Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Mei 2013

Jungkat - jungkit Ekonomi 2


Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi...

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.


Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:
kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.



USD adalah "bos" dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.



Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:






















Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on...

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar "investment grade"  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.



 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.



Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah "made in China" sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in..., made in... lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a'la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).


Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi "duta" bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa "merumahkan" pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)


Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.


Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).

- Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga -

Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak... bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti...
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

- Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga -

      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi... (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.
Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya...


Q: Udah, itu aja ?

A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 

Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya "An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations",  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,
sekian.


Senin, 01 April 2013

Uang & Darah: Sebuah Analogi


Alam sangatlah efisien,
semua benda buatan alam, mempunyai sketsa yg serupa.


Globalisasi membuat batas antar wilayah tak lagi berarti,
terutama untuk benda ciptaan manusia yg satu ini: U A N G.

Setiap negara penganut USD sebagai bentuk cadangan devisa & punya SDR di IMF
otomatis punya skema aliran dibawah ini:

**Suatu negara ibarat tubuh makhluk hidup**

Darah berfungsi sebagai alat transportasi penghantar gizi dan oksigen dalam tubuh manusia.
Uang melancarkan aktivitas ekonomi masyarakat suatu negara (transaksi tak lagi barter, repot).

Darah (pada manusia) memiliki klasifikasi golongan (A, O, B, Ab) di tubuh jenis apa ia dapat berfungsi.
Mulanya, uang memiliki zona eksklusif dimana ia dapat beroperasi (Rp on INA, JPY on JPN)

Seiring waktu, manusia belajar soal efisiensi, maka sekarang negara-negara yang hampir serupa dapat memakai satu currency (EUR on Euro Zone).

Fungsi uang pun berjalan semakin optimal, quote konversi currency yg dulunya: USD/EUR 
perlahan berubah menjadi EUR/USD.

Indikator perekonomian (GDP, BoP, etc) ibarat indikator kebugaran tubuh.
GDP yg terus bertumbuh, mengindikasikan sebuah tubuh yang sehat.

Sampai di sini dulu,

Temet Nosce.





PS:
credit to: Maha Suhu Funda-Trader

Selasa, 13 Maret 2012

It's About: Money Money Money!

Kalo Jessi J menyuarakan tentang melupakan uang dalam lirik lagu "Price Tag": It's not about money, ain't about the cha-ching, why is everybody obsessed, money can't buy happiness, dan forget about the price tag; di postingan kali ini justru uang, uang, dan uang menjadi pembahasan kita. Mengapa uang menjadi sangat penting? Mengapa pula uang menjadi sangat tidak penting (dengan berbagai kalimat penjelas yang bijaksana)?

Uang dan Kuasanya 

Sebuah curcol nih, beberapa hari yang lalu sebelum tidur saya menulis di status fb saya:
uang dapat membeli kasur, tapi bukan tidur yang nyenyak ~ mari tersenyum, menikmati tidur, dan tertidur.
Tentunya, ide "uang dapat membeli ~ tapi bukan ~" itu bukan ide asli saya dong, pasti udah pada sering baca yang begituan, dan lagi pengen alay aja nulis-nulis begitu. Seorang teman mengomentari: belilah obat tidur. Ehem, saya sependapat kalau maksud kata bijak "uang dapat membeli ~ tapi bukan ~" adalah sebuah kebijaksanaan bahwa: tidak semua hal dapat dibeli dengan uang, jadi jangan mendewakan uang, dsb; tetapi dengan kenyataan banyaknya opsi-opsi yang dapat kita pilih dengan uang, memungkinkan kita memperoleh tingkat kepuasan yang mendekati tingkat kepuasan yang kita inginkan. Meskipun nggak di level yang benar-benar kita inginkan, paling nggak hanya sedikitttttttt di bawahnya, sampai kata mendekati lebih pantas diganti dengan "nyaris".

Kenyamanan hidup di Jakarta dapat dengan mudah didapatkan dengan adanya uang, di manapun juga begitu sih. Cukup bawa diri dan sekoper baju bagus, pekerjaan dengan payout yang besar, dan semua hal diatasi dengan uang. Mau makan apa tinggal beli, baju masukin ke laundry, ke mana-mana naik taksi, kost dengan fasilitas yang gimana tinggal pilih, wiken bisa hepi-hepi dengan aktifitas yang disukai, kalau stress ya liburan ke luar negeri; simply work hard play hard! Tentang cinta, banyak yang sudah cukup bahagia dengan dapat mandiri secara finansial dan teman-teman sesama jomblo masih banyak.

Uang dan Wanita

Wanita menyukai uang, pria juga. Semua orang juga suka kaleeee... Mengapa pria lebih memilih wanita yang biasa-biasa saja daripada yang menyukai uang? Cewek juga nggak suka sama cowok matre, lebih malu-maluin daripada cewek matre ga sih??? Hahaha... jangan berakhir ke perang gender, memang masing-masing orang punya persepsi yang berbeda-beda, nggak harus gendernya apa kalo matre tetap aja matre.

Penjelasan wanita dan uang yang pernah dibahas di EG dapat diikuti di link ini dan ini. Secara pribadi, menurut saya kecintaan wanita pada uang tergantung pada pola pikir dan tingkat kekhawatiran wanita itu masing-masing. Uang memberi rasa aman karena dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan: uang penting untuk maintenance diri untuk kepuasan diri sendiri dan suami (penekanannya pada penampilan), uang penting dalam masuk dan bertahan dalam pergaulan (penekanannya pada gengsi), untuk pendidikan dan kebutuhan anak (penekanannya pada anak). Wanita yang lebih khawatir turun pamor karena penampilan cenderung menginginkan uang, mencintai uang, agar tetap terlihat oke. Krim antikerut tidak dapat memudakan usia, tetapi dipercaya dapat memudakan kulit wajah: nggak bisa kembali menjadi gadis muda, tetapi "nyaris" seperti gadis muda.

Satuan Moneter 

Supaya nyambung ya sama yang di awal: ngomongin Price Tag, keberaadan nilai nominal uang menjadi sesuatu yang memudahkan juga, selain bikin pusing. Bikin pusing sih kalo kita ngidam Birkin Bag Hermes yang asli, atau pengen iPad 3 yang keren tapi nggak punya cukup uang.

Bikin mudahnya, nilai satuan uang (satuan moneter) adalah satuan pengukur yang memudahkan kita dalam menilai suatu barang: relatif mahal atau murah untuk kita membelinya, terlebih barang yang sudah ada price tag-nya. Lebih ke fungsi uang sebagai alat tukar dan apakah kita ikhlas menukarkan uang sejumlah tersebut dengan suatu barang, atau lebih prefer untuk ditukar dengan barang lain. Lebih mudah untuk membandingkan antara dua barang/jasa juga. Lagi berandai-andai nih... coba kalau masih jaman purba, satu maskara Loreal harus dibayar dengan berapa ekor ayam? Hahaha... ogah juga kalo bawa tuh ayam hidup ke mana-mana.

Dalam akuntansi, penyimbolan dalam angka (satuan moneter uang) dipandang sebagai simbol yang paling tepat. Contohnya untuk elemen aset, item kas mudah saja tinggal dihitung uang kas yang ada, demikian juga dengan deposito dan piutang dagang telah ada nominalnya. Untuk persediaan? Di laporan keuangan angka yang dipakai bukan berapa buah persediaan, tetapi harganya (dalam satuan moneter). Ini maksud saya keberadaan uang yang memudahkan, karena ada fungsi sebagai satuan pengukur.

Jumat, 02 Desember 2011

Fiat Currency, Perang dan Bencana Resesi USA/Dunia

Oleh: Ekonudin Islam

Valentino Rossi dengan motor Yamaha dan logo mobil FIAT pada tunggangannya di balapan MotoGP, seluruh dunia mengenal kombinasi tersebut. Sampai dengan tahun 2010, pembalap MotoGP Italy yang merupakan legenda hidup, dan bermukim di Inggris dengan team FIAT/Italy diatas motor Jepang, berturu-turut selama satu dekade terakhir ini selalu mencetak prestasi super dengan ekspos media yang dominan diseluruh dunia. Ketika Yamaha dan Rossi menerima sponsor dari pabrikan mobil FIAT yang membuat brand FIAT menjadi identik dengan Rossi dan Yamaha, saat yang bersamaan dunia digoyang oleh tsunami finansial yang bermula dari Amerika yang dipicu oleh meledaknya gelembung pendanaan properti  (subprime mortgage crisis).

Berkat Rossi dan MotoGP, FIAT dikenal oleh masyarakat luas diseluruh dunia, namun hanya sebagian kecil masyarakat yang mengerti mengenai “Fiat Currency”. Hampir dapat dipastikan bahwa Rossi-pun tidak mengetahui artinya, sehingga keberadaan Rossi dalam artikel ini sudah dapat dihapus dari pembahasan.

Adapun mengenai fiat, dalam bahasa Latin artinya adalah: terjadilah; maka Fiat Currency adalah mata uang yang diciptakan dari kewibawaan dan kredibilitas negara pembuatnya (diinginkan dan terjadilah). Dollar AS, Rupiah, Euro, Yen dan seluruh mata uang yang dipertukarkan di dunia adalah fiat money. Mekanisme penggunaan Fiat money oleh negara-negara didunia, mulai terkenal luas semenjak 1971; dimana saat itu, karena tekanan dalam negeri ekonomi AS, presiden Nixon membatalkan perjanjian Bretton Wood dimana dollar AS dilepaskan mengambang dari keterikatannya pada emas dimana sebelumnya, setiap ons (ounce) emas dipatok dengan 35 dollar AS. Dengan posisi dollar AS tidak terikat pada emas, pemerintah AS dapat mencetak uang dengan jumlah yang dianggap ideal untuk membiayai pertumbuhan ekonomi.  Namun demikian, pelepasan mata uang dari patokan emas, dengan segala keuntungan dan konsekuensinya, selalu membawa efek nyata yang natural yaitu penggelembungan ekonomi secara konsisten. Seperti gelembung sabun, gelembung ekonomi juga kosong dan tidak stabil, dan pada level tertentu tidak dapat dipertahankan yang pada akhirnya meletus.

PERTUMBUHAN DARI PERANG

Perang dunia II menghancurkan Eropa dan Asia. Setelah perang berakhir, ekonomi Jerman dan Jepang  tunduk dibawah kendali AS dan sekutunya, dan seluruh negara di Eropa berhutang pada AS. Sampai dengan berakhirnya perang, lebih dari separuh cadangan emas dunia terkumpul di AS. Industri di AS tumbuh berkembang secara eksponensial yang menyebabkan kepincangan perdagangan dunia, dimana lebih dari separuh kebutuhan dunia disuplai oleh industri AS yang berakibat makin menggunungnya kekayaan AS tanpa dapat dihentikan. Untuk menghidupkan ekonomi dunia, AS harus memberikan bantuan cuma-cuma pada semua sekutunya maupun negara yang kalah dalam perang, dan selanjutnya proses pemulihan ekonomi dunia berlangsung tidak kurang dari dua dekade.

Pada akhir dekade 60an, AS mulai masuk pada realitas ekonomi pasar dimana demokrasi dan sistem kapitalis yang disponsorinya mulai tumbuh berkembang disekelilingnya dengan membawa efek samping yang menyulitkan. Walaupun blok negara Timur berangsur menjadi negara gagal, Blok negara Barat yang dipimpin AS secara perlahan tapi pasti, mulai merengkuh kemakmuran absolut dari AS.

PERANG DINGIN

Periode perang dingin juga bukan merupakan periode yang baik bagi AS. Perang Vietnam, OPEC, dan krisis Iran menambah beban pada situasi ekonomi AS yang sedang bermasalah. Periode 70an, AS mulai mengalami budget defisit, pertumbuhan yang mendekati 0% dan rate inflasi yang mendekati 6% dan bahkan pernah mencapai 13,5% di tahun 1980. Dengan menurunnya cadangan emas yang diakibatkan oleh perjanjian Bretton Woods, nilai Dollar AS terhadap emas menjadi over valued dimana setelah Dollar AS diambangkan, pada tahun 1980 (saat revolusi Iran) harga 1 ons emas sudah mencapai 850 dollar AS.

Untuk mengatasi permasalah keuangan yang begitu parah, Federal Reserve/Bank Sentral AS (Fed) menerapkan kebijaksanaan rasionalisasi menggunakan semua instrumen keuangan yang tersedia seperti bunga, money supply dan lainnya. Pada tahun 1982, resesi ekonomi mencapai puncaknya dimana pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai minus 1,9%. Namun setelah itu, pada tahun 1985 ekonomi AS kembali menjadi sehat yang ditandai dengan pertumbuhan PDB riil secara konstan diatas 4%, dan inflasi turun sampai dengan 1,9%. Sebagai catatan tambahan, pada periode ini dimana Reagan menjadi presiden AS, blok timur yang di pimpin oleh Russia mengalami keruntuhan ideologi yang pada akhirnya meruntuhkan seluruh sistem ekonomi komunis. Dengan kata lain, pemulihan ekonomi AS dibarengi dengan kemenangan perang dingin oleh pihak blok Barat yang dipimpin oleh AS.

Pada akhir dekade 80an, ekonomi AS mengalami sedikit koreksi yang disebabkan oleh sifat rakus dari ekonomi pasar bebas fundamental yang diperkenalkan oleh ekonom dari Chicago School of Economic yang dikenal dengan julukan ‘the Chicago boys’. Namun situasi ekonomi AS dekade 90an segera meroket dengan tumbuh pesatnya teknologi komputer yang mendukung berkembangnya gelembung bisnis hi-tech dan internet. Pada akhir dekade 90, gelembung ekonomi tersebut pecah, dan seperti dalam siklus boom/bust sebelumnya, maka pemerintah AS kembali sibuk membenahi ekonomi domestik untuk mengimbangi ekonomi dunia yang sudah bermetamorfosa kedalam ekonomi globalisasi.


PERANG LAGI

Perlu diperhatikan juga, sesaat sebelum boom ekonomi di dekade 90an, sebagai satu-satunya negara terkuat di dunia, AS diminta oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk menindak negara Irak, yang telah dengan semena-mena melakukan agresi dan pendudukan atas negara tetangganya yang berdaulat penuh, Kuwait. Sebagai pimpinan ‘nakal’ yang pernah menjadi ‘anak didik’ dari AS, Sadam Husain yang kala itu menjabat sebagai presiden di Irak, telah berbalik menjadi ancaman bagi kepentingan AS di Timur Tengah yaitu minyak dari Arab Saudi dan Kuwait. Atas mandat dari PBB, pada tahun 1991 AS memimpin pasukan koalis untuk melakukan serangan untuk menetralisir agresi Irak, memulihkan pemerintahan Kuwait dan mewujudkan kembali stabilitas politik di Timur Tengah. Menurut testimony dari Amy Belasco, spesialist di U.S Defense Policy and Budget, perang teluk jilid I itu berbiaya 94 milyar AS, tapi hanya 7 milyar yang dibayarkan AS sedangkan sisanya dibayarkan oleh Arab Saudi dan Kuwait. Setelah misi diselesaikan, pembangunan dan pengamanan di Kuwait dan Arab Saudi dilaksanakan oleh AS dengan dibiayai negara-negara Arab tersebut.

Masih segar dalam ingatan semua orang, betapa mencekam dan menyedihkannya serangan teror yang terjadi pada tahun 2001, yang lebih dikenal dengan peristiwa 9/11. Serangan yang dilakukan oleh teroris dari ras Arab yang diotaki oleh Osama bin Ladin yang berasal dari keluarga Arab itu nyaris membutakan mata seluruh insan dunia yang mengidentifikasikan Arab sama dengan teroris. Berkat kedekatan keluarga kerajaan Arab Saudi dengan keluarga Bush, maka target pembasmian teroris diarahkan ke Afganishtan (tempat Osama bin Ladin bersembunyi) dan Irak (yang di claim AS dipimpin oleh musuh utama demokrasi dan pelindung teroris). Untuk itu, politik luar negeri AS diprogram arahkan pada ‘perang suci membasmi teror.’

Sebelum terjadinya peristiwa 9/11, setelah mencapai puncak pertumbuhan selama tahun 1999 dan 2000, pada tahun 2001 ekonomi AS mulai masuk dalam periode resesi, yang diperburuk dengan peristiwa 9/11 tersebut. Tak dapat disangkal, bahwa masa sulit tersebut adalah merupakan periode kritis penentuan garis kebijaksanaan ekonomi, menjelang penentuan masa jabatan kepresidenan Bush Jr yang ke dua. Jika Perang Teluk I hanya bermodalkan 7 milyar dollar AS dan mendatangkan pertumbuhan pada sektor riil, maka ‘menghukum’ Sadam Husain sang ‘sponsor utama teroris dunia’, akan meningkatkan popularitas AS (dan Bush) dan menurut para penasihatnya, akan dapat dilaksanakan dengan modal kecil dengan prospek return yang menawan. Seperti kata kiasan: “Nothing personal, it’s just business.”

Defense Secretary, Donald Rumsfeld dan wakilnya Paul Wolfowitz (bekas Dubes AS di Indonesia) meyakinkan Bush Jr. bahwa rekonstruksi Irak paska penindakan disiplin (serangan dan pendudukan) akan terbayarkan oleh pemerintahan Irak yang baru, melalui peningkatan pendapatan dari minyak.  Rumsfeld juga meyakinkan semua pihak bahwa biaya maksimum dari tindakan pendisiplinan Irak tidak akan melebihi 60 milyar dollar AS, dimana biaya tersebut akan dibebankan pada negara-negara sahabat AS dari Arab (seperti Perang Teluk I).

Kenyataan yang terjadi sampai dengan saat ini, setelah hampir satu dekade sejak dimulainya tindakan pendisiplinan Irak, AS telah kehilangan lebih dari 4.000 prajurit dengan korban perang (luka/cacat) lebih dari 58.000 prajurit ditambah dengan 7.300 prajurit korban perang (luka/cacat) di Afganistan. Menurut Joseph Stiglitz (pemenang Nobel Economic) dan Linda Bilmes dalam buku mereka yang berjudul “The Three Trillion Dollar War”, biaya cash yang telah dikeluarkan AS untuk perang melawan teroris di kedua medan (Irak dan Afganishtan) sampai dengan buku tersebut naik cetak, adalah 846 milyar dollar AS (termasuk 200 milyar dollar AS untuk 2008). Angka tersebut belum termasuk kelanjutan operasi (paling cepat hingga 2012), pembiayaan veteran setelah perang (pengobatan, pensiun dll.) dan biaya lainnya yang secara konservatif akan dengan mudah mencapai jumlah 3 triliun dollar AS (28.000 triliun Rupiah)

RESESI EKONOMI

Dengan beban biaya perang sedemikian besarnya, ditambah dengan kerakusan para pemain ekonomi yang menganut paham pasar fundamental (market fundamental) dengan menjunjung tinggi pedoman Darwin yang berbunyi “Survival of the Fitest” maka ekonomi AS kembali masuk dalam periode  gawat darurat. Hal ini dipertegas dengan bangkrutnya puluhan bank kecil/menengah dan investment bank raksasa diseantero AS yang juga dipertegas dengan tindakan penghapusbukuan potensi kerugian dari beberapa bank besar AS yang masih bertahan hidup.

Institusi finansial AS adalah merupakan pemain utama dalam pelaksanaan peran dari fiat money, dan meledaknya gelembung ekonomi AS adalah merupakan contoh efek domino yang tercipta dari fungsi fiat money. Ketika AS menjadi sumber kekayaan dunia di era berakhirnya perang dunia II, kekuatan dollar dengan back up emas berlebihan membuat dollar AS menjadi mata uang superior yang dipakai sebagai media transaksi antar negara dan juga dipakai sebagai cadangan setiap negara blok barat.  Dengan superioritas dollar dan harta kekayaan yang dimiliki, AS perlu menyumbangkan sebagian kekayaan tersebut guna menumbuhkan ekonomi free world (i.e. Mashal plan), agar sebanding dengan pertumbuhan manusianya. Selanjutnya, karena sifat dasar manusia yang selalu dipengaruhi oleh unsur tamak dan haus, maka pertumbuhan akan selalu cenderung berlebihan dan kemudian menimbulkan ketidak seimbangan dalam ekonomi makro/global.

Ketika AS sibuk menikmati kekayaan, dengan kerja keras dari Eropa dan Jepang, mereka beralih menjadi negara kaya dan effeknya AS mengalami budget defisit dan defisit perdagangan. Ketika pajak susah dinaikan, mencetak uang menjadi pilihan yang menarik. Konsekuensi logis dari mencetak uang adalah: ketika dollar AS banyak beredar, nilainya menjadi melemah dibanding dengan mata uang Eropa dan Jepang, dan efeknya adalah hutang AS dalam bentuk dollar kepada Eropa dan Jepang menjadi relative lebih murah. Dollar cetakan baru sangat berguna untuk pembelanjaan diluar negeri dalam perannya untuk menstimulasi ekonomi AS yang sedang dalam resesi maupun depresi (contoh, semua 100 dollar AS di Indonesia harus baru & licin).

Pada periode 2000 sampai dengan 2005, AS mengalami periode penggelembungan sektor properti. Menurut Marril Lynch, lebih dari dari separuh bisnis baru sektor swasta, bergerak dalam industri yang terkait dengan properti; dan pada kuartal pertama ditahun 2005, stengah dari petumbuhan PDB AS terkait pada sektor perumahan. Sehubungan dengan usaha pemerintah AS menggairahkan pertumbuhan ekonomi, semenjak tragedi 9/11, Fed menurunkan tingkat suku bunga secara konsisten sampai dengan puncak rendahnya suku bunga Fed yang terjadi sepanjang tahun 2003 sebesar 1%. Situasi ini kembali memicu kerakusan pelaku ekonomi yang dimotori oleh bank pelaksana yang secara agresive melakukan peminjaman pada sektor perumahan, tanpa menggunakan modal, bahkan melipat gandakan penghasilan melalui beragam fee. Caranya adalah dengan membundel commercial mortgage, corporate loans, high-yield takeover loans, emerging market loans dan yang lainya kedalam beberapa jenis paket, dan menjualnya pada dana pensiun, asuransi, maupun investor asing sebagai produk-produk investasi eksotik dengan judul collateralized mortgage backed securities (CMBS), collateralized loan obligation (CLO) atau collateralized debt obligation (CDO).

Permasalahan yang dihadapi industri perumahan di AS, sama dengan yang terjadi diseluruh dunia dimana size pasar aktual lebih kecil dibandingkan dengan supply untuk pasar. Pada tahun 2005 beberapa pakar perumahan di AS mengindikasikan bahwa 40% dari pembelian rumah bukan merupakan rumah untuk kebutuhan primer, melainkan sebagai rumah kedua, sarana investasi maupun spekulasi (karna murahnya biaya pinjaman). Pemaksaan pertumbuhan pasar, menyebabkan turunnya kualitas performance dari pinjaman. Efeknya tentu saja gagal bayar dari konsumen, yang merembet pada gagal bayar dari bank pelaksana kepada investment bank (termasuk kepada Lehman Brothers) yang berakibat pada paniknya investor institusi (pension fund, asuransi dll) yang bereaksi melaksanakan ‘cut loss’ dengan cara melepas instrumen-instrumen investasi tersebut dengan harga berapa saja.

Pasar keuangan AS remuk karena kerakusan, salah manage dan arogansi. Berapa besar biaya yang hilang dari krisis subprime mortgage ini? Menurut Charles R. Morris dalam bukunya “The Trillion Dollar Meltdown” yang naik cetak bulan Februari 2008, estimasi biaya yang hilang adalah 1 triliun dollar AS. Namun analis keuangan lainnya memberikan estimasi jumlah utang yang tidak aman sebesar 3 triliun dollar AS dengan komposisi 2 triliun dollar AS untuk kategori subprime mortgage dan 1 triliun dollar AS untuk kategori Alt-A.
Atas potensi kerugian yang akan terjadi maupun kerugian yang sudah terjadi tersebut, Pemerintah AS kembali harus melakukan langkah penyelamatan. Caranya adalah dengan mengeluarkan dana penyelamatan yang diusulkan sebesar 700 milyar dollar AS (650 triliun Rupiah), yang akan dipergunakan untuk membeli asset-aset bermasalah sekaligus mengambil alih lembaga keuangan bermasalah yang terkait.

Berikutnya, timbul pertanyaan atas sumber uang yang dipakai dalam pemborosan oleh pemerintah AS melalui perang teluk I dan II, yang menurut Stiglitz dan Bilmes mencapai 3 triliun dollar AS. Juga menjadi pertanyaan, dari mana asal uang yang menguap dalam melakoni hasrat rakus dari para pelaku ekonomi di institusi keuangan AS, yang menurut Morris dalam bukunya, berjumlah lebih dari 1 trilliun dollar AS? Jawabannya sangat simple; fiat money diciptakan dari ketiadaan untuk dipergunakan sebagai media “janji tebusan” (redemption) oleh pemerintah kepada siapapun pemegangnya. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, bila terlalu banyak berjanji tanpa punya kemampuan untuk memenuhi janji tersebut, maka sebagian janji tersebut akan terlupakan, atau hilang menguap. Demikian juga dengan fiat money.


TANTANGAN HUSAIN BARAK OBAMA

Setiap administrasi baru dari pemerintahan di AS, selalu menghadapi tantangan yang diwariskan oleh pendahulunya. Jika dibandingkan dengan kondisi pemerintaha yang sebelumnya, tantangan dan tugas yang dihadapi oleh administrasi dari presiden AS Barak Obama adalah sangat menantang, dimana dengan PDB sebesar 13,7 trilliun dollar AS, utang negara telah mencapai 11,8 trilliun dollar AS.

Semenjak masa post-perang dunia II, perjalanan boom-bust ekonomi AS selalu di apit oleh perang, kerja keras dan kerakusan. Banyak elit di AS memandang perang seakan suatu proses ekonomi seperti bisnis yang memerlukan capital untuk dikelola sehingga kemudian akan mendatangkan return dalam bentuk pertumbuhan ekonomi. Kerja keras jelas memerlukan capital untuk diolah menjadi produk dan services yang akan diserap pasar dan menggerakkan ekonomi. Kerakusan juga memerlukan capital yang besar dan murah, karena dengan begitu, rente yang dihasilkan dari suatu kerakusan akan berlipat lipat, tanpa perlu menciptakan keseimbangan; inilah sumber malapetaka bagi setiap periode boom-bust AS.

Berkaca pada kekuatan ekonomi US, semenjak akhir Perang Dunia I negara-negara Eropa mulai membicarakan dibentuknya zona ekonomi yang diikuti dengan penggabungan currency untuk mencapai tujuan stabilisasi nilai tukar dalam pasar ekonomi Eropa dan juga mendukung liberalisasi arus modal. Setelah Presiden US Nixon mencabut lindung emas atas Dollar US, yang mempengaruhi seluruh perekonomian negara Barat, rencana pembentukan mata uang tunggal Eropa menjadi tertunda, sampai dengan awal 80an, dimana European Monetery System dibentuk dengan tugas mensinergikan mata uang negara-negara Eropa kedalam European Currency Unit.

Dengan lahirnya mata uang Euro pada tahun 1998, yang didukung awal oleh 11 negara (kemudian menjadi 17),  maka sentra pertumbuhan fiat currency menjadi lebih luas, karena kekuatan Dollar US sudah bisa diimbangi oleh Euro yang ditopang oleh negara Industri kuat di Eropa seperti Jerman, Prancis dan Italy (tidak semua anggota EU bergabung dalam Eurozone). Tahun 2001, Greece sepenuhnya masuk dalam Eurozone, dan dengan fundamental ekonomi yang tidak sama dengan anggota negara lainnya, ditambah lemahnya disiplin pelaksanaan pemerintahan, maka pada tahun 2009, defisit belanja Greece telah mencapai 15,4 % dari GDP dan hutang publik mencapai 126,8 % dari GDP. Adapun dalam Eurozone, batasan maksimum yang diizinkan adalah 3 % untuk defisit belanja, dan 60 % untuk total hutang negara.

Ketika krisis ekonomi di US belum berakhir, Eropa masuk kedalam krisis ekonomi yang sangat serius dimana setelah bencana finansial Greece, negara-negara Italy, Spanyol, Portugal dan Irlandia sudah mulai terbuka borok permsalahan keuangannya. Teori dari John Maynard Keynes untuk mendorong pemerintah dalam membelanjakan uang guna memutar ekonomi, belum pernah terbukti, karena pada saat teori tersebut dikemukakan pada Presiden US Frnaklin D. Roosevelt, depresi ekonomi US kemudian teratasi dengan keterlibatan US dalam Perang Dunia II. Selain itu, dengan masih kuatnya benalu kapitalis yang terbentuk dalam institusi keuangan dunia, maka pencetakkan fiat currency tanpa dibarengi dengan peningkatan disiplin di sektor keuangan, hanya akan memompa bubble yang baru tanpa peningkatan pertumbuhan sektor riil secara sebanding.

Beberapa perang telah menyelamatkan ekonomi US, namun perang di Irak dan Afganistan malah memperburuk ekonomi US. Saat krisis ekonomi Eropa dimulai, Nato telah menginisiasi perang di Lybia, dan Iran merupakan target perang berikutnya. Namun mayoritas elit politik dunia mulai faham bahwa perang bukan merupakan jalan yang baik dalam menyembuhkan ekonomi dunia. Tidak ada jalan pintas dalam mengatasi permasalahan yang diciptakan secara sistematis selama beberapa dekade; tidak pula masalah akan teratasi dengan tuntas dalam system ekonomi global yang bertumpu pada fiat money. AS, Inggris, Jepang, Jerman, Prancis, Australia maupun Indonesia, semua memiliki cacat genetic berbentuk fiat currency system. Agar seluruh system ekonomi tidak diserang oleh penyakit kronis berbentuk resesi ekonomi, seluruh pimpinan di dunia, harus mencanangkan hidupnya ekonomi yang sehat berlandaskan kerja keras, disiplin anggaran dan good governance, selain menjauhkan perang dan mengikis kerakusan dengan menciptakan rambu hukum yang comprehensive.

Resesi ekonomi AS dan Dunia yang tercipta dari penciptaan fiat money tanpa dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi riil, yang diperparah dengan gaya hidup hedonisme masyarakat moderen yang ditopang oleh budaya meminjam, telah menghadirkan keniscayaan dari gelembung ekonomi yang pecah, yaitu hilangnya nilai mark-up fiat money dari ekonomi riil. Seluruh dunia tidak dapat membiarkan Eurozone ambruk, karena akan berdampak parah pada AS, dan seluruh negara di Eropa, bahkan juga akan memukul perekonomian China, India, Jepang, Korea, Taiwan dan ASEAN. Pemulihan ekonomi dunia akan berlangsung lama dan sangat menyakitkan bagi rakyat negara-negara maju, karena berkurangnya anggaran kesejahteraan yang selama ini merupakan insentif umum bagi rakyat dinegara maju (Eropa). Sampai dengan akhir 2011, tidak ada satu pihakpun yang mempunyai jawaban untuk mengatasi krisis global ini, dan tidak juga ada yang dapat meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga perang bukan menjadi salah satu opsi.

Sabtu, 12 November 2011

Lagi-Lagi Soal Emas (part 1)

Oleh: Aulia Rachman Alfahhmy

Sudah lama saya sangat ingin menulis artikel masalah emas ini. Tapi dalam bayangan saya, nulis hal ini akan butuh artikel yang panjang. Nah, artikel sebelumnya dari Munadi “yang-berjudul-sangat-panjang” itu, sangat membantu saya dalam menjelaskan masalah ini dengan lebih sistematis dan singkat, ada baiknya sebelum membaca artikel ini, pembaca yang budiman mebaca dulu artikelnya mas Munadi pada post sebelumnya.

Ya, artikel ini lagi-lagi membahas apa yang selama ini dikenal dengan bisnis “berkebun emas” atau apapun kalian menyebutnya, tapi yang jelas bisnis melibatkan setidaknya 2 elemen penting 1) emas; 2) pegadaian (syariah). Belakangan ini bisnis ini heboh dibicarakan masyarakat. Beberapa teman saya, baik di dunia maya dan nyata menanyakan hal ini kepada saya, baik dari sisi 1) soal rasionalisasi bisnis sampai pada pertanyaan 2) “apakah bisnis ini halal atau tidak?”, khusus pertanyaan no.2 adalah sebuah pertanyaan yang sulit sekali! Mungkin butuh menjadi ulama yang ahli hukum Islam yang juga mumpuni soal dasar-dasar teori ekonomi, utamanya masalah finansial dan moneter agar bisa menjawab pertanyaan itu dan ber-ijtihad dengan lebih komperhensif. Anyway, mari kita lanjutkan kembali ke masalah emas ini.

Pertama-tama, sebagai orang yang belajar ilmu ekonomi, saya termasuk orang yang konservatif dalam memandang segala kegiatan perekonomian dalam kehidupan manusia. Jadi, setiap ada segala sesuatu mekanisme yang keluar dari “kodrat” alamiah (gak make sense atau gak rasional), saya seketika itu juga akan langsung skeptis dan pesimis atas mekanisme tersebut. Insting ekonomi saya seolah-olah mengatakan “Pasti ada yang salah di dalamnya!”. Termasuk dalam bisnis “berkebun emas” yang beberapa waktu terakhir ini heboh. Bahkan sampai-sampai salah satu harian besar di Indonesia membuat semacam laporan khusus dan membuat walkthrough berbisnis kebun emas ini. Luar biasa.

Mungkin bagaimana bisnis emas dijalankan, artikel dari saudara Munadi pada posting sebelumnya sudah panjang lebar membeberkan rahasianya. Bahkan jika saat ini para pembaca budiman punya uang Rp8 juta rupiah, maka saat ini juga anda semua sudah bisa langsung menjalankannya. Luar biasa, dari perhitungan dengan modal Rp8juta saja, setahun anda sudah bisa memiliki ROI 61.5%. Sebuah angka yang tinggi!

Lalu “Salahnya” Di Mana?
Entah, sebenarnya saya sangat menghormati sikap orang lain yang mengatakan bisnis macam itu adalah riil, konkrit dan hasilnya nyata. Tapi, sebagai seseorang yang belajar ilmu ekonomi, dan punya paham rada klasik dan konservatif, hati saya menolak-nolak semua praktik ini. Baiklah, saya harus saya akui, ini mungkin bicara masalah paradigma dan keimanan. Jadi maafkan saya jika menggunakan term “salahnya”. Tapi setidaknya saya punya alasan-alasan logis di balik sikap ini.

Pertama, yang membuat hati saya gundah adalah berubahnya orientasi “menggadaikan” barang menjadi sebuah wahana investasi yang sebenarnya sangat dekat dengan aset-aset yang bersifat utang.  Menggadai barang sudah jauh dari sifat, “kebutuhan mendesak”, seperti cerita humor dosen-dosen saya yang konon dulu rajin ke pegadaian tiap akhir bulan untuk bisa sekedar mencari uang makan karena “wesel” belum dikirim. Juga, bagaimana seseorang yang salah satu anggota keluarganya sakit, membutuhkan uang cair, lalu pergi ke pegadaian yang konon “menyelesaikan masalah tanpa masalah”, demi kesembuhan keluarganya itu. Semua itu, sejak menyeruaknya bisnis emas ini, sudah tidak ada lagi. Pegadaian sekarang lebih seperti “produk investasi” yang ramah terhadap akal-akalan investor alias si kapitalis.

Kedua, kalau memang ini sebuah usaha, maka usaha ini sarat akan aset berbasis utang, dan bisnis yang sarat akan utang akan mudah digoyang dan punya dampak multiplier yang menyakitkan banyak orang. Coba baca lagi tulisan Munadi, maka disitu akan jelas terlihat posisi akhir neraca keuangan yang bersangkutan didominasi oleh utang. Dari yang aset normal 8 jt, menggelembung menjadi aset di atas kertas 20 juta (proses leverage-nya sebesar 12 juta, dan ini sebenarnya utang!). Dalam dunia keuangan terkadang utang memang sangat sakti dalam pencitraan laporan keuangan. Tapi di balik itu semua, aset itu seperti ditopang oleh pilar yang rapuh, yang kalau pilar itu runtuh maka hancur semua nilai-nilai di atasnya menjadi debu di muka bumi.

Apa yang membuat dia hancur? Aset 20 juta ini sebenarnya seperti stok barang dagangan yang siap dijual kembali. Rumus sederhana kebangkrutan adalah jika harga pokok (Kalau kata Pak Suwardjono, yang benar “Kos Barang Terjual”) lebih besar dari harga jual di pasar. Dan kapan itu terjadi? Ketika pengusaha salah mengestimasi atau ketika harga barang dagangan di pasar itu jatuh. Voila! Siap-siap aja tutup usaha. Dan ingat, barang dagangan itu dibiayai utang loh.

Ini dia titik krusialnya! Seni dari mata seorang yang belajar ekonomi bermzahab klasik nan konsveratif. Oke…banyak yang mengatakan,  “Harga emas kan selalu meningkat? Jadi bisnis emas ini pasti akan untung terus, mustahil rugi (red: rugi secara nominal), jadi ini bisnis yang prospektif”. Dan banyak lagi yang bersyukur karena ada produk pegadaian syariah yang ramah terhadap pemodal (karena tidak mengenal bunga). Konon, hanya Rp3000,- per gram emas gadaian sebagai ongkos titip (per gram bisa dapat dana cair Rp400ribu), jadi ongkos kirim sebenarnya equivalent dengan tingkat bunga 0.75% per bulan. Saya sampai mengulang-ulang menghitung rasio ini di kalkulator, apakah angka ini benar! Ya Allah benar cuma 0.75% per bulan yang kalau setahun sama dengan 9% (anggaplah ini cost of capital). Nah, dari bisnis kebun ini (berdasarkan tulisan mas Munadi) ROI nya bisa mencapai lebih dari 60% per tahun… Luar biasa bukan selisihnya? (cara mudah mencari rate keuntungan bisa didapat dari selisih ROI dan cost-capital).

Lalu pertanyaan selanjutnya, “Loh kan emang begitu adanya Ul! (nama panggilan akrab saya), salah siapa coba emas bisa naik harganya bisa 30% per tahun? Salah gue? Salah temen-temen gue? Udah nikmati saja!” Baik. Ini justru yang sebenarnya harus kita bedah lebih dalam. Mengapa emas bisa harganya melonjak hingga 30% per tahun? Selain itu, pengetahuan akan ini yang sebenarnya bisa menjadi landasan para “mujtahid” di masa akan datang bisa berijtihad soal masalah ekonomi. Hahahha sok Alimm ni gue.. :P…

Bagaimana Harga Terbentuk
....(bersambung)

InsyaAllah saya lanjutkan tulisannya kapan-kapan... capek nulisnya euy...
:P

Sabtu, 23 Juli 2011

Saya Manusia (Setengah) PNS


Oleh: Priyok.

Saya tidak bekerja di salah satu kementrian. Juga tidak bekerja di salah satu lembaga tinggi negara. Ataupun di instansi pemerintah pusat lainnya. Bagaimana saya mau bekerja di sana, semangat saya untuk memperbaiki kinerja keuangan daerah ditolak mentah-mentah oleh Departemen Keuangan. Betul sekali teman-teman, saya tidak lolos ikut tes seleksi CPNS, bahkan pada proses jeratan pertama saya langsung tidak nempel. Hah, sudahlah. Oh iya, saya juga tidak bekerja di pemerintah daerah. Apalagi guru atau dosen, bisa ancur nanti anak didik saya.

Tapi saya ini PNS. Maksudnya seperti PNS, tidak 100% PNS. Mmm, mungkin lebih fair kalau saya disebut (setengah) PNS. Wah, apa ada institusi yang seperti itu. Yang memperkerjakan (setengah) PNS. Ini istilah saja kawan, sebenarnya sih tidak ada. Tapi kategori pekerjaan memiliki 50% gen PNS sehingga saya bisa menyebut seperti itu. PNS atau Pegawai Negeri Sipil memiliki ciri-ciri bekerja untuk memberikan pelayanan kepada publik, menjalankan roda pemerintahan, dan dibayar oleh negara. Lantas pekerjaan apa yang saya lakoni?

Saya bekerja di perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Anda pasti bingung membaca hal ini. Apa korelasinya PNS dengan pegawai perusahaan minyak multinasional. Kalo di Pertamina mungkin masih bisa disambung-sambungin.

Kami boleh menyebut diri kami (setengah) PNS karena melihat ciri-ciri barusan terdapat pula ciri-ciri pegawai yang bekerja di perusahaan operator migas. Memberikan pelayanan publik, jelas bukan. Kantor perusahaan-perusahaan tersebut jelas-jelas bukanlah tempat pembuatan KTP. Perusahaan-perusahaan tersebut jauh-jauh datang dari jauh (datang tak dijemput, pulang tak diantar) murni termotivasi bisnis. Uang, uang, dan uang.

Menjalankan roda pemerintahan, secara langsung tentu tidak. Sekali lagi bisa penulis tegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut adalah entitas independen yang termotivasi uang. Namun dibalik itu semua, perusahaan-perusahaan ini “nyawer” sekitar Rp 400 Trilyun untuk membiayai pemerintah. Jadi secara tidak langsung perusahaan migas baik lokal atau asing menjalankan roda pemerintahan. Tanpa saweran mereka mungkin APBN kita cuma habis disetor ke daerah dan bayar gaji PNS yang sesungguhnya.hehe. Sudah mulai terlihat seperti PNS kan?

Dan yang terakhir, yang menjadi alasan penulis untuk bilang bahwa mereka ada (setengah) PNS adalah karena PNS dan mereka sama-sama dibiayai negara. Republik Indonesia.

Ngapain kita bayarin mereka, apa urusannya?kok jadi kita sih yang bayarin?bukannya duit mereka dah banyak, ngapain pemerintah yang bayarin?kasian PNS kita gajinya ga sebanding ma mereka, ngapain dibayarin?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin muncul dalam kepala anda sekarang. Seakan tidak percaya kalau saya dan teman-teman saya di dunia migas dibayarin oleh pemerintah. Tunggu dulu sobat. Dengan anggaran yang cuma 1200 Trilyun mustahil rasanya mereka benar-benar membayari pegawai-pegawai perusahaan migas tersebut. Karena mereka tidak dibayar pemerintah lewat APBN. Mereka dibayar oleh pemerintah kita melalui mekanisme cost recovery

Cost Recovery
Seperti yang dulu pernah penulis sampaikan di tulisan “Ada yang Tahu Bagaimana Sebenernya Hitung-hitungan Minyak dan Gas Bumi Kita?” bahwa komponen penghitungan bagi hasil minyak dan gas salah satunya adalah cost recovery. Bahkan terkadang ini menjadi kue terbesar bagi kontraktor/perusahaan migas di Indonesia.

Cost recovery adalah porsi pengembalian biaya-biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor atau perusahaan migas dalam melakukan kegiatan operasinya oleh pemerintah. Uang cost recovery diambil dari hasil migas yang dilakukan oleh kontraktor tersebut. Jadi jumlah pengembaliannya tak boleh melebihi bagian pemerintah. Nah, karena gaji merupakan komponen biaya operasional maka gaji pegawai-pegawai itupun masuk ke dalam skema cost recovery ini.

Pemerintah kita kali ini sudah agak pintar. Sebelum tahun 2010, segala jenis biaya operasional termasuk CSR bisa di-cost recovery. CSR yang mestinya jadi kewajiban perusahaan dalam “beramal” ternyata uang-uangnya berasal dari kocek pemerintah. Maka dari itu, dikeluarkanlah peraturan mengenai negative list cost recovery, biaya-biaya yang tidak bisa di-cost recovery salah satunya CSR tadi.

Bagian cost recovery inilah yang membuat dunia migas menjadi sebuah investasi yang menarik bagi investor. Bahkan disebut-sebut sebagai skema bagi hasil terbaik, paling fair, paling win-win solution yang ada di planet bumi. Entahlah, bagi saya sebutan ini hanya karena mereka merasa lebih untung.

Minggu, 12 Juni 2011

Money, A Frozen Happiness


Oleh: Thontowi Ahmad Suhada

Hmm, sebenarnya ide tulisan ini sudah ada dari dulu, namun saya urungkan karena merasa bahwa saya belum berhak menuliskannya. Maklum dulu saya belum bekerja dan berpenghasilan, namun sekarang boleh lah, walaupun belum bekerja dalam arti yang awam.

Pernahkan anda merasa kehilangan ketika membelanjakan uang anda? Faktanya banyak dari kita yang merasa demikian. Namun bagaimana perasaan anda ketika anda menanam sebuah benih di taman anda misalnya, lalu merawatnya, memupuknya, dan akhirnya tumbuh menjadi sebuah pohon yang menghasilkan buah. Bagaimana perasaan anda ketika memakan buah tersebut? Bahagiakah? Adakah rasa kehilangan?

Tanpa kita sadari uang telah membekukan kerja keras dan kebahagian kita. Untuk lebih mudahnya akan saya buat alur sbb:
USAHA ~~~~~ PRODUK~~~~~KEBAHAGIAAN


USAHA~~~~~PRODUK~~~~UANG~~~~~~PRODUK~~~~~KEBAHAGIAAN?

Tentu hal ini tidak bisa dihindari karena pada dasarnya semakin hari kebutuhan manusia semakin banyak, dan sungguh mustahil untuk memproduksi semua barang sendiri. Selain itu manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling bergantung satu sama lain. Masih kurang? Kita tambahkan teori ekonomi mengenai Comparative and Absolute Advantage bahwa jika seseorang atau suatu negara melakukan spesialisasi terhadap suatu produk maka akan lebih efektif dan efisien.

Namun kembali ke fokus awal kita tadi, tanpa kita sadari kita merasa uang merupakan bagian terpisah dari usaha kita. Kita seakan membekukan usaha dan kerja keras kita dalam benda yang disebut uang. Uang mengisi jeda antara usaha dan kebahagiaan kita. Jeda waktu itulah yang sedikit demi sedikit memberikan rasa kepemilikan pada uang tersebut sehingga akan timbul rasa kehilangan ketika menukarkannya dengan sebuah barang/jasa. tanpa kita sadari dengan sistem ini, usaha akan lebih banyak menghasilkan residu berupa rasa lelah, bosan, susah dsb, sedangkan pembelanjaan uang lebih banyak menghasilkan residu berupa perasaan kehilangan.

Jadi..berhentilah merasa kehilangan ketika membelanjakan uang anda. Seharusnya anda merasa bahagia. Salah satu caranya adalah dengan mengulang proses anda usaha untuk mendapatkan uang itu. Wait! Anda justru merasa semakin tidak rela membelanjakan uang anda ketika membayangkan usaha anda? Artinya anda bekerja dengan gaji dibawah standar usaha anda, atau anda membeli barang yang terlalu mahal. Semoga artikel ini membantu untuk lebih menikmati hidup anda. Hidup itu harus dinikmati kawan =)

*inspirasi artikel ini muncul ketika tanganku beku karena kedinginan, need someway to make it warm, just write!


Sabtu, 21 Mei 2011

Romansa Cinta yang Paling Tinggi bagi Seorang Ekonom (Gila)

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy

Oke, silakan kalian mengolok-olok saya lagi galau atau lagi ababil (ABG Labil, walau sudah gak ABG lagi). Tapi jujur saja, dari sekian lama perenungan saya soal cinta dan ekonomi, menurut saya hal inilah yang menurut saya paling menggambarkan apa itu cinta (meskipun sampai hari ini saya tetap tidak tahu cinta itu apa, ouch!). Tidak ada pendekatan ekonomi yang lain yang lebih menyerupai dan menjelaskan tentang evolusi cinta umat manusia. Setelah melakukan perenungan dan kontemplasi tingkat tinggi. Meresapi dan menghayati cinta yang selama ini tertanam di dada saya. Melalui jutaan cobaan, rintangan, duri, dan luka. Akhirnya… Saya temukan postulat-postulat cinta dari pandangan seorang ekonom gila kali ini (lebay abisss!).

Baiklah, ternyata evolusi dan tingkatan cinta saya temukan di evolusi uang. Mungkin bagi sebagian orang ada yang bilang kalau sekarang terjadi dekandensi cinta dan saya lihat ini mirip dengan dekandensi nilai uang pada perjalanan evolusinya. Layaknya cinta yang akhir-akhir ini seperti seolah mudah dimunculkan (kalau jaman dulu ada reality show “katakan cinta”, ada juga realty show 12 cewek merebutkan satu cowok, dsb), demikian dengan uang yang juga muncul dari ketiadaan. Sebelum melangkah ke cerita soal cinta, saya akan mulai cerita dahulu bagaimana evolusi uang dan di akhir bagaimana evolusi uang ini beranalog dengan evolusi cinta (tentu saja, ketika berbicara masalah cinta banyak ruang perdebatan di sana, tapi ikuti dulu ya alur dari saya). Saya banyak menggunakan inspirasi dari buku Rothbard untuk menjelaskan evolusi uang ini.

Kemunculan Uang itu Karena pada Hakikatnya Kita Saling Membutuhkan

Tahap pertama - Oke, awalnya kenapa muncul uang adalah tidak lebih dari sebuah kodrati manusia yang diciptakan berbeda-beda, layaknya laki-laki dan perempuan yang memiliki fungsi biologis yang berbeda sehingga mau tidak mau mereka harus bersatu (bagi yang mau dan dapet! hahahaha), manusia yang berbeda-beda ini pada akhirnya sadar bahwa mereka adalah makhluk sosial dan saling membutuhkan. Ya adanya perbedaan dan keanekaragaman ini, membuat diri kita berujung pada sebuah kegiatan yang dikenal dengan sebutan “transaksi”.

Pada awalnya, manusia bertransaksi dengan sebuah mekanisme yang disebut dengan barter. Seorang petani jeruk membutuhkan baju untuk dipakai, seorang penjahit membutuhkan jeruk agar tidak sariawan dan tidak mudah sakit. Entah bagaimana caranya, pokoknya (ya benar-benar pokoknya!) mereka ditakdirkan oleh Tuhan untuk saling bertemu dan juga bisa sama-sama memiliki keinginan yang saling melengkapi, ini dikenal dengan double coincidence of need. Dalam bahasa ndesonya mungkin seperti ini: kebetulan ganda atas kebutuhan. Bagi saya ini seperti sebuah keajaiban, karena benar-benar syaratnya sangat sulit untuk terjadinya sebuah barter yang hakiki (barter yang benar-benar optimal, atas dasar sama-sama suka dan sama-sama mau!).

Bayangkan si A kebetulan bisa membuat dan atau memiliki X sejumlah minimal sebesar H dan kebetulan juga sedang membutuhkan Y sejumlah I. Di sisi lain si B kebetulan bisa membuat dan atau memiliki Y minimal sebanyak I dan kebetulan juga sedang membutuhkan X sebanyak H (pusing kan bacanya!). Atas takdir Tuhan lagi-lagi kebetulan mereka, A dan B, bertemu dan melakukan barter! Voila, bisa dilihat berapa kata “kebetulan” yang saya pakai untuk menjelaskan barter ini? Satu saja syarat/kondisi itu tidak ada, maka barter tidak akan pernah ada.

Konsekuensinya apa? Kegiatan ekonomi baik barang dan jasa akan sangat terbatas. Kegiatan ekonomi hanya diperuntukan bagi mereka yang benar-benar beruntung dan mendapatkan anugerah dari Tuhan atas kenikmatan bertransaksi ini. Seorang dosen, yang sedang ingin jeruk, akan sangat sulit mencari tukang jeruk yang mau menukarkan jeruknya kepada dosen dengan sebuah kuliah 3 SKS. Dosen tidak akan pernah menemukan kebutuhan hidupnya dengan barter, maka wajar dahulu tidak ada dosen karena dosen tidak akan mendapatkan kenikmatan bertransaksi ini dari Tuhan.

Tahap kedua - Oke kali ini entah mengapa manusia berinovasi untuk mengatasi masalah barter ini, dan hal inilah cikal bakal alat yang nantinya dikenal dengan sebutan uang. Jika barter tadi saya gambarkan secara utopis dan “sakral” maka dengan akal manusia, mereka mampu memanipulasi ini dengan sebuah transaksi “tidak langsung”. Anggaplah tadi, tukang jeruk membutuhkan baju, tapi si tukang jahit bukan membutuhkan jeruk, dia lebih membutuhkan beras (sebuah komoditas yang memiliki daya jual yang lebih tinggi karena lebih dibutuhkan). Apakah ini berarti si tukang jeruk tidak bisa mendapatkan baju dari tukang jahit? Tidak, dengan sedikit usaha, dia menemukan petani beras, yang sedang membutuhkan jeruk (yap! Lagi-lagi ini juga masih sebuah kebetulan). Dia tukar jeruk dengan beras, lalu dengan beras yang dia punya dia menukarkan dengan baju. Nah, di sini tukang jeruk bagaimanapun pada akhirnya bisa memuaskan hasrat kebutuhannya tanpa harus memiliki persis sama apa yang dinginkan oleh tukang jahit.

Bagaimana dengan kisah si dosen? Hahahaha mungkin juga tetap bisa, tapi dia butuh usaha lebih keras, dengan mencari tahu apa yang dinginkan tukang jeruk, lalu mencari orang yang memiliki apa yang diinginkan tukang jeruk yang sedang membutuhkan kuliah 3 SKS. Proses barter tidak langsung ini bisa melibatkan lebih dari tiga pelaku dan bisa menjadi kompleks, tapi dari kompleksitas itu akan muncul sebuah solusi.

Sekilas ini memang terlihat seperti barter biasa saja, hanya lebih bertingkat, tapi tanpa sadar sebenarnya manusia memasuki pada sebuah pengetahuan baru bahwa sebenarnya ada sebuah komoditas yang memiliki daya jual tinggi, berterima umum, sehingga bertransaksi  tidak harus melewati kondisi double coincidence of need. Seiring perjalanan waktu, manusia mencari komoditas yang mudah ditukarkan dan memiliki daya jual tinggi ini. Nah, pada akhirnya komoditas berevolusi menjadi sebuah komoditas yang berspesialisasi sebagai alat tukar.

Sejarah menunjukan contoh-contoh anehnya, misalnya tembakau di Virginia ketika masa kolonialisasi, gula di India Barat, garam di Abyssinia, ternak di Yunani Kuno, paku di Skotlandia, tembaga di Mesir Kuno, dan lain sebagainya di beberapa belahan benua lainnya, seperti gandum, manik-manik, teh, cangkang dan bahkan mata kail! (Rothbard, 1963). Apa yang menjadi ciri umum dari komoditas-komoditas ini? Salah satunya adalah adanya sifat divisible alias mudah dipecah belah. Logis, barang yang mudah diatur satuannya ini akan lebih mudah dipilah-pilah tepat sesuai dengan keinginan transaksi. (bayangkan lagi si dosen, apakah barangnya berupa “3 SKS kuliah” termasuk barang yang divisible?).

Nah, barang-barang yang punya daya jual tinggi (termasuk di dalamnya adalah tidak mudah rusak, dinginkan orang banyak, dsb) dan punya sifat divisible yang tinggi adalah yang akan menjadi juara komoditas alat tukar. Siapa juaranya? Sepanjang sejarah tercatat dua komoditas handal, emas dan perak. Inilah yang secara alamiah pada akhirnya membuat manusia menggunakan emas dan perak sebagai sebuah benda yang dikenal dengan “uang” untuk bertransaksi. Selamat tinggal ritual sakral barter, sekarang kita memiliki sebuah “representasi” baru yaitu uang emas dan perak. Bayangkan lagi si dosen yang ingin jeruk dari awal cerita, akhirnya dia sekarang dengan mudah mencari orang yang punya emas dan perak dan mau ditukarkan dengan “3 SKS”nya. “Berikan saja saya emas, nanti dengan emas saya beli jeruk dari petani”. Menjadi dosen adalah hal yang mungkin saat ini, selama dia memiliki uang, dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan (jeruk!).

Tahap Ketiga – Ini adalah fase yang saya kenal dengan “kepercayaan di atas kertas”, inilah yang pada akhirnya akan menciptakan kertas bahkan kartu kredit, sudah dijelaskan oleh Yoga P.S di artikel Credo. Namun simpelnya seperti ini, pada mulanya emas yang ternyata kalau sudah banyak berat dan tidak praktis di bawa ke mana-mana, akhirnya di simpan di tempat penyimpanan emas. Nah tempat penyimpanan emas ini akan mengeluarkan nota, kepemilikan emas di atas sehelai kertas. Kertas ini lama-kelamaan berevolusi menjadi sebuah “uang” pula dan ini lah yang menjadi cikal bakal uang kertas. Uang kertas berbasis emas, inilah yang terjadi bahkan hingga masa Depresi Besar Tahun 1930 yang melahirkan sistem Bretton Wood (menggunakan dolar sebagai uang tautan bersama dan dollar dijamin dengan sejumlah emas).

Namun demikian pada praktiknya, gudang penyimpanan emas tadi berevolusi menjadi Bank (bisa baca artikel menarik di sini dengan cerita yang lebih detail). Dengan cadangan emas yang ada di gudangnya, pelan-pelan dia mengeluarkan “nota bukti penyimpanan emas” a.k.a uang tanpa ada sandaran emas lagi. Bank mengatakan pada masyarakat, “pakai saja ini, toh kami benar-benar ada emas di gudang kami”. Masyarakat toh tetap percaya atas apa yang ada di atas kertas, tidak masalah. Nah, inilah yang saya sebut dengan era uang berbasis “kepercayaan di atas kertas”.

Akhirnya semua berujung pada semua jenis uang berbasis kepercayaan di atas kertas. Uang yang sekarang ada di dompet Anda adalah bentuk kepercayaan Anda terhadap pemerintah, bank yang dulu gudang emas tidak lagi menggunakan emas untuk menyimpan dan memberikan pinjaman, cukup uang kertas. Ya semua adalah atas dasar kepercayaan! Belakangan yang trendy akhir-akhir ini adalah kartu kredit.  Sadar atau tidak, itu juga uang! Atas kepercayaan bank terhadap nasabah melalui slip gaji, atas kepercayaan merchant terhadap bank, maka kartu kredit sebagai bentuk turunan dari turunan uang ini muncul. Jika dihayati lebih dalam, sebenarnya uang-uang ini adalah utang manusia terhadap alam nyata (utang dalam dunia finansial terhadap sektor riil, waduh bahasa saya njelimet ini).          

Tahap ketiga evolusi transaksi inilah yang paling menimbulkan masalah, mulai dari yang paling ringan, yaitu inflasi hingga yang paling buruk yaitu depresi ekonomi.  Karena ketika kepercayaan tidak dijalankan dengan amanah, maka muncullah ketidakseimbangan dalam perekonomian. Maka muncullah self-adjustment alam perekonomian berupa koreksi-koreksi yang terkadang menyakitkan. Ekonomi dengan turunan-turunan ini bisa meroket dengan kencang, tapi juga dengan risiko yang besar.

Lalu Apa hubungannya dengan Cinta?
Oke cukuplah sudah dengan “kuliah” moneter yang saya tulis di atas, yang di sana akan banyak sekali pembahasan bercabang-cabang dan merumitkan (yang pastinya membuat Anda semua tidak mengerti, dan cuma saya yang mengerti, hahahaha). Mari kita masuk ke dunia kegilaan saya soal cinta. Dimulai dari tingkat kecintaan yang paling “rendah” hingga yang paling “haikiki”.

Pertama, Cinta kartu kredit. Kartu kredit kalau bisa dikatakan sebuah nilai uang yang muncul paling dekat dengan sebuah wilayah kehampaan, ketiadaan, tidak ada fundamentalnya. Kartu kredit adalah bentuk uang yang belakangan muncul. Hanya bermodalkan apa-apa yang di atas kertas (selip gaji) dan sebuah kartu plastik, orang sudah percaya bahwa ia memang berdaya dan memiliki uang. Akhirnya punya hak untuk beli motor dan mobil walau pun sebenarnya duitnya belum ada. Semua, serba beres dengan kepercayaan atas informasi yang ada di atas kertas.

Bagi saya ini seperti halnya fenomena cinta yang ada di abad 21. Cinta yang timbul karena kita melihat foto profil seseorang di facebook. Wah cakep! Jatuh cinta saya. Bisa juga hubungan cinta yang ada di situs-situs perjodohan. Ya! Hanya sebuah informasi di depan layar yang terlihat kredibel, kita bisa jatuh cinta. Tanpa kita peduli apa itu cinta, kita hanya jatuh cinta pada apa yang ada di atas kertas (ingat dengan “fase kepercayaan di atas kertas”?).

Jika di ekonomi fase kepercayaan di atas kertas adalah yang paling bermasalah dan berisiko, pun di dunia percintaan. Mengapa? Karena ternyata jika ada sebuah pemalsuan atas kepercayaan ini, maka hancurlah sudah cinta itu. Kalau mau bukti nyata, oke ada! Beberapa waktu yang lalu seorang bisa salah menikahi istrinya yang ternyata juga seorang laki-laki (WT F***!). Tahu kenapa? Karena mereka berkenalan dari Facebook! Ya, dunia maya dan jejaring sosial memang membuat dunia percintaan manusia menjadi “tumbuh” dan dinamis laiknya perekonomian modern. Seseorang mampu menemukan jodohnya di belahan bumi yang jauh sekalipun belum pernah bertemu. Tapi, tanggung sendiri resikonya.

Kedua, Cinta Representatif, untuk menemukan cinta terkadang pada satu titik seseorang sudah tidak lagi membutuhkan yang namanya emosi dan perasan cinta dari lawan “transaksinya”. Bahasa mudahnya “cukup dengan dirimu memiliki sebuah hal yang memiliki nilai tawar tinggi dan berterima umum di peradaban, maka akan kuberikan cintaku padamu”. Apa itu sekarang? Uang! Atau lebih tepatnya di power of money, maka tidak heran jika ada argumen muncul bahwa woman loves money, karena dengan money, transaksi cinta dengan pujaannya bisa sedemikian rupa diakomodasi walau sang pasangan belum tentu memberikan dia juga cinta. Karena mungkin saja uang dengan kekuatannya yang luar biasa, ditangkap dan dikonversikan seseorang menjadi rasa sayang dan cinta. Hingga muncul pantun jenaka, “Ada uang abang kusayang, gak ada uang Abang kutendang!”. Hahahahahahaha! Akhirnya cinta hanyalah representatif dari uang.

Mungkin itu hanya salah satu contoh saja dari transaksi cinta di kehidupan manusia ini. Contoh lain bagi pria, representasinya adalah “kecantikan”. Tidak peduli apakah wanita memberikan cintanya atau tidak, yang penting cantik dulu lah. Nah, kecantikan dan uang ini terkadang menjadi sebuah kombinasi tidak langsung, akan bersatunya cinta itu sendiri. Masih ingat dengan transaksi barter tidak langsung? Kurang lebih demikianlah cinta pada fase ini. "Saya butuh cinta dan saya punya uang, akan akan kubeli cintamu dengan uangku”, kata seorang dosen yang baru mendapat uang hasil mengajar “3 SKS”nya. (Namun demikian, bagi wanita masa lampau, mungkin bukan mencari pria yang punya uang tapi punya kekuatan sehingga bisa dilindungi dari serangan musuh).

Ketiga, Cinta Sejati Ekonom (gila), sampai juga akhirnya kita pada cinta sejati pada tulisan kali ini. Apa itu para pembaca yang budiman! Ya Cinta yang beranalog dengan fase barter di jaman lampau umat manusia. Mungkin bisa juga disebut dengan Cinta double coincidence of need. Saya membutuhkan sesuatu yang saya sebut dengan X dan saya memiliki Y, sebaliknya, Dia memiliki X dan membutuhkan Y. Kami bertemu dan kami saling jatuh cinta! Cinta yang manis dan indah! Mungkin bahasa gaulnya sekarang adalah “antara kami berdua ada sebuah click” yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang keindahannya hanya bisa dijelaskan oleh dua orang yang sedang jatuh cinta ini. Ini lah pengertian cinta yang hakiki menurut saya sebagai seorang penulis blog Ekonom Gila. Hahahaha...

Namun demikian, laiknya dunia di saat era perekonomian barter, tidak semua orang bisa merasakan cinta ini. Adalah sebuah kebetulan dari kebetulan yang langka. Apalagi terkadang kita walaupun tahu membutuhkan X dan memiliki Y, tapi kita tidak pernah bisa mengidentifikasi apa itu sebenarnya X dan Y secara jelas. Kita hanya bisa merasakan tanpa tahu apa itu. Hal tersebut benar-benar abstrak. Maka tidak heran, jika mungkin hanya sedikit orang yang bisa merasakan cinta yang paling unik ini di era modern sekarang. Toh, meskipun kondisi-kondisi “barter” sudah terpenuhi, kalau ternyata Tuhan menakdirkan bahwa kedua insan ini tidak bertemu, maka tidak akan terjadi “transaksi” atau “perjodohan”. Belum lagi masalah-masalah lain yang bisa menghambat cinta “barter” kedua insan ini.  

Ah, akhirnya saya sadar mengapa selama ini, Adam Smith, Bapak Ekonomi Modern, tidak pernah menikah. Mungkin baginya cinta itu seperti barter, ketika gagal dengan idaman hati, dia tidak pernah menemukan penggantinya yang tepat, dan Tuhan pun menakdirkan dia tidak bertemu dengan pasangan barter hingga akhir hayatnya. Mungkinkah Adam Smith juga terkena penyakit Cinta “barter” ini? Sungguh sebuah romansa cinta yang paling tinggi bagi seorang ekonom gila.

21 Mei 2011
NB: Mungkin dalam arti luas kepada Allah SWT dan kaitannya dengan Manusia masih belum bisa aku jelaskan dalam ilmu ekonomi. Hal itu lebih kompleks, mungkin Fisika Quantum bisa menjawabnya, hehehehhe

Kamis, 19 Mei 2011

Makna Rp2.000.000: Kemana Uang Saya?

Oleh: Hilmy B.

Pada tahun 1980-an sepeda motor dapat dibeli dengan harga Rp2.000.000 saja. Motor yang didapat pun sudah keren untuk ukuran zaman itu, Honda Astrea. Sekarang di tahun 2011 atau kira-kira 20 tahun kemudian jika anda pergi ke showroom sepeda motor dan membawa uang Rp2.000.000 untuk membeli motor, anda akan ditertawakan oleh SPG yang cantik-cantik itu, alih-alih memberikan sebuah sepeda motor terbaru, anda hanya akan diberikan sebuah sepeda tanpa motor. Ya benar, 20 tahun yang lalu Rp2.000.000 bisa dibelikan sepeda motor, sekarang dengan nominal yang sama anda hanya bisa membeli sepeda tanpa motor!

Kemanakah uang kita? Siapa yang mencuri uang kita? Bank? Atau pemerintah? Pada suatu malam, saya mengikuti kajian tentang ekonomi keluarga. Dalam kajian itu dibahas sedikit mengapa harga-harga barang kita naik. Si guru menjawab dengan jawaban yang sederhana namun bermakna, kita saat ini hidup di sistem ekonomi perbungaan (interest economy, maaf ini sih istilah saya sendiri). Dimana bunga bank itu tersebar dimana-mana. Misal anda meminjam uang dari bank sebesar Rp100, dan bank mengenakan bunga atas pinjaman anda sebesar 3%, maka di akhir pinjaman anda harus mengembalikan Rp100 ditambah Rp3 sebagai bunga pinjaman. Berarti jumlah uang yang tadinya Rp100 menjadi R103, terjadilah kenaikan jumlah uang beredar. Bayangkan jika ada 1.000 orang yang meminjam Rp100, maka jumlah uang beredar yang awalnya Rp100.000 naik menjadi Rp103.000. Karena jumlah uang beredar naik, maka ada pihak yang mampu untuk membeli barang konsumsi lebih banyak (ada pula yang tidak mampu membeli) yang pada akhirnya permintaan akan barang konsumsi naik. Sesuai hukum permintaan, jika permintaan naik maka harga akan naik. Secara singkat, alur kejadian di atas bisa disimpulkan sebagai berikut:

Ekonomi bunga->Jumlah uang beredar naik->Daya beli naik-->
Permintaan naik
-->Harga naik
Kenaikan harga ini akrab disebut dengan inflasi dalam literatur ekonomi. Apakah kenaikan harga ini yang menyebabkan uang anda dicuri? Oh jelas, pencurinya tidak lain adalah kenaikan harga atau adalah inflasi. Inflasi inilah yang menyebabkan anda ditertawakan oleh SPG cantik ketika datang ke showroom sepeda motor, karena anda ngotot bahwa Rp2.000.000 sudah bisa beli motor.

Izinkan saya memberi satu contoh lagi ya. Di awal tahun 2005, dengan uang Rp1000 saya bisa beli 4 biji gorengan yang besar-besar secara ukuran. Namun jika di tahun 2011 ini saya datang ke tukang gorengan dengan membawa Rp1000, yang saya dapatkan hanya 2 biji gorengan dengan kualitas ketebalan tempe yang tipiis. Ya betul, lagi-lagi inflasi yang menyebabkan saya tak sekenyang dulu jika makan gorengan!

Oh ya, dari alur kejadian di atas, saya letakkan “Ekonomi Bunga” sebagai pemicu dari kenaikan harga, kok bisa ya? Ya bisa, karena inti dari ekonomi bunga atau perekonomian yang digerakkan oleh bunga adalah anda harus menambah uang lebih dari yang anda pinjam. Saya kasih contoh terakhir ya, alkisah di sebuah negara hiduplah 3 orang, Doni, Adi, dan Jaka. Doni dan Adi adalah orang biasa dan Jaka adalah produsen barang. Suatu saat Doni butuh pinjaman Rp1.000.000 kepada Adi, namun Adi memberikan syarat bunga 5% kepada si Doni. Doni pun setuju dan diakhir periode, dia mengembalikan sebesar Rp1.050.000. Nah karena si Adi sekarang punya kelebihan Rp50.000, maka Adi bisa membeli barang lebih banyak kepada si Jaka. Karena Jaka tahu bahwa si Adi punya kelebihan uang, maka ia menaikkan harga barangnya. Adi tak masalah dengan kenaikan harga dan mampu membeli, maka secara keseluruhan harga barang di negara tersebut naik akibat jumlah uang beredar naik. Bagaimana dengan nasib Dono, ah sial sekali si Dono ini, sudahlah dia harus menambah Rp50.000 sebagai bunga pinjaman, ditambah lagi harga barang ikut naik. Inilah sistem ekonomi bunga yang saat ini berlangsung di seluruh dunia, adanya si kaya dan miskin menjadi sesuatu yang sangat lumrah bukan?

*Penulis adalah alumnus IE 2005 yang jadi pengusaha ngawur