Tampilkan postingan dengan label Priyo Pamungkas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Priyo Pamungkas. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Kenapa Migas Kita “Dikuasai” Asing - Part 1 (kurang modal??)

Oleh: Priyok Pamungkas

Saya geli sendiri sebuah postingan di FB yang menggambar peta Indonesia yang dipenuhi berbagai bendera negara asing sebagai sebuah penanda perusahaan dari negara mana saja yang menguasai eksploitasi migas di negara kita, dan lucunya tak aada bendera Indonesi a di sana. Sangat provokatif memang, terlihat di posting-posting komentar setelahnya penuh emosi nasionalisme.

Memang tak ada yang salah, tapi beginilah dunia yang begitu gelap, minim informasi, dan semi-tertutup. Dunia Migas. Sehingga tak salah orang-orang diluar sana teriak-teriak dengan petantang-petenteng tentang migas kita yang konon dikuasai asing. Apa betul ini adalah masalah kita yang tidak punya modal? ataukah ini masalah teknologi? atau ini adalah masalah SDM?

Atau yang paling serem apakah betul teori konspirasi yang selama ini beredar bahwa sumber daya migas kita telah diatur sedemikian rupa sehingga dikuasai oleh pihak asing atau ini adalah hasil dari kebodohan kita sendiri dalam mengelola energi. Wallahu ‘Alam, saya juga tak berani memastikan, yang jelas saya punya fakta, silakan anda mengambil kesimpulan masing-masing.

Industri migas adalah industri yang padat modal. Siklus hidupnya pun cukup panjang, mulai dari fase eksplorasi berupa pengambilan dan kajian data-data geologis dan sebagainya, yang tentunya belum bisa menghasilkan apa-apa, lalu dilanjutkan dengan pembuktian analisis geologis tersebut dengan cara membuat sumur eksplorasi yang biayanya bisa mencapai USD30juta untuk satu sumur lepas pantai, padahal pengeboran tersebut hanya berpeluang berhasil 1:10, sehingga perusahaan migas perlu berjaga-jaga menyiapkan uang USD300juta in case butuh gali 10 sumur, lagi-lagi perusahaan migas belum mendapatkan revenue apa-apa.

Apabila akhirnya ditemukan, maka perlu pengeboran lanjutan dan pengembangan fasilitas produksi yang membutuhkan dana ratusan juta dollar. Sampai pada akhirnya perusahaan migas bisa menikmati pendapatan mereka setelah fasilitas produksi itu jadi, itu pun masih harus keluar biaya untuk maintenance dan antisipasi penurunan produksi akibat faktor alami. Dan saudara-saudaraku sekalian, proses siklus ini bisa memakan waktu 20 tahun!!!!

Sifat alamiah industri migas inilah yang akhirnya seperti membuat tembok tersendiri apabila ada investor yang ingin coba-coba bermain minyak, kalau bahasa kerennya mungkin barrier to business. Butuh kemampuan finansial luar biasa untuk melakukannya. Mari kita buat skenario terbaik. Untuk kegiatan eksplorasi buth USD10juta, sumur eksplorasi  5 buah USD150jt, dan pengembangan fasilitas produksi dan sumur produksi USD200jt jadi total USD360jt atau Rp.3,420,000,000,000 (baca: Trilyun) untuk satu lapangan.

For your info, tempat saya bekerja dalam satu blok memiliki 5-9 lapangan. Jadi kalau mau terjun ke dunia migas taruhannya adalah Rp 3,5 T.  Di seluruh Indonesia setidaknya ada 157 Wilayah Kerja Migas (blok produksi) yang berproduksi.

Anggap saja satu blok produksi memiliki 5 lapangan, maka investasi yang diperlukan rata-rata adalah Rp2700T belum termasuk maintenance yang perbulan bisa mencapai USD50jt. Sehingga bisa dibayangkan betapa betul-betul padat modalnya bisnis  ini. Lagi-lagi tidak sembarangan perusahaan bisa masuk kesini. Itu sebabnya perusahaan nasional kita, Pertamina, tak mampu berbuat banyak dalam kancah perminyakan di Indonesi. Dengan laba yang “hanya” Rp 21T, yang mana setengahnya disetorkan ke negara, tak banyak yang bisa dilakukan oleh Pertamina untuk mengelola seluruh blok di Indonesia.

Walau memang ada cara lain dalam mengelola migas kita sendiri, yaitu dengan mengambil blok yang sudah habis masa kontraknya, namun itu biasanya adalah lapangan yang sudah decline. Namun tetap saja, uang masih bicara dalam maintenance dan pengembangan blok “sisa” KKKS lain tersebut, seperti yang dilakukan Pertamina untuk Enhanced Oil Recovery terhadap sumur-sumur tuanya (yang kebanyakan ex-KKKS lain). Sehingga menyerahkan seluruh pengelolaan migas di Indonesia adalah merupakan kebijakan yang kurang bijak menurut saya.

Lantas ada suara lain yang bilang kalau Pertamina tidak bisa mengelola sekarang kan bisa disimpan nanti untuk anak cucu kita (saya ingat betul ini perkataan dosen saya, Pak Revrisond) sambil menanti Pertam. Saya sendiri sangat setuju mengenai hal ini, 1000%. Namun ada constraint lain untuk mewujudkannya. Yaitu kita sendiri. Kenapa kita sendiri?nah akan saya lanjutkan di tulisan
selanjutnya.

Senin, 07 November 2011

Genba (A Silaturahim Based Leadership)

Oleh: Priyok

Katanya silaturahmi memperpanjang umur/rezeki. Sudah banyak rentetan hujjah teologis tentang kalimat tersebut. Saya harus meyakininya karena memang itulah ucapan kanjeng nabi SAW. Beberapa dari kita mungkin lebih dari meyakininya, tapi telah melakoninya dan merasakan manfaatnya. Bertemu orang baru atau kawan lama, bertukar cerita dan pikiran, mempelajari kehidupannya, dan saling memberi inspirasi. Maka tidak heran, kalau orang yang maju tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya tapi juga jaringan (silaturahminya). Seperti halnya Nazaruddin, dia bukan lulusan luar negeri, apalagi UGM. Namun berkat jaringan silaturahmi yang dimilikinya Nazaruddin menjelma sebagai pengusaha muda yang sukses karena mendapatkan order dari ”relasi-relasi” silaturahminya.

Saya ingin bicara kepemimpinan, lebih jauh tentang kepemimpinan berbasis silaturahmi atau bahasa gaulnya Genba. Genba (現場, genba)dalam bahasa Jepang secara umum bermakna "lokasi kejadian" atau "lokasi sebenarnya", sedangkan dalam manajemen istilah ini mengacu pada "lokasi produk atau jasa layanan dibuat". Genba adalah upaya manajemen (terutama manajemen level atas) untuk memahami masalah-masalah akar dengan turun langsung ke lokasi produk. Bahasa simplenya silaturahmi ke cabang dan karyawan-karyawan. Berbicara dengan mereka tentang masalah-masalah aktual, menjadi pendengar keluhan-keluhan mereka dalam menjalankan bisnis, dan memberi motivasi untuk perbaikan. Diskusi, melihat, dan solusi. Genba adalah senjata ampuh bagi eksekutif untuk menembak inti permasalahan yang menggerogoti operasional perusahaan yang jauh lebih efektif daripada menyewa konsultan.

Genba tak hanya berarti kunjungan fisik bos ke pada bawahannya dengan sambutan meriah dan pola ABS (asal bapak senang). Hal tersebut malah mengaburkan tujuan genba yang ingin mendapatkan gambaran sebenernya tentang kondisi actual. Dalam perusahaan modern, konsep genba diadopsi dengan cara membuka keran-keran informasi, membuka jarak atasan-bawahan, mendengarkan karyawan sehingga dari sana tercipta suasana terbuka, tak sungkan memberi masukan, kultur respek, dan ujung-ujungnya jelas peningkatan produktifitas. Caranya banyak dan simple, townhall meeting (pertemuan dengan seluruh karyawan untuk memberi info dan mendengar unek2, bahkan pernah saat townhall meeting di kantor saya. Ada yang pgn naek gaji, dan CEO saya langsung menanggapi dengan menjanjikan kenaikan yang layak), sidak, bulletin internal, bahkan dengan tulisan.

Lantas apa yang akan terjadi tanpa Genba?Saya pernah memasuki perusahaan farmasi milik Negara yang memiliki tradisi miskin genba. Yang saya rasakan ruangan-ruangan begitu hening, kalau ada bos. Dan berubah menjadi liar (gossip dan perilaku) apabila tidak ada bosnya. Kerja-kerja mereka berorientasi ABS, menutupi keborokan, dan takut salah. Saya pernah mendengar cerita dari orang dalam, mereka pernah menyewa konsultan untuk mengatasi masalah ini. Dan usul dari konsultan itu adalah Genba, dengan cara menutup toilet eksekutif untuk bos-bos dan menjadi satu dengan toilet umum. Harapannya para petinggi tersebut masalah karyawannya.

Ada 2 contoh pemimpin yang begitu masyhur karena kegiatan genba yang dilakukannya dan sangat saya kagumi. Michael D. Ruslim (alm.) & Dahlan Iskan.

Saat diberitakan meninggal, sontak seluruh karyawan PT Astra International, Tbk. mengalami kesedihan yang teramat dalam. Saya kebetulan saat itu bekerja di perusahaan besutan William Soeryadjaya tersebut. Duka itu begitu terasa setiap anda memasuki kantor-kantor Astra. Mengapa bisa demikian? Michael adalah sosok yang sangat rutin melakukan Genba. Silaturahmi ke cabang dan anak perusahaan Astra, mengadakan temu muka dengan karyawan, rantai membuka rantai-ramtai informasi yang membelenggu. Dari situ dia membangun tak hanya business relationship, namun juga relationship yang lebih personal dengan seluruh karyawan unit usaha Astra. Dengan kepemimpinan seperti itu, Michael tidak membuat jarak dengan bawahannya, karyawan pun menjadi semakin bersemangat karena ada perasaan diawasi dan senantiasa didengar.

Lain lagi Dahlan Iskan. CEO PLN ini malah sempat-sempatnya mengunjungi ranting-ranting PLN. Ranting lho saudara-saudara, tingkat kelurahan. Kalau dipikir, buat apa sampai harus mikirin sampai ke ranting untuk kelas CEO. Tapi itu yang dilakukan Dahlan. Tak jarang Dahlan pula yang harus turun tangan menentukan lokasi dimana PLTA, PLTU, atau PLT Geothermal harus dibangun. Dahlan berprinsip, genba yang dilakukannya hanya untuk melihat masalah langsung ke akarnya, karena masalah itu biasanya dimana-mana sama. Sehingga dengan mengambil beberapa sample di beberapa tempat, masalah satu perusahaan akan selesai. Masalah trafo misalnya, sebelum di-genba oleh dahlan, tak ada satupun kepala ranting, cabang, atau wilayah yang tau berapa jumlah trafo yang masih berfungsi baik, rusak, dsb. Bahkan berapa jumlah trafo pun tak tahu!!!padahal 70% mati lampu yang diakibatkan selain kurangnya daya disebabkan oleh rusaknya trafo. Dahlan tak akan tahu masalah ini tanpa Genba. Tak hanya melalui kunjungan. Dahlan mengembangkan Genba melalui tulisan yang dapat dinikmati oleh karyawannya di website PLN.

Bagi saya Genba lebih dari sekedar pengawasan. Ia adalah business interaction. Entitas bisnis adalah kumpulan dari manusia yang tentunya membawa sifat manusia. Homo homini socio. Genba adalah salah satu pengejawantahan pemanusiaan perusahaan (ngewongke wong). Dari sisi komersial, salah satunya manfaat lain dari Genba, seorang CEO dapat langsung mengambil keputusan terbaik.

Maka apabila pemimpin mengunjungi rakyatnya dengan puluhan voorijder dibelakangnya, lambaian bendera ratusan anak SD sepanjang jalan, “karpet merah” yang dibentangkan di atas jalanan becek, angka-angka statistik yang berserakan, sambutan yang meriah dari kepala daerah setempat, payung yang melindungi kepala, dan lain sebagainya. Sesungguhnya pemimpin tersebut melihat namun ia buta.

Kamis, 03 November 2011

Financial Engineering & Derivatives ala Bang Toyip


Di kelas Bank & Lembaga Keuangan (BLK), garapan Bu Sri Adiningsih, mahasiswa ditugasi untuk memberi kan dua presentasi. Yang pertama adalah presentasi mengenai isu keuangan yang sedang hot. Kedua, adalah presentasi wajib berkelompok dengan topic yang telah ditentukan oleh Bu dosen. Presentasi pertama tak terlalu menarik, hanya membahas tentang krisis global yang terjadi waktu itu. Pada presentasi kedua, kelompok kami kelompok kami ditantang untuk menjelaskan tentang financial engineering dan derivatives. Uhhh, bahasan seksi yang amat sulit.

Ya amat sulit karena karena kami harus menjelaskan teori derivatif dan produk-produknya yang ribet itu di depan mahasiswa semester 7. Beuh, ikut kelas keuangan dasar saja sudah membuat saya mengulang 4 kali, gimana ini harus menjelaskan tentang perekayasaan keuangan dan derivatif. Dasar saya yang tidak ingin melewatkan presentasi menjadi hal yang biasa2 saja, saya pun serius menggarapnya.

Financial Engineering
Financial Engineering adalah disiplin ilmu yang berusaha memanfaatkan perkembangan mutakhir teori-teori keuangan (yang sebagian telah disebut di atas) untuk menciptakan produk-produk finansial yang bisa menangani kebutuhan-kebutuhan finansial yang semakin kompleks seperti opsi-opsi yang eksotik dan specialized rate of interest. Membaca definisi yang saya ambil dari Wikipedia ini saja pasti sudah membuat anda pusing tujuh keliling. Belum lagi kalau saya sebut beberapa produk dari financial engineering seperti cross currency swap (nyapu2 lintas mata uang?), unit link (nyambungin unit apaan mas?), Mortgage Backed Securities (satpam perumahan?), Negotiables CDs (kancut aja pake nego, 10rb 3 dah), ataupun Forward Rate Agreement (Terlalu maju po piye?).

Atas keribetan tersebut saya mencoba mencari cara yang mudah dalam menjelaskan financial engineering. Setelah mencari literatur kemana-mana saya menemukan kalau ternyata financial engineering itu begitu mudah dan bisa anda ciptakan sendiri. Ya, anda sendiri yang menciptakannya. Terserah imajinasi, inovasi, dan kreatifitas anda. Yang penting bagaimana menjual produk financial engineering yang anda ciptakan sehingga laku dan bisa “menipu” yang membeli. Tentu saja dengan menawarkan return memikat, risk free, additional feature, bahkan kalau perlu gratis piring cantik setiap pembelian 3 buah produk financial engineering anda.

Semua inovasi yang diimplementasikan tersebut menggunakan beberapa teknik dasar, yaitu:

1. Increasing or reducing risk (Risk Management),
2. Pooling risk (Mutual Funds)
3. Swapping income streams (interest rate swaps),
4. Splitting income streams (‘stripped’ bonds)
5. Converting long-term obligations into shorter-term ones atau sebaliknya(maturity transformation).

Financial Engineering A la Bang Thoyib
Saya tak mau bicara tentang produk-produk beribet di atas. Disamping perlu penjelasan panjang lebar, saya juga ga paham. Jadi percuma saja. Hehehe.

Saat menyusun presentasi di kelas Bank dan Lembaga Keuangan tersebut, saya menemukan cerita financial engineering yang sangat unik di internet. Bukan karena kerumitannya atau keeksotikannya. Tapi karena financial engineering yang satu ini membuktikan kepada anda siapapun bisa melakukan financial engineeringnya sendiri dan satu lagi financial engineering yang ini dilakukan oleh tukang ojeg!!!!

Bang Hasan, sebut saja begitu nama tukang ojeknya, adalah seorang bapak yang bertanggung jawab dengan menjadi tukang ojeg untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Seperti manusia lain yang menginginkan peningkatan dalam hidupnya, Bang Hasan menyadari bahwa untuk meningkat dia tak mungkin melakukan hal yang sama, tukang ojek. Apalagi selama ini dia hanya menyewa motor dari tetangganya mencapai 500rb sebulan. Dia butuh lebih dari itu. Dan dimulailah project peningkatan kualitas hidup melalui financial engineering.

Singkat cerita, dengan uang Rp 500,000 hasil tabungannya. Dia mengambil kredit sepeda motor selama 3 tahun. Setelah mendapat motor tersebut, dia lantas menemui temannya dan menggadaikan motor tersebut kepadanya dengan harga 3 juta rupiah. Tanpa batas waktu, tanpa bunga mencekik. Sang kawan pun berpikir, toh dia juga bisa pake motor baru, itung-itung ongkos sewa. Dengan uang 3 juta tadi, pikiran Bang Hasan melayang kemana-mana. Dan dimulailah sebuah prosesi financial engineering, mirip yang dilakukan ahli-ahli derivatif di Amerika sana. 1 juta rupiahnya ia gunakan sebagai uang muka pembelian 2 buah motor baru yang kemudian digunakan saudara2 Bang Hasan untuk mengojek. Bang Hasan menjadi juragan ojek kali ini!!! Tak berhenti sampai di situ. Uang 2 juta sisanya digunakan sebagai modal usaha jualan bakso. Memulai dari uang 500,000 dan beranak pinak jadi 3 buah motor dan satu gerobak bakso senilai 35 juta, atau 70x lipat!!!

Dan seperti itulah financial engineering bekerja. Terlihat sangat menggiurkan bukan. Uang yang hanya sekedarnya, menjadi bikin keder. Namun dibalik itu semua kita sendiri bisa melihat keringkihan dibaliknya. 35 juta yang dihasilkan bukan 35 juta yang sebenernya, Karena itu semua dibangun dari fondasi yang tak kuat, utang. Seperti membangun rumah di atas jembatan (apalagi jembatan sirothol mustaqim). Apa yang dilakukan Bang Hasan sangat-sangat berisiko. Begitu tidak bisa membayar salah satu kewajibannya, bagai efek gaplek (maksudnya domino effect) semua akan hilang tanpa bekas. Anggap saja ketika usaha ojeknya tak berjalan mulus, maka Bang Hasan akan kebingungan kemana mencari dana untuk menutup lobang. Dan pada akhirnya menjerat Bang Hasan kepada jurang kemiskinan dan kehilangan segalanya.

Tapi begitulah financial engineering. Atas segala kebobrokannya yang terpampang jelas seperti cerita di atas, semua tetap dikemas secara cantik dan menarik perhatian kita.

Sabtu, 17 September 2011

Kisah Kasih Bajaj (Seri Sumbangsih untuk Jakartaku)

Oleh: Priyok

Jarang ada tulisan yang membahas bajaj secara ekonomik dan akademik. Ketika saya coba cari di google pun, pembahasan bajaj sudah kalah seru dibandingkan cucu-cucunya, Bajaj Pulsar dll. Tak pernah kendaraan lucu beroda tiga ini masuk dalam diskusi ilmiah. Ya, bajaj memang sudah terpinggirkan. Kalau di jalanan pun mereka biasanya nyelip di pinggir. Jadi pantas kan disebut kendaraan pinggiran. Bajaj terkenal sebagai saingan Tuhan. Karena hanya sopir dan Tuhan saja yang tahu kapan dia akan belok dan melakukan manuver.

Di Jakarta ini tercatat sekitar 15.000 ekor bajaj yang berkelana di hutan Jakarta. Bajaj dikenal sebagai kendaraan dengan output yang komplit. Knalpot yang mengeluarkan asap hitam, bunyi yang memekakan telinga, badan yang gemetaran, bensin yang boros, juga supirnya yang sering kencing sembarangan di pinggir jalan. Masalah ini yang membuat ahli pikir di Jakarta mewacanakan untuk membuang bajaj dari bumi Betawi yang kita cintai ini. Tapi sebenarnya apakah betul bajaj harus benar-benar dirumponkan atau kah kita harus memberikan stimulus agar denyut nadi bajaj kembali mengalir (baca:revitalisasi).

Bicara sistem transportasi, kita bisa membaginya kedalam beberapa bagian berdasarkan jalur yang dilewati. Masing-masing sistem memiliki pasarnya sendiri-sendiri sehingga sesuai namanya, sistem, pola tranportasi yang akan saya sebutkan kemudian ini  :

1. Sistem Transportasi Jalan Utama
Transportasi ini melewati jalur utama kota. Jalur ini biasanya dilayani oleh angkutan bermuatan besar seperti bus, kereta, dsb. Ciri-cirinya adalah melewati tengah kota (yaiyalah, orang jalur utama), ngangkut banyak orang, dan juga ongkosnya relatif murah. Contohnya di Jakarta tentu saja KRL, bis yang melewati Gatsu, Thamrin, By Pass, Senen, Lebak Bulus, dll.

2. Sistem Transportasi Jalan Non-Utama
Transportasi ini merambah daerah-daerah sudut kota. Jalurnya lebih variatif, ribet, dan belok-belok. Moda angkutannya pun juga lebih kecil, bis ¾ (mang celana), ataupun minibus. Contoh konkretnya adalah mikrolet.

3. Sistem Transportasi to the point
Sistem ini adalah transportasi yang directly langsung ke tujuan kita. Mau dari pasar, kantor, ataupun dari kuburan bisa dianter kemanapun kita mau. Karena pelayanannya yang premium, transportasi ini relatif lebih mahal dari angkutan masal lainnya. Betapapun moda transportasi ini tp diperlukan. Nah, bajaj termasuk dalam kategori ini. 

Bagi anda yang punya uang, mungkin naek bajaj agak-agak sedikit geli. Disamping memang tongkrongannya yang menggelikan, bajaj juga dipandang tidak elit dibanding taksi. Bajaj memang milik orang menengah ke bawah. Mencarinya harus di pasar atau daerah yang ramai orang kere. Hal ini yang menyebabkan bajaj memegang peranan luar biasa dalam ekonomi kelas bawah. Rakyat butuh kendaraan model begini untuk menunjang hidup mereka. Lantas haruskah kita membuang bajaj kalau begini?

Kalau saya jadi gubernur DKI jakarta, saya akan membuang seluruh bajaj yang ada di jakarta. (wah gubernur tidak pro rakyat!!!)

Tenang dulu...karena saya akan menggantinya dengan bajaj gas. Kenapa bajaj gas menjadi alternatif solusi dari saya?

Saya pernah naik motor di daerah senen dan sebagai pengendara motor yang baik dan benar maka saya pun mengeluarkan keahlian saya untuk selip-menyelip. Akhirnya saya pun berada di antara kendaraan pinter Phanter generasi terbaru dan kendaraan kecil berwarna biru yang ternyata bajaj gas. Dan ternyata, suara bising yang menjadi cap bajaj dikalahkan oleh suara panther. What?ya betul, kendaraan yang nyaris tak terdengar itu masih kalah halus suara mesinnya daripada Bajaj gas. Begitu pula getarannya. Ah, dua masalah selesai. Tak ada lagi suara bising. Selain itu bahan bakar gas juga membuat kendaraan tersebut rendah kadar polusinya. Benar-benar luar biasa kendaraan ini. Kakak-beradik yang benar-benar berbeda.

Oleh sebab itulah kendaraan ini bisa menjadi solusi transportasi murah yang sehat. Murah dan sehat bukan hanya untuk konsumen tapi juga untuk pemerintah. Kok bisa?ya bisa, karena kita bisa menghemat anggaran subsidi BBM. Hitung saja 15000 unit bajaj yang menghabiskan kira2 5 liter bensin sehari. Selama setahun bajaj akan mengkonsumsi 27.375.000 liter bensin. Nah, apabila kita sepakat mengganti bajaj yang ada sekarang dengan bajaj gas, maka kita akan menghemat anggaran sebesar 931 Milyar rupiah setahun!!!(asumsi subsidi BBM Rp 4000 – selisih dr harga bbm non subsidi).

Jumlah yang kecil memang dibanding APBN kita yang berbobot 1.200 Trilyun. Namun penghematan tersebut dapat kita gunakan sebagai modal untuk revitalisasi bajaj tanpa harus membuat sang pemilik bajaj menanggung beban lagi. Harga bajaj gas berkisar 60juta, artinya dengan penghematan setahun kita bisa membeli 15516 ekor, eh unit bajaj untuk dibagikan gratis ke rakyat (walau saya tak akan melakukan itu, saya lebih suka memberi kredit lunak pada mereka). lebih banyak dari jumlah bajaj yang ada sekarang dan bisa melakukan lebih banyak hal lagi dengan penghematan di tahun2 berikutnya. Memang ada efek lain yang perlu kita pikirkan juga. Tapi sepertinya ini kabar baik untuk semuanya.

Lantas apa lagi yang dinanti pemegang kebijakan di daerah. Apakah hendak membunuh bajaj pelan-pelan sehingga para pedagang pasar, pendatang yang baru datang dari desa, dan masyarakat kecil lainnya kebingungan mencari angkutan yang murah dan langsung ke tempat tujuan. Ataukah masalah bajaj adalah masalah yang terlalu kecil dibandingkan bendungan di teluk jakarta, patung MH Thamrin, atau pembangunan mall.

Atau menunggu saya jadi Gubernur DKI Jakarta?

 *ngarep jadi Gubernur DKI 2032

Rabu, 10 Agustus 2011

Financial Freedom Katenye...



Oleh: Priyok

Saya sedikit terusik ketika kemarin saya mengikuti sebuah training dan trainer pada saat itu bertanya kepada para peserta. What do you want to be, What is your target, pertanyaan khas trainer. Yang menarik bukan pertanyaannya, karena sudah sangat umum sekali. Yang menarik adalah jawaban dari pesertanya. Saya cukup mengenal siapa-siapa yang ikut dalam training itu, sehingga saya bisa mengadakan analisis singkat dan tak akurat dengan membandingkan antara keseharian dengan cita-citanya. Karena saya sangat percaya bahwa cita-cita berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan hari ini. Cita-cita hanya akan menjadi mimpi kalau hari ini kita "bertolak jalan" dengan cita-cita kita.


 Apa sih jawaban mereka?sehingga mengusik saya untuk menulis.

Sebagian dari mereka menjawab. Bahwa mereka akan/ingin menjadi seseorang yang kaya dan juga financially freedom nantinya. Sepintas tak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Ya, karena memang semua orang juga ingin menjadi seperti itu. Jadi, jawabannya terlalu umum. Bukan juga. Saya hanya terusik apakah benar financial freedom yang dipahami orang memang benar-benar konsep yang seharusnya, tidak salah kaprah. Karena saya agak sedikit ngeri juga, tren kata-kata financial freedom telah nyangkut ke otak-otak manusia tanpa paham konsep yang sebenarnya. Jadi ya itu financial freedom tren, bukan mind set financial freedom yang sesungguhnya. It is not that simple, pals.

Saya disini bukan meluruskan pemahaman financial freedom, saya hanya mencoba menafsirkan financial freedom yang sesungguhnya versi saya sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman saya bergaul dengan Rich Dad dan Poor Dad. Saya sangat terbuka sekali apabila tulisan ini ditanggapi dengan komentar yang banyak.

Yang harus jadi garis bawah adalah jalan menuju financial freedom itu tidak enak. Bangun harus pagi-pagi, harus rajin, tidur sedikit, sedikit waktu bermain/hang out, kurang bisa punya barang bagus, stop belanja berlebih, dll. Itu yang sifatnya kesenangan, belum lagi yang sifatnya fisik. Motor jelek (shogun keluaran 2001), makan bawa dari rumah, ngampet beli mobil bagus, dll. Bukan masalah tidak mampu beli sebenarnya, tapi terlebih penting melatih mental. Kenapa harus seperti itu. Cobalah tengok pengusaha-pengusaha papan atas yang meraih hidup sukses. Mark Zuckerberg, rumah aja masih ngontrak. Warren Buffet, sebagai orang terkaya, hidupnya termasuk biasa-biasa saja. Apalagi Bill Gates, terbiasa naek subway ke kantornya.

Kuncinya bukanlah memperoleh pekerjaan dengan penghasilan besar, seperti bekerja di perusahaan minyak. Bukan pula memulai bisnis, jd entrepreneur seperti yang selama ini didengung2kan orang-orang. Tapi mengelola berapapun pendapatan yang kita terima. Tidak saja berhenti di menabung, tapi lebih dari itu. Menurut saya, lebih baik penghasilan 2.500.000 tp bisa menabung 1.000.000 drpd pengasilan 10.000.000 tapi habis 9.999.999.

Saya teringat sekali pesan dosen saya di kelas Perekonomian Indonesia. Menjadi kaya, kata beliau, bukan dari berapa harta yang dikumpulkan. Namun dari seberapa kita meminimalisir realisasi keinginan kita. Percuma saya kalau kita punya banyak uang, tapi realisasi keinginan kita melebihi apa yang kita miliki. Misalnya anda punya tabungan 50 juta, tapi ingin sekali membeli mobil. Bagi sebagian orang yang memang butuh mobil uang tersebut sudah bisa untuk membeli mobil yang layak. Akan tetapi anda ingin sekali membeli Avanza, alhasil uang 50jt tersebut menjadi DP dan sisanya anda cicil. Anda tak mampu menahan keinginan anda. Maka anda jauh dari financial freedom.

Financial freedom adalah meraih hasil dari aset yang anda miliki, bukan menambah kos dan expense dari aset yang anda miliki. Kalau anda masih berdiri pada deretan orang yang tidak bisa menahan keinginannya, jangan harap anda bisa financial freedom. Financial freedom adalah masalah perilaku, bukan hanya sekedar materi. Dia mempengaruhi pola konsumsi kita untuk tetap humble namun tidak pelit. Saya tidak bilang anda tak boleh tas Hermes, hanya saja ada tapinya.

Financial freedom memang butuh modal penghasilan yang besar. Tapi lebih dari itu, ia hanyalah manajemen keinginan. Suatu hari Pak Jalal menanggapi pertanyaan Udin dan Asrul "Doain saya Pak Jalal biar punya pemasukan banyak kaya Pak Jalal". Statement itu dibalas dengan ketus oleh Pak Jalal. "Eh gw tuh ga jago nyari duit, gw tuh jadi kaya begini gara-gara bisa ngelola duit, gw mah nyuruh orang aja buat nyari duit".

Senin, 25 Juli 2011

Damai atau Ikut Sidang?(Reversing the Hilmy’s Logical of Fine)


Oleh: Priyok

Bung Hilmy, tidak hanya anda saja yang dag-dig-dug kalau naek kendaraanSetiap ada polisi di sudut-sudut jalan, bawaannya was-was saja. Ya terkadang tanpa diduga-duga dan disangka-sangka peluit ditiup dan tangan mereka mencegat kendaraan kita, mengucapkan sapaan kepada kita, dan gongnya adalah memberi tahu kalau kita melanggar peraturan, tak peduli ada 1000 mobil di belakang kita yang salah juga. Tak enak memang, mesti kita yakin kita betul dan sejumlah alibi lain. Sistem tilang kita menganut sistem pembuktian terbalik (yang mestinya diterapkan kepada koruptor), jadi anda dituduh salah dulu, kalau anda merasa tidak bersalah silakan dibuktikan di pengadilan alias ikut sidang.

Singkat cerita, kita ditilang. Lalu anda akan dihadapkan dengan 2 pilihan: damai atau perang (mmm, maksudnya ngikutin proses). Berikut adalah tips untuk pilihan pertama: pertama, anda akan selalu diminta untuk menunjukkan SIM & STNK. Selipkan selembar uang 50rb di lipatan STNK anda. Dijamin polisi akan bilang ”Lain kali hati-hati ya Pak”. Kedua, yang namanya tindakan tercela enakan dilakukan di tempat tertutup. Jadi menyingkirlah sejenak ke pos polisi. Disanalah salah satu tempat terbaik untuk negosiasi.

 Yang kedua adalah pilihan mengikuti proses tilang. Proses tilang itu sendiri menurut saya adalah hal yg ghoib. Kalau mau rajin cari di internet sih ada. Tp pihak kepolisian secara terbuka jarang memberitahu masalah ini. Tau-tau disuruh ikut sidang saja atau ya nyogok tadi. Sekilas saja, mungkin anda sudah sering mendengar/membaca artikel tentang slip merah dan biru. Merah untuk tidak setuju, biru untuk pasrah. Dalam artikel tersebut biasanya menyebutkan biru lebih baik, tp sebenarnya tidak juga. Saya kebetulan mengalami keduanya. Kalo merah, anda cukup datang ke persidangan, menunggu sekitar 3 jam karena sidang ngaret, ikut sidang 20 menitan rame2, bayar uang sidang+denda (biasanya 25% dr denda maksimal), kembali ke polisi yg menilang, tunjukan bukti sdh membayar denda, dan selesai. Kalo biru, anda tinggal ke bank BRI, minta slip pada satpam (pasti bingung nyarinya tu satpam), isi, bayar sejumlah denda maksimal, kembali lagi ke polisinya dan beres. SNTK dan SIM anda dijamin kembali.

 Intinya ditilang itu ribet pooool!!!

Ohya, menurut undang-undang kita no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas pelanggaran paling murah didenda sebesar 100.000 yaitu untuk motor yang ga pake spion, ga nyalain lampu,dll. Paling mahal 10.000.000 kalo nerabas jalur busway. Klo ga punya SIM kena 1.000.000, klo ga pake seatbelt kena 1.000.000, ugal-ugalan kena 500.000, dsb. Itu maksimal. Bisa kurang kurang kok, asal wani piro?hehehehehehe

Dalam artikel Bung Hilmy, beliau mencoba membandingkan secara cost and benefit mengenai pertilangan ini. Namun menurut hemat saya, analisisnya kurang menyeluruh dan kurang mempertimbangkan aspek-aspek tertentu. Misalnya, mensimplifikasi sidang yang hanya 1 jam. Padahal urusan sidang tak hanya 1 jam. Sehingga saya mencoba memberikan itung-itungan yang lebih njlimet untuk menjawab secara akuntansi mending nyogok atau sidang (secara akuntansi lho, bukan ngajarin nih).

Kita gunakan asumsi yang sama dengan yang dimiliki Bung Hilmy.

Andaikan saja, anda adalah seorang PNS golongan III A dengan gaji Rp2,500,000, kemudian anda ditilang oleh polisi karena anda naik motor terlalu ngebut dan akhirnya melanggar lampu merah. Jika anda putuskan ikut sidang, anda diberikan izin oleh atasan untuk urus selama 3 jam (kita rasionalisasi menjadi 1jam perjalanan ke tempat sidang + 1 jam sidang +1 jam ngambil sim/stnk ke polisi 1), namun jika anda putuskan segera damai dengan polisi anda bayar Rp50,000(polisi sekarang mintanya 100.000 cuy).

Sehingga kalau ditabulasi hasilnya: 



Variabel yang Dikorbankan

Damai

Slip Merah

Slip Biru

Gaji yang dikorbankan

-

62,500

31,250

Denda

100,000

50,000

500,000

Total

100,000

112,500

531,250


Nah, kalau begini ceritanya kalau kita menggunakan pertimbangan ekonomis, akuntansi, dan cost benefit analysis maka yang harus dipilih adalah damai. Terlebih kalau penghasilannya lebih besar seperti kang Hilmy atau yang lain, maka semakin besar uang yang harus dikorbankan untuk mengurus pertilangan ini. Yang artinya juga semakin ”murah” mengurus tilang menilang dengan jalan damai. Kalau caranya begini hanya patriotisme dan hati nurani yang membuat kita memilih jalan yang benar.

Sampai saat ini saya meyakini hanya 20% penduduk Indonesia yang mengerti tentang SOP penilangan. Saya pun tak pernah menemukan informasi yang jelas dari kepolisian tentang bagaimana ditilang yang baik dan benar, kalaupun ada saya hanya mendapatkannya dari blog orang atau pengalaman orang yang pernah ditilang. Baswir (2008) pernah menyatakan bahwa dalam memberikan pelayanan publik yang baik harus memenuhi 3 kriteria, yaitu transparansi proses, transparansi waktu, dan transparansi biaya. Tanpa ketiga hal tersebut pelayanan publik akan menjadi rawan penyelewengan. Terkadang oknum pelayan oknum secara sengaja menutupi ketiga hal tersebut untuk kepentingannya sendiri (wah semuanya oknum sih, yang bersih sedikit). Coba saja cek di website dirpolantas, apa ada info mengenai hal tersebut.

Yang jelas yang namanya korupsi, nyogok, dll bukan sekedar masalah pilihan ekonomi maupun akuntansi. Memilih yang menggunakan resource tertentu demi mendapatkan capain tertentu. Bukan itu bung. Korupsi itu masalah nurani. Itu saja.

Sabtu, 23 Juli 2011

Saya Manusia (Setengah) PNS


Oleh: Priyok.

Saya tidak bekerja di salah satu kementrian. Juga tidak bekerja di salah satu lembaga tinggi negara. Ataupun di instansi pemerintah pusat lainnya. Bagaimana saya mau bekerja di sana, semangat saya untuk memperbaiki kinerja keuangan daerah ditolak mentah-mentah oleh Departemen Keuangan. Betul sekali teman-teman, saya tidak lolos ikut tes seleksi CPNS, bahkan pada proses jeratan pertama saya langsung tidak nempel. Hah, sudahlah. Oh iya, saya juga tidak bekerja di pemerintah daerah. Apalagi guru atau dosen, bisa ancur nanti anak didik saya.

Tapi saya ini PNS. Maksudnya seperti PNS, tidak 100% PNS. Mmm, mungkin lebih fair kalau saya disebut (setengah) PNS. Wah, apa ada institusi yang seperti itu. Yang memperkerjakan (setengah) PNS. Ini istilah saja kawan, sebenarnya sih tidak ada. Tapi kategori pekerjaan memiliki 50% gen PNS sehingga saya bisa menyebut seperti itu. PNS atau Pegawai Negeri Sipil memiliki ciri-ciri bekerja untuk memberikan pelayanan kepada publik, menjalankan roda pemerintahan, dan dibayar oleh negara. Lantas pekerjaan apa yang saya lakoni?

Saya bekerja di perusahaan minyak multinasional yang beroperasi di Indonesia.
Anda pasti bingung membaca hal ini. Apa korelasinya PNS dengan pegawai perusahaan minyak multinasional. Kalo di Pertamina mungkin masih bisa disambung-sambungin.

Kami boleh menyebut diri kami (setengah) PNS karena melihat ciri-ciri barusan terdapat pula ciri-ciri pegawai yang bekerja di perusahaan operator migas. Memberikan pelayanan publik, jelas bukan. Kantor perusahaan-perusahaan tersebut jelas-jelas bukanlah tempat pembuatan KTP. Perusahaan-perusahaan tersebut jauh-jauh datang dari jauh (datang tak dijemput, pulang tak diantar) murni termotivasi bisnis. Uang, uang, dan uang.

Menjalankan roda pemerintahan, secara langsung tentu tidak. Sekali lagi bisa penulis tegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut adalah entitas independen yang termotivasi uang. Namun dibalik itu semua, perusahaan-perusahaan ini “nyawer” sekitar Rp 400 Trilyun untuk membiayai pemerintah. Jadi secara tidak langsung perusahaan migas baik lokal atau asing menjalankan roda pemerintahan. Tanpa saweran mereka mungkin APBN kita cuma habis disetor ke daerah dan bayar gaji PNS yang sesungguhnya.hehe. Sudah mulai terlihat seperti PNS kan?

Dan yang terakhir, yang menjadi alasan penulis untuk bilang bahwa mereka ada (setengah) PNS adalah karena PNS dan mereka sama-sama dibiayai negara. Republik Indonesia.

Ngapain kita bayarin mereka, apa urusannya?kok jadi kita sih yang bayarin?bukannya duit mereka dah banyak, ngapain pemerintah yang bayarin?kasian PNS kita gajinya ga sebanding ma mereka, ngapain dibayarin?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin muncul dalam kepala anda sekarang. Seakan tidak percaya kalau saya dan teman-teman saya di dunia migas dibayarin oleh pemerintah. Tunggu dulu sobat. Dengan anggaran yang cuma 1200 Trilyun mustahil rasanya mereka benar-benar membayari pegawai-pegawai perusahaan migas tersebut. Karena mereka tidak dibayar pemerintah lewat APBN. Mereka dibayar oleh pemerintah kita melalui mekanisme cost recovery

Cost Recovery
Seperti yang dulu pernah penulis sampaikan di tulisan “Ada yang Tahu Bagaimana Sebenernya Hitung-hitungan Minyak dan Gas Bumi Kita?” bahwa komponen penghitungan bagi hasil minyak dan gas salah satunya adalah cost recovery. Bahkan terkadang ini menjadi kue terbesar bagi kontraktor/perusahaan migas di Indonesia.

Cost recovery adalah porsi pengembalian biaya-biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor atau perusahaan migas dalam melakukan kegiatan operasinya oleh pemerintah. Uang cost recovery diambil dari hasil migas yang dilakukan oleh kontraktor tersebut. Jadi jumlah pengembaliannya tak boleh melebihi bagian pemerintah. Nah, karena gaji merupakan komponen biaya operasional maka gaji pegawai-pegawai itupun masuk ke dalam skema cost recovery ini.

Pemerintah kita kali ini sudah agak pintar. Sebelum tahun 2010, segala jenis biaya operasional termasuk CSR bisa di-cost recovery. CSR yang mestinya jadi kewajiban perusahaan dalam “beramal” ternyata uang-uangnya berasal dari kocek pemerintah. Maka dari itu, dikeluarkanlah peraturan mengenai negative list cost recovery, biaya-biaya yang tidak bisa di-cost recovery salah satunya CSR tadi.

Bagian cost recovery inilah yang membuat dunia migas menjadi sebuah investasi yang menarik bagi investor. Bahkan disebut-sebut sebagai skema bagi hasil terbaik, paling fair, paling win-win solution yang ada di planet bumi. Entahlah, bagi saya sebutan ini hanya karena mereka merasa lebih untung.

Rabu, 08 Juni 2011

Our Oil Management Philosophy

Oleh: Priyok

Let’s go back to our main course, energy. In this writing, we will talk about the PSC itself. What kind of animal is that? Why we choose PSC as our management for exploiting oil and gas.

Di dunia ini, terdapat 2 mainstream pengelolaan minyak dan gas. Pertama adalah aliran Anglo-Saxon yang menerjemahkan pengelolaan migas menjadi system konsensi. Dimana baik pengusahaan maupun penguasaan bisa diserahkan kepada swasta. Kedua adalah aliran Continental, dimana pengusahaan dapat diserahkan kepada swasta, namun penguasaan tetap dimiliki oleh negara. Kalau kedua aliran tersebut adalah kontinum, maka Indonesia lebih cenderung ke arah Continental.

Sistem pengelolaan di Indonesia disebut PSC (Producing Sharing Contract). Sistem ini merupakan sistem buatan Indonesia yang diakui dunia sebagai salah satu sistem kontrak terbaik yang menguntungkan baik kontraktor maupun penguasa lahan. Sistem ini ditemukan pada tahun oleh begawan minyak Indonesia, Ibnu Sutowo, setelah ngobrol-ngobrol dengan Menteri Pertambangan saat itu Ir. Bratanata dan seorang lawyer muda, Mochtar Kusuma Atmadja. Berikut adalah diskusi imajiner antara ketiga orang tersebut merangkum hasil yang mereka dapatkan untuk kemajuan sektor migas Indonesia.

Ibnu : Piye iki?Nek ngene terus Indonesia iso rugi. Konsensi kok hasilnya cuma segini. (dengan gaya tegasnya yang khas)

Mochtar : Lha Dados Pripun Pak. Nyatanya kita ga punya SDM ma modal kok.

Bratanata : Tapi memang betul kita harus berubah, memang kita dapat hasil yang kecil sekali dari migas kita

Mochtar : Tapi bagaimana mungkin, sekolah saja sulit.

Bratanata : Dah lah, ga usah dipikir rumit. Kasih pajak saja yang besar. Selama ini kita mengenakan pajak pada penghasilannya, itu jelas-jelas kurang. Sekarang kalau perlu setiap dirutnya ngupil kita pajakin. hahahahahaha (semua tertawa kecuali Ibnu, yang masih menghisap dalam-dalam cerutunya. Berpikir)

Obrolan pun mulai tidak fokus, Bratanata dan Mochtar malah menggosip Pak Harto yang katanya takut sama Bu Tien Soeharto. Sampai mereka dikagetkan oleh teriakan Ibnu. Eureka!!!!
Ibnu : Saya menemukan sebuah konsep, tadi itu kok saya kelingan sama bapak saya yang petani. Dulu itu bapak saya ga punya sawah, jadi numpang kerja di sawah orang. Kan sama aja tho kaya kita ini. Bule-bule itu juga penggarap di tanah kita. Mestinya level mereka ya gurem. Ga kaya sekarang ini udah kaya jadi bos di tanah kita

Mochtar : Betul, betul, betul.

Ibnu : Yo wes, digawe kono.

Sip. Cukup segitu diskusi imajinernya. Kalo kepanjangan jadi saingan cerpen Si Kancil kan ga enak. hehe. Lantas bagaimana kelanjutannya? Konsep baru tersebut pun disarikan dari kebiasan sistem bagi hasil yang dipraktikkan oleh petani-petani di Indonesia. Jadi ini benar-benar sistem asli Indonesia bung!!!lengkap dengan segala kepasrahan, nrimo, dan ketertindasan petani Indonesia yang tak kunjung sejahtera. Konsep dasarnya adalah mempertahankan prinsip kedaulatan. Pihak penggarap mempunyai kedaulatan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, dan pihak pemilik lahan tetap memiliki kedaulatan lahannya serta menentukan jenis produksi pertanian. Jadinya cuan, sama-sama untung. Bagaimana pun, untuk sementara ini kita berada dalam posisi belum memiliki teknologi yang memadai dan tidak punya cukup uang untuk investasi di dunia migas ini.

Bagaimana detailnya?

1. Sistim Pembagian 
Dalam kehidupan petani di pedalaman Indonesia. Mereka mengenal ilmu paron. Dimana hasil garapan 50% dimiliki oleh penggarap dan 50% lainnya diberikan kepada pemilik lahan. Sebenernya sih g ada yang baku. Mau 50:50 atau 80:20 bebas. Tergantung sepakatnya kedua belah pihak. Bedanya dalam bisnis migas, pemerintah kita sudah agak pintar-pintar menentukan bagi hasil ini. Tidak seperti petani yang menggunakan perasaan dalam bagi hasil (sekenanya saja), pemerintah kita sudah mempertimbangkan pembagian tersebut dengan menggunakan jurus IRR, NPV, dll. Sehingga ketemulah angka yang cucok buat kedua belah pihak.

2. Kewenangan Manajemen
Kewenangan manajemen produksi digambarkan dengan hak atas penetapan produksi dan masa panen. Gampangnya pemilik tanah sebenarnya bisa menentukan mau ditanami apa itu lahan , padikah, jagung, ataupun ganja. Dari literatur yang saya baca, pemilik lahan bahkan menentukan waktu panen (saya sih bingung masa waktu panen, klo panennya 9 bulan masa maksa 4 hari. Emangnya KD!!!). Nah, penggarap diberi kewenangan dalam hal operasional. Mau ke sawah tiap hari atau nyangkul sambil brit dance atau ngawinin anak yang punya lahan.ups!!!itu urusan penggarap. Dalam sistem PSC poin tersebut diejawantahkan dalam bentu pemerintah memiliki kewenangan dalan bidang yang strategis. Penentuan berapa yang minyak yang dilifting, gas mana yang boleh dijual ke luar negeri, kebijakan DMO itu urusan pemerintah. Sedangkan perusahaan minyak dibebaskan dalam mengatur operasional, yang enak aja coy.


3. Hak atas Pemilikan Property
Saya kebetulan pernah menyewa tanah, di atas tanah itu dibangun sebuah kandang sapi an kolam ikan. Apa iya kalau kontrak habis lantas kandang + kolam tersebut saya ambil bawa pulang. Kepemilikan asset di atas tanah tersebut kembali ke pemiliknya. Begitu juga dalam dunia bisnis migas. Semua asset yang dibeli oleh perusahaan minyak adalah milik pemerintah dan kembali kepada pemerintah. Tampaknya memang keren, kita jadi memiliki platform tengah laut, mesin yang segede gaban, pompa angguk, bahkan bandara!!!tapi saya juga pernah melakukan tagging (melabeli asset) terhadap alat fitness, dan itu pun milik pemerintah.hehehe.

4. Penentuan Produk Sampingan
Kalau petani ingin melakukan tumpang sari (menanam selain tanaman pokok disela-sela tanaman pokok), maka hasilnya adalah rejeki petani. Karena itu merupakan kejelian petani dalam memanfaatkan lahan yang ada. Selain minyak, dalam reservoir yang sama, terdapat pula kandungan yang lain seperti gas, kondesat, pasir, dan air. Nah, apabila kontraktor berpikir untuk nyambi membuat usaha air minum galonan hasil dari galiannya, maka aka nada hitung-hitungan lain yang tentu saja lebih menguntungkan si kontraktor.

5. Penentuan Biaya Operasi
Dalam sistem kerjasama pengolahan sawah di pedesaan, walaupun yang mengeluarkan biaya adalah penggarap, yang menentukan besarnya biaya produksi adalah pemilik lahan. Ini dikarenakan sebagai pemilik lahan yang menuntut mendapatkan hasil, tentunya kalau tidak diatur biaya operasionalnya, ga dapet jatah dong.

6. Pemilikan Cadangan dan Penyerahan
Karena yang menggarap adalah orang lain. Meski jarak sawah dengan pemilik lahan jauh lebih dekat, tetap hak penyerahan dan pengaturan hasil pertanian dimiliki oleh penggarap. Suka-suka dia mau dijual belakangan, disimpen dulu menunggu harga baik, penentuan kemana mau menjual. Nah kalau laba baru dibagi.

Banyak pengamat menilai kalau sistem yang kita lakukan ini kurang cocok. Pertama karena ribet, itung-itungannya njlimet dan rawan dispute. Kedua, sistem ini dianggap tidak menguntungkan. Karena secara kasat mata kita mendapat porsi lebih kecil, di lain pihak di mata bisnis inilah jalan yang cukup adil. Pemerintah tak modal apa-apa, ya dapetnya segitu. Penyertaan kepemilikan paksa menanggung konsekuensi lain, karena tidak hanya memasang angka 20% kepemilikan misalnya dalam akta, namun juga keterlibatan penyertaan modal kerja sebesar 20% dari perencanaan. Sehingga bagi sebagian pengamat yang lain (termasuk saya, tapi saya bukan pengamat), inilah solusi dari ketidakmampuan negeri ini mengelola migasnya (secara ekonomi dan teknis) dan kebutuhan migas yang terus menerus meningkat. Kalau pengamatan anda?

Rabu, 18 Mei 2011

Ekonomi Mimpi ala Bang Toyip (Mid-Low Creativity to Answer Meikha’s Gundam Article “Ekonomi Mimpi”)

Oleh: Priyok

Membaca artikel Meikha mengingatkan masa kecil saya. Dimana dunia saya kala itu dipenuhi imajinasi ala Jepang. Doraemon, Jiban (saya punya bajunya dulu.hehe), Winspector (Polisi robot beroda di dadanya,aneh!!), Baja Hitam (Kotaro Minami,yeah!!), Dash One (aku berlari-lari mengejar mobilku), Dragon Ball (kamehameikha, eh, meha maksudnya), dll. Sampe saya kalo berantem sama tetangga-tetangga saya pasti pake jurus-jurus mereka. Kebetulan saya tak hidup di jaman unyil, saya sempat sedikit menonton Si Komo. Tapi kurang berkesan, mungkin karena kurang aplikatif dalam kehidupan saya saat itu (masa berantem gaya Komo atau Ulil?).

Bicara ekonomi kreatif, memang kebanyakan berkutat di wilayah hiburan (animasi, komik, iklan, dan wujud seni lainnya), kerajinan, ataupun barang kreatif lain. Bu Marie Pangestu pernah bilang di tahun 2010 lalu kalo industri kreatif kita konon menyumbang 6 % dari pendapatan kita. Jumlah yang sungguh luar biasa untuk kerjaan seperti itu. Bahkan, seperti Bu Meikha bilang, Jepang memiliki kekuatan ekonomi saat ini dimulai dari imajinasi dan kreatifitas yang digali dan dielaborasi oleh pemerintah mereka sehingga menjadi kekuatan ekonomi.

Bagaimana Indonesia?duh, capek deh. Bicara Indonesia terpaksa membuat saya menyebar aura-aura negatif bagi para pembaca artikel ini (abis gimana masa mau boong). Tak ada seni kreatif yang mendunia, kalaupun ada masuk koran lantas hilang. Pemerintah tak mendukung pengembangan ekonomi kreatif. Sarana prasarana yang kurang. Dan sederet masalah lain yang capek ditulisin (dan dipikirkan!!!). Namun di sudut yang lain, geliat ekonomi kreatif mulai muncul. Ya, tanpa disadari yang memulai bukanlah orang-orang dengan tampilan harajuku yang geul itu, bukan pula seniman dengan gaya berantakan, apalagi berpakaian kasual dan duduk depan komputer mengotak atik software animasi (saya ga tau namanya.hehe).

Yang memulai adalah orang-orang yang keluar dari perkampungan kumuh, yang terkadang harus tidur bersepuluh dalam satu kontrakan, akrab dengan peluh dan bau menyengat, dan tentu saja merelakan diri “ditindas” konsumen. Masih bingung?orang-orang tersebut bisa anda temui di pasar malam, di pangkalan truk, bahkan tanpa diduga, di depan rumah anda!!!Merekalah pahlawan ekonomi kreatif kita saat ini, paling tidak untuk kelas middle-low,menengah ke bawah. Lahir dari pahit dan getir perjuangan orang miskin. Inilah dia, geliat ekonomi kreatif kelas menengah ke bawah.

Siapa mereka?

Odong-odong

Bagi saya, ini adalah temuan kreatif terbesar dekade ini. Ditengah nyanyian alay yang meracuni otak anak-anak kita. Odong-odong lahir sebagai “dewa penyelamat” bagi generasi Indonesia. Dengan musik yang membuat saya terharu setengah mati terdengarnya, benar-benar lagu anak-anak!!!(romantisme masa lalu saya terusik). Odong-odong lahir sebagai alternatif hiburan bagi anak-anak kampung, mengalahkan film-film Jepang di TV, mengalahkan lagu-lagu orang dewasa. Odong-odong murni temuan kreatif putra bangsa ini.

Permainan Pasar Malam

Anda bosan tong setan? Rumah hantu? Atau permainan tua lainnya? Pasar malam kini telah bertransformasi menjadi hiburan kelas dunia (sekebayangnya orang kamung aja.hehehe). Lagi-lagi buah kreatifitas anak bangsa ini. Yang mampu menggerakan perekonomian di kelas bawah. Kini bagi yang mau fotobox di pasar malam, ada!hanya dengan 4000 sekali pose anda sudah bisa berfotobox ria. Tempatnya hanya berupa rangka besi berwujud balok yang ditutupi bekas spanduk print. Kameranya dipasang di belakang jok motor. Ya motor saudara-saudara. Mereka menggunakan motor sebagai tempat fotonya. Duduk yang manis di jok dan bergaya sepuasnya!!!

Tak hanya itu, anak-anak yang suka main air pun kini dimanjakan dengan permainan pancing ikan berhadiah. Dengan modal kolam buatan, pompa untuk membuat arus, ikan-ikanan yang ditempel magnet, dan pancingan magnet. Anak-anak tampak puas mengumpulkan ikan-ikan, dan kalau beruntung dibalik ikan-ikan tersebut terdapat grand price, sebungkus coklat Gerry Chocolatos. Kemaren saya menemani saudara saya main di Fun City. Dan ternyata permainan ini sudah diadopsi di sana. Luar biasa. Padahal saya pertama kali melihat permainan ini medio 2006 di Alun-alun Klaten.

Anda lapar saat ke pasar malam, anda perlu mencicipi panganan hasil kreatifitas mereka. Yang lagi-lagi memutar ekonomi mereka. Es goreng, kolang-kaling yg diwarnai merah, tempura, dll. Mau yang agak berkelas. Mid-low society pun punya. Pernah coba burger harga 1000? atau waffle harga 1500? atau mungkin pizza harga 1500? Lagi-lagi ekonomi kreatif di tengah kemiskinan mereka.

Lukisan Pantat Truk

“Cinta Supir Sebatas Parkir”

“Dua anak cukup, Dua istri bangkrut”

“Cintamu tak seberat muatanku”

Pernah lihat ini?ya dibelakang truk. Terlepas dari negatif tulisannya, tak pernah terbayangkan betapa pantat truk bisa menjadi media kreatifitas. Isinya pun sungguh diluar batas imajinasi kita.coba cek truk mana yang tidak punya hiasan di belakang truknya.

***

Ekonomi kreatif atau ekonomi mimpi tak hanya milik orang menengah ke atas. Masyarakat menengah ke bawah pun berusaha menggerakan ekonominya dengan daya imajinasi dan kreatifitas yang mereka miliki. Ekonomi masyarakat bawah ternyaya juga berputar melalui ekonomi kreatif yang manifestasinya odong-odong, tong setan, gulali, es goreng , dsb. Mereka jauh lebih kreatif dari kita. Disaat pengusaha besar ingin mencicipi kue mereka, mereke berusaha berkelit melewati jaring-jaring modal besar. Mempertahankan hidup. Coba lah melihat ke bawah dan saksikan kreatifitas apalagi yang bisa mereka lakukan.

Senin, 09 Mei 2011

Hotel Muliaccounting (A Paradox Answer to Pugo’s Article “Progonomics”)


Oleh: Priyok

Membaca cerita Pugo, membuat saya kembali ke masa muda saya. Bukan bermaksud sombong, tapi sebenarnya saya bisa saja naik pesawat kelas bisnis untuk pulang kampung ke Jakarta. Tapi waktu itu saya memilih Progo, 38.000 yang menyelesaikan masalah. Meski saya harus berdiri mulai dari Yogyakarta sampai Cirebon. Agar tidak terkesan curcol, saya akan mencoba sedikit-sedikit (lebih tepatnya belagu) menggunakan beberapa teori-teori yang pernah saya pelajari. Pengamatan ini saya alami berkebalikan dengan apa yang Pugo alami yang proletar.
Beberapa bulan setelah saya bekerja di perusahaan gali sumur, saya diajak oleh supervisor saya untuk makan-makan merayakan masa kerjanya yang sudah 20 tahun. Tidak tanggung-tanggung, saya diajak makan ke Hotel Mulia. Semula saya tidak terbayang apa-apa, hanya makan biasa. Tak dinyana, saya dibawa ke restoran mewah penuh glamour. Saya shock!!!Baju saya dibeli di Ramayana seharga 99.000, celana saya jebolan Pasar Senen 40.000, sepatu saya sepatu Cina beli di Atrium Senen 125.000..Tapi, saya diajak makan seharga 399.000++ (bagi yang g tau arti ++, itu artinya masih ada biaya tambahan seperti pajak atau service fee). Benar-benar luar biasa, 399.000 hanya untuk dibuang di jamban!!!Memang bukan makanan sembarangan, disana saya pertama kali makan kepiting alaska yang segede gambreng, makan kerang yang dalam film Mr. Bean, bahkan ikan salmon utuh dengan berat 2kg!!!(kalo mama saya beli diskonan di giant). Saya, orang katro, ndeso, udik, kampungan, benar-benar tidak tahu bagaimana behave di tempat tersebut. Saya benar-benar mati kutu!!!Tak tahu harus gaya apa, saya ambil makanan apa saja. Nyicipi. Terlihat sekali saya katronya.
Bagi kita yang kere-kere ini, tak pernah kita bayangkan untuk makan semahal itu atau beli tas yang harganya 1 juta. Dulu saya pernah berpikir bahwa cara memenangkan kompetisi yang terbaik adalah dengan memberikan harga terendah dengan value maksimal walau mengorbankan marjin. Cara pembentukan harganya pun mudah saja, berapa kos untuk membuat bahan tersebut lalu ditambahkan marjin sekian persen. Kalau saya dulu jualan sotomie dengan modal 3000 lalu saya jual 5000, yasudah untung saya 2000 titik. Saya benar-benar menggunakan basic dari akuntansi kos. Menentukan kos dengan tepat agar kita tidak sampai jual kemahalan atau jual kemurahan. Kalau kemahalan ga laris, kalo kemurahan ga miris.
Namun bisnis hari ini mengenal cerita yang lain. Ada value tak kasat mata, intangible, yang membuat teori katro di atas tak berlaku. Mungkin saya bisa bilang kematian akuntansi kos, the death of cost accounting (dengan catatan menggunakan paradigma yang lama). Karena faktanya ada kos yang tak bisa diukur namun tak membuat barang tersebut tidak laku walau kita pikir itu mahal harganya. Sebenarnya, selain makanan aneh-aneh tersebut, makanan yang tersedia adalah makanan-makanan biasa saya temui. Namun Hotel Mulia menawarkan prestise, gaya hidup, dan terangkatnya derajat apabila makan di sana. Sama halnya dengan merek-merek seperti ferrari, Victorinox, Raymond Well, Guess, YSL, Louis Vitton, D&G. Saya akui, kualitas mereka memang sangat baik, tapi kos intangiblenya jauh lebih mahal dari bahan bakunya. Sehingga semakin mahal harganya, semakin orang mau beli.
Aneh kan?saya juga aneh ketika melihat promo sendal Crocs di Sency yang antri sampai lantai 1, padahal tokonya di lantai 7!!!Come on, itu cuma sendal karet. Apa bedanya ma swallow, cuma kaya selop doang kalee. Harganya pun tak murah. Kini, harga tak lagi ditentukan oleh kos produksi ataupun perolehan. Pasar lah yang menentukan harganya sendiri. Lo aja mau bayar gw 100.000, kenapa harus gw jual 50.000...begitulah kira-kira.
Lantas bagaimana nasib cost accounting?tampaknya para ahli cost accounting harus berlaga di serie B. Walaupun tetap penting, keberadaan cost accounting tak lagi sevital dulu karena datanya sangat dibutuhkan oleh manajemen dalam mematok harga. Cost accounting kini hanya menjadi alat kontrol agar marjin yang diinginkan oleh manajemen berjalan dengan baik dan lancar jaya, kalaupun sebagai dasar penentuan harga, hanya menjadi pertimbangan sekunder dibanding data perilaku konsumen. Kalau dulu “Berapa nih kosnya?yaudah naikin 20% kita jual sekian”...kalau sekarang “Berapa kosnya?ah aman kita masih untung kok”.

Jumat, 06 Mei 2011

F-Biz (Football-Business, sok-sok ngikutin E-Biz or Show-Biz)

Oleh: Priyok

Sebagai olahraga yang paling digandrungi di seluruh dunia. Sepakbola kini telah berubah sepenuhnya dari sekedar olahraga yang berurusan dengan tending-menendang bola, menjadi pertarungan memperebutkan utang, investasi, sponsorship, dan hal-hal yang berkaitan dengan uang lainnya. Mungkin kita hanya melihat bagaimana Messi memainkan bola, Ronaldo dengan liukannya, Eto’o yang menceploskan bola ke gawang lawan, atau Jimmy Napitupulu yang dalam pertandingan yang dipimpinnya, disuruh berhenti oleh Kapolda Jateng.

Namun dibalik itu semua, sosok seperti Sensi, David Gill, Peter Kenyon, Florentino Perez, ataupun Umuh Muchtar sedang melakukan pertandingannya yang lain. Bagaimana caranya klub yang mereka kelola bisa selamat secara keuangan. Karena belum tentu klub yang secara prestasi menggembirakan, mempunyai daya going concern yang cukup. Masih ingat ketika Lazio mendapat scudetto tahun 1997?Tak lama kemudian, nama-nama seperti Crespo, Veron, Sergio Conceicao, dan legenda mereka, Nesta, dijual untuk menutupi utang mereka. Dan Lazio pun dalam kancah persepakbolaan dewasa ini hanya menjadi tim medioker.

Lebih tragis lagi sebenernya menimpa klub-klub di Indonesia. Kita ambil contoh PSIS Semarang dan PSPS Pekanbaru. Tak terduga, PSIS yang sama sekali tak diunggulkan menjuarai Liga Indonesia di Manado dengan mengalahkan Persebaya lewat gol tunggal “Maradona” di akhir injury time. Di awal musim berikutnya, seretnya uang membuat klub ini menjual bintangnya, sehingga musim berikutnya mereka terdegradasi.

Kita di sini akan membahas sedikit tentang bisnis sepakbola. Basic pendapatan sebuah klub sepakbola biasanya terdiri dari kategori : marketing, tiket, dan television. Revolusi industri sepakbola dimulai awal 2000an. Dulu, semua klub hanya memiliki mindset bahwa untuk menggenjot pemasukan, maka tiket adalah panglimanya. Dari situlah inovasi-inovasi tentang dunia pertiketan dan pengembangan stadion secara besar-besaran dilakukan, pembangunan stadion baru tercatat melonjak di rentang tahun 1985-1995, era dimana tiket menjadi panglima (Data FA, 2007). Di era F-Biz modern, tiket, walau masih menjadi salah satu pilar pendapatan, tak lagi menjadi panglima. Mindset tentang bisnis klub sepakbola telah berubah. Para financial engineer di sepakbola telah menyadari kalau merek mereka ternyata memiliki nilai yang sangat luar biasa. Bahkan merek mereka lah sebenarnya generator pendapatan mereka. Mulai lah mereka mengeksploitasi merek mereka dengan cara inovasi merchandise, penguatan komunitas pendukung klub, dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang walau tak nyambung dengan sepakbola, tapi dilakoni juga.

Masuklah kita hari ini ke dalam era marketing football. Di mana sepakbola bukan lagi menjual kemenangan demi kemenangan. Tapi menjual merek. Dengan merek tersebut pendapatan dari televisi pun mengalir. Tak hanya berjualan merek di apparel yang mereka buat. Merek-merek itu sekarang juga merambah pesawat, café, bahkan ketika anda membeli pulsa untuk hape anda. Joan Laporta pernah keceplosan. Biar lah klub ini tak menjuarai gelar apapun, karena itu siklus. Tapi tidak dengan neraca kami. Karena dialah kunci kebangkitan kami. So see…

Laporan dari Deloitte menunjukan bahwa sebagian besar pendapatan klub-klub besar dunia seperti Real Madrid, Barcelona, atau MU diperoleh dari pendapatan marketing (saya lagi malas hitung rata-ratanya, tapi FYI Real Madrid mencapai 48.3%). Ini mungkin menjawab kenapa klub-klub sepakbola dari Inggris sebagai kiblat industri sepakbola kini sering menjalani tur ke belahan negara lain tak lain dan tak bukan adalah untuk memperkuat merek mereka. Bahkan klub sekelas Everton kini sudah memulainya dengan menancapkan basis pendukung di Thailand. Sehingga pantas sepakbola masuk dalam kategori genre bisnis tersendiri : F-Biz. Gabungan dari kekuatan merek dan marketing yang massif.

Namun dibalik hingar bingar dunia sepak bola, sebenarnya F-Biz adalah bisnis yang tidak terlalu menguntungkan kecuali mendapatkan popularitas. Laporan Deloitte terbaru menempatkan Real Madrid sebagai klub dengan pendapatan tertinggi di dunia. Tahu berapa besar pendapatannya?hanya 438.6 juta Euro. Kok hanya?ya kalau dirupiahkan hanya sekitar 4,5 Trilyun. Pendapatan lho, bukan laba. Dengan segala glamour yang dimilikinya, klub dengan pendapatan tersebar di dunia tersebut masih kalah dengan PT Waskita Karya yang pemasukannya lebih dari 6 Trilyun!!!!Hebat juga BUMN kita yang satu itu, bisa ngalahin Real Madrid.hehehe. wajar sebenarnya kalau dibilang investasi di sepakbola dibilang tidak terlalu menarik

Saya sebenernya ingin bicara banyak tentang industri sepakbola dari berbagai sudut pandang, termasuk tentang sepakbola Indonesia. Tapi lain kali lah. Segini saja dulu berkenalan tentang F-Biz.

Kamis, 05 Mei 2011

Why Do Men Hate Women Who “Love” Money? (A Maskulinsm Analysis of Mbak Titut's Article “Woman Loves Money”)

Oleh: Priyok

Ehm,,bicara wanita dan uang sungguh menarik perhatian saya. Karena selain tahta, kedua hal itulah hal yang sangat menganggu kami dalam mengarungi dunia ini. Di antara ketiga hal tersebut, wanita dan uang itulah yang memiliki hubungan paling dekat, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Mbak Titut. Percuma saja apabila lelaki punya tahta, namun tak memiliki banyak uang. Misalnya sebagai Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PerSeTan), olahraga yang kering kerontang uangnya. Biar jadi ketua tingkat nasional, pasti cewek-cewek juga mikir. Beda halnya kalau dia memang tajirudin, biar hanya menjadi bagian administrasi Kedondong FC (klub tarkam di Bekasi) cewek bisa nempel kaya perangko.

Tapi menurut saya, ada alasan lain selain sekedar alasan psikologis kenapa wanita “terpaksa” harus menyukai uang. Sebenarnya ini hal yang klasik bagi wanita. Logis saja, pria menginginkan wanita sempurna. Untuk sempurna mereka butuh modal untuk merawat dirinya. Walau sebenarnya pria tak perlu mengeluarkan uang besar untuk “merawat” bunga mata mereka.

Logika ini mengingatkan saya tentang Maintenance Cycle Theory. Sebuah teori yang diajarkan salah seorang Manajer Turbomachinery di kantor saya. Orang Inggris. Pecinta mesin Roll Royce. Untuk mendapatkan hasil optimal dari sebuah mesin, kata beliau, adalah konsekuensi logis apabila menimbulkan biaya untuk merawatnya---sama seperti wanita, ente mau bini ente cakep kagak cukuplah modal masker bengkoang---Biaya perawatan yang timbul akan kecil di awal penggunaannya---baru kawin,bini masih kinclong---akan tetapi akan meningkat di suatu masa, untuk kemudian stabil lagi dititik tersebut apabila maintenance rutin dilakukan—jadi kalo bini dah kinclong kudu terus-terusan modalin---karena apabila tidak dilakukan maintenance berkala maka bersiaplah untuk maintenance boom, kondisi dimana biaya yang kita keluarkan akan jauh lebih banyak daripada ketika mesin tersebut rajin dirawat. Niat hemat malah jebol.

So boys, this fact insists us to allocate some of our revenue to this kind of expense. The choices are do the maintenance or never.hehehehe. ini satu poin dimana memang women really love money. Bukan begitu Mbak Titut.

Tapi laki-laki punya cara berpikir lain. Saya pernah membaca sebuah artikel di sebuah majalah terkenal di Amerika sana, People. Artikel tersebut dibina oleh salah satu konsultan keuangan jebolan Merryl Linch (perusahaan keuangan yang katanya mau ngutangin Indonesia 100M dollar!!!). seorang wanita di New York bertanya dalam artikel itu. Singkatnya, dia adalah wanita super cantik dengan pergaulan kelas atas, mendambakan suami dengan penghasilan $500,000 per tahun. Kok ga dapet-dapet ya? Malah si cewek itu bingung, para lelaki tajir tersebut lebih memilih cewek biasa-biasa aja. Bego amat sih tu cowok.


Sang analis kemudian menjawab (Merryl Linch Analyst mode:on)


Bagi saya, pilihan lelaki-lelaki tersebut sangatlah tepat. Pilihan yang menggambarkan kalau mereka pantas memiliki penghasilan lebih dari $500,000 pertahun. Karena secara investasi pilihannya sangatlah tepat. Sebagai wanita kelas atas, memilih anda sebagai pasangan hidup adalah pilihan investasi yang buruk. Kenapa?Memilih anda berarti menyiapkan uang yang besar untuk mengakuisisi anda (kawin). Setelah akuisisi pun, biaya operasional yang dikeluarkan tidak sedikit selain terus menerus melakukan re-invest untuk menjaga “kualitas” anda. Di sisi yang lain, secara ekonomis nilai anda akan terus menurun karena depresiasi akan terus terjadi.

Dengan menikahi orang yang menurut anda biasa-biasa saja. Lelaki tersebut mendapatkan return yang lebih besar daripada investasi yang dilakukan. Karena selain tidak memerlukan biaya operasional yang mahal, re-invest yang dilakukan pun relatif kecil karena nilai depresiasinya pun kecil mengingat nilai akuisisi yang tidak terlampau mahal.

Hahahahahaha. Kira-kira begitu terjemahannya. Mungkin agak sedikit merendahkan wanita, tapi bagi saya logis juga. Poinnya bukanlah kalau anda, para wanita, adalah mesin atau aset yang akan terdepresiasi. Sama sekali bukan. Kami sangat mengerti anda suka (mungkin lebih tepatnya butuh) uang. Konsekuensi yang logis dalam kehidupan ini. Tapi plisss, bijak menggunakan uang ini. Ga perlu kan kami sampe korupsi gara-gara dirimu menginginkan ini itu. Jadilah menteri keuangan yang baik dalam keluarga kami nanti. This is why we hate woman who “love” money.


Salam sayang untuk menteri keuanganku....mmmmmuaaaaaaccccchhh!!!!!

Rabu, 27 April 2011

Ada yang Tahu Bagaimana Sebenarnya Hitung-hitungan Minyak Dan Gas Bumi Kita?


Oleh: Priyok Pamungkas*


Tak banyak orang tau, karena memang industri ini agak sedikit menutup diri. Jauh dari hingarbingar politik dan ekonomi nasional. Yang kebanyakan dimengerti oleh sebagian mahasiswa adalah para perusahaan asing itu mengambil kekayaan alam dari perut Indonesia, mengeruknya, bawa kabur ke negeri asalnya dan menyisakan sedikit untuk negara kita. Ya, tidak sepenuhnya benar sih. Mari kita melihat lagi secara lebih objektif apa benar “gambaran” yang dimiliki sebagian aktifis itu benar sepenuhnya atau tidak.

Saya beri gambaran sedikit dulu tentang investasi di dunia migas. Bisnis migas merupakan bisnis yang tidak murah. Sebagai informasi saja, harga sewa alat mengebor saja bisa mencapai ratusan ribu dollar per hari. Itu baru mengebor, dengan kemungkinan tidak dapat apa-apa. Belum fasilitas yang lain yang nilainya ratusan juta dollar amerika. Wajar saja kalau sumbangsih negeri ini terhadap investasi di dunia migas hanya kurang dari 6% (Maret 2011,detik.com). Bisa jebol APBN kita ngurus migas. Besarnya investasi yang dilakukan membuat perusahaan-perusahaan minyak menuntut expected return yang besar pula. Ya, bisnis lah.

Disinilah dimulainya dilema. Di satu sisi pemerintah kita tak punya kemampuan investasi di bidang migas, Pertamina pun terbatas. Selain itu, pemerintah dituntut untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas nasional yang terus meningkat. Memenuhi permintaan nasional berarti melipatgandakan produksi minyak dan gas yang kita miliki, yang artinya investasi besar-besaran, yang bemuara ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi itu semua sendirian. Karena keterbatasan dana yang dimiliki.

Oleh sebab itu, pemerintah mengambil jalan tengah dengan mengajak investor swasta (tidak hanya asing) untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Investasi yang sangat besar, seperti yang disebutkan di atas, menuntut return yang besar. Kalau tidak, malas lah investasi tak menguntungkan. Sama saja kalau kita disuruh berbisnis, tapi laba yang kita peroleh ternyata jauh lebih rendah dari bunga bank. Ya mending modalnya dideposito aja deh, dapetnya lebih gede (ehm, di bank syariah ya). Dilema di atas memaksa pemerintah untuk memberikan pengumuman “Perhatian, yang mau minyak, yang mau minyak”.

Pemerintah kita adalah pemerintah yang moderat, kata lainnya cari aman. Takut kalau investor kabur, tapi juga takut kalau popularitas turun kalau tidak pro rakyat. Sehingga tidak akan berani menekan investor untuk memberi ”lebih” bagi kita, tapi juga belagak berani kalau sdh terkait popularitas. Akhirnya solusi jalan tengah dari kedua kepentingan tersebutlah yang diambil. Yaitu dengan memberikan hak mengelola dan mengeksploitasi suatu daerah dengan sebutan kontrak PSC (production sharing contract).

Selanjutnya apakah kita “menjual” harta kekayaan kita secara murah kepada pihak asing?
Ehm, begini. Saya punya penggambaran yang kira-kira mirip untuk pola kerja sama ini. Filosofi kerjasama ini mirip dengan petani di Indonesia hari ini. Sudah jamak di Indonesia, kalau petani tak punya lahan. Sehingga mereka menjadi buruh tani dengan mengerjakan tanah garapan milik orang lain (gurem). Nah, asumsikan pemilik tanah garapan adalah pemerintah kita dan petani penggarap adalah perusahaan-perusahaan minyak (BUMN,lokal, maupun asing). Mereka diberi kontrak selama beberapa tahun untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ”tanah garapan” mereka. Dalam bahasa teknis, mereka adalah kontraktor kita dalam menggarap minyak dan gas kita.

Nah sekarang beranjak ke bagian paling serunya, uang. Tak semudah petani gurem dan tuannya yang Dalam undang-undang kita (no 22/2001 klo nda salah), ada sistem bagi hasil dari hasil produksi minyak, besarannya berbeda-beda tiap kontrak, tapi rentangnya antara (pemerintah:perusahaan minyak) 65:35 sampai 85:15 dari profit. Terdengar manis bukan?Pemerintah seakan-akan menjadi porsi lebih besar. Tapi perhitungan belum berhenti sampai disitu. Bisa jadi pemerintah mendapat bagian yang sangat kecil, namun bisa juga pemerintah mendapat hasil yang sepadan (ga ngapa2in, dapet duit juga). Kok bisa? begini detailnya.

Lebih enak jelasinnya lewat gambar, asumsikan tabung yang di tengah adalah semua hasil minyak dan gas. Di awal perhitungan, pemerintah ingin memastikan dalam setiap operasi perusahaan minyak mendapatkan hasil. Itulah yang biasanya disebut FTP (First Tranche Petroleum) yang biasanya sebesar 20% dari total produksi. FTP ini kemudian dibagi sesuai porsi pemerintah dan kontraktor.

Selanjutnya, dalam mekanisme PSC di Indonesia ada yang namanya cost recovery. Bagi anda belum tahu, seluruh biaya operasional yang dikeluarkan oleh kontraktor mulai dari beli kentang goreng untuk lemburan karyawan sampai beli mesin turbin yang besarnya segede gaban, mulai dari pijet untuk karyawan sampai service mesin bisa ”direimburse” kepada pemerintah. Disinilah lokasi ”main mata” antara kontraktor dan pemerintah. Kontraktor bisa saja menyelipkan biaya-biaya yang tidak termasuk cost recovery dan pemerintah masih terbatas baik tenaga dan waktu untuk mengaudit cost recovery per item. Ada juga investment credit, ini merupakan insentif kepada kontraktor untuk kasus-kasus tertentu misalnya pengeboran di laut dalam yang investasinya jauh lebih besar lagi.

Nah, sisa dari pendapatan minyak dan gas setelah dikurangi poin-poin di atas lah yang kemudian dibagi hasil oleh pemerintah dan kontraktor. Itupun kalau ada sisa, karena bisa jadi penghasilan dari minyak dan gas tersebut sudah keburu habis saat membayar cost recovery kepada kontraktor. Ada 2 lagi pendapatan pemerintah, dari pajak dan DMO. Kalau pajak anda tahu sendiri lah, kalau DMO?DMO atau Domestic Market Obligation adalah kewajiban bagi kontraktor untuk menjual hasil produksi mereka ke dalam negeri (tergantung kontrak, rata-rata 20-25% dari sisa perhitungan) dengan harga tertentu, bisa sampai 10% dari harga pasar. Tapi karena ribet ngambilin itu minyak dari tiap-tiap field, terkadang pemerintah Cuma ambil mentahnya aja. Itu minyak dijual aja dengan harga pasar, nah selisih harganya itu yang disetorkan ke pemerintah.

Kalau dari gambar di atas, kelihatannya memang bagian kontraktor lebih banyak walaupun tidak mutlak. Faktor yang paling menentukan disini adalah bagian cost recovery dan pendapatan dari produksi minyak. Makin tinggi cost recovery, makin berkurang jatah kita dengan asumsi produksi tetap karena remaining produksinya menjadi kecil atau bahkan tak ada sisanya sama sekali (malah nombok cost recovery.hehe). Data BP MIGAS tahun 2007-2009 menunjukan peningkatan nilai cost recovery tanpa diiringi tercapainya target produksi. Yang artinya secara umum, “jatah” negara kita dari hasil migas menurun, walaupun mungkin tetap berada di level yang tinggi akibat meningkatnya harga minyak.

Nah begitulah kira-kira hitung-hitungan bagi hasil antara pemerintah kita dan kontraktor perusahaan minyak (termasuk pertamina). Yang lain-lain, akan kita kaji lebih detail. Sementara ini dulu, untuk membuka tabir dunia migas yang memang ”tertutup”. Mohon kritik dan saran kalo2 salah.hehehe

*)Mantan ketua BEM FEB UGM, sekarang sedang "belajar" disalah satu kontraktor migas Asing dari Paman Sam. Biografi yang rada bener nyusul