembaca, penulis coba ikuti saja logika populer yang berkembang selama ini. Oke, sosialisme/komunisme vs kapitalisme. Di akhir penulis coba-coba mengkritik dengan logika yang mudah gagasan Karl Marx ini. Mengapa Karl Marx? saya pikir ini adalah salah satu tema yang jarang dibahas oleh anak ekonomi di kampus-kampus Indonesia.

Baik, sebenarnya apa sih gagasan Karl Marx? Sederhananya begini,
Karl Marx merasa para Kapitalis lah yang bertanggung jawab atas kemiskinan para kaum buruh dan masyarakat pada umumnya. Para kapitalislah yang menyebabkan adanya sebuah kesenjangan antara pemilik modal dan yang tidak memiliki modal (buruh). Ujung-ujung tercipta lah sebuah perbedaan kelas antara si kaya dan si miskin.

Dari mana kesenjangan ini muncul? Nah, dari sini lah kita bisa memulai pembahasan soal nilai lebih Karl Marx yang saya sebutkan di awal tadi. Awalnya Karl Marx berpikir bahwa di kehidupan berekonomi kini ada dua elemen penting yang berputar di pasar, mereka adalah 1)uang yang dilambangkannya dengan M dan 2) jenis komoditas tertentu atau nilai guna dari segala sesuatu, dilambangkannya dengan C.

Cerita dapat bermula dari seseorang bernama Pak Anto. Bukan seorang pemodal, pekerja dan rakyat biasa-biasa saja. Suatu saat dia ingin membeli laptop, maka Pak Anto butuh duit, lalu pak Anto kerja jadi tukang kayu, Pak Anto dapat upah/gaji, akhirnya Pak Anto membeli Laptop.

Di sini dapat kita lihat:

1.       Kemampuan/nilai guna Pak Anto sebagai tukang kayu = C

2.       Upah/gaji Pak Anto = M

3.       Laptop = C

Jadi siklus oleh para rakyat jelata (salah satunya Pak Anto) adalah CM C

Lalu di kota yang sama ada yang namanya Pak Aulia, pemodal besar, anak bangsawan, keren, ganteng, cakep, intelek, banyak yang naksir (gak penting banget!).  Pak Aulia ini punya bisnis mebel dan alat rumah tangga dari kayu. Kalau kata Karl Marx, si Aulia yang kapitalis ini punya siklus C – M yang berbeda di pasar. Karena dia adalah pemodal, maka siklusnya dimulai dari M. Si Aulia investasi uang M di bisnis kayu, mencari tenaga kerja yang punya nilai guna (C), eh dapatnya si Pak Anto dan ujung-ujungnya si Pak Aulia dapat uang (M) lagi ditambah profit. Uang lagi ditambah profit ditandai Karl Marx dengan M’

Di sini kita dapat lihat siklusnya Pak Aulia:

1.       Modal alias duit (M)

2.       Dengan duit bayar gaji Pak Anto dan mendapatkan nilai guna Pak Anto (C)

3.       Duit lagi ditambah profit (M’)

Jadi siklusnya adalah MCM’, selisih antara M dan M’ adalah nilai lebih. Ini adalah kata kunci argumen Karl Marx ini. (Para pembaca belum pusing kan dengan munculnya M, M’ dan C? hehehhe)

Nah, kalau digabung ceritanya antara Pak Anto dan Pak Aulia ini kita bisa lihat gambar di bawah



(aduh tambah pusing ya???)

Ingat kalau cerita diawali oleh keinginan Pak Anto untuk membeli laptop bukan? Sayang seribu sayang, menurut Karl Marx, si Aulia gak akan memberikan gaji (M2) pada Pak Anto dengan layak dan cukup untuk beli laptop. Si Aulia yang kapitalis ini hanya akan memberikan gaji pas-pasan buat Pak Anto, hanya untuk sekedar bertahan hidup dan makan. Lalu keinginan Pak Anto untuk membeli Laptop tidak akan pernah terwujud. Untuk makan aja sulit, ini mau beli laptop?! Tidak akan ada kelebihan M Pak Anto dalam hidupnya

Sebaliknya si Aulia yang ganteng satu ini, dari usaha kayu akan mendapat keuntungan yang lebih banyak. Setelah menggunakan M1 untuk membayar gaji ke Pak Anto, maka dia akan mendapat M1’ sejumlah yang lebih banyak dari M1. Pada akhirnya si Aulia berjaya, tambah ganteng, tabah kaya, tambah intelek (beli obat pinter), dan tambah banyak yang naksir. Seandainya dulu beda Pak Aulia dan Pak Anto antara lantai 1 dan lantai 10, sekarang sudah bagaikan langit dan bumi. Si Pak Aulia ini memang hebat!

Karl Marx menuduh si Aulia yang sebenarnya santai-santai dapat keuntungan dari siklus ini, sedangkan Pak Anto yang capek-capek kerja, Cuma dapat ala kadarnya untuk menyambung hidup. Padahal kalau mau jujur, nilai lebih yang diperoleh Pak Aulia itu datangnya dari siapa coba? Dari Pak Anto! Dengan kata lain, Pak Aulia yang kapitalis ini telah “mencuri” nilai lebih (selisih M’ dan M) yang dihasilkan oleh Pak Anto dengan tangan dan keringatnya untuk kepentingan Pak Aulia sendiri! Oh Kapitalis yang kejam!

Sampai di sini paham? (kalau belum coba istirahat sebentar, ke dapur, bikin kopi atau susu atau teh, ditambah gorengan, peregangan badan, kalau udah seger, terus baca lagi tulisan ini).

Logika Karl Marx terlihat memang cukup logis dan masuk di akal. Sehingga pada ujung-ujung Karl Marx menyerukan pada seluruh buruh di dunia untuk bersatu padu melawan para kapitalis sebagai sunatullah dialektika kehidupan. Tapi menurut saya pribadi, ada beberapa hal yang mungkin terlalu disederhanakan.

Pertama, apakah memang Pak Aulia ini hanya santai-santai dan setiap usahanya akan berakhir dengan nilai yang surplus/lebih dari modal awalnya (nilai M’ lebih besar dari M). Sebagai pengusaha tentu saja yang dikerjakan Pak Aulia tidak hanya duduk santai di kursi malas sambil menunggu uang dari langit datang (jadi ingat money game di dunia maya, 5 menit dapat 39 juta, bisnis internet yang gak jelas juntrungnya, hehehhe). Tentu saja Pak Aulia yang intelek dan ganteng ini memikirkan banyak hal. Konsep bisnis, pemasaran, manajemen pegawai dan lain sebagainya. Tidak selamanya, sang kapitalis hanya santai-santai (walau mungkin-mungkin saja pada kasus tertentu ada kapitalis yang santai-santai). Satu lagi, si kapitalis ini bukan tanpa risiko. Bagaimana jika produknya gagal jual? Gak laku di pasar? Di tengah jalan dirampok garong? Padahal dia sudah bayar gaji pegawai/buruh dan biaya bahan mentah lainnya.  Kalau si Pak Aulia santai-santai bisa jadi bisnisnya akan gagal. Yang rugi dia, bukannya pak Anto bukan?

Kedua, apakah memang gaji yang diterima Pak Anto dari Pak Aulia adalah gaji yang pas-pas-an buat Pak Anto? Apakah memang nilai gaji yang dia dapat tidak lebih baik dari nilai guna yang dia berikan? Mungkin simpelnya begini saja, apakah memang dengan gaji yang diberikan Pak Aulia, Pak Anto benar-benar gak bisa nabung (ada surplus) dan pada akhirnya dia bisa beli laptop? Bukannya itu tergantung pola konsumsi Pak Anto? Atau apakah memang Pak Aulia sejahat itu untuk memberikan gaji yang rendaaaaaah sekali, sehingga untuk makan saja sulit. Di sisi lain, kalau gaji/upah rendah banget, bisa saja akan pak Anto cari kerja di tempat lain yang lebih menjanjikan dan sejahtera (mmm kali ini kita sudah mulai ber-cateris paribus, alias berasumsi, yaitu: pasar tenaga kerja bisa bebas berpindah-pindah).

Masalah upah yang pantas untuk buruh ini memang sudah melalui perjalanan perdebatan yang panjang sekali…dengan satu pertanyaan khusus, “berapakah nilai/harga yang pantas untuk sebuah barang?” karena dari sana bisa ditarik ke upah, “kalau nilai/harga yang pantas dari sebuah komoditas adalah sekian, maka nilai upah bagi buruh (sebagai bagian dari biaya) yang pantas adalah sekian”. Banyak pendapat dari ekonom berapa nilai yang pantas dan berapa upah yang pantas.

Di sini Karl Marx nampaknya mengambil pendapat David Ricardo bahwa upah yang pantas adalah upah yang bisa membuat buruh mempertahankan hidupnya (upah subsisten). Sehingga menganggap para kapitalis akan menjalankan upah subsistem dalam usaha mereka kepada buruh. Padahal nilai upah ini bisa saja subjektif (dipeolopori oleh J.B Say). Maka berapa sebenarnya nilai upah yang fair bagi buruh? Kalau kita bisa mengetahui hal itu, maka ini bisa menjadi pukulan telak bagi pendapat Karl Marx dengan logikanya tadi.

Bagi saya argumen Karl Marx ini bukannya sepenuhnya salah. Mungkin saja situasi yang dia lihat di jamannya memang demikian. Terjadi sebuah eksploitasi besar-besar oleh kapitalis terhadap buruh sehingga menimbulkan ketimpangan dan kesengsaraan di masyarakat. Karl Marx gerah dan mengeluh atas semua situasi tersebut. Maka muncullah Das Kapital yang tersohor itu. Sebuah keluhan dari sang Karl Marx yang jenius itu.

Ohya, kalau gitu apakah saya bisa menjawab sebuah pertanyaan penting tadi, berapa sebenarnya nilai upah yang fair bagi buruh? Mmmm… menurut saya ada jawaban yang cukup “pas” dari kaum neo-klasik (mungkin banyak juga yang bilang mereka ini adalah kaum kapitalisme itu sendiri). Gaji/upah yang fair itu adalah Marginal Revenue Product of Labor (MRPL). Apa itu MRPL? Wah..saya pikir-pikir dulu ya untuk membahasnya. Mungkin note saya yang selanjutnya. Nantikan saja..

7 Januari 2011