Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2013

8 Prinsip (Jadi) Pengusaha


Oleh: Rizky Kuncoro Hadi

Sejatinya, perjalanan menjadi pengusaha adalah perjalanan menuju keshalihan.

8 Prinsip (jadi) pengusaha ini disarikan oleh Ust. Yusuf Mansur dalam buku terbarunya yang berjudul “Semua bisa jadi pengusaha” dari Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 14-17. Berikut penjelasannya.

Prinsip yang pertama adalah aamanna (iman), keyakinan bahwa hanya Allah yang berkehendak, hanya Allah yang bisa memberikan ini itu, hanya Allah yang memberikan ridho, hanya Allah yang bisa membuat kita jadi pengusaha, hanya Allah yang bisa mendatangkan pelanggan, hanya Allah yang bisa membuat kita berhasil, dan hanya Allah pula yang bisa membuat kita hancur.

Prinsip yang kedua adalah faghfirlanaa (ampunilah dosa-dosa kami). Ada orang yang berat sekali menjadi pengusaha. Kenapa? Ada pengusaha yang usahanya gitu-gitu aja. Kenapa? Ada pengusaha yang justru rugi melulu. Kenapa? Karena ada asbab sebelumnya. Jadi, pengusaha itu harus banyak istighfarnya. Dosa-dosa kita sebelumnya itu bikin kita susah. Sholat banyak telatnya, yang sunnah pun jarang-jarang. Kita punya dosa pun banyak bener. Itu bikin berat orang jadi pengusaha. Apa ada hubungannya pengusaha dengan dosa? Ada banget! Allah yang punya segala kemudahan, segala modal, dan segala jalan. Kalo Allah ga suka, gampang bagi Allah buat kita susah.

Prinsip yang ketiga adalah waqinaa ‘adzaabannaar (lindungi kami dari azab neraka). Kalau mau menjadi pengusaha yang mendapat dunia dan akhiratnya Allah, kita harus menjaga diri kita dari apa-apa yang membuat Allah menyeburkan kita ke neraka. Punya hutang banyak, masalah tidak? Jika dengan berhutang itu kita bisa terhindar dari neraka dan menjadi masuk surga, taat ama Allah, cinta sedekah, rajin ke masjid, maka hutang itu adalah berkah. Tapi jika kemudian ketika kita berlimpah kekayaan, berlimpah karunia Allah, tapi kemudian kita malah rajin buat dosa, berzina, meninggalkan sholat, durhaka sama orang tua, pagi gak pake Dhuha. Maka karunia Allah itu adalah petaka yang besar untuk kita.

Prinsip yang keempat adalah ash-shoobiriina (bersabar). Kita kemudian bersabar, betul! Sabar ini penting. Seorang pengusaha jika tidak memiliki sabar, wah... akan terjadi masalah. Baik sabar dalam menjalankan amaliyah maupun bersabar diri dalam menahan diri dari maksiat. Misalnya ada tawaran proyek yang bisa menghasilkan keuntungan satu milyar. Namun kita diminta menyiapkan uang sebesar 200 juta terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan proyek itu. Apakah kita mampu bersabar? Mending kita bersabar, kalau tidak sabar kita malah akan kehilangan segala-galanya.

Prinsip yang kelima adalah ash-shoodiqiina (kebenaran). Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat mengagumkan. Kita, kalau jadi pengusaha harus hati-hati. Kita jadi pengusaha harus benar, harus jujur,trusted people, harus menjadi orang yang terpercaya. Kenapa orang bisa dikasih modal? Karena pemodal itu percaya. Tapi untuk bisa dipercaya itu harus ada pembuktian. Trust itu lebih besar dan berharga daripada modal uang.

Prinsip yang keenam adalah al-qoonitiina (taat). Kalau kita ingin menjadi pengusaha, namun tidak taat, wah! Apa jadinya nanti. Contoh, klien saudara menghubungi saudara “Pak, kami ingin melihat apartemen yang bapak bangun.” Kalau kita tidak taat, kita akan mengajukan waktu pertemuan pada jam 12 siang. Jam 12 ada sholat zuhur. Allah tidak suka jika saudara bertemu dengan mahlukNya tapi justru mengabaikan sang Khalik yang menciptakan klien saudara. Taat itu penuhi yang wajib, hidupkan yang sunnah. Usahakan sholat tepat waktu dan berjama’ah. Kalau perlu, kita sebagai owner adalah orang yang adzan dan menjadi imam buat karyawannya pada saat sholat. Jangan sampai kita menjadi bos yang dilaknat Allah.

Prinsip yang ketujuh adalah al-munfiqiina (orang-orang yang bersedekah). Menafkahkan hartanya di jalan Allah. Baik lapang maupun sempit, baik senang maupun susah, baik saat gembira maupun sedang sedih, baik sedang kelebihan atau kekurangan. Kalau sejak kita menjadi pekerja kita sudah memulai tradisi bersedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, maka selangkah lagi kita akan menjadi pengusaha. Tapi hal ini masih biasa, dibandingkan jika kita masih di zona pengangguran namun kita sudah mencintai sedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, dahsyat!

Prinsip yang kedelapan adalah mustaghfiriina bil ashhaar (memohon ampunan di waktu sahur). Prinsip ini terkait dengan sholat malam. Terkandung makna agar kita menegakkan sholat tahajud, menegakkan sholat witir, dan tentu saja ditambah dengan istighfar.

Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, berilah kami ilmu yang bermanfaat. Robbuna ya Rabb, berilah kami usaha yang bisa membuat kami tenteram, bisa tidur nyenyak, pikiran tenang, anak dan istri kami mendapat rezeki yang halal, rezeki yang berkah, yang bisa mengantar kami ke tanah suci-Mu dan bisa memberangkatkan orang-orang yang kami cintai ke tanah suci-Mu. Dan juga jadikan segala usaha kami, ikhtiar kami mengantarkan kami kepada ridho-Mu, maghfirah-Mu, dan jannah-Mu. aamiin ya robbal ‘aalamiin...


Rabu, 02 Januari 2013

Membantu

Oleh: Yoga PS

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta, saya jamin Anda akan menemukan kesulitan. Bukan hanya kesulitan menemukan mobil yang disewa, tapi yang lebih puyeng: bagaimana menentukan tariff. Tidak ada harga standar. Semua tergantung kemampuan nego, tampang memelas ketika menawar, dan belas kasihan pemilik mobil terhadap penyewa.

Untuk membantu orang yang mencari moda transportasi aman dan nyaman inilah keluarga Djokosoetono mendirikan “Chandra Taksi”, embrio telur lahirnya Blue Bird. Taksi pertama yang menggunakan system argo yang jelas, dan layanan barang kembali jika ada bawaan penumpang yang tertinggal.

“Proses membantu” yang sama juga dilakukan oleh Bob Sadino. Pengusaha nyentrik yang terbiasa memakai celana pendek ini awalnya berganti-ganti pekerjaan. Sampai ia menjual telur dan kebetulan ia menemukan kenyataan jika banyak ekspatriat kesulitan menemukan tempat belanja bahan makanan segar yang berkualitas. Telur pun ditambah sayur mayur, daging, dan berbagai kebutuhan pokok. Akhirnya, berdirilah Kem Chicks hingga sekarang.

Melayani

Saat kita belajar analisa bisnis di sekolah bisnis, kita diajar untuk melihat competitive advantage untuk menilai sebuah bisnis. Sejauh mana superioritas produk/jasa perusahaan dibandingkan pesaingnya. Tapi menurut saya, bisnis yang baik adalah bisnis yang melayani sesama manusia. Profit? Itu hanya konsekuensi logis setelahnya.

Karena membangun bisnis pada dasarnya bukan tentang memenuhi kebutuhan diri sendiri, tapi bagaimana membantu orang lain. Ekonom menyebutnya kebutuhan pasar. Microsoft dan Apple membantu dunia dengan menciptakan system operasi computer yang mempermudah hidup manusia. Google dan Yahoo! membantu kita menemukan pengetahuan semesta di dunia maya. Mercedes dan Toyota membantu kita berkendara dengan nyaman di jalan raya.

Hukum Sang Pencipta sungguh sederhana. Yang membantu, akan dibantu. Yang menolong, akan ditolong. Yang berbuat baik, akan mendapatkan hasil baik. Mereka yang dipermudah hidupnya, adalah mereka yang mempermudah hidup sesamanya.

Seperti pesan pemenang nobel sastra pertama dari Asia, Rabindranath Tagore:

“Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan. Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan. Saya melakukan dan percayalah, pelayanan adalah kegembiraan”.

Jika kita sedang kebingunan mencari ide bisnis, peluang ekonomis, atau ingin mendirikan perusahaan tahan krisis, cukup ajukan pertanyaan sederhana:

“Apa yang bisa saya bantu?”


Kamis, 26 Januari 2012

Entrepreneurship: It's All Size

Anak-anak kecil jaman saya, terbiasa dengan cita-cita menjadi: insinyur, dokter, dan presiden. Kayaknya hebat banget gitu ya? Jujur sih, jamn dulu pertama kali naik pesawat, saya pengen jadi pramugari. Mengapa sih kita punya cita-cita dengan image yang hebat begitu? Karena orang tua kita? Karena buku teks saat kita SD dan demikian yang diajarkan guru kita? Karena lagu Susan (yang kalau gede pingin jadi apa)? Padahal ya, setelah kita susah-susah sekolah, bahkan kuliah, cari kerjaan minta ampun susahnya. Udah dapat kerjaanpun, kita masih lirak lirik untuk dapat yang lebih baik (payout-nya). Sebenarnya sederhana saja bukan, cita-cita setiap orang itu sebenarnya sama saja: tidak merasa kekurangan dalam hidupnya. Nggak kurang materi, nggak kurang pamor, nggak kurang segala-galanya, bisa melakukan apa saja yang disukai dan memperoleh yang disukai, intinya nggak kurang bahagia.

Entrepreneurship: sebuah kisah

Ini kisah nyata, saya alami sendiri. Menjalani hari-hari dnegan rutinitas sebagai pekerja kantoran membuat saya jengah. Padahal kerjaan saya tidak termasuk pekerjaan yang day-to-day, maksudnya kerjaan saya nggak sama setiap harinya. Hari ini mungkin berkeliling cari info ke pasar, hari besok bisa jadi ngolah data. Atau hari ini ngintip data pendapatan PT A, kalau besok PT B. Esensi dan prosedur banyak yang sama, hanya saja bervariasi dan mestinya nggak membosankan.

Setelah saya mencoba menjadi entrepreneur dadakan (coba saja, nggak usah banyak mikir), memang ada perbedaan. Waktu itu saya berjualan minuman berbahan dasar potongan agar-agar dan air gula. Saya bebas bereksperimen dengan resep, harga jual, cara menjual, warna, ukuran produk, jam kerja, hingga pada suatu titik: saya nggak merasa bebas lagi. It's all about money!

Ada suatu keharusan untuk membuat minuman dan mengantar minuman agar saya memperoleh pendapatan dan bisa makan. Lantas apa bedanya dengan keharusan bekerja di kantor di saat saya ingin tidur siang? Bedanya hanya tempat bekerja dan posisi saudara-saudara! Mulai detik itulah saya memperoleh pencerahan tentang entrepreneurship yang bukan berarti: memiliki usaha/ berusaha sendiri.

Lalu entrepreneurship itu apa??? 
Entrepreneurship is the act of being an entrepreneur, which can be defined as "one who undertakes innovations, finance, and business acumen in an effort to transform innovations into economic goods".
Entreprenur itu bukan punya usaha sendiri, tetapi orang yang mau berusaha lebih, begitu deh kalau mau kita simpulkan dengan ringan. Exactly, inilah kesimpulan yang ada dalam hati saya saat bosan dengan rutinitas membuat minuman sebagai aktifitas menghasilkan uang. Awalnya memang cukup menyenangkan, seperti main game (ahahahahaha...) tapi kenyataan memang berkata lain.

Meskipun banyak teori yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan sebuah bisnis, pada prakteknya nggak segampang itu. Sebaliknya, mikir doang tapi NATO (not action talk only) juga adalah pilihan yang nggak bijak, tapi act without well-planning juga nggak bijak kan. Nah loh, pusing kan?! Mau teori yang simple tentang memulai usaha? Ada panduan dua faktor yang bisa dijadikan pedoman: passion dan peluang (pernah dibahas oleh di sini).

Diawali dengan inovasi dan pada akhirnya nggak terlepas dari masalah menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis (menghasilkan uang). Again, it's all about money, bukan sekedar inovasi tiada henti yang nggak menghasilkan uang. Namun, intinya bukan uang, tetapi inovasi, begitu begitu begitu bukannnn?

"Punya usaha sendiri" itu juga nggak harus berjualan atau berdagang, termasuk juga kerja lepas (freelance). Dan yang saya lihat, inovasi bukan sekedar sesuatu yang belum ada sebelumnya, tetapi juga cocok dengan apa yang menjadi kebutuhan atau yang tanpa disadari dibutuhkan oleh orang-orang.

Memulai menjadi entrepreneur

Nggak harus punya suatu usaha yang berdiri sendiri. Setelah insaf dan belajar dari yang saya alami sendiri, menjadi entrepreneur itu bukan semata-mata punya cukup uang sebagai modal usaha, lalu memulai usaha dan berharap akan berjalan sesuai harapan.

Bahkan ya, bagi teman-teman yang masih berstatus karyawan, meskipun udah jenuh dan pengen mati di kursi kerja masing-masing, lihatlah kondisi itu sebagai peluang! Kalau saya dapat kembali ke masa-masa itu (hiks hiks...), maksudnya masa saat menjadi pegawai kantoran dan merasa hal tersebut membosankan, justru sebenarnya bisa jadi ajang untuk belajar menjadi entrepreneur.

Banyak hal tentang industri/perusahaan tempat kita bekerja yang dapat dipelajari saat menjadi karyawan, pengetahuan itu juga modal kan. Tentang cara mengerjakan duty kita, bisa dicari cara-cara sendiri yang inovatif, lantas bagaimana agar ide tersebut dapat diterima dan menjadi masuk akal bagi atasan kita. Kalau mau langsung praktek usaha kecil-kecilan, bisa seperti Yoga yang meneropong kebutuhan (yang kadang tidak disadari) orang-orang disekelilingnya: sarapan. Return dari jualan kue buat sarapan di kantornya katanya ngalahin return dari sahamnya.

Intinya, perenungan saya tentang entrepreneruship, yang bisa dibilang bercokol lebih dari 6 bulan namun baru sekarang bisa terungkap dengan kata-kata adalah: apapun yang kita lakukan sekarang dan profesi apapun yang dijalani sekarang, bisa kok menjiwai entrepreneur. Meskipun kalau bukan punya usaha sendiri berarti value-added yang ada dan menghasilkan lebih untuk perusahaan tempat bekerja. It's all size!

Jumat, 13 Januari 2012

Punya Ide Bisnis yang Menggiurkan???

Alasan resign??? Kebanyakan orang sih resign karena sudah dapat "yang lebih baik". Xixixi... itu sih urusan masing-masing yah kalau merasa dapat yang lebih baik. Kebanyakan karyawati resign dengan alasan: akan menikah. Kalau saya? Pengen coba usaha sendiri, walaupun nggak yakin-yakin amat dengan tingkat kesuksesannya. Jaman itu, saya diwanti-wanti untuk tetap bertahan kerja sampai yakin bisa berdiri sendiri. Bahkan, apa salahnya bisa dapat 2 sumber income? Tapi memang dasar pengennya nggak terikat dengan aturan 8 to 5 (atau sejenis), saya milih untuk resign setelah bertahan 2 tahun 9 bulan di kursi auditor.

Warnet: Yang pernah diobrolin, direncanain, dipikirin, dan kenyataan

Pernah saya membahas untungnya bisnis internet dalam Netnomics, kayaknya bisnis warnet (untuk game online) itu menguntungkan banget. Yup, ini kalau kita memulai bisnisnya jaman internet belum murah. Untung saja saya nggak "tercebur" dalam bisnis ini. Sempat bikin hitung-hitungan, yang sampai sekarang nggak kelar-kelar. Hahaha... niat nggak sih ini?

Kalau boleh curcol :D awalnya saya ingin punya bisnis karena warnet-warnet yang saya jelajahi. Ada yang tempatnya enak, tapi lemot. Ada yang murah, tapi jorok. Ada yang enak dan murah, tapi jauh. Ada yang berisik, ada juga yang key-nya nggak enak, ada yang kursinya somplak kayak digigit tikus, ada yang OP-nya sadis, ada juga yang AC-nya dingin banget sampe menggigil dan ada juga yang remang-remang. 

Ada salah seorang rekan kerja yang menjadi tertarik dengan investasi dalam bisnis warnet ini, tapi ada satu permasalahan yang membuat saya angkat tangan pula, soal tempat. Mau cari tempat di mana? Akhirnya tetap saja bisnis valas dan emas yang merupakan primadona rekan saya tersebut menjadi tak terkalahkan keuntungannya.

Kenyataannya, setelah saya boleh berbincang informal dengan salah satu pemilik warnet yang memulai di tahun 2009, selama 2 tahun memang diakui modal telah kembali. Tapi ya kondisinya sekarang ini nggak terlalu menguntungkan. Sedikit pendapatan yang melebihi biaya operasional. Banyak konsumen yang sudah beralih dengan memasang internet pribadi. Bahkan kalau memulai bisnis warnet sekarang sudah terlalu terlambat.

Warung Kopi: mini food court

Fenomena bisnis warung kopi (warkop) mulai saya amati sejak berada kembali di pulau Sumatera. Selama di Jakarta sih, nggak ada kepikiran untuk punya warung kopi. Nongkrong sambil jajan ya di JCo, Sour Sally, Dunkin, Pizza Hut, Ichiban Crepes, Hop Hop. Kalau nongkrong sambil makan ya tetep aja di mall atau pinggiran mall. Sangat jarang dan hampir nggak nemuin yang namanya warkop, adanya warteg, warung burjo dan penjual bergerobak.

Bisnis warkop umumnya menyediakan minuman yang general (teh, kopi, susu, teh kembang, teh susu, kopi susu, milo). Soal makanan, ada bermacam variasi, paling umum mie pangsit, mie-nasi-bihun-kuetiaw goreng. Ada juga yang menyediakan menu-menu khusus seperti soto, bubur, lontong, sate, gado-gado, nasi hainam, ketoprak, nasi uduk, dan kue-kue atau cemilan lainnya. Warkop nggak terlalu mahal, makanannya standar, pelayanannya standar, dan esensi utamanya adalah makan di tempat yang lumayan bersih. Untuk ngobrol, selama nggak ada yang merokok di sekitar kita sih oke-oke aja.

Menurut pandangan saya, bisnis warkop ada foodcourt dalam skala mini. Kalau saya akan berbisnis warkop, maka saya akan memilih sebagai penyedia tempat dan minuman, sementara untuk makanan sih mendingan juga bagi hasil. Misalnya dari semanggok mie yang dijual oleh penjual lain yang numpang jualan di warkop saya, maka saya dapet 1000 rupiah. Just as simple like that, nggak mau pusing masak-masak.

Suvenir dan undangan: estetik dan fungsi

Sering nggak sih kita mendapat suvenir acara atau pernikahan yang bukan barang jelek tetapi nggak mau juga kita pakai? Begitu juga undangan pernikahan, banyak yang bagus-bagus sehingga sayang saya buang, tapi nggak tau juga kalau disimpan buat apaan. Masih memikirkan tetang suvenir dan undangan yang dapat digunakan kembali dan bukan sekedar pemborosan yang nggak berarti.

Pertama, tentang suvenir. Kebanyakan handmade. Bisa sih digunakan, seperti gantungan kunci atau tempat handphone, tapi yaaaaaa nggak setiap menerima yang begituan kita akan menggunakannya bukan? Barang yang mass product sih lebih terpakai oleh penerimanya, seperti: pengharum ruangan, botol Tupperware, centong nasi, sumpit. Tinggal pengemasan yang menarik agar barang yang mass product itu dapat cantik sebagai suvenir. Estetik dan fungsi yang berimbang bukan. Kira-kira sih kalau akan terjun ke bisnis ini maka saya nggak menggunakan barang handmade yang fungsinya hanya estetik belaka, tapi kalo pengemasan mass product doang, terlalu mudah untuk ditiru.

Kedua, tentang undangan pernikahan. Undangan yang sederhana menyiratkan pesta yang biasa saja, tetapi undangan yang super bagus (dengan karton tebal, kertas wangi, puisi cinta, bahkan print-out foto kedua mempelai) adalah sesuatu yang berguna untuk mengesankan saja. Lebih dari itu, adalah sebuah pemborosan yang terselubung. Sebenarnya ya, di era digital ini, apa sih salahnya mengundang dengan media sms, bbm, pm ke fb, atau meng-create event di fb. But somehow, saya juga nggak mau datang tuh kalau nggak terima undangan yang printed-out. Nah loh???

Menikah adalah salah satu momen yang paling bahagia sepanjang hidup manusia, sehingga keberadaan undangan dan suvenir adalah hal yang mutlak agar nggak jadi pernikahan yang menyimpang. Dari sisi sustainability, bisnis undangan dan suvenir adalah bisnis yang dapat berlangsung terus menerus hingga ada suatu ide yang dapat menggantikan secara fungsional undangan tercetak dan suvenir yang mementingkan estetika.

Apa kamu punya ide bisnis yang menggiurkan?

Rabu, 07 Desember 2011

Nggak Mampu Researchpreneur, Writerpreneur Saja!

Apa yang harus saya lakukan kalau hanya boleh di rumah, stress belum dapat kerjaan,  nggak punya hobi yang bisa menghasilkan, tetapi butuh uang??? *ngikut style judul bombastis om Yoga :p

Tenang pren, dunia belum berakhir, Laptop atau sejenisnya punya dong??? Jadilah writerpreneur!

Kalo researchpreneur adalah istilah yang dilahirkan oleh salah seorang penulis EG (sumpah udah googling dan hasilnya hanya EG!), maka saya terinspirasi untuk membahas hal yang sudah sering dikumandangkan orang-orang: writerpreneur. Memang ada apa ya writer (penulis) kok bisa dikawinkan dengan entrepreneur? Hal-hal macam apa saja yang bisa disebut writerpreneur? Apakah menulis itu sama dengan berbisnis? Seluk beluk gila apa kali ini???

Seperti biasa, ramuan ajaib saya: niat baik, sediakan waktu, gali tacit, browsing, sedikit taburan gila -- siap diramu dan disuguhkan ;)

Menjual Pikiran dan Pemikiran

Ini menurut tacit saya yang secara common sense bisa diterimalah ya, menulis itu adalah proses yang panjang walaupun hasilnya pendek (syukur kalo panjang). Nggak serta merta orang dapat menulis, apalagi membuat tulisan yang menarik dan berdaya jual, ya nggak? Proses pertama: menggali ide (cari ide nggak tepat sebab yang namanya ide itu nggak hilang, telah kita miliki sebagai tacit). Kalau kita mau menyediakan waktu untuk berpikir mau menulis apa, atau menghubungkan sesuatu dengan tacit yang memang sudah ada, itu sudah termasuk menggali. Singkat saja, kedua mengembangkan sebuah ide menjadi tulisan, dengan cara yang bervariasi: ada yang menyusun kerangka dulu, ada yang mengalir begitu saja, ada yang mengendap berhari-hari bahkan berbulan-bulan dulu, ada yang butuh stimulus dari sumber-sumber lain, yah terserah mau yang mana.

Kebanyakan orang tidak selesai melalu tahapan kedua tersebut, entah kurang motivasi ataupun inspirasi. My golden rule (maklom lagi demam sama frasa "golden rule"): menulis adalah menguraikan apa yang jadi pikiran atau pemikiran saya, sehingga dengan membacanya orang lain menangkap sepersis mungkin apa yang saya maksudkan. Tujuan akhirnya: tujuan yang saya susupkan tercapai. Tujuan itu bisa berupa: transfer ilmu, menghibur, mendapat nama baik, meningkatkan popularitas, hingga menerima hadiah/royalti. Yup, secara singkat: menulis adalah menjual pikiran (sesuatu yang orisinil) atau pemikiran (sesuatu yang sudah kita olah).

Bagaimana cara menjualnya? I guess that's the meaning of writerpreneur. Lebih luas lagi writerpreneur dapat diartikan sebagai: penulis yang mandiri. Penulis tersebut secara mandiri menggali ide, mengembangkan, mempublikasikan, dan menerima hasilnya -- tanpa melalui siklus yang ribet. 

Bisnis Tulis Menulis

Banyak orang yang hobi membaca, bahkan ada yang menjadikannya kebutuhan utama. Entah mengapa ya orang yang suka menulis itu pada dasarnya suka membaca juga, jadi penulis juga potential customer bagi penulis yang lain. Saya belum lupa dengan hal yang sering ditekankan salah seorang penulis EG yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu (yang pernah gagal bersama saya membuat duo kolaborasi fiksi), bahwa tulisan adalah produk yang sangat terdeferensiasi, sehingga setiap tulisan mempunyai pasar tersendiri.

Bukan cuma penulis dan pembaca, banyak pihak yang terlibat dalam bisnis tulis menulis, diantaranya: editor, penerjemah, penerbit, penerbit indie, toko buku, bahkan blog dengan konten yang menarik di dunia maya juga berpeluang memperoleh penghasilan dari adsense (kok bisa? baca di sini). Penulis juga membuat seseorang bisa mendapat rejeki lain, contohnya: Arief dengan akun twit Pocongg-nya, yang berkat kegokilannya menjadi seleb sekarang.

Ghostwriter: re-packing analogy

Dalam proses googling saya demi perluasan konten, ada sebuah profesi berkaitan dengan tulis menulis yang masih diperdebatkan: ghostwriter. Bukan penulis cerita hantu seperti R.L Stine, tetapi dalam bahasa Indonesia digambarkan dengan frasa "Penulis Bayangan." Penulis tersebut menulis suatu karya, kemudian menjual karya tersebut berikut hak intelektualnya kepada pihak lain yang memiliki nama besar tetapi tidak memiliki cukup waktu (atau mungkin kemampuan) untuk menulis yang seperti itu. Mari kita abaikan adanya proses review dari yang membeli atau tidak, pertukaran uang dengan karya tersebut sah-sah saja kan. Secara ekonomi, peristiwa tersebut sama saja seperti membeli 1 kg gula pasir putih.

Ngomong-ngomong gula pasir putih (yang kita skip saja proses pembuatannya), kita jadiin contoh saja untuk menjelaskan bisnis yang bermula dari ghostwriter ini: keluar dari pabrik tanpa merek, ke distributor provinsi tanpa merek, dari distributor ke hypermart yang nge-hip (anggap saja namanya Aulia Star Market dengan harga jual yang lebih mahal daripada menjual ke pedagang lain) dan hypermart tersebut boleh mengakui gula tersebut ditanam di kebun tebunya sendiri yang eksklusif, lalu dibeli oleh kalangan atas yang belanja di Aulia Star Market itu dengan harga 2 kali lipat dari harga pasaran gula pasir putih. Apa yang membuatnya mahal? Karena dikemas dalam plastik berlabel Aulia Star Market dan seolah-olah adalah hasil dari tebu yang ditanam sendiri oleh Aulia Star Market dengan eksklusif, padahal sama saja dengan gula pasir putih yang dibeli di warung sebelah rumah Dyah :p

Apa ada yang salah kalau konsumen mau membeli 2 kali lipat harga pasar karena "suatu nama" dan "percaya" bahwa gula pasir tersebut ditanam di kebun Aulia Star Market sendiri? Ada konsumen yang merasa gula tersebut lebih manis, lebih higienis, lebih putih, walaupun sebenarnya sih biasa saja. Kalo kata Syahrini sih: sesuatu banget, hahaha... saking susahnya dijelaskan dengan kata-kata yah gula yang ajaib itu!

Yap, kira-kira seperti itulah karya ghostwriter yang dibeli seseorang yang tenar, lalu dibeli pembaca karena ketenaran nama penulis -- sementara bila karya tersebut diterbitkan dengan nama asli ghostwriter nggak bakal dibeli. Ehem, mungkin nggak sih kalau ghostwriter itu punya ghostwriter lagi, sehingga dia ngambil untung saja dari menjual ke orang yang tenar???

-selesai, soalnya itu pertanyaan retoris saja :p-

Minggu, 23 Oktober 2011

Kerja! Kerja! Kerja!

Oleh: Yoga PS

Akhirnya selesai juga. Audisi “SBY Idol” yang menyita perhatian public, telah berakhir. Ada menteri yang lengser, ada yang masuk. Kocok ulang komposisi cabinet yang membuat jumlah wakil menteri makin membengkak. Saya tidak ingin berbicara politik reshuffle, biarlah menjadi urusan Presiden dengan Tuhan. Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada CEO favorit saya yang akhirnya masuk ke jajaran birokrasi: Dahlan Iskan.

Ya, Dahlan Iskan adalah CEO favorit saya! Ada banyak alasan yang membuat saya kagum. Selain dari kemampuannya membesarkan Jawa Pos group. Dari sebuah Koran kecil yang hampir bangkrut di daerah Kembang Jepun menjadi holding company dengan 200 anak perusahaan yang menyaingi Kompas Gramedia.

Juga spirit “intrapreneurship” yang telah ia praktikkan dengan terus memberikan inovasi dan breakthrough dalam setiap perusahaan yang dipimpinnya. Terbukti PLN yang selama bertahun-tahun menjadi Perusahaan Lilin Negara mampu membalikkan keadaan dan menjadi power house energy negara.

Tapi yang membuat saya terkagum-kagum adalah “modal utamanya” selama ini. Kemampuan dasar yang didapat dari profesi awalnya sebagai seorang wartawan. Skill yang menurut saya sangat basic dan fundamental, tapi terbukti mampu menjadi dasar kesuksesan seorang Dahlan Iskan. Apa itu? Kemampuannya menulis! Tulisan-tulisannya! Saya selalu ngefans dengan tulisan beliau.

Lantas, apa hubungannya menulis dengan kunci sukses menjadi direktur dan kemudian menjadi menteri?

Berpikir dan Berkomunikasi Sederhana

Andai Dahlan Iskan tidak menulis. Ia tidak akan menjadi wartawan di koran Mimbar Masyarakat di Kalimantan Timur. Ia tidak akan mengikuti kursus jurnalistik di LP3ES. Ia tidak akan magang di TEMPO, bergabung dengan TEMPO sebagai kontributor lepas tanpa gaji, tak akan naik menjadi koresponden, tak akan diangkat sebagai kepala biro TEMPO Surabaya.

Jika Dahlan Iskan tidak menulis. Ia tidak akan berkenalan dengan Eric Samola, direktur utama PT Grafiti Press. Tidak akan mengantar direksi TEMPO untuk bernegosiasi dengan The Shung Chen, pemilik Jawa Pos yang lama. Dan tidak akan mendapat pertanyaan dari Bayu Santoso, pengusaha pemadam kebakaran yang menjadi broker proses akusisi Jawa Pos:

“Jika Anda memimpin sebuah Koran harian, akankah mampu menyaingi Surabaya Post?”

Dua hal yang saya kagumi dari tulisan-tulisan Dahlan Iskan adalah: kemampuannya berpikir dan berkomunikasi secara sederhana. Dua kunci esensial yang dikombinasikan dengan kerja keras, inovasi, dan semangat entrepreneurship tingkat tinggi. Anda saya jamin tidak akan pernah pusing-pusing dan bingung membaca tulisan dia. Tidak ada istilah teknis yang tidak bisa dijelaskan oleh Dahlan. Logika berpikirnya tidak pernah ribet. Semua permasalahan bisa dijabarkan dengan sederhana dan penuh contoh nyata.

Seperti ketika ia menjelaskan penyakit “salah makan” yang menimpa pembangkit tenaga listrik PLN. Tulisan yang ia tulis sebelum menjadi Dirut perusahaan setrum nasional itu. Ternyata, banyak pembangkit tenaga listrik yang seharusnya diberi “makan” gas, tapi karena kurangnya pasokan, dipaksa “ngemil” solar. Tentu terjadi inefisiensi dan pemborosan.

Dahlan Iskan mampu mendiagnosa permasalahan menjadi sederhana, menjelaskan dengan sederhana, memberikan alternative solusi secara sederhana, menjelaskan plus minus setiap solusi, dan menjabarkan logika berpikir sederhana tentang keuntungan penghematan yang bisa dilakukan jika kasus “salah makan” bisa diatasi. Semuanya sangat sederhana.

Setelah menjadi “tukang setrum”, Dahlan masih rajin menulis tajuk bagi intern PLN. Berjudul “CEO Notes”. Untungnya, “CEO notes” ini sering dipublikasikan juga di korannya sendiri, Jawa Pos. Dengan membaca “CEO notes” Dahlan, kita sebagai masyarakat umum yang benar-benar bego soal listrik diajak menyelami permasalahan-permasalahan yang ada di PLN. Termasuk proses pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Gampangannya, kita seperti diajak untuk ikut “memikirkan” PLN.

Ada banyak direktur dan CEO hebat di negeri ini, tapi kemampuan Dahlan Iskan dalam menulis membuatnya berbeda. Dia mampu menciptakan positive campaign tentang kinerja PLN. Apa saja targetnya, apa yang telah dilakukan, kendala apa yang masih menghadang, dan pe-er apa yang masih menghalang. Bagi saya seorang pemuda yang baru berusia sepertiga umur Dahlan Iskan dan bercita-cita menjadi pengusaha, tulisan-tulisan beliau adalah “kursus berpikir” logika CEO. Sesuatu yang saya yakini, akan sangat bermanfaat di masa depan.

Manfaat Menulis

Kebiasaan menulis yang dilakukan Dahlan Iskan membuat saya semakin yakin jika menulis adalah hobby yang luar biasa berguna. Menulis melatih kita berpikir logis, terstruktur, dan memaksa kita melakukan penyederhanaan terhadap masalah yang sifatnya strategis.

Anda tahu penyakit orang pintar? Mereka ingin terlihat dan dianggap pintar. Mulailah mereka memberikan program kerja dengan jargon-jargon aneh. Bahasa asing. Model-model rumit. dan bahasa langit yang berbusa-busa. Orang pintar yang tidak terbiasa menulis seringkali akan terkagum-kagum dengan kepintarannya sendiri dan menciptakan pemikiran sangat pintar sehingga sulit dimengerti oleh orang lain.

Dengan menulis, kita akan dipaksa “memintarkan orang lain” dengan berkomunikasi secara sederhana, efektif, dan efisien. Apa inti permasalahan yang perlu disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana melakukan persuasi agar solusi yang kita tawarkan dapat diterima orang lain, hanyalah sebagain kecil manfaat dari kebiasaan menulis.

Dahlan Iskan juga bukannya manusia tanpa salah. Dia sendiri mengakui membutuhkan “ongkos sekolah bisnis” hingga 50 Milyar. Angka kerugian yang pernah dideritanya selama memimpin Jawa Pos group. Tapi tentu saja, ongkos sekolah itu “dibayar” dengan keuntungan berlipat-lipat dari manuver bisnisnya yang lain.

Mengenai kisah suksesnya, ia berpesan:

..Tapi saya berkeyakinan bahwa cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang terlalu mengagungkan masa lalu…. Terlena untuk memikirkan masa depan… menurut saya, yang demikian itu sangat berbahaya. Berbahaya bagi generasi penerus juga berbahaya bagi kejiwaan orang itu sendiri.

Saya percaya setiap generasi memiliki zamannya sendiri. Dan setiap zaman mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan saya bisa memastikannya: mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda. Yang diperlukan generasi baru bukanlah warisan kisah-kisah sukses masa lalu. Melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab…”

Yang kita butuhkan sekarang adalah moto pribadi seorang Dahlan Iskan:

Jauhi Politik! Kerja! Kerja! Kerja!

Selamat bekerja Pak Menteri!

Jumat, 07 Oktober 2011

Business Valuation at A Glance



By: Dipta Dharmesti


I actually write this to make an easy way to recall my memory about my job description. Last year, I worked in a medicine factory as a quality assurance specialist. But now I am a business valuation analyst of an American business valuation company. When my friends ask me, "Where do you work at?" My answer is, "In a business valuation company." Then they ask, "What is business valuation?"




Business valuation company is not popular in the country where I live, Indonesia. Here, people don't even care about valuing a business, because they don't know the purpose of business valuation. Let me explain, there are several reasons for a company to know their business value: employee stock options (ESOP) sharing, gift or property tax (if they want to share the tax income of some properties they have), stock options, partnership, marital dissolution, and more.


Business valuation is in the area of finance and accounting and I am totally new for this job. What do I do in my office? The essence of my job is making business valuation reports for the clients. Basically, there are three approaches of valuing a business:

1. Income approach
Each company must have periodical financial statements. It is an analyst's job to examine the financial statements, especially the revenue or income part, perform some calculations, and conclude the value of the firm or company. There are two major parts to be examined: capitalization of earnings (Cap. Earnings) and discounted cash flows (DCF) or cash flows. By the case and conditions (e.g. valuing controlling or non-controlling, minority or majority interests), analyst will decide to use control premiums or discount to adjust the value.

2. Market approach
Market conditions influence the value of a company. Talking about discounts, there are two kinds of discount considered: Discount of Lack of Control (DLOC) that represents shareholders' control of the firm, and Discount of Lack of Marketability (DLOM) that represents the ability for a firm to be marketed (sold).

Market approach consists of two methods:
- Public Company (PC) guidelines
This method compares client company's financial to public companies' that have similar business. Data collected from subscribed sites, and those subscriptions are expensive. Analyst has to see the business description and sort the companies which have similar business as client's. Beside the description, analyst had to see those public companies' sales.

- Merger & Acquisition (M&A) guidelines
When using M&A method, analysts will collect M&A transaction data of certain periods from subscribed sites. Then, like the PC method, sort the data, perform some comparisons and calculations. M&A tends to represent control of the firm, while PC method usually follows the nature of DCF.

Then, the analyst will decide to use control premiums or discounts, based on the case and conditions.

3. Asset approach
This kind of approach is based on client company's assets. Net Asset Value (NAV) used in this method. Again, analyst's job is to examine client's financials and perform some calculations before deciding the company's value. Control premiums or discounts can be used to adjust the value, based on the company's conditions.

In a business valuation report, there are company background, profiles, ownership, tax status, economic outlook, and industry analysis, beside the financial methods.

Untungnya Bisnis Taksi

Oleh: Syarif Hidayatullah

Taksi adalah salah moda transportasi yang cukup beken di Ibukota Jakarta. Mengingat kerasnya kehidupan bus kota, rawan kejahatannya angkutan kota, dan panas terik yang menghujam setiap harinya, menggunakan moda taksi menjadi alternatif yang cukup menguras isi dompet. Besarnya demand inilah yang akhirnya memancing munculnya berbagai perusahaan taksi, dari yang paling beken semacam Blue Bird Group dan Express, hingga taksi abal-abal. Yang jadi pertanyaan adalah, seberapa untung sih bisnis taksi itu, hingga menjamurnya perusahaan taksi. Penulis akan mencoba membahas fenomena ini. Data penulis dapatkan setelah melakukan obrol-obrol dengan supir taksi salah satu perusahaan taksi terbesar di negara ini.

Menjadi Sopir
Apa untungnya menjadi supir taksi. Hal ini yang kerap penulis pertanyakan, hingga akhirnya, obrol-obrol ringan dengan seorang supir taksi membuka wacana penulis tentang kehidupan supir taksi. Supir taksi tersebut mengaku, bahwa sistem yang dipakai ditempatnya adalah sistem “setoran”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Gila), Sistem setoran adalah bagi hasil antara pemilik perusahaan kendaraan dengan supir dimana sang supir harus memberikan nominal tertentu setiap harinya sebagai biaya “sewa” kendaraan. Supir taksi itu menuturkan, di perusahaan taksinya, sistem yang dipakai adalah sistem kredit. Dimana, uang di setor setiap harinya menjadi bagian dari kredit mobil yang dia bawa. Setelah 6 tahun, maka mobil tersebut bisa menjadi milik sang sopir.

Dikarenakan sistem kredit tersebut, sang sopir harus membayar Rp. 275 ribu setiap harinya. Biaya ini dijabarkan menjadi Rp.5 ribu untuk asuransi kesehatan dan kecelakan, Rp.45 Ribu biaya bengkel, dan Rp.225 Ribu untuk biaya sewa/kredit. Selain itu, sang supir juga harus menanggung penuh biaya bensinnya. Dengan melihat besarnya setoran setiap harinya, wajar apabila banyak supir yang oportunis dengan menunggu penumpang pada titik tertentu agar menghemat biaya bensin, suatu strategi yang logis tentunya.
Dengan nilai setoran yang cukup besar tersebut, sang sopir mengaku masih mendapat keuntungan Rp.75 ribu-Rp.125 Ribu setiap harinya. Jika kita ambil rata-rata pendapatannya setiap hari adalah Rp.100 Ribu, maka setiap bulannya (jika bekerja setiap hari) maka sang supir akan menerima Rp. 3 Juta/bulan. Angka ini sebenarnya bisa ditambahkan dengan ekpekstasi pendapatan yang akan didapat setelah 6 tahun (mobil sudah menjadi hak milik). Harga mobil setelah 6 tahun sekitar Rp.60 juta. Rp. 60 juta dibagi dengan 72 bulan, maka setiap bulannya adalah Rp. 830 Ribu. Berarti besar pendapatan seorang supir taksi setiap bulannya setaraf dengan Rp.3,8 Juta.

Lalu, bagaimana dengan pengusaha taksinya
Tentunya, pengusaha taksi adalah pihak yang menerima keuntungan terbesar dari bisnis ini. Untuk setiap unitnya, mereka menarik biaya sewa sebesar Rp.225 Ribu, maka setiap bulannya mereka mendapatkan Rp.6,75 juta. Jika dikalikan dengan 72 bulan (6 tahun) maka menjadi Rp.486 Juta. Harga dari Toyota Vios (atau Limo, yang umum dijadikan mobil taksi) adalah Rp.225 juta. Maka, untuk setiap mobilnya, sang pengusaha mendapat keuntungan kurang lebih Rp.261 Juta, dua kali lipat dari harga awal. Angka ini sebenarnya bisa menjadi lebih besar, karena ketika pembelian dilakukan dalam unit yang besar, pastinya akan ada potongan harga dari pabrikan kendaraan bermotor.

Sang pengusaha juga nampaknya pintar dalam “memanjakkan” supirnya. Untuk menjamin kesehatan supirnya, setiap harinya supir harus membayar asuransi kesehatan dan kecelakan sebesar Rp. 5000. Berarti per bulannya akan terakumulasi hingga Rp.150.000. Dengan jumlah ini, maka setiap supir bisa menerima asuransi kesehatan Plan-D dari PT. Sinar Mas (yang premi nya sebesar Rp.147.000). Berarti, wajar apabila perusahaan dapat memanjakan supir-supirnya dengan pelayanan kesehatan yang baik.

Selain itu, perusahaan juga sukses “membuang” biaya pemeliharaan dan perbaikan mobil, dengan membebankan biaya itu kepada supir sebesar Rp.45 Ribu setiap harinya. Hingga, dapat disimpulkan bahwa perusahaan mendapatkan keuntungan yang besar, dengan resiko yang ditekan dalam tingkat yang sangat kecil.

Dengan segala keuntungan seperti itu, maka wajar apabila semakin hari semakin banyak perusahaan taksi yang bermunculan di Jakarta. Sekian reportase singkat dari saya. Reportase ini merupakan kesimpulan dari bincang-bincang penulis dengan supir taksi selama perjalanan. Semoga bermanfaat……

Senin, 26 September 2011

Karena Kau Telah Mensteam Hatiku


Oleh: Riza Rizky Pratama

A: Bapak kamu tukang cuci steam yah??
B: Iya, kok tau sich??
A: Karena kau telah mensteam hatiku #eaaa
Candaan di atas mungkin sudah lazim anda dengar, khususnya bagi OVJ mania (termasuk saya). Saya bukan sedang ingin berlebay ria atau berlagak ababil jaman sekarang, apalagi gantiin Andre Taulany di OVJ. Mukadimah di atas hanya sebuah pengantar cerita saya yang terjadi sore kemarin, di sebuah tempat cuci steam motor dekat komplek rumah saya. Apa istimewanya tempat cuci steam motor? Toh bukankah saat ini sudah banyak tempat cuci steam motor bertebaran? Cerita ini adalah sebentuk kesan menyebalkan dan menyenangkan dari seorang konsumen cuci steam motor. Selamat menikmati.

Mr. X, You Make Me Down!
Bagi anda yang memiliki kendaraan roda dua tipe paling in saat ini, berbahagialah karena anda pasti diterima dengan senyum manis dari para pekerja cuci steam motor. Sedikit curcol, dahulu saya pernah punya pengalaman tidak menyenangkan dengan salah satu tempat cuci steam motor. Di suatu pagi 3 tahun lalu sepulang menginap dari tempat teman, saya bersama partner kesayangan (scooter vespa thn 1996) berniat mendatangi sebuah tempat cuci steam motor. Pilihan itu saya ambil karena scooter saya sudah sangat dekil dan saya tidak ada waktu karena saking (sok) sibuk dan lelah setelah semalam beraktivitas cukup padat (hayo ngapain??).

Akhirnya, saya tiba di tempat tersebut. Meski pada waktu itu cukup banyak motor yang sedang dicuci bahkan ada pula beberapa motor yang antri menunggu giliran, saya putuskan untuk tetap mampir di tempat itu. Ketika saya masukan motor saya, entah kenapa tempat cuci steam motor yang tidak bisa disebutkan namanya itu (karena memang gak ada papan namanya) langsung menolak mencuci motor saya. Kalau memang karena antrian panjang, kenapa motor lain masih boleh berada di situ? Padahal saya siap membayar lebih jika dia mau mencuci motor saya (sok kaya).

Saking gondoknya, saya pun langsung pergi dari tempat tersebut untuk pulang ke rumah. Saya sempat berpikir apa alasan dia menolak kehadiran motor saya. Sekonyong-konyong, ingatan saya pun kembali ke tempat cuci steam motor yang tadi saya datangi. Suatu kali saya memang pernah menggunakan jasa cuci steam motor di tempat itu (biar gampang, saya sebut saja dengan Mr. X).

Ketika itu memang motor saya dicuci walau dengan ekspresi setengah hati. Suudzon? Nggak kok. Saya punya bukti kuat kalau si abang pencuci motor itu gak ikhlas cuci motor saya. Begitu saya sodorkan Si Gendut (panggilan sayang scooter saya), si abang kontan langsung garuk-garuk kepala meski dia tidak berketombe ditambah ketawa-ketiwi sambil lirik-lirik teman sekerjanya (curiga :P). Memang sich waktu itu Si Gendut terlihat kotor dan banyak noda-noda coklat laksana baru pulang dari perang Vietnam. Akan tetapi bagaimana pun kotor dan bututnya scooter saya, motor saya juga berhak mendapat perlakuan yang sama dengan motor konsumen lain (hidup HAM!). Begitulah hingga partner kesayangan saya pun akhirnya ‘dimandikan’ oleh si abang X (nama tidak diketahui :P).

Ternyata kejengkelan saya tidak berhenti sampai di situ. Setelah selesai ‘dimandikan’, saya tanya ke si abang X: “Berapa ongkosnya, bang?” Si abang X ini lalu menjawab: “Hmmm Rp 8000”. Saya pun kaget dengan ongkos yang di luar kebiasaan itu. Sekedar info, pada saat itu ongkos cuci motor masih Rp 5000,- , untuk motor bebek maupun motor batangan (motor yang tangkinya di luar). Saya tanya lagi:”Kok Rp 8000 bang, bukannya biasanya cuma Rp 5000?”. Si abang X menjawab dengan jawaban diskriminatif:”Karena motornya vespa bang, ribet nyucinya”. Saya heran apa ribetnya sich untuk men cuci motor saya. Tinggal disemprot dengan semburan kuenceng dari mesin steam, rontok deh daki-daki yang menempel di badan Si Gendut. Tak ingin berpanjang kata, saya bayarkan saja uang Rp 8000 tersebut ke si abang X. Di sepanjang jalan pulang, saya bersumpah tidak akan pernah menggunakan jasa cuci steam motor apapun. Lebih baik badan berkalang tanah bekas cucian motor sendiri daripada dihina tukang cuci steam motor, -loehh guweh end!?-.

Mr. Klin, I Louph You Pull! ^_^
Setelah sempat trauma karena dikecewakan oleh tempat cuci steam motor X, dengan terpaksa saya menarik sumpah saya untuk tidak menggunakan jasa cuci steam motor. Alasannya sederhana, motor saya sudah 3 bulan tidak dicuci dan saya sedang tidak berhasrat (baca:malas) memandikan Si Gendut. Setelah melihat-lihat, saya pun menjatuhkan pilihan pada sebuah tempat cuci steam motor bernama Mr. Klin (seingat saya namanya itu). Kebetulan tempat Mr. Klin ini jauh lebih dekat dengan rumah saya.
Well, awalnya saya sempat ragu untuk datang ke Mr. Klin. Saya khawatir partner kesayangan saya (kali ini vespa tahun 2000, yang dulu udah dijual) mengalami penolakan yang sama seperti scooter saya terdahulu. Finally, saya beranikan diri untuk mampir ke situ setelah pulang bekerja. Dan keraguan saya pun luntur setelah mendapat sambutan hangat dari salah satu crew pencuci motor Mr. Klin. Alhamdulillah yah, sesuatu banget buat saya :-).

Mr. Klin memiliki fasilitas yang lengkap untuk ukuran sebuah tempat cuci sepeda motor. Selain crew yang handal, mereka juga mempunyai pengangkat motor bertenaga hidrolik (yang biasa ada di tempat cuci steam mobil) yang dapat membuat proses pencucian motor menjadi lebih mudah. Fasilitas ini nampaknya sudah mulai lazim di beberapa tempat cuci motor sejenis. Kemudian di Mr. Klin, proses pencucian dilakukan sebanyak 2 kali, yang pertama dicuci dengan sabun biasa pada bagian yang sulit dibersihkan dan yang kedua menggunakan sabun cuci motor khusus yang penampakannya menyerupai es krim. Jika menelisik ke belakang, fasilitas dan pelayanan yang saya dapatkan dari Mr. Klin jauh berbeda dengan tempat yang dahulu saya kunjungi.

Pengalaman cuci motor di Mr. Klin begitu menyenangkan untuk saya. Maklum biasanya Si Gendut hanya dimandikan dengan sabun cuci piring yang ada di rumah saya. Singkat cerita, setelah scooter saya selesai dicuci dan dikeringkan oleh crew Mr. Klin, saya pun berniat membayar ongkos kerja mereka. Berdasarkan pengalaman terdahulu, saya sudah siapkan uang lebih jikalau mereka meminta. Ketika saya membayar uang di kasir, saya semakin takjub karena mereka menilai motor saya tergolong kecil sehingga saya hanya perlu membayar Rp 8.000,-. Saya baru ingat kalau di depan terdapat papan tarif yang dibedakan berdasarkan ukuran motor yang dicuci.

Karena penasaran, saya pun bertanya kepada si kasir:”Kok cuma Rp 8.000,-?, bukannya Rp 10.000,-? Motor saya kan besar bang hehe”. Si kasir menjawab: ” Bayarnya Rp 8.000,- aja bang, motor besar itu yang tangkinya di luar hehe”. Saya pun paham bahwa kami memiliki definisi yang berbeda tentang motor berukuran besar. Definisi motor berukuran besar menurut saya adalah yang berbody gendut seperti scooter saya sedangkan menurut si abang kasir adalah motor yang tangkinya di luar seperti Honda Tiger dan sebangsanya. Saya pun ikut saja dengan perkataan si abang kasir untuk membayar Rp 8.000,- meskipun hati ini masih ingin mengembalikan uang kembalian sebagai tanda terima kasih. Sore itu saya kembali menemukan arti sebuah pelayanan yang memuaskan, tanpa diskriminasi.

Mr. X vs Mr. Klin: Perspektif Service Quality
Dua pengalaman berbeda ketika menggunakan jasa cuci steam motor mengingatkan saya pada teori service quality (servqual) yang biasa dijadikan parameter kepuasan terhadap sebuah pelayanan. Tjiptono (1995) mengemukakan bahwa dimensi servqual meliputi bukti langsung atau ketampakan (tangibles), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance) dan empati (emphaty). Untuk itu saya ingin membuat analisis perbandingan pelayanan Mr. X dengan Mr. Klin dengan 5 parameter tersebut, tentunya dengan perspektif subjektif dari diri saya sendiri.
  • Bukti langsung atau ketampakan (Tangibles)
Untuk Mr. X, tempatnya cukup strategis karena berada di pinggir jalan raya meski tidak ada papan nama (hanya ada papan kayu biasa bertuliskan CUCI STEAM MOTOR, itu pun tidak terlihat jelas). Perlengkapan yang dimiliki hanya berupa mesin steam , bak air dan sabun cuci sekedarnya, minus pengangkat motor bertenaga hidrolik. Seragam karyawan? Tidak ada. Baju kerja karyawan adalah pakaian kotor yang biasa mereka gunakan ketika mencuci motor pelanggan. Oh ya kalau anda haus, tinggal pergi ke warung seberang untuk beli teh botol atau air mineral dalam kemasan.

Untuk Mr. Klin, tempatnya tidak kalah strategis bahkan lebih dekat dengan rumah saya. Perlengkapan? Mereka punya mesin steam, bak air, kompresor untuk pengering motor, pengangkat motor bertenaga hidrolik dan sabun cuci khusus motor (bahasa jaman sekarangnya snow wash). Para karyawan menggunakan seragam khusus sebagai penanda identitas tempat mereka bekerja. Di sini kita juga bisa melihat gambar proses pencucian yang dilakukan oleh para karyawan. Kalau haus? Tenang, ada refrigator berisi teh botol dan teman-temannya yang dapat menyegarkan tenggorokan anda. Adapun poin plus berikutnya yang tampak oleh penglihatan saya yaitu adanya pemisahan antara bagian pencucian, pengeringan dan pembayaran.

  • Kehandalan (Reliability)
Untuk Mr. X, kemampuan untuk memberikan pelayanan yang dijanjikan rasanya hanya diperuntukkan bagi motor tertentu, tidak termasuk scooter saya. Pelayanannya terasa diskriminatif termasuk harga yang dibebankan kepada motor saya. Ketidakjelasan tarif juga menjadi poin minus bagi Mr. X.
Untuk Mr. Klin, pelayanan yang diberikan sesuai dengan yang dijanjikan. Satu hal yang penting, tidak ada diskriminasi pelayanan di sini. Tarif yang ditawarkan memiliki diferensiasi yang jelas sesuai dengan ukuran motor. Para karyawan bekerja dengan sigap membersihkan setiap motor konsumen yang datang ke tempat mereka tanpa terkecuali.

  • Daya Tanggap (Responsiveness)
Ketika akan mencuci scooter saya, karyawan Mr. X terlihat tidak tanggap bahkan cenderung tidak peduli dengan scooter saya. Buktinya pada kesempatan kedua ketika saya datang ke situ, saya langsung “diusir” oleh karyawannya. Kalau ada bang Rhoma Irama di situ, dia pasti akan bilang: ”TER..LA..LU”.
Berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan, para karyawan Mr. Klin mampu memberikan pelayanan dengan tanggap dan paham dengan jenis motor yang akan mereka tangani. Hal itu terbukti ketika scooter saya dinaikkan ke atas pengangkat motor, mereka langsung menambahkan papan di bawah penyangga agar scooter saya bisa berdiri lebih tinggi.

  • Jaminan (Assurance)
Untuk parameter yang satu ini, Mr. X jelas-jelas telah gagal memberikan jaminan berupa keramahan kepada customer seperti saya. Selain tidak ramah, informasi tarif cuci motor yang tidak jelas dan absennya proses pencucian menjadi faktor pengurang kenyamanan pelayanan berikutnya.
Mr. Klin telah berhasil memberikan jaminan berupa keramahan yang akhirnya membuat saya kembali yakin untuk memakai jasa cuci steam motor. Long Live Mr. Klin!!

  • Empati (Emphaty)
Secara head to head, Mr. X jelas kalah dengan Mr. Klin. Ketiadaan papan informasi mengenai tarif dan gambar proses pencucian motor menunjukkan bahwa Mr. X tidak terlalu serius dalam menangani konsumennya. (Sampe poin terakhir ini kenapa gak ada kelebihan sama sekali yak??)
Teng...teng..teng, Mr. Klin, you are the winner!! Selain kejelasan informasi tentang tarif dan proses pencucian, saya pasti mendapatkan bonus satu kali cuci motor gratis setelah 7 kali cuci motor di Mr. Klin.

Kesimpulan:
Dalam bahasa bisnis, Mr. X menjalankan bisnisnya dengan standar yang biasa saja. Bahasa kerennya business as usual. Terima motor, cuci sampai bersih, keringkan motor terus terima duit deh. Beres perkara. Lain halnya dengan Mr. Klin, mereka sudah mulai menerapkan prinsip-prinsip service quality meski dalam tataran sederhana. Melihat tingkat pertumbuhan kendaraan roda dua yang semakin meningkat ditambah sempitnya waktu bagi pengendara motor untuk mencuci sendiri motor mereka, bisnis cuci steam motor dengan pola pelayanan Mr. Klin nampaknya akan semakin berkembang dan menjanjikan. Tamat.

nb: tulisan berdasarkan pengalaman pribadi dengan bumbu lebay sedikit. Kalau ada yang salah di teori servqual-nya, tolong diperbaiki ya #maksa.

Kamis, 08 September 2011

Cintanya Saya pada Pisang, Ketela, dan Jamur

Oleh: Olivia Kamal

Jaman masih SD, saya suka makan pisang batu rebus (yang makanan burung itu...xixixi...) Atau ketela rebus yang dicocol gula pasir... Tapi di rumah aja loh, hehehehehe... Gitu dehhhh, gengsi amat kalo bawa-bawa bekal yang begituan (lagunyaaaaa). Bekal yang bersedia saya bawa adalah roti tawar yang diisi sesuatu yang manis atau indomie rebus yang ditiriskan kuahnya dan dicampur bumbu di piring (disebut indomie goreng).

Jaman saya kuliah dan sampai sekarang, tentu saja nggak bawa bekal. Tapi tetaplah yang namanya lidah minta dimanjakan dengan makanan yang enak-enak. Jajanan yang bertebaran di pinggir jalan (yang dilarang keras sering-sering beli oleh papa karena zat aditifnya), teriak-teriak ke mata saya buat dibeli. Apalagi kalau ada rasa balado atau ada taburan keju... Wakakakaka...

Eh, ngomong-ngomong kok jadi ngidam rujak es krim ya???

Kontradiksi 
Kontradiksinya, pisang batu rebus ataupun pisang biasa yang saya sukai itu - yang dulunya dimakan diam-diam di rumah, sekarang dibeli oleh saya dan dimakan (oleh saya juga dong... Xixixi...) di tempat umum tanpa rasa malu: pisang keriting, pisang penyet, pisang bakar, pisang molen, banana split, pisang coklat keju, keripik pisang rasa melon, banana cake... Yummy...

Demikian juga dengan ketela: tela kres atau tela-tela dengan rasa balado, tela keju, keripik singkong bakar yang merah banget itu, keripik balado, Kusuka (rasa lada hitam). Kalo jamur sih so pasti ga nolakkkk banget: jamuur kriuk atau rumah jamur, maupun jamur yang disulap jadi ayam goreng tepung atau menu lain di rumah makan vegetarian.

Kreativitas 
Sebenarnya selain pisang, ketela, dan jamur; saya juga demen jajan kentang, cimol, batagor, cendol, teh, rujak, hahaha... Semua aja deh tant!!! (With "t" means tante, kalo nggak dikira setan pulak! Xixixi...) Paling enak dimakan sambil jalan itu yang ada tusukannya, seperti otak-otak (makan sambil naik jembatan busway), bakso (yang katanya dari daging tikus), tempura (masih ada ga ya di sepanjang boulevard?), batagor atau somay. Slurpppp... Ngilerrrr...

Yang bikin nggak malu lagi dengan jajanan itu adalah: udah dibikin keren image-nya melalui kemasan, cara pemasaran, mindset kita sekarang yang mengarah ke cinta Indonesia, selain memang enak dan murah (dari dulu kaliiii kalah enak dan murah). Apalagi jajanan jamur yang mencantumkan sehat, bagus untuk kulit, padahal buat saya sih karena rasanya seperti ayam dan tepung bumbunya... Xixixi... Makasih buat yang kreatif menciptakan makanan-makanan ini...


Siapa dan mengapa? 
Siapa sih yang menggagas ide menjadikan makanan yang duluuu bikin kita (saya dehhh) malu ini, menjadi modifikasi yang sesuai dengan image masa kini? Bisa dari ide murni, bisa juga dari mengikuti jejak kesuksesan orang lain, contoh nih: Q-tela yang muncul setelah kesuksesan Kusuka, dengan varian rasa balado dan potonhan keripik yang lebih tipis. Keduanya tetap eksis dan punya peminat sendiri-sendiri.

Motivasi yang paling mulia menurut saya adalah: meningkatkan nilai jual hasil pertanian lokal. Dengan pengolahan dan pengemasan yang menarik, pisang di ladang petani menjadi lebih bernilai di mata kita (bayangkan 1 buah pisang kita beli 5000 rupiah!). Kalo beli di ladang sih mungkin dapat setandan ya?

Konsep franchise dan permodalan yang relatif kecil mendukung pertumbuhan bisnis makanan ringan yang murah dan keren dengan konsep gerai seperti ini. Gerai teh poci pernah ditawarkan ke mama saya, dan ditolak dengan pikiran: "emang ada yang mau beli teh 3000 sampe 5000? Emang sih modalnya cuma air, teh, gula, es, lemon dan susu kental manis, dan cup tentunya", pesimis mode on gitu deh. Buktinya banyak yang sukses loh karena nggak semua orang pengen minuman air mineral atau softdrink dengan kisaran harga yang sama. "Kalo sekarang mau beli lagi, udah pada banyak saingan." Ya gitu deee maaa...

Rabu, 24 Agustus 2011

Pesona Tambal Ban


Oleh: Ahmad Munadi

"Mun.Mun Bangun Mun" suara kawan membangunkan. Hari sudah pagi, terasa sekali sang surya memancarkan sinarnya di setiap sudut kamar dengan begitu indah. Aroma di pagi hari kota Yogyakarta begitu membakar semangat untuk beraktivitas. Pagi ini begitu menyegarkan hanya kurang kicauan burung sehingga menjadi awalan cerita di setiap cerita dongeng.
Cerita ini bercerita pesona seorang tambal ban. Pesonanya sudah terlihat dari kejauhan, seorang wanita berparas cantik, berkulit putih, dengan rambut dan tubuh yang terawat, mata yang indah serta senyum yang hangat.(Maaf saia ngibul, Mana mungkin ada seorang penambal ban seperti itu). Cerita ini adalah kisah nyata betapa takjubnya saia melihat pesona pria tambal ban yang menjalankan prinsip-prinsip manajemen.
Tepatnya setelah saia mengantar teman ke kampus dan berniat untuk menambal sepeda. Sepeda saia adalah sepeda pinjaman WANA yang tidak ingin disebutkan namanya. Bermerk wimcycle roadchamp berwarna hijau muda dengan ukuran ban 26. Sekilas melihat sepeda ini orang langsung tau bahwa ini sepeda lama sekitar 5 tahunan yang garansi rangkanya sudah habis. Sepanjang body sepeda ini terdapat banyak stiker seperti WADEZIG, sate kacang, dan brownies lukis 89, sepeda ini jelas telah memiliki banyak pengalaman hidup dengan para penunggangnya. Meskipun sudah tua dan old fashion dan dari fisik yang sudah banyak tempelan, dari jauh sepeda ini mengkilap karena 2 hari yang lalu baru dicuci dengan sunlight sehingga tampak awet muda.
Dengan ban belakang yang sudah bocor kemarin tanpa sebab yang jelas saia membawa wadezig(panggilan untuk sepeda ini) menemui penambal ban. Sesampainya di penambal ban, kutanya:
"bisa nambal sepeda pak?"
"g bisa saia tidak punya."
mungkin bapak ini tidak dengar, maka saia ulangi
"Bisa nambal sepeda pak?"
"G bisa mas, yang untuk nambal bannya saia sudah habis"
Oh ternyata bahan untuk nambalnya habis sehingga ia tidak bisa nambal. Kuucapkan terima kasih dan kemudian mencari tempat tambal lain. Sepertinya ia bukan penambal ban dalam cerita ini dan memang ia bukan. Kuteruskan perjalanan sambil menarik stang wadezig. Wadezig begitu penurut, dia bukan anjing atau ayam ataupun kucing yang ditarik kepalanya akan mundur ke belakang.
5 menit kemudian saia menemukan tambal ban tersebut. Dia adalah penambal ban dalam cerita. Pria muda berambut lurus berkaos hitam agak junkies bercelana pendek coklat kotak kotak sampai lutut dan bersandal jepit hitam dengan merk sun swallow, sekali melihatnya saia langsung tau bahwa dia belum mandi. Selain belum mandi saia tau dia tukang tambal ban karena disebelahnya ada mesin angin yang saya sebut LPG 12 kg dengan embel-embel warna orange beserta roda dan mesin. Kutanya padanya "Bisa nambal sepeda mas?" "BISA!"
Dibaliknya wadezig agar dia bisa membuka ban. Dicongkelnya ban belakang bagian luar wadezig. Diambilnya baskom berisi air. Diambil ban dalam dan diisi angin. Dimasukkanlah ban tersebut kedalam baskom air untuk mencari bagian yang bocor hingga terlihatlah bagian yang bocor. Bagian yang bocor itu berupa robekan, di daerah bagian dalam ban dekat dengan pentil sepeda.
# Capability
sebentar ia melihat robekan itu. Ia langsung berkata "Ban baru ya mas?". Benar sekali, yang ia katakan benar. Ban dalem tersebut adalah ban baru merk swallow, ban tersebut baru 3 hari kugunakan karena sebulan ini ban belakang sudah bocor 3x dan ini yang keempat. Bocor ketiga kuputuskan kuganti dengan ban baru karena keseringan bocor. Salut sekali dengan kapabilitasnya dalam melihat. Mungkin ini yang dikatakan oleh Malcolm Gladwell sebagai Blink.
#Extra Service
" Mas ini robekan bukan lubang, penyebabnya bukan karena jarum atau benda tajam mungkin ada jari-jari yang menusuk" kemudian ia melihat jari-jari dan mengatakan " ohh mas ini penutup jari-jarinya terlalu tajam pantas robek, ini masih terlalu tajam apa mau saya ganti?" Luar biasa. Selain kemampuan pemahaman yang cepat ia juga menawarkan jasa lebih. Dia adalah tukang tambal ban bukan tukang sepeda tapi kemampuannya lebih. Apa yang dikatakannya lagi-lagi benar. Penutup jari2 tersebut terbuat dari tali meteran kuning yang biasa digunakan tukang bangunan. Setelah dirobeknya kulihat2 dan benar bahwa bagian yang tajam persis sama dengan lokasi robekan.
#Multi Tasker
Dibuatnyalah penutup jari-jari dari bahan sepeda dan memulai menambal ban. Ia putar alat tambal ban, menyiram bensin dan api menyala. Menunggu tambalan selesai ia membuat penutup jari2 sepeda. Ia kemudian berhenti sejenak untuk memasukkan ban dalem motor sebelah saia yang baru saja selesai ditambal. Selesai nambal ban, ia meneruskan membuat jari2 sambil memperhatikan proses tambal ban. (Ia benar2 seorang multi tasker dan memiliki time efisiensi yang baik)
#SOP
penutup jari2 dipasangnya, kemudian ban yang selesai ditambal dicek kembali dalam baskom air. Setelah yakin ia kemudian memasukkannya kedalam sepeda. Ia masukkan ban dalam dan memperbaiki posisi ban, kemudian ditutup dan diisi angin. Setelah kupikir selesai, ia memutar ban tersebut, saya melihatnya dan terlihat baik-baik saja. Namun menurutnya hasilnya belum bagus, sehingga ia kembali memperbaiki posisi ban tersebut, mengempiskannya kemudian memperbaiki posisinya dan mengsi anginnya. Semua yang dilakukannya sesuai dengan SOP pekerjaan tambal ban. Dia mematuhi SOP-nya dengan amat baik. Selain itu, ia juga berpegang terhadap quality control . Fantastis.
Selesai hal tersebut, kubayarkan 7rb untuk semuanya. Semuanya untuk sepeda yang semakin baik, service yang memuaskan, dan pada rasa kagum saia. Terima kasih mas-mas tambal ban utara pertanian ugm. Kalo ban saia rusak saia pasti kesana lagi.

Jumat, 12 Agustus 2011

Segmentasi Diferensiasi Kyai


Oleh: Yoga PS 

Zaman dahulu, kita hanya mengenal filsafat sebagai induk seluruh ilmu pengetahuan. Mother of knowledge.Tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Khawarizmi, dan tokoh2 baheula dikenal sebagai ahli disegala bidang. Mulai politik, pengetahuan alam, biologi, seni, social budaya, hingga hukum. Namun zaman terus berubah. Tuntutan kompleksitas pengetahuan memaksa kita menggolongkan pengetahuan menjadi kamar-kamar yang lebih kecil.

Pengetahuan mengalami spesialisasi. Pengelompokan menjadi sub-bagian yang lebih spesifik. Ilmu pengetahuan alam digolongkan fisika, kimia, biologi (SMA bangettt), atau ilmu social masih bisa dibagi lagi menjadi ekonomi, politik, antropologi, sosiologi, gigologi (zzzzzzz) dan masih banyak lainnya. Lantas apa hubungannya dengan Ustadz yang ahli agama? Yang jelas bukan hubungan intim (astaghfiruloh kakak…), atau hubungan kelamin (inget puasa kakak…). Bukan juga hubungan *&*&#*@ (sorry terpaksa disensor).

Marketing Dakwah
Coba antum perhatikan televisi. (Cieeh. Antum…) Oke cuk, coba perhatikan televisi atau jalan2 ke toko buku. Tapi jangan toko buku porno ya (mulai deh…). Kita akan menemukan sebuah spesialisasi dakwah. Dalam artian, ustadz zaman sekarang memiliki kekhususan bidang dakwah yang digeluti.

Yusuf Mansur terkenal dengan anjuran sedekah. Abu sungkan dengan terapi sholat khusyu’. Quraisy Shihab konsisten dengan tafsir qur’an. Ary Ginanjar dengan ESQ untuk kalangan eksekutif. Arifin Ilham dengan majelis dzikir yang mengharu-biru. Uje ustadz Jeffry dengan gaya gaul dan bintang iklannya, atau Aa Gym dengan anjuran poligaminya (kalo ini Cuma bercanda hehehe.. sorry A’).

Trennya apa: Sudah ada diferensiasi dalam “memasarkan” dakwah!!! Ustadz-ustadz ngetop zaman sekarang lebih terfocus pada salah satu aspek dalam islam, menciptakan diferensiasi dan nilai tambah, serta “memasarkan”-nya dengan sangat baik. Apakah salah? Tentu tidak. Toh, dakwah itu perlu pemasaran!. Dakwah itu artinya panggilan. Iklan itu juga dakwah. Karena berasal dari bahasa arab I’laan yang berarti pengumuman.

Segitiga PDB
Menjadi Da’I ngetop hampir seperti menjadi artis. Ia harus mampu menghibur dan membuat pendengar terkesan. “Konsumen” (dalam hal ini jamaah) juga mengalami segmentasi. Ibu-ibu lebih doyan dengan gaya “Mamah curhat donk…”, atau yang suka melambai-lambai, “jamaaaahhh… ooh… jamaahhhh”. Yang dimongin ya masalah rumah tangga dan kelakuan bejat suami.

Sedangkan segmen remaja lebih sreg dengan model ustadz gaul dan ganteng lengkap dengan nyanyi-nyian dan pertanyaan standar sejuta zaman: “Bagaimana hukum pacaran dalam Islam???”. Kadang-kadang ada juga yang tanya bahasa arabnya I love U. Biar jadi pacaran syariah katanya. Ada-ada aja. Haha.

Sementara kalangan eksekutif paruh baya ada yang lebih menyukai pendekatan klasikal spiritual. Ceramah di hotel berbintang. Pake sound system megah. Visualisasi wah. Ada nangis-nangisnya segala. Ga tau nangis beneran atau nangis karena udah bayar mahal-mahal dan ternyata ngerasa biasa aja.

Jika Anda sedang ikutan Pildacil (Pemilihan Dai Licik :p) saya sarankan untuk menciptakan segitiga PDB (Positioning, differensiasi, dan brand) Anda sendiri. Yang unik, otentik, dan sukar ditiru. Sedikit nyontek teori marketing, positioning adalah citra yang ingin Anda ciptakan di benak jamaah. Diferensiasi adalah pembeda, apa yang membedakan Anda. Sedangkan brand adalah “merk” atau nama yang ingin Anda jual.

Contohnya Yusuf Mansur. Positioning: ustadz sedekah. Diferensiasinya jelas: ceramah pake humor dan testimony pelaku sedekah. Hasilnya, brand ustadz yusuf Mansur ahli sedekah. Inget sedekah, inget Yusuf Mansur.



Jika saya ingin jadi ustadz ngetop, saya harus tampil beda. Ga akan sukses kalau Cuma ngekor yang sudah ada. Karena sudah banyak yang ngebahas rahasia sholat, maka saya pengen jadi ustadz yang menyingkap rahasia TIDAK sholat. Wah pasti rame kayaknya.
“Kejaiban Tidak Sholat..” wuiihh judul buku calon best seller tuh. Tapi siap-siap juga jadi calon babi guling buronan FPI. Hehehe.

Kyai Kampung
Berbeda dengan ustadz gaul dan ngetop di layar kaca, selalu ada tempat untuk “kyai kampung” di hati saya. Pembela agama Allah yang sesungguhnya. Saya masih mengingat jasa Cak Dji dan Cak Toha, guru ngaji saya dulu. Mereka tidak dibayar. Tidak juga terkenal. Mereka hanya guru ngaji biasa di musholla dekat rumah saya.

Saya masih ingat betul ketika diperkenalkan dengan si alif, ba, ta, dan rombongannya. Merangkai kalimat. Menghapalkan ayat. Lalu ada pelajaran tentang sholat. Mencari arah kiblat.

Mereka menyampaikan Islam tanpa “diferensiasi” macam-macam. Islam ya Islam. Lengkap dengan akidah, syariah, dan muamalah. Ada rukun agama, ada rukun iman. Ada surga, ada neraka. Ceramahnya biasa saja. Tidak membuat saya tertawa. Atau menangis tersedu-sedu didalam dada. Semua disampaikan dengan sederhana. Tapi justru semakin mengena.
Karena sesuatu yang disampaikan dari hati, akan sampai ke hati.
Semoga amal mereka dibalas di hari akhir nanti.

Sorry, Won Bin… LG Put Your CF in a Wrong Place…

When marketing to a woman, do not forget her husband. When marketing to a girl, do not forget her mother. When marketing to parents, do not forget their children. (Assoc. Prof. Hooi Den Huan, 2009 – NTU)


Oleh: Dwi Andi Rohmatika

It is actually an unfinished research driven from a silly question after watching LG advertisements in Indonesia. Well, what’s wrong with that? Yes, I realized that unique difference also after having a short discussion with Prof. Maykel. So, let me explain a little bit about this silly-yet-interesting matter.

So, what is wrong with Won Bin then? Does he make something weird in the commercial film (CF) or what? Well, no he doesn’t. But he himself in the LG advertisement is weird! Yet, I am saying this upon the Indonesian consumers’ point of view. I absolutely recognize that Won Bin is extremely well-known in Indonesia since he is a senior actor and his dramas are very famous (lets say, there were Endless Love, Hotelier, etc when I was a teens). However, the purchasing behavior in Indonesia is indeed “different” from what LG try to portray.

In marketing world, it has been known that opposite gender will attract another gender very well. That is why we often found out a beautiful-sexy-seducing model on the automotive showroom. Well, it does not necessarily relate to every kind of products. Of course you need a girl to advertise a lipstick or cosmetic products to other girls. But for some certain products, the “sex appeal” matters here.

Lets take the example of other electronics ads on TV screen in Indonesia, mostly using beautiful women appear; Kathy Sharon and Julie Estelle for Sharp fridge ads, Mulan for TV ads, Sherina for TV ads also, and Agnes Monica for LG TV ads few years ago. Well, all of them use women in their ads, don’t they? And I do think this is driven by one motive: most consumers in Indonesia are men! Well, it is men (or husbands) who act as decision makers for such electronic tools, though.
Abother TV Ads -Mostly Using Women Models in Indonesia


Personally, I think what makes LG uses this international ads in Indonesia is because of the Korean rising (or hallyu wave) in Indonesia. But, this trend mostly get “teens fever” and could not be generalized to all people in Indonesia. Although my mother might watch the Korean dramas, I don’t think she remembers the actor’s name. Or even I don’t think she realizes their appearances in any CF. So, I consider this matter as a second problem.

Well, no offense though. I don’t say that it is wrong to put such Korean faces on Indonesian ads. All they have to do is observe the consumers thoroughly and carefully examine the impact of the ads. The result of my skimming examination still see that put women on such ads is the best choices. So, giving the ads of Lee Young Ah (another model of LG) in Indonesia will be better.

Lee Young Ah -LG Ads
And to overcome the second problem I elaborate above, using the Indonesian artists as a brand ambassador is still much better to be recognized among people on their 20s-40s. Using Korean stars on ads could give best impact to teens (or people who are concerned as hallyu wave lovers). Therefore, as I said earlier, this article is just a raw hypothesis only. If any of readers could get any data about the numbers of LG TV sold before and after Won Bin’s CF in Indonesia, then it could strengthen (or destroy) this hypothesis. As what I know, Samsung also using Hyun Bin’s CF to advertise its TV. Is this action pulled out by the success of Won Bin’s LG CF or this ads is used because LG does? We don’t know the answer as long as the data doesn’t exist then.

Rabu, 10 Agustus 2011

Financial Freedom Katenye...



Oleh: Priyok

Saya sedikit terusik ketika kemarin saya mengikuti sebuah training dan trainer pada saat itu bertanya kepada para peserta. What do you want to be, What is your target, pertanyaan khas trainer. Yang menarik bukan pertanyaannya, karena sudah sangat umum sekali. Yang menarik adalah jawaban dari pesertanya. Saya cukup mengenal siapa-siapa yang ikut dalam training itu, sehingga saya bisa mengadakan analisis singkat dan tak akurat dengan membandingkan antara keseharian dengan cita-citanya. Karena saya sangat percaya bahwa cita-cita berbanding lurus dengan apa yang kita lakukan hari ini. Cita-cita hanya akan menjadi mimpi kalau hari ini kita "bertolak jalan" dengan cita-cita kita.


 Apa sih jawaban mereka?sehingga mengusik saya untuk menulis.

Sebagian dari mereka menjawab. Bahwa mereka akan/ingin menjadi seseorang yang kaya dan juga financially freedom nantinya. Sepintas tak ada yang salah dengan jawaban tersebut. Ya, karena memang semua orang juga ingin menjadi seperti itu. Jadi, jawabannya terlalu umum. Bukan juga. Saya hanya terusik apakah benar financial freedom yang dipahami orang memang benar-benar konsep yang seharusnya, tidak salah kaprah. Karena saya agak sedikit ngeri juga, tren kata-kata financial freedom telah nyangkut ke otak-otak manusia tanpa paham konsep yang sebenarnya. Jadi ya itu financial freedom tren, bukan mind set financial freedom yang sesungguhnya. It is not that simple, pals.

Saya disini bukan meluruskan pemahaman financial freedom, saya hanya mencoba menafsirkan financial freedom yang sesungguhnya versi saya sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman saya bergaul dengan Rich Dad dan Poor Dad. Saya sangat terbuka sekali apabila tulisan ini ditanggapi dengan komentar yang banyak.

Yang harus jadi garis bawah adalah jalan menuju financial freedom itu tidak enak. Bangun harus pagi-pagi, harus rajin, tidur sedikit, sedikit waktu bermain/hang out, kurang bisa punya barang bagus, stop belanja berlebih, dll. Itu yang sifatnya kesenangan, belum lagi yang sifatnya fisik. Motor jelek (shogun keluaran 2001), makan bawa dari rumah, ngampet beli mobil bagus, dll. Bukan masalah tidak mampu beli sebenarnya, tapi terlebih penting melatih mental. Kenapa harus seperti itu. Cobalah tengok pengusaha-pengusaha papan atas yang meraih hidup sukses. Mark Zuckerberg, rumah aja masih ngontrak. Warren Buffet, sebagai orang terkaya, hidupnya termasuk biasa-biasa saja. Apalagi Bill Gates, terbiasa naek subway ke kantornya.

Kuncinya bukanlah memperoleh pekerjaan dengan penghasilan besar, seperti bekerja di perusahaan minyak. Bukan pula memulai bisnis, jd entrepreneur seperti yang selama ini didengung2kan orang-orang. Tapi mengelola berapapun pendapatan yang kita terima. Tidak saja berhenti di menabung, tapi lebih dari itu. Menurut saya, lebih baik penghasilan 2.500.000 tp bisa menabung 1.000.000 drpd pengasilan 10.000.000 tapi habis 9.999.999.

Saya teringat sekali pesan dosen saya di kelas Perekonomian Indonesia. Menjadi kaya, kata beliau, bukan dari berapa harta yang dikumpulkan. Namun dari seberapa kita meminimalisir realisasi keinginan kita. Percuma saya kalau kita punya banyak uang, tapi realisasi keinginan kita melebihi apa yang kita miliki. Misalnya anda punya tabungan 50 juta, tapi ingin sekali membeli mobil. Bagi sebagian orang yang memang butuh mobil uang tersebut sudah bisa untuk membeli mobil yang layak. Akan tetapi anda ingin sekali membeli Avanza, alhasil uang 50jt tersebut menjadi DP dan sisanya anda cicil. Anda tak mampu menahan keinginan anda. Maka anda jauh dari financial freedom.

Financial freedom adalah meraih hasil dari aset yang anda miliki, bukan menambah kos dan expense dari aset yang anda miliki. Kalau anda masih berdiri pada deretan orang yang tidak bisa menahan keinginannya, jangan harap anda bisa financial freedom. Financial freedom adalah masalah perilaku, bukan hanya sekedar materi. Dia mempengaruhi pola konsumsi kita untuk tetap humble namun tidak pelit. Saya tidak bilang anda tak boleh tas Hermes, hanya saja ada tapinya.

Financial freedom memang butuh modal penghasilan yang besar. Tapi lebih dari itu, ia hanyalah manajemen keinginan. Suatu hari Pak Jalal menanggapi pertanyaan Udin dan Asrul "Doain saya Pak Jalal biar punya pemasukan banyak kaya Pak Jalal". Statement itu dibalas dengan ketus oleh Pak Jalal. "Eh gw tuh ga jago nyari duit, gw tuh jadi kaya begini gara-gara bisa ngelola duit, gw mah nyuruh orang aja buat nyari duit".

Sabtu, 30 Juli 2011

Niat Bisnis


Oleh: Yoga PS
“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya”.
Saya pernah meremehkan kalimat ini. Tapi setelah mengalaminya sendiri, saya harus mengamini. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Hal ini berlaku dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari pekerjaan, asmara, kehidupan social, sampai hubungan transcendental dengan Tuhan.

Saya tidak berbicara ala the secret-nya Rhonda Byrne, tetapi dalam bisnis, saya sudah merasakan sendiri. Niat dalam menjalankan usaha akan menentukan apa yang kita dapatkan. Contohnya niat bisnis ibu saya. Setelah pensiun tahun lalu, Ibu saya lalu mendirikan rumah makan. Menyewa kios dan sempat menyewa cabang.

Kelihatan maju? Tapi Ibu saya hanya meniatkan untuk mengisi waktu dan sedikit-sedikit menambah uang sisa pensiun. Dan Ibu saya mendapatkan apa yang ia dapatkan. Usaha kateringnya cenderung stagnan dan bahkan mengalami penurunan (kedua cabang itu sudah tutup). Sekarang, Ibu menggunakan system delivery order. Kerja juga nggak ngoyo (menggebu-gebu). Yang penting cukup dan bisa mengisi kegiatan di hari tua.

Niat Baik = Hasil Baik
Pelajarannya: niat usaha itu penting. Beberapa hari lalu saya berkenalan dengan Ricky. Seorang pengusaha pupuk di Surabaya. Umurnya masih muda, baru 28 tahun. Baru saja lulus S-2 dari ITS. Ketika saya bertanya, bagaimana dia bisa menjadi pemilik pabrik, ternyata ada lagi tentang kekuatan dibalik niat.

Ricky sempat membeberkan sejarah bisnisnya. Jadi setelah ia lulus kuliah, Ricky lalu bekerja di sebuah perusahaan distributor pupuk. Selama bekerja 4 tahun, ia mempelajari bisnis ini dari hulu hingga hilir. Dari mulai produksi hingga pemasaran ke petani. Dari situ, dia memiliki pengetahuan A sampai Z tentang bisnis pupuk. Tak lupa ia juga membangun relasi dengan pabrik-pabrik besar dan berbagai distributor. Pokoknya, Pupuk dicinta, ulampun tiba. Hehehe.

Karena ingin fokus melanjutkan S-2, dia nekat resign. Ilmunya sudah mentok. Tak ada yang bisa dipelajari lagi. Menjelang lulus S-2, dia pernah diminta untuk menjadi konsultan sebuah pabrik pupuk. Dan dalam sebulan, pabrik yang tidak beroperasi tadi dapat berproduksi dan langsung mencetak omset 300 juta. Dia mengaku hanya memperbaiki system pemasaran yang ada.
Pemilik pabrik yang puas ternyata memiliki kenalan yang juga punya pabrik. Tapi mangkrak. Alias bertahun-tahun tidak terpakai. Dia meminta Ricky untuk menjualkan pabrik itu. Hanya 9 milyar. Bukannya menjual, Ricky justru membawa pabrik itu sebagai agunan kredit di bank. Dan coba tebak berapa nilai taksiran pihak bank? 55 milyar!.

Dengan dana sebesar itu, ia berencana menghidupkan kembali pabrik itu dan melakukan diversifikasi usaha dengan mendirikan pabrik pengolahan singkong untuk etanol dan juga menanam kayu sengon. Sungguh tidak disangka-sangka. Seorang penjual pupuk, bisa memiliki pabrik pupuk. Dia mengaku tidak pernah punya impian menjadi pengusaha pupuk. Ketika saya tanya apa rahasianya, dia Cuma berkata,

“Yang penting itu doa Mas. Saya Cuma niatin pingin mendirikan sekolah gratis. Untuk urusan jalannya, saya pasrahkan sama Allah”.

Not just profit
Tuhan memang punya jalan yang tak disangka-sangka untuk hambanya. Dan ternyata, banyak perusahaan yang mampu bertahan selama ratusan tahun karena mereka berbicara beyond profit. Mereka berpikir tentang kesejahteraan manusia, bagaimana membuat kehidupan menjadi lebih manusiawi.

Seperti pesan George Merck II:
“Kami mencoba mengingat bahwa obat adalah untuk pasien.. obat bukan untuk laba. Laba mengikuti, dan bila kita mengingat hal ini, laba tidak pernah gagal untuk muncul. Semakin baik kita mengingatnya, laba akan semakin besar”

Hal ini diamini oleh David Packard, pendiri HP:
“Laba bukan tujuan akhir dan tujuan dari manajemen-tetepi apa yang membuat tujuan akhir dan tujuan manajemen tercapai”

Dan disimpulkan oleh Jim Collins:
“Berlawanan dengan doktrin dalam sekolah bisnis, kami tidak menganggap “memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham” atau “memaksimumkan laba” sebagai tenaga pendorong yang dominan atau tujuan utama dari perusahaan-perusahaan visioner sebagai terlibat dalam sejarahnya… (mereka) menunjukkan bahwa bisnis lebih dari sekedar kegiatan ekonomi, lebih dari sekedar mencari uang… kami melihat bahwa ideology inti lebih penting daripada pertimbangan masalah ekonomi. Dan inilah kunci utamanya, perusahaan-perusahaan visioner mempunyai ideology inti yang mengangkat mereka ke derajat yang lebih tinggi”

Perusahaan yang mampu bertahan ratusan tahun adalah perusahaan dengan corporate shared value. Nilai-nilai untuk kebaikan kemanusiaan. Dan ini bukan hanya dalam bentuk corporate social responsibility. Menurut Michael Porter dalam Harvard Business Review edisi Jan-Feb 2011, corporate social responsibility tidaklah cukup. CSR seringkali hanya gimmick pemasaran dan menjadi kedok pengurang pajak.

Perusahaan masa depan adalah perusahaan yang memiliki shared value kepada masyarakat. Mereka yang tidak hanya memandang konsumen sebagai kantong uang yang bisa disedot, tapi sebagai manusia yang harus dibantu dan dimudahkan hidupnya untuk menjadkan dunia menjadi sedikit lebih baik.

Ricky tidak pernah bermimpi mendirikan pabrik pupuk. Dia hanya berniat baik, berdoa baik, dan berikhtiar dengan baik. Tapi itulah kuncinya. Niat baik disertai usaha yang baik pasti akan menemukan jalan baik. Pastikan saja niat kita sudah benar. Karena mereka yang berniat baik saja hasilnya belum tentu baik, apalagi jika berniat tidak baik. Kita hanya perlu berdoa, berusaha, dan bersabar. Sisanya? Serahkan saja kepada Tuhan.