Tampilkan postingan dengan label auditing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label auditing. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Agustus 2013

Jamu Buyung Upik Tak Ada di Toko Sebelah Rumah? Cari Pakai Marketing Audit Yuuuk~


http://warungjamu.com/img/p/139-280-thickbox.jpg

Suatu siang di Bulan Agustus, saya ingin membeli JAMU BUYUNG UPIK di toko kelontong sebelah rumah. Sewaktu tiba di sana, kata penjualnya jamu ini sudah tidak dijual di sana lagi. Bagaimana bisa? Padahal sepuluh tahun lalu, toko ini bahkan menyediakan lebih dari 3 rasa? Mengapa tiba-tiba tidak menjual lagi?

Kalau ada yang lagi males makan karena habis patah hati atau sedang galau, ada satu obat mujarab yang tokcer abis. Apakah itu? JAMU BUYUNG UPIK!!! (yang bukan angkatan 80-90an pasti roaming) Jamu Buyung Upik (.... Ongkerio!!! –ini catchphrase nya. Agak aneh, hahaha) adalah jamu penambah nafsu makan yang diklaim aman untuk anak-anak karena diracik dengan bahan-bahan herbal dan tradisional. Jamu ini sangat terkenal di zaman saya masih SMP dahulu kala (kira-kira sepuluh tahun lalu). Lalu mengapa sekarang penjualannya tidak semasif dulu? Bahkan mungkin tidak banyak yang mengenal brand-nya saat ini. Apa yang salah dengan brand-nya? Apa yang salah dnegan marketing-nya?

Debottlenecking dengan Audit Marketing

Pengauditan adalah serangkaian proses sistematis untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara objektif terhadap pernyataan-pertanyaan dan kejadian-kejadian ekonomi atau asersi manajemen dalam melihat kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan dan menyampaikan hasilnya pada pihak yang berkepentingan. (Audit Keuangan)

Tapi proses audit tuh ya hampir-hampir sama sebenarnya. Makanya, muncullah audit marketing. Makanan apa pula it audit marketing? Marketing audit itu bertujuan: identifikasi akar permasalahan yang kurang optimal. Dengan proporsi 5A (Awareness, Attitude, Ask, Act, Advocate), maka permasalahan itu bisa diidentifikasi. Balik ke Jamu Buyung Upik yang nggak ada di toko sebelah rumah tadi, misalnya, ternyata diketahui dari 100 orang yang dipilih acak, hanya 50 orang yang kenal Jamu Buyung Upik (Awareness). Dari 50 orang itu, hanya 45 orang yang suka Jamu Buyung Upik (Attitude). Dari 45 orang itu, hanya 40 orang yang mau mencari informasi tentang Jamu Buyung Upik (Ask). Dari 40 orang, hanya 35 orang yang membeli Jamu Buyung Upik (Act). Dan dari 35 orang itu, hanya 25 orang yang bersedia merekomendasikan Jamu Buyung Upik pada orang lain (Advocate). Dari hasil audit ini, diketahui bahwa permasalahan muncul di Awareness: kurang banyak yang mengenal merek ini.

Permasalahan bisa diketahui saat jumlah responden pada tiap prosedur menurun sangat signifikan dalam hasil survei audit. Misalnya, majalah Playboy memiliki 99 orang yang mengetahui (Awareness), tetapi hanya 50 orang dari 99 orang itu yang suka (Attitude). Ini berarti majalah Playboy punya masalah di tingkat Attitude: tidak semua orang yang kenal merek ini suka dnegan positioning merek ini.

Penurunan jumlah responden yang signifikan di tingkat Ask dari Attitude berarti orang yang suka merek ini kesulitan mencari informasi tentang merek ini. Sedangkan kasus penurunan jumlah dari tingkat Ask ke Act yang signifikan berarti ada masalah di channel (barang tidak tersedia dalam area distribusi) atau price (harga yang terlalu mahal untuk konsumen). Kasus terakhir tentang penurunan jumlah orang dari tingkat Act ke Advocate berarti banyak pembeli yang kecewa dengan produk ini sehingga tidak mau merekomendasikannya pada orang lain. Nah, dengan mengetahui permasalahan tersebut, langkah marketing selanjutnya pun akhirnya bisa disusun dengan matang dan tepat sasaran. Jadi, permasalahan yang manakah yang terjadi pada Jamu Buyung Upik tadi? Hmmh... hipotesis yang ada di batok kepala saia sih bilangnya di tingkat Awareness, jamu ini sudah kalah dengan yang lain. Iklannya saja jarang di teve, mana mau ingat namanya?

Manfaat lainnya dari marketing audit ini juga: benchmark ke nilai pesaing atau komponen penting dalam industrinya. Misalnya, segmentasi pemasaran perusahaan pada dasarnya bisa dibagi berdasarkan empat level, geographic, demographic, psychographic, dan behavioral. Banyak industri yang melakukan segmentasi sampai ke level keempat, yakni behavioral misalnya yang dilakukan oleh Cossette Apparel Batik Eksklusif (ngiklan dulu gag papa ya cyiiiinnn). Tapi, misalnya industri property, sudah bagus bisa tersegmentasi sampai ke level tiga saja. Well, behavioral orang yang mau beli rumah atau tanah atau apartemen agak susah teridentifikasi kan? (kecuali pengantin baru, hahaha)

Akhirnya, marketing audit akan lebih seperti audit kinerja atau audit kepatuhan dalam dunia audit akuntansi. Proses audit ini, misalnya yang dilakukan di Jamu Buyung Upik, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh saat ini (dari level engagement masyarakat dengan brand lewat 5A tadi) memang sudah sesuai dengan marketing plan yang ditetapkan oleh perusahaan. Salah satu metode analisis yang bisa dilakukan adalah dengan analisa customer experience journey. Bagaimana cara melakukannya? Sampai ketemu di tulisan berikutnya yaaaa! :)

* studi kasus yang diaplikasikan dengan teori dari Majalah Markeeters Juli 2013.

Minggu, 14 Oktober 2012

Bekerja = Belajar + Dibayar

Oleh: Olivia Kamal
Rumusan itu saya dapatkan saat training awal sebelum bekerja menjadi seorang akuntan publik. Kenapa saya suka sekali membahas tentang akuntan publik? Jawabannya kira-kira mirip seperti: mengapa tukang bakso suka sekali bikin bakso dan bukan gado-gado (pertanyaan dan jawaban ini boleh dipikirkan, boleh juga diabaikan). Balik soal bekerja berarti belajar dan mendapat bayaran, tentu rumusan itu untuk membuat kita merasa "FUN" dalam bekerja.

Dalam prakteknya memang bukan berlaku yang sebaliknya. Kita belajar, kita "able" untuk bekerja sesuai standar. Waktu, tenaga, dan pikiran kita persembahkan (korbankan) untuk menyelesaikan pekerjaan yang diterima KAP kita dari kliennya. KAP mendapat bayaran, KAP membayar kita. Itu sih siklusnya, yang secara singkat dan menyenangkan kita singkat: bekerja = belajar + dibayar (pula).

Jujur, walaupun sudah kuliah 4 tahun lamanya, semua ilmu itu bagaikan menguap di udara. "What should I do?" ternyata nggak match dengan "what did I know." Padahal udah training pula selama 2 minggu, dimulai dari hari pertama kerja. Di bagian pertama saya akan membahas tentang garis besar yang dipelajari selama training. Di bagian kedua, apa yang harus dikuasai saat pertama kali menjadi auditor publik.

Isi Training
Isinya kira-kira sama dengan isi textbook Auditing, dengan tampilan slide, modul, rumusan yang dapat diingat. Urutannya udah nggak ingat, tapi nggak ada salahnya mengingat-ingat yang teringat, dan kalau kurang boleh ada yang nambahin ya.

Pertama, pastinya nggak bikin stress. Sebagai bagian baru dari perusahaan, kenalan dengan perusahaan adalah wajib. Profil perusahaan dan standarnya, bagaimana cara berpenampilan, bagaimana cara menerima telpon (telephone courtesy), etika makan, bagaimana cara menghadapi masalah dengan asertif.

Kedua, mengerti dengan benar tentang bidang yang digeluti. KAP biasanya menyediakan service yang dinamakan jasa atestasi. Atestasi dapat disamakan dengan pendapat/opini, tetapi bukan sembarang pendapat loh. Opini yang dapat disebut sebagai jasa atestasi adalah opini yang berdasarkan tinjauan oleh seorang profesional, ada standarnya. Macam-macam audit pernah dibahas EG di link berikut.

Selanjutnya selama seminggu, yang mungkin selanjutnya akan dijelaskan satu per satu di postingan lain adalah: bagaimana alur audit, asersi yang diperlukan, tujuan audit yang ingin dicapai, strategi audit, resiko audit dan menentukan materialitas, memahami akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement), pentingnya supervisi, dsb.

Yang Harus Dikuasai: Worksheet dan Working Paper
Bisa saya bilang sih nggak ada yang spesifik selain: dapat mengerjakan seperti yang dikerjakan tahun lalu. Itu rumusan gampangnya (padahal bikin meringis pas ngerjainnya, nggak semudah seperti yang kelihatan).

Lebih detail, pertama: harus bisa bikin worksheet. Caranya? Buka file tahun lalu, pelajari caranya dari rumusan Excel. Worksheet itu adalah perbandingan antara akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement) tahun ini dengan tahun lalu. Tujuannya agar kelihatan fluktuasi (naik atau turunnya).

Kedua, bisa mulai dicicil dengan mempersiapkan Working Paper yang jadi tugas kita. Working Paper adalah kertas kerja yang berisi:  tujuan, fluktuasi, berbagai analisis, dan kesimpulan dari sebuah akun. Cara buatnya: lihat tahun lalu seperti gimana.

Saya rasa sih ketrampilan paling utama yang diperlukan adalah: bagaimana memahami petunjuk tertulis dan grafik, tinggal bikin seperti yang sudah ada. Simple. Tapi tetap aja tau caranya bukan berarti segala sesuatunya akan berjalan dengan mulus.

Yang Terpenting
Menurut saya, yang terpenting sih, rasa ingin tahu. Instingnya auditor jalan. Kalau memang punya rasa ingin tahu, didukung oleh menguasai teori audit, dan pandai memahami petunjuk tertulis, nggak akan ada banyak hambatan deh.

Kalau ada yang nggak jelas, bisa tanya sama senior yang mensupervisi. Kalau ada yang membingungkan dari data klien, bisa tanya ke klien. Liat-liat sikon juga sih kapan nanyanya. Yah, siapa juga yang nggak pengen nampar kalau kerjanya nanya terus. Dan bagaimana cara mendapatkan jawaban yang diinginkan saat bertanya, adalah sebuah softskill individual.

Mungkin perjuangan saya nggak lama menggeluti dunia perauditoran, tetapi pelajaran hidup terbanyak yang saya peroleh adalah saat meraba-raba di daerah ini. Dapat softskill. Again, curcol :p

Rabu, 09 Mei 2012

Sedikit Sharing Bodong Mengenai Audit

oleh: Benjamin Ridwan gunawan

Apa sih yang menjadi kunci utama dalam urusan efisiensi dan efektivitas dalam audit? Simpel sekali, Jawabannya adalah sampling. Teknik sampling yang efektif.

Seorang auditor dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengaudit, tertera dalam standar audit, bagian ‘standar umum’ nomor 1 (satu), memiliki kemampuan di bidang akuntansi minimal telah menamatkan sekolah akuntansi. Dan standar audit nomor 3 (masih dalam bagian ‘standar umum’), seorang auditor wajib menggunakan kemampuan auditnya sebaik mungkin.

Permasalahan di dunia audit di Indonesia adalah jumlah perusahaan untuk diaudit jauh lebih banyak daripada jumlah KAP nya. Otomatis, setiap KAP di Indonesia akan memiliki klien untuk diaudit tidak mungkin hanya satu dalam satu periode.

Kasus lapangannya, masa akhir tahun adalah periode di mana hampir semua perusahaan yang berdiri di Indonesia membutuhkan jasa audit untuk rilis laporan keuangan. Sedangkan jumlah perusahaan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah KAP (sudah dijelaskan di paragraf di atas). Otomatis, muncul lonjakan permintaan, sedangkan penawaran sedikit. Akibatnya, banyak KAP yang harus lembur demi menyelesaikan proyek ‘bejibun’ dalam waktu yang singkat.

MENGAPA SINGKAT?
Dalam akuntansi, penyajian laporan keuangan harus memenuhi konsep yang tertera di dalam PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan), dan kini ada IFRS. Di dalam PSAK, laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan harus memenuhi beberapa konsep, salah duanya adalah ‘Keandalan’ dan “Relevan’.

‘Keandalan’, laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang andal dan tidak basi, hal ini maksudnya adalah  informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak boleh terlambat pelaporannya, karena akan segera digunakan oleh para user (Pengguna) laporan keuangan dalam mengambil keputusan ekonomi. Bila terlambat maka keputusan yang diambil oleh user tidak akan berguna lagi pada waktu itu, karena informasi yang tertera adalah informasi basi.

‘Relevan’, laporan keuangan harus dapat menjelaskan keadaan sebenarnya kondisi perusahaan secara tepat. Karena lapran keuangan tersebut akan dipakai oleh user untuk mengambil keputusan ekonomi. Bila informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak relevan, maka pengambilan keputusan akan tidak efektif, karena informasi yang tertera tidak merepresentasikan keadaan perusahaan yang sebenarnya.

TANTANGAN SEORANG AUDITOR
Auditor harus mampu menyelesaikan audit laporan keuangan dalam waktu yang efisien, namun tetap efektif dalam mengaudit, sehingga lapooran keuangan yang dirilis (dipublikasikan) dapat tetap dipertanggungjawabkan (relevan).

BAGAIMANA CARANYA
·         Sebenarnya jawabannya simpel, dalam mengaudit hal yang harus dicamkan ada semua dalam ‘standar audit’. Si auditor yang menangani proyek audit harus memiliki kecakapan dan pengalaman audit yang mumpuni.
·         Bila auditor tersebut masih baru, dia harus didampingi atau disupervisi.
·         Sebelum proyek audit dimulai, lakukan perencanaan audit yang jelas dipimpin oleh auditor senior.
·         Lakukan pem-programan audit dengan baik. Kunci untuk menyelesaikan proyek audit dengan efisien dan efektif adalah pada teknik samplingnya.
·         Dalam perencanaan audit, buat program yang terencana dengan baik. Lihat resiko yang dibawa perusahaan. Semakin kecil resiko bawaan perusahaan maka semakin kecil sampel yang perlu diambil.
·         Pelajari baik-baik kondisi bisnis internal perusahaan, utamakan ambil sampel dokumen yang berhubungan dengan bisnis inti (core-business) perusahaan.

INGAT
Semakin banyak kamu mengambil sampel, semakin representatif hasil auditmu, namun mau berapa lama kamu mengaudit? Setahun? Konsep ‘Keandalan’ hilang sudah bila auditmu terlalu lama.

Mengambil sedikit sampel saja supaya range waktu auditmu sedikit. Semakin sedikit sampel yang kamu ambil, resiko subtantif penerimaan hasil audit semakin besar, maka konsep ‘relevan’ hilang.

Pilihlah sampel audit yang proporsional tergantung jenis bisnis perusahaan yang diaudit, dan besar-kecilnya resiko bawaan perusahaan klien auditmu.

CATATAN
Setiap KAP memiliki teknik samplingnya masing-masing. Ada yang menggunakan sampling statistika, dan ada juga yang random (yang ini jelas parah). Biasanya, tiap KAP normalnya mengambil sampel dokumen dari setiap bulan, dari bulan di awal periode sampai bulan di akhir periode. Setiap bulannya, sampel yang diambil memiliki nilai sekitar 20 – 50% dari nilai sebenarnya. Misal dokumen penjualan, dalam bulan Januari terdapat penjualan sebesar satu milyar, ambillah dokumen untuk disampling total nilainya antara 200 – 500 juta. (Mengerti?)

KESIMPULAN
Semakin lama kamu menjalani profesi ini, semakin mahir kamu dalam menentukan sampel. Karena menentukan sampel tidak sesimpel ‘klik by computer’. Terkadang dibutuhkan ‘sense’ dalam menentukan sampel. Audit itu menyenangkan bila kamu tahu ilmunya. J Enjoy it!

Selasa, 13 Maret 2012

Audit Finansial: Definisi dan Hasil

EG pernah membahas tentang macam-macam audit yang dapat dianalogikan dengan hape (Audit Nggak Beda Jauh dari Hape!). Fitur yang ditawarkan oleh jenis hape tertentu umpama tujuan audit: beda fitur, beda layanan yang diperoleh. Kali ini kita akan fokus pada salah satu jenis audit: audit finansial (umumnya frasa "audit" mewakili "audit finansial"), yang merupakan audit yang digeluti oleh auditor eksternal/bekerja di Kantor Akuntan Publik (Menjadi Seorang Akuntan Publik).

Audit Finansial

Untuk tau makanan (xixixi :p) apa audit finansial itu, kita dapat intip dari definisi audit yang kompleks, tetapi lengkap dan menggambar penuh apa itu audit finansial. Kalo kata dosen auditing saya yang cakep pada masa itu, bangun tidur ditanyain definisi audit, refleks harus bisa jawab! So, audit didefinisikan sbb:
Proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai asersi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan untuk mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan  (berdasarkan definisi ASOBAC)
Definisi yang umum digunakan tersebut, menyiratkan beberapa poin penting sbb:
  1. Proses yang sistematik -> logis, berkerangka, ada tahapannya
  2. Memperoleh dan mengevaluasi bukti -> inilah yang dikerjakan auditor 
  3. Objektif -> tidak memihak 
  4. Asersi -> pernyataan satu pihak kepada pihak lain, contohnya: data, laporan keuangan 
  5. Tingkat kesesuaian -> hasil akhirnya seberapa sesuai 
  6. Kriteria yang ditetapkan -> umumnya kriteria yang digunakan di Indonesia adalah PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum)
  7. Mengkomunikasikan hasil -> dalam bentuk audit report (tertulis), penjelasan selengkapnya di sub-judul di bawah.
  8. Pihak yang berkepentingan -> top management, bursa efek, head office, dsb.
Hasilnya?

Hasil audit adalah pendapat atau opini dari auditor. Meskipun tebal dan berisi macam-macam laporan keuangan auditan yang mendukung dsb, intinya pendapat auditor adalah yang terpenting dari sebuah audit finansial.

Hasil audit ada 5 jenis, dari paling oke ke paling nggak oke:
  1. wajar (unqualified) 
  2. wajar dengan alinea penjelas 
  3. wajar dengan pengecualian (qualified) 
  4. tidak wajar (adverse) 
  5. menolak memberi pendapat (disclaimer) 
Yap, bisa saja setelah audit dilakukan, auditor malah menolak untuk memberi pendapat! Bisa jadi disebabkan karena "dibatasi"-nya langkah auditor dalam memperoleh bukti-bukti yang cukup untuk menyatakan pendapat. 

Wajar (unqualified) yang dimaksud dalam istilah audit, mempunyai artian: bebas dari bias (keragu-raguan) dan ketidakjujuran, dan informasi yang disajikan lengkap (full disclosure). Memang sih terlalu abstrak, nggak seperti kalau kita menentukan kewajaran dengan patokan nilai atau harga, dan opini tersebut memang nggak bisa dikeluarkan oleh auditor yang belum menjadi partner.

----


Sekian, sedikit kulit-kulit audit yang akan Anda dapatkan sekiranya berada di awal-awal belajar Auditing. Tertarik tau lebih banyak tentang audit? Lihat list postingan di bawah dengan tag: auditing.

Senin, 27 Juni 2011

ABC of Accounting (EG compilation version)

Tentu saja saya nggak sanggup kalau harus bikin A to Z of Accounting dalam 1 postingan, sehingga saya bikin aja ABC of Accounting (means Basic Things of Accounting). Akuntansi kan juga salah satu bahasan di Ekonom Gila, yang cukup rumit dan pada umumnya nggak gampang dimengerti dengan common sense, jadi marilah kita mulai dari gampang-gampang dan kulit-kulit aja. Siapa tau bisa membantu menurunkan bulu kuduk pembaca yang merinding... xixixi...

So, here is it... ABC of Accounting (EG compilation version) dari "dapur tacit" saya!


Why oh why?

Buat apa sih ada ilmu yang namanya Akuntansi segala? *versi cablak campur kesel*

Penjelasan Gila:
Informasi. Singkat kan jawabannya. Xixixi... Lebih spesifik sih informasi keuangan. Informasi keuangan itu bisa dilihat di laporan keuangan. Laporan keuangan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan (bahasa kerennya sih stakeholder) buat bisnis doooong.
Ibarat kita bikin tugas kuliah, hasilnya sih selembar dua lembar, namun dari ketikan pertama dan ide-ide segar ataupun basi yang ada di sana, ada prosesnya dari ngumpulin data dan cari info sana-sini, mengolah-menganalisis-mengelompokkan, baru deh bisa jadi tuh tugas. Ya, gitu deh akuntansi juga kayak gitu.

Produk Akuntansi 

Di atas udah sebut sih, produknya sih informasi yang namanya "Laporan Keuangan", kayak gimana tuh ya?

Penjelasan Gila:
Kertas gitu lah say, ada tulisan dan angka-angka. Atau versi elektroniknya ya kira-kira juga cem gitu, kertas di-scan or pdf version... Laporan keuangan itu 1 set, isinya 5 macem laporan. *ups... ini kok udah kayak kongkow sama temen gila ye ngejelasinnya, ya anggeplah saya cuma lagi ngobrol yang santay... bukankah lebih enak? Lanjooot!* 5 laporan itu punya nama dan guna masing-masing:
  1. Neraca (untuk liat aset dan kewajiban, wajib balance tuh dua sisi makanya disebut neraca)
  2. Laporan Laba Rugi (ada juga yang menyebutnya Rugi Laba dilandasi pemikiran konservatisme) 
  3. Laporan Perubahan Modal (kalau rugi modal berkurang, kalau laba modal bertambah kan, nah bisa keliatan di sini.  Laporan ini harus setelah ada Laporan Rugi Laba tentunya.)
  4. Laporan Arus Kas (untuk liat kas masuk dan keluar, di sini kita bisa liat "skala" transaksi sebuah perusahaan)
  5. Pengungkapan (keempat laporan di atas kan secara global, nah penjelasan detail ada di pengungkapan).

Logika

Pusing deh belajar akuntansi, banyak banget aturan buat cara ngitungnya. Harus begini begitu. Aaaaa... berguna sih berguna tapi kan pusing banget gitu loh menghafalkannya.

Penjelasan Gila:

Semua juga gitu kali... mau belajar apapun juga begitu kan. Nah, kalau mengikuti logikanya, dan mengulangi mengingat-ingat (menghafal), pasti juga bisa. Beda banget sama yang penting hafal terus bisa menjawab soal. Untuk jangka pendek kepepet besok mau ujian ya bener sih, hafalin aja.
Ya, paling nggak yang umum-umum ngerti dan hafal lah, kalau udah detail nggak kudu kale. Hare gene kan bisa searching, googling, buka buku, nggak usah dibawa susah. Di sini, di Ekonom Gila, kita belajar logikanya dengan fun. *loh kok jadi promo? xixixi ..*

Ekonom Gila tapi kok bahas Akuntansi sih?

Well, Fakultas Ekonomi kok ada jurusan Akuntansi sih? Sama jawabannya. Pernah loh Ekonom Gila membahas soal menyoal "brand" ini. Bacanya di sini ;)

Sabtu, 18 Juni 2011

Kok Saya Diaudit?

Saya nggak pernah sih jadi auditee, kalau berandai-andai saya adalah seorang auditee mungkin ketika kabar audit akan masuk berhembus, yang terlintas di benak saya pertanyaan yang sebagian besar orang juga memendamnya, yakni sebagai berikut:
"Kok saya diaudit, memang saya salah apa yah?"
Bener ga, betul ga, setuju ga? *Hahaha... maksa Tante... Xixixixi... *


Untuk urusan audit eksternal sih, pertanyaan tersebut sudah ada jawabannya: memang dari parent company yang di luar negeri mintanya kita yang di Indonesia diaudit sih. Atau... mungkin karena listing ya wajib dong diaudit. Kalau untuk urusan audit internal?

Tanyakan Tujuan Audit

Seperti yang pernah diulas sekilas di Audit Nggak Beda Jauh dari Hape! (boleh terus baca coy tanpa ngintip artikel, tapi sih serunya intip aja... hahaha... promosi always ea >.<) ehm... secara umum, fokusnya ada 3 hal, yakni: bisa untuk meninjau secara finansial, secara kepatuhan, dan secara efektifitas.

Yang manapun tujuannya, sebagai auditee BERHAK untuk tau, dan tanyakanlah (nggak usah defense nada bertanyanya, kamu nanti malah dicurigai... xixixi...) tentang "audit apa yang akan dilakukan". Ngapain nanya-nanya? Pentingnya auditee untuk mendapat informasi yang jelas tentang audit apa yang akan dilakukan sangat membantu ke depannya dalam hal mengasup data yang dibutuhkan oleh auditor.

Bahkan ya, sebelum auditee bertanya, sebagai auditor internal yang baik dan benar, wajib memberikan informasi yang tepat tentang audit yang akan dilakukan: hingga mana batasannya, data apa yang kira-kira dibutuhkan, bahkan time schedule boleh diinformasikan agar dapat saling membantu (dalam konteks regular audit dan bukan fraud audit).

Kembali ke jalur utama pembahasan tentang tujuan audit, sekilas dapat saya gambarkan bahwa:
  • audit finansial akan "mengintip" data yang ada tersaji di dalam laporan keuangan dan dokumen pendukungnya,
  • audit kepatuhan akan "menelusuri" kesesuaian prosedur yang dijalankan dengan standar yang telah ditetapkan,
  • sementara audit efektifitas akan "menganalisis" hal-hal yang berhubungan dengan uang ataupun cara.
Bekerjasama dan Bertukar Ide

Pergeseran persepsi mengenai keberadaan auditor internal seperti yang pernah diulas dalam Evolusi Anjing Penjaga menjadi Katalisator (sama, boleh baca terus karena akan saya ulang sedikit ide yang berkaitan), yang dulunya anjing penjaga, lalu polisi, lalu konsultan dan partner, dan yang terbaru adalah katalisator. Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, misalnya: enzim. Auditor internal seperti enzim dalam perusahaan/institusi yang toel sana toel sini mempercepat perusahaan/institusi meraih tujuan, lalu misi, lalu visinya.

Apapun peran kamu dalam perusahaan, pasti dong searah untuk mencapai tujuan, visi, dan misi perusahaan. Nggak ada salahnya kan bekerjasama, dengan memberikan data dan informasi yang si "enzim" (bukan encim-encim ya... kwkwkwkw...) butuhkan. Dengan data dan informasi yang ada, dan segenap tacit (pengetahuan yang ada dalam diri seseorang) yang ia miliki, biarkanlah ia berkarya mengaduk-aduk semuanya agar dapat memberi rekomendasi yang oke.

Nggak tertutup kemungkinan juga, solusi yang selama ini sudah terpikirkan namun belum tersalurkan disampaikan kepada auditor. Mereka hanya auditor, bukan dewa. Dan tacit tiap orang berbeda, got it? Logikanya, day-to-day person (auditee) dan just-few-day-person (auditor), mana sih yang lebih menguasai permasalahan? Jadi, pede aja mengemukakan hal-hal yang berguna untuk mempercepat tercapainya tujuan organisasi.

Jadi, bekerjasama dan bertukar ide adalah boleh dilakukan antara auditee dan auditor selama proses audit. Tentunya dengan cara yang layak, etis, dan profesional.

Ngomong Kenyataan Aja Deh

Memangnya ada gitu bisa kayak gitu sama auditor? Hehehe... tergantung dari masing-masing orang memang. Auditornya sendiri, bagaimana mempersepsikan dirinya, bersahabat nggak atau selalu penuh selidik? Tentunya tau dong, hari gini pasti butuh "sepik-sepik" (derived from speak-speak) yang bagus buat relationship, apapun profesi kita.

Sebaliknya, auditee sudah memiliki pola pikir untuk bertanya, bekerjasama, dan bertukar ide belum? Para auditor, bantulah menciptakan suasana tersebut. Tak ada yang mustahil, batu karang pun akan luluh terkikis ombak pantai *neh quote romantis kayaknya om Aul demen.... xixixi...* Ehm... boleh direnung-renungkan.

Oke, kenyataannya adalah persahabatan antara auditor dan auditee itu mungkin! Audit yang nggak menegangkan itu juga mungkin! Ada batas dalam mempunyai hubungan informal memang, jadi berhati-hatilah wahai auditor dan auditee agar nggak keceplosan bicara yang nggak perlu...

*a tribute to my learnings as Internal Audit Officer of Bina Nusantara (Jun 10 - May 11)*

Rabu, 04 Mei 2011

Materialitas yang Nggak Matre

Sering dengar matre? Entah mengapa kata sifat satu ini -- seperti kata sifat "cantik" -- umumnya melekat pada perempuan, lengkapnya baca aja deh di sini (hahaha... malah promosi deh). Materialistis (lebih beken dengan singkatan matre) beda dari materialitas. Materialitas adalah sebuah istilah beken dalam audit, kata dasarnya "material" juga beken, tapi berhubung bekennya nggak sebeken Justin Bieber jadi nggak apa-apa kalau saya yang jelasin... xixixi... ya, mulai serius neh nggak bercanda lagi :D

Materialitas = Batas

Apaan tuh materialitas? Buka saja buku auditing yang membahas tentang materialitas untuk definisi yang bener, nggak usah saya ketikin yah >.< xixixi... enak yaw jadi Ekonom Gila :p

Konsep materialitas sangat mudah dipahami dengan logika. Supaya lebih meresap di jiwa, mari kita pakai contoh kehilangan uang. Sebagai anak kost yang super irit, anggaplah jatah kiriman duit 1 juta sebulan, selidik punya selidik kok rasanya hilang 100 ribu ya? Berasa banget ya kehilangannya, yap yap... itu artinya material (bukan bahan bangunan!). Nah, gimana kalau kehilangan duit 100 ribu itu terjadi pada nasabah kaya raya yang duitnya ditilep MD? 100 ribu mah nggak berasa, 100 juta aja masih nggak berasa, tunggu ditilep milyaran baru berasa kehilangan! See? 100 ribu nggak material untuk orang kaya raya!

Jadi, materialitas adalah "batasan" yang memisahkan yang mana yang material dan yang mana yang nggak material tergantung seberapa gede duitnya. Auditor menggunakan konsep materialitas ini dalam bekerja: ngapain juga ngubek-ngubek transaksi yang kalaupun salah nggak ngaruh gitu loh buat pengguna informasi! Sesuai sih dengan arti materialitas yang bener: tingkat kehilangan/salah saji informasi akuntansi yang menyebabkan pengaruh pada keputusan orang yang menggunakan informasi tersebut. (acem bener yah tadi nyuruh buka buka buku Auditing... hehehe...)

Menentukan Materialitas

Untuk dapat menentukan materialitas, paling nggak harus 2 tahun (kira-kira) jadi auditor, karena nggak gampang juga. Butuh banyak pertimbangan profesional, serius ene. Kalau secara umum sih, materialitas dapat menggunakan pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif, misalnya: 5% dari laba sebelum pajak maupun jumlah transaksi (materialitas ini namanya "financial statement materiality"). Kalau secara khusus? Ada juga, pos per pos gitu, misalnya: kas = 6 juta, total aktiva = 600 juta (kas 1% dari total aktiva), maka materialitas kas juga 1% dari "financial statement materiality" (materialitas ini namanya "account balance materiality").

Apa gunanya materialitas yang sudah ditentukan? Kalau ada kue pai, potonglah sendiri menjadi 3 bagian: materialitas, bukti audit, dan resiko audit. Kalau potongan materialitas udah gede (materialitas tinggi), bukti audit yang ada juga gede potongannya (dokumen yang diperiksa banyak), sisa potongan kecil kan resiko audit (resiko audit menjadi rendah).

Resiko Audit = Keterbatasan Audit

Secara auditor juga manusia, pasti punya keterbatasan. Berhubung yang melakukan audit manusia, yah ada resikonya, yaitu: mungkin saja auditor tidak sadar untuk menyatakan opininya tentang kesalahan penyajian. Auditornya aja nggak tau itu salah, gimana mau ngasih tau, ya udah resiko buat pengguna laporan keuangan yang telah diaudit.

Kalau gitu opini auditor nggak bisa dipercaya dong? Well, sebisa mungkin auditor potong pai untuk resiko audit dengan ukuran yang mini (audit risk minimum berarti assurance yang diberikan maksimum). Biar bisa mini, materialitas harus tinggi dan bukti audit harus banyak. Jiaaaah... giliran auditornya yang tepar, udah deadline gene banyak tuntutan pula.

Untungnya, resiko audit dapat kita jabarkan menjadi: inherent risk, control risk, dan detection risk. Secara matematis sih kayak gini:
AR = IR x CR x DR
Inherent risk (resiko bawaan), persis kayak watak (bawaannya) temen kita: si Yoga ya memang dari sononya lucu, kalau si Aul dari dulu imut... wakakaka... resikonya? Yoga banyak penggemar yang pingin nyuri denger joke-nya, kalau Aul banyak penggemar yang pingin nyuri colek pipinya (ah, bisa aja saya bikin contoh!). Demikian juga uang, resiko bawaannya gede banget, soalnya nggak ada nama kamu kan di uang kamu? Kalau bulpen sih masih ada stiker nama dan siapa juga yang mau ngambil bulpen butut kamu? Berhubung memang dari sononya, ini nggak bisa kita ubah, default, terima saja resiko ini. Biar aman (prinsip konservatisme), mendingan sih semua inherent risk asumsinya tinggi saja.

Next, control risk (resiko kontrol). Lanjut pakai contoh uang dan bulpen, bisa aja hilang keduanya kalau yang punya teledor kayak Yoga (hahaha... again!) tapi kalau orangnya nyimpen baek-baek alias punya kontrol yang bagus seperti katakanlah Aul, jadi kesimpulannya: secure atau nggak tuh aset tergantung dari kontrol yang dijalankan. Evaluasi aja kontrolnya, kalau bagus ya berarti resiko kontrol rendah.
AR = IR (tinggi) x CR (rendah atau tinggi?) x DR (?)
Matematis lagi, dengan asumsi di atas maka, yang menentukan besar kecilnya DR adalah tinggi atau rendahnya CR. Jadi, sebelum mulai ngubek-ngubek, pastikan dulu kontrol yang telah dijalankan, bagus atau nggak. Kalau kontrol perusahaan terhadap asetnya lemah (resiko kontrol tinggi), wajar kan kalau kita memastikan lebih banyak hal (resiko deteksi rendah). Pusing? Saya juga! Saya kabor dolo yaaaaa :D

***

Oh ya, ngomong-ngomong apa hubungan materialitas sama matre ya? xixixi... cari tau dengan jarimu!

Minggu, 24 April 2011

Evolusi Anjing Penjaga menjadi Katalisator

Manusia berasal dari kera? Ya, karena menurut Darwin "evolusi" terjadi pada kera yang mengalami tantangan hidup, dan kera yang berhasil bertumbuh dengan sangat baik dikenal sebagai homo sapiens, ya manusia ini!

Kalau belajar sejarah, banyak sekali revolusi, seperti revolusi prancis, revolusi industri, dan lain sebagainya. Bedanya dengan evolusi, revolusi tak membutuhkan waktu lama, perubahan yang masif.

Persepsi profesi auditor internal tidak lantas berubah dari anjing penjaga menjadi katalisator, tetapi ada proses yang panjang, evolusi persepsi atas profesi auditor internal.

Auditor Internal

Background yang dibutuhkan untuk menjadi auditor internal adalah accounting, tetapi pada prakteknya dibutuhkan banyak penampilan yang oke, kecakapan ngeles, kecakapan membaca situasi, pengetahuan psikologi dan logika yang kritis. Bahasa kerennya: nggak hanya kemampuan teknis!

Keberadaan auditor internal di sebuah perusahaan atau institusi dapat diartikan dalam persepsi yang berbeda: positif dan negatif. Mengapa orang menyewa detektif? Ya! Karena ada yang dicurigai. Lantas, mengapa perusahaan butuh auditor yang "tinggal di dalam perusahaannya"? Mengapa di mall kita melihat satpam yang bertugas? Apakah kita semua pengunjung mall dicurigai? Apakah satpam membuat kita pengunjung mall merasa risih?

Keberadaan auditor internal di sebuah perusahaan/organisasi sebenarnya sama saja dengan keberadaan CEO, karyawan, ataupun petugas bersih-bersih. Auditor internal juga hanya menjalankan yang menjadi tugasnya. Apa persepsi orang kepada auditor internal atas tugas yang dilakukannya?

Evolusi Auditor Internal

Saya olah sedikit dari materi informal yang saja bawakan untuk year-end meeting Departemen Business Assurance Bina Nusantara. Saya rasa ini hanya informasi umum dan tidak bersifat rahasia (confidential) sehingga layak untuk saya paparkan.

Profesi auditor internal juga mengalami evolusi. Tak ada teori yang pasti (atau mungkin saya yang tidak menemukannya), saya hanya susun logika yang saya peroleh dari hasil diskusi kami di meeting tersebut.

Dengan contoh detektif yang disewa oleh pemilik/top management untuk menjadi pegawai perusahaan dan bekerja di dalam perusahaan, auditor internal dipandang seperti mata-mata, kasarnya: anjing penjaga. Dia akan melaporkan apa yang terjadi, akan mengendus "bau", akan membuntuti dan menggigit (ya, lebai dan ekstrim ini penjabaran!)

Perlahan-lahan, persepsi terhadap posisi auditor tersebut diarahkan menjadi lebih netral yaitu: polisi. Polisi menjaga ketertiban, menegakkan hukum, hanya yang bersalah yang "disentuh". Analogi ini seperti satpam. Kehadirannya malah memberikan rasa nyaman yang kita butuhkan karena kita merasa kejahatan disapu bersih olehnya. Kita tentunya bangga bekerja di perusahaan/institusi yang bersih.

Polisi memang bercitra netral, tetapi hati-hati jangan sampai salah ngomong. Kadangkala kita ingin berunek-unek yang ada malah kita yang dijadikan tersangka. Maka, berevolusilah peran auditor internal menjadi konsultan. Dengan konsultan kita, kita tak perlu takut membeberkan fakta. Konsultan ada untuk mencarikan kita solusi.

Apa lagi kekurangan sosok auditor internal sebagai konsultan? Seorang konsultan adalah seorang yang ahli, sehingga solusi yang ia tawarkan tampak tak bisa ditawar lagi. Apakah itu tujuan audit internal? Kalau kita ingin memperbaiki barang yang rusak, kita ikuti petunjuk ahli, tapi bila kita punya ide sendiri, dapatkah kita menyampaikannya? Bila auditor internal sebagai partner, kita bisa.

Peran partner yang berjalan beriringan membuat auditor internal ada sebagai partner saat sesuatu ingin dipikirkan solusinya. Perannya menjadi pasif. Memang bukan anjing penjaga yang galak, atau polisi yang berwibawa, atau konsultan yang ahli, partner posisi yang lebih nyaman, tetapi kurang memberi nilai tambah.

Nilai tambah seorang auditor internal pada perusahaan sesungguhnya terletak pada kemampuan auditor tersebut membantu perusahaan mencapai tujuannya: profit yang lebih, fraud yang minim (maksimum integrity), efisiensi kerja, dan banyak indikator yang bisa disebut sebagai tujuan perusahaan. Tujuan-tujuan berkumpul menjadi misi dan visi. Gampangnya, gimana sih auditor internal dapat membantu perusahaan untuk lebih cepat mencapai tujuannya dengan cara menjemput bola (mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusinya, bukan mencari kesalahan dan mengidentifikasi solusinya). 

Katalisator? Asal katanya katalis. Kalau kita ingat pelajaran kimia (hahaha... mendingan saya jujur dengan bilang: kalau kita nyontek dari wikipedia), katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, misalnya: enzim. Auditor internal seperti enzim dalam perusahaan/institusi yang toel sana toel sini mempercepat perusahaan/institusi meraih tujuan, lalu misi, lalu visinya. Entah dengan cara menyergap yang nggak beres, membereskan yang belum beres, meneliti apa yang belum beres, menerima diskusi tentang apa yang belum beres, tak ada posisi tinggi atau rendah yang disandangnya.  

Kunci Keberhasilan Evolusi 

Kita dapat memilih untuk terperangkap di dalam image (gambaran) lama, dapat pula 'membantu' orang menggeser persepsinya atas image kita. Oh ya, ngomong-ngomong image itu jelasnya apa? Dalam konteks psikologi, image adalah: representasi mental atas hal yang sebelumnya telah dipersepsikan, tanpa menghiraukan stimulus yang sebenarnya. Pusing? Ya nggaklah, analogi saja dengan artis. Apa jadinya kalau Raya Kohandi (ketahuan deh nge-fans >.<) memerankan peran protagonis? Mungkin sebagian besar orang sebelum melihat sinetronnya yang sebenarnya sudah berkomentar: pasti nggak cocok, dia kan dari dulu antagonis!

Mengapa saya katakan membantu orang menggeser persepsinya atas image kita? Karena orang-orang bukan robot ciptaan kita yang dapat kita kendalikan pikiran dan tingkah lakunya dengan remote control. Setiap orang punya kendali atas dirinya, demikian juga kita sebagai auditor internal. Dari mana kita tahu image kita di mata auditee (orang yang diaudit)? Yah, kalau kamu cewek pasti lebih gampang mengetahuinya, kamu bisa rasain cowok itu suka sama kamu kan walaupun tampak luarnya cuek? 

Yup! Kita membaca image kita di mata orang lain dari tingkah laku-nya terhadap kita saat interaksi. Kabar baiknya: attitude (tingkah laku) dapat berganti karena komunikasi. Jadi, image bergeser terlihat dari tingkah laku auditee terhadap kita, yang merupakan respon dari komunikasi. Namun, kabar buruknya yang sebaliknya juga bisa terjadi!

Tingkat persuasi dari komunikasi yang menentukan ke arah mana tingkah laku serta image kita dapat bergeser. Ada 3 elemen persuasiveness (kepersuasian ya bahasa Indonesianya?), yaitu: karakter dari target, sumbernya (dalam hal ini auditor), dan konten dari pesan yang kita sampaikan dalam komunikasi. Ya, semuanya case by case, jadi sekedar contoh saja ya.

Secara teori, semakin tinggi tingkat pendidikan dari target/semakin berpengaruh posisinya maka akan semakin sulit untuk menerima pendapat orang lain. Kita dapat "menggiring" target seperti ini untuk mengatakan solusi seperti yang kita inginkan. Kita seperti Conan yang memberi petunjuk kepada Sonoko, si Ratu Analisis. Biarlah target yang mengucapkannya, seolah-olah ide tersebut original dari target (peran katalisator tercermin banget kan di sini).

Selanjutnya, tentang cara sumber, ada dua prinsip penting: sangat dapat dipercaya (trustwortiness) dan atraktif. Atraktif bukan berarti harus ngomong sambil jungkir balik atau genit, atau mencekam dan membuat bulu kuduk merinding (memangnya lagi main film horor garapan Indonesia?). Atraktif menjadi kunci yang sangat penting dalam komunikasi kita, bagaimana caranya pesan yang ingin kita sampaikan didengar dan menjadi poin yang berarti bagi auditee. Bagaimana caranya produk yang kita iklankan dilirik dan dibeli? Auditor internal memang bertugas memberi rekomendasi, tetapi implementasi diserahkan pada auditee bukan? Kalau nggak suka cara komunikasi auditornya, boro-boro rekomendasi diimplementasikan, diterima aja nggak! Jadi, peran katalisator seumpama markerter yang sedang berpromosi. 

Terakhir, konten dari hasil audit: sebaiknya yang relevan dan bukan mencari-cari kesalahan (jangan sampai auditee dalam hati ngumpat: nggak penting banget gitu loh!). Ada banyak penyimpangan yang terjadi, ada yang besar dan ada yang kecil. Auditor internal dapat menyusun prioritas penyimpangan dan menyingkirkan penyimpangan yang secara substansi tidak mengganggu tercapainya tujuan perusahaan. Nobody is perfect, ada batas toleransi. Kalau kata auditor eksternal: ada materialitas. 

Sekian hasil revisi kunci keberhasilan evolusi yang saya pending saat posting kemaren. Hehehe... enak banget jadi orang gila bisa suka-suka yaw! ;)

Jumat, 22 April 2011

Prahara Suami Auditor

Ada humor yang sarat makna dari forward email yang saya nilai menarik -- mungkin sudah dibaca oleh semua auditor (yang bekerja di Kantor Akuntan Publik) dan disebar lagi dan lagiii. Lalu, saya teringat untuk mengulasnya di sini, karena masuk dalam kategori gila! Terlalu sulit dipahami karena bahasa teknisnya? Nggaklah, sambil belajar gitu lowh apa maksud istilah-istilah "njelimet" tersebut! Humor keluh kesah tersebut disajikan dalam bentuk poin-poin dengan judul: PRAHARA SUAMI AUDITOR.

Saya menikahi wanita yang memiliki karir profesional: AKUNTAN PUBLIK. Ya, dia adalah seorang auditor. Dan coba tebak apa yang dilakukannya ...

Mileage, OT, Out of Pocket?
Aku heran kenapa pengeluaran terus meningkat steadily, sehingga suatu hari, aku mengintip kertas-kertas yang ada di ordner berlabel "Current File". Tak heran! Dia rupanya men-charge mileage (jarak) dan overtime ke dalam anggaran rumah tangga. Dia juga menagihkan Out of Pocket Expense ke dalamnya. Dia gila, dan aku udah bilang itu ke dia. Eh, dia malah bilang, "Ya enggaklah sayang, aku kan auditor..."
Mileage bahasa gampangnya adalah biaya perjalanan, kalau dalam kota dapat diartikan sebagai ongkos taksi dan kalau luar kota dapat diartikan sebagai tiket pesawat. Ya, itu belum termasuk dalam fee audit yang telah disepakati! Dan sebagai tambahan waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dihitung sebagai waktu kerja juga!

Overtime (OT) alias uang lembur. Memang sih ini ditentukan auditor, seperti pajak pendapatan untuk pajak perorangan, jam kerja yang diperkirakan sendiri (self-assessed), dan seringkali kami mendiskonnya. Seperti aturan umumnya, lembur dihitung setelah lewat 8 jam bekerja sehari, sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaan lapangan (fieldwork) selama 1 minggu biasanya dihabiskan sekitar 60-100 jam kerja.

Out of pocket. Biaya ini ada bila klien yang dilayani berada di luar kota. Yang dapat termasuk sebagai out of pocket expenses adalah biaya makan (meal expense), biaya hotel (accomodation expense), dan biaya obat-obatan. Out of pocket biasanya ditalangin dulu oleh KAP, dengan cara memberikan uang kepada auditornya (uang tersebut disebut advance), sementara yang jumlah setelah direalisasinya baru ditagih ke klien.

Representation Letter?
Dia bilang kalau dia cinta aku, dan aku bilang kalau aku cinta dia juga. Tapi tetap aja, dia tidak pernah percaya. Katanya, ada kemungkinan terjadi mis-statement. Dan dia memintaku membuat Representation Letter mengenai masalah ini... Duhhh
Saya juga baru mengetahui apaan sih "Representation Letter" itu waktu kata itu sering disebut-sebut dalam ruangan kerja kami. Secara harafiah representation letter adalah selembar kertas yang mewakili (represent) perusahaan, gampangnya sih bukti tertulis begitu atas sesuatu yang menimbulkan keraguan besar bagi auditor. Selembar kertas itu dibutuhkan auditor sebagai bukti otentik yang mendukung opininya.

Opini?
Tahun lalu laporan keuangan rumah kami mendapatkan opini Qualified karena aku gak menyimpan supporting document atas expensesku.
Hasil akhir dari audit adalah opini. Ya, tujuan dilakukan audit adalah untuk dapat memberikan opini atas laporan keuangan perusahaan. Ada 5 macam opini: wajar (unqualified), wajar dengan kalimat penjelas, wajar dengan pengecualian (unqualified), dan tidak wajar (adverse) tidak menyatakan pendapat (disclaimer).

Opini didasarkan pada pertimbangan profesional (professional judgement) dari tiap auditor, dan dalam kasus suami tersebut, istrinya memberikan opini qualifed karena nggak menyimpan bukti transaksi.

Confirmation Letter?
Awalnya aku heran, kenapa setiap akhir tahun selalu berdatangan surat-surat dari seluruh famili, kolega, termasuk warung di depan rumah. Ternyata, istriku mengirimi Confirmation Letter kepada mereka semua. Waktu aku protes, dia bilang, konfirmasi dari pihak eksternal lebih realible. Cape deh...
Surat konfirmasi (confirmation letter) ditujukan kepada pihak eksternal untuk "mengetes" kebenaran informasi yang diberikan oleh perusahaan, mengenai: piutang (receivable), utang (payable), pinjaman (loan), saham (shareholder), dan uang di bank (cash). Balasan konfirmasi yang diberikan oleh pihak ketiga tersebut dapat lebih dipercaya dong, soalnya nggak ada keuntungan yang mereka peroleh dari berbohong.

Engagement Letter?
Waktu kami menikah, dia memberikan Engagement Letter padaku. Awalnya aku bilang, "Oh, makasih ya sayang ..." Ternyata setiap tahun dia memberikan surat yang sama. Katanya, standarnya mengharuskan dia melakukan itu bila ada indikasi kalau aku keliru memahami tujuan dan scope dari Engagement.
Ya, engagement letter seperti surat kontrak yang mengikat KAP dan klien, hanya sayangnya surat ini berlaku untuk satu periode saja, sesuai masa yang disepakati bersama. Di sana tercantum dengan jelas lingkupan yang menjadi hak, kewajiban, cakupan, ya seperti surat perjanjian kerja antara dua pihak.

Going concern?
Phew ... Kadang kala, aku berpikir, kalau dia membahayakan going concern-nya pernikahan ini. Duh ... Kok aku jadi kebawa-bawa dia...
Going concern (keberlanjutan) suatu perusahaan disimpulkan berbahaya atau tidak dari analisis terhadap laporan keuangannya. Kerugian yang terus menerus tentu saja membahayakan going concern, bisa jadi kebangkrutan sudah diambang mata.

***

Hosh hosh... untung keluh kesahnya nggak 100 poin... bisa saya yang gila merepresentasikannya!

Senin, 18 April 2011

Audit Nggak Beda Jauh dari Hape!

Seperti handphone (hape), audit juga punya banyak bentuk, merek, dan fitur. Semua benda yang pada dasarnya bisa untuk sms dan telpon dan dapat dibawa-bawa secara umum dapat dikategorikan sebagai hape, tetapi dapat kita beda-bedakan lagi. Bila kita lihat dari bentuk, ada hape jebot segede pisang, sebaliknya ada hape mini yang amit-amit mencet tutsnya. Ada pula hape bar, hape sliding, dan hape flip. Mereknya? Nokia, Siemens, Samsung, Blackberry, I-phone, dan merek lainnya. Setiap merek juga punya tipe sendiri, sebutlah: Nokia People, Blackberry Torch, dsb. Fitur? Layar warna sekian pixel (mana jaman hape mono lagi?), suara cling, kamera sekian mega-pixel, keypad QWERTY, dan operating system yang canggih. Lalu, apa bentuk, merek, dan fitur audit?

Beda Audit, Beda Fitur

Secara umum, ada tiga fitur yang berbeda dari audit, yaitu: finansial, kepatuhan, dan efektifitas. Yang namanya fitur, ya taulah… beda fitur, beda layanan yang akan kita peroleh, dalam artian audit finansial ya pasti hasilnya berkaitan dengan finansial saja. Gampangnya, audit finansial fokusnya standar akuntansi,  audit kepatuhan fokusnya prosedur, audit efektifitas fokusnya perbaikan.

Audit finansial dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik, yang merupakan pihak independen yang bukan bagian dari perusahaan (eksternal). Dengan demikian auditor yang melakukan audit sering disebut sebagai auditor eksternal. Bahan utamanya yang diperlukan adalah laporan-laporan keuangan, catatan-catatan pendukungnya, dan tentu saja apakah semua itu sudah benar hitungannya dan sudah sesuai standar akuntansi. Sing pusing puseeeng… saya berkecimpung di bidang ini 2 tahun kurang dikit.

Audit kepatuhan, yaitu kesesuaian dengan prosedur/aturan yang telah ditetapkan. Contohnya: audit oleh BAPEPAM kepada bank atau audit oleh pemberi ISO sebelum memberikan ISO. Sudah ada aturan main yang jelas yang telah ditetapkan sebelumnya, lalu audit dilaksanakan untuk mengetes apakah aturan main tersebut telah dijalankan dengan benar.

Dalam rangka audit kepatuhan, dapat juga dilakukan oleh pihak internal perusahaan, tentunya bila yang ingin diketahui adalah kesesuaian dengan prosedur/aturan internal. Misalnya: purchase order (dokumen pembelian yang akan dikirim ke vendor) bila nominalnya di atas 100 juta harus ditandatangani oleh CEO.

Yang terakhir, audit efektifitas yang banyak macamnya, biasanya dilakukan oleh orang yang biasa disebut sebagai auditor internal. Salah satu jenis, untuk gambaran, seperti yang saya lakukan sekarang: audit efektifitas finansial. Fokusnya perbaikan agar perusahaan tidak masuk ke “lubang yang sama lagi”, sub-fokusnya: fraud (penyelewengan), pendapatan yang potensial tetapi terlewatkan, biaya yang tidak perlu tetapi dikeluarkan, dan kecenderungan akan merugikan ke depannya bila suatu hal tidak diperbaiki sekarang.

Ketiga perbedaan fokus audit tersebut dapat terasa dengan contoh berikut: ada mesin A dibeli 200 juta untuk produksi. Audit finansial akan meninjau bahwa: mesin tersebut benar ada, dokumen-dokumen yang mendukung harganya 200 juta ada, mesin tersebut lalu diakui sebagai aset dan bukan sebagai persediaan, mesin tersebut disusutkan dengan metode yang benar. Audit kepatuhan akan meninjau bahwa: ada tender sebelum pembelian dilakukan, yang menandatangani dokumen pembelian dan pembayaran adalah orang-orang yang tepat, telah dilakukan uji coba fungsi mesin. Audit efektifitas akan meninjau bahwa: tidak ada mark-up dalam pembelian mesin tersebut, spesifikasi mesin sesuai dengan yang diperlukan, harga beli mesin wajar sesuai harga pasar.

Hanya satu mesin, tapi beda yang “diliatin” kan? Sebagai wrap-up, demikian juga saat kita membeli hape. Hanya satu hape, tapi begitu banyak review yang dilakukan: bagaimana kameranya, kualitas suaranya, kapasitas memory-nya, dan lain sebagainya.

Merek dan Bentuk

Setelah jelas soal fitur, bagaimana dengan merek dan bentuk? Ini tambahan saja sih, karena ada 3 aspek dalam analogi hape kan: fitur, merek, dan bentuk. Hehehe… belom mabok kan?

Merek. Definisi bebas saya tentang merek: satu kata yang mewakili barang yang ingin dijual oleh penjual dan menarik untuk dibeli oleh pembeli. Nokia sudah pasti hape yang begini-begitu-begono, Blackberry sudah pasti hape yang lucu-imut-menggemaskan (iya itu suka-suka saya, sebagai contoh aja gitu loh). Jadi, audit? Mengerikan-merepotkan-mencari kesalahan? Bagaimana kalau Audit Department diganti dengan: Business Assurance Department? Bina Nusantara melakukannya.

Bentuk. Saya suka hape dengan bar yang simple ketimbang hape bar QWERTY jaman sekarang. Bagi saya, tuts hape bukan masalah penampakan belaka (hahahaha kayak setan aja, maksud saya tampak luar), tetapi juga bagaimana cara memencetnya. Untuk diterima dengan baik, audit bukan hanya sekedar tujuan baiknya, tetapi juga bagaimana tampilannya dan cara membawakannya. 

***

Hape pada dasarnya untuk komunikasi, tapi ada cem-macem. Audit pada dasarnya untuk membantu perusahaan mencapai tujuannya, juga ada cem-macem juga gitu lowh…