Tampilkan postingan dengan label akuntansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akuntansi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

Kontrol Mukamu! Eh, Pekerjaanmu, Wahai Para Akuntan!


Oleh: D.A. Rohmatika

“Ngerjain Akuntansi itu segalanya tentang kontrol,” begitu kata bos ane yang mantan auditor 3 tahun lamanya di Big Four dan masih jadi akuntan begitu keluar dari sana –sangat berdedikasi sekali pada Akuntansi. Anyway, back to the topic. Menurut dia, kita harus bisa yakin kalau kita sudah melakukan sistem kontrol sama pekerjaan kita sendiri. Kontrol sama pekerjaan sendiri? Gimana cara?

Selasa, 03 Juli 2012

Supplies VS Inventory

Oleh: Olivia Kamal

Apa bedanya supplies dan inventory? Singkatnya, supplies tidak untuk dijual, inventory untuk dijual. Lebih lanjutnya mari kita bahas dengan dua contoh.

Contoh 1: kertas dan tinta sebagai supplies.
Badan usaha apapun pasti butuh kertas dan tinta printer untuk kebutuhan dokumentasi atau mencetak. Kertas dan tinta printer tidak untuk dijual, tapi belinya juga nggak dalam jumlah sedikit. Selain bisa beli dengan harga yang lebih murah, pemakaian tinta dan kertas kan rutin. Kertas dan tinta diklasifikasikan sebagai supplies (bahan habis pakai).

Contoh 2: kertas dan tinta sebagai inventory
Tapi ya, kalau kita punya toko stationary dan perlengkapan kantor, pastinya jual kertas dan tinta printer. Barang dagangan yang belum dibeli orang itu nggak disebut supplies, tetapi inventory (sediaan). Kalaupun ada sebagian kertas dan tinta untuk dipakai sendiri, harus dipisahkan dan digolongkan sebagai supplies.

Macam-macam Sediaan
Dalam konteks perusahaan manufaktur, ada 4 jenis sediaan:
  • Bahan baku produksi (raw material, disingkat RM)
  • Bahan penolong
  • Barang setengah jadi (Work in Progress, disingkat WIP)
  • Barang Jadi (finished goods, disingkat FG)
Saat produksi, bahan baku dan bahan penolong akan mengalami proses menjadi barang jadi. Dalam proses tersebut, ada barang yang setengah jadi, yang belum menjadi barang yang sempurna. Misalnya: bijih plastik (RM) yang sedang dicampur dengan pewarna (bahan penolong) menghasilkan adonan campuran (WIP), dalam proses membuat wadah plastik (FG).

Ngitung WIP
WIP sangat sulit dihitung saat stocktake/stock opname/ stockcount/ inventory count, jiahahaha mau bilang ngitung stok aja ribet dah!

Mengapa sulit? Pertama, bentuknya yang incountable (gimana cara mau ngitung adonan???), jadinya kita ngitung juga sih (ajib kannnn!). Cara ngitungnya, hitunglah sebisa kita dengan cara yang paling mungkin. Maksa ya???

Kesulitan terbesar dalam menghitung WIP terjadi bila proses produksi tetap berlangsung selama penghitungan. Indikasi yang ada adalah adonan yang tadinya sudah dihitung, dihitung lagi pas bentuknya menjadi wadah yang belum bermotif (double counting). Untuk mengatasinya, produksi dihentikan sementara atau produksi dapat berlangsung dengan syarat tidak ada perpindahan (movement) dari satu tahap ke tahap berikut,
sampai semua WIP terhitung.

Dapat logikanya dan pusing? Menjalani penghitungannya lebih pusing kok! Hahahaha... Yang ga pusing, enak, dan cepat kelar??? Ya ngitung supplies aja... ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ...

Rabu, 20 Juni 2012

Pengakuan Pendapatan: Studi Kasus Bioskop/Layar Tancep

Oleh: D.A. Rohmatika

“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”

Pertanyaan yang dilontarkan Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan ini sangat membuat kami-kami sang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah Teori Akuntansi bingung dan merasa belum ada apa-apanya dibanding beliau (ya iyalah!). Pada dasarnya, kas sudah dikumpulkan saat tiket dijual yang tentu saja masuk ke tahun berakhir itu. Tetapi, jasa selesai diberikan di tahun berikutnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita harus mengingat hakikat dari pendapatan itu sendiri.

Pendapatan VS Penghasilan
Pendapatan (revenue) adalah hasil dari penjualan barang atau pemberian jasa yang merupakan kegiatan utama dari perusahaan tersebut. Sedangkan penghasilan (gain) adalah segala hasil nilai tambah yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan. Contohnya, Procter and Gamble (P&G) akan memasukkan hasil penjualan sampo Pantene dalam pendapatan, dan memasukkan selisih hasil penjualan saham dari nilai pasar saham dan nilai par saham dalam perolehan.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan dapat diakui dalam empat poin waktu yang didiskusikan di teori dan praktik akuntansi. Jika empat poin waktu ini terjadi, maka akan tercipta pengakuan pendapatan:
  1. Selama produksi
  2. Pada saat produksi selesai
  3. Pada saat penjualan
  4. Pada saat kas diperoleh
Apakah semua jenis transaksi di semua perusahaan masuk dalam keempat poin itu? Tentu saja tidak! Contoh berikut ini akan lebih memudahkan klasifikasi transaksi mana saja yang masuk ke poin waktu yang mana:
  1. Selama produksi, misalnya kontraktor gedung yang proses pembangunannya lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu periode akuntansi adalah satu tahun),
  2. Pada saat produksi selesai, misalnya industri tambang untuk penambangan logam mulia, minyak dan gas, dan lainnya,
  3. Pada saat penjualan, misalnya sebagian besar perusahaan seperti perusahaan sepatu, perusahaan mobil, perusahaan tekstil, dan semua perusahaan yang tidak masuk poin waktu 1, 2, dan 4,
  4. Pada saat kas diperoleh, misalnya penjualan angsuran (installment).
Tentu saja tidak serta merta perusahaan yang masuk dalam poin-poin itu langsung bisa diakui sebagai pendapatan. Ada syarat yang harus dipenuhi, yang disebut critical event, yaitu:
  1. Untuk kontraktor gedung, harus sudah jelas ada pembeli dan jaminan ketertagihan,
  2. Untuk industri tambang, harus sudah didapatkan hasil penambangannya, harga pasar stagnan, tidak ada biaya iklan/pemasaran yang tinggi, dan ada pasarnya,
  3. Untuk sebagian besar perusahaan seperti sepatu dan tekstil, ketika terjadi transfer of title, yang bergantung terms of sale (apakah FOB Destination atau FOB Shipping Point),
  4. Ketika kas diperoleh.
Ada pengecualian untuk beberapa kejadian seperti accretion (tumbuh karena alam). Misalnya, pohon jati yang tumbuh di kebun kita, tidak boleh diakui sebagai pendapatan ketika dia bertambah besar/tinggi selama pohon tersebut tidak ditebang dan dijual.

Jawaban Pertanyaan
Jadi, untuk pertanyaan tentang bioskop di paling awal artikel ini,
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”

Jawabannya adalah:
Ketika jasa pemutaran film oleh bioskop itu sudah selesai diberikan, baru pendapatan bisa diakui (berdasarkan prinsip akrual). Jadi, pendapatan film itu akan dimasukkan pada tahun berikutnya.

Tapi pertanyaannya tidak berhenti di situ saja,
“Jika film itu durasinya dua jam, dan diputar pada saat pukul 23.00 yang tentu saja akan selesai pukul 01.00, bagaimanakah pengakuan pendapatannya? Apakah harus datu jam masuk ke tahun sebelumnya, dan satu jam lagi masuk tahun berikutnya?”

Jawabannya adalah:
Untuk pemutaran film oleh perusahaan bioskop yang termasuk jasa jangka pendek, pendapatan dari pemutaran satu kali film itu jika satu jam dimasukkan tahun ini dan satu jam dimasukkan tahun depan, termasuk immaterial. Jadi, bisa dimasukkan ke tahun sebelumnya saja atau tahun berikutnya, dengan penjelasan/catatan/notes.

Jadi, beginilah sekilas pelajaran tentang revenue recognition yang pernah diajarkan oleh Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan. Diskusi tentang revenue recognition, dengan resmi DIBUKA!!!

Senin, 02 April 2012

Perlakuan Akuntansi Perusahaan Manajemen Artis (Agensi) Terhadap Artis-Artisnya

Oleh: D.A. Rohmatika

Jika Anda adalah akuntan di sebuah perusahaan manajemen artis (agensi) di SM Entertainment (perusahaan agensi terkemuka di Korea), bagaimanakah Anda akan mencatat transaksi berkaitan dengan Girls’ Generation (salah satu girlband), artis dari SM Entertainment?
#pemahaman aset tetap yang tak selamanya hanya bangunan, tanah, dan mesin pabrik.



Perusahaan yang ada saat ini bermacam-macam, mulai dari perusahaan manufaktur (produksi sabun, susu, mi instan) sampai ke perusahaan jasa (produksi jasa audit, jasa konsultansi, jasa pembuatan skripsi). Semakin maraknya hallyu wave (alias demam artis-artis Korea) membuat saya ikut menikmati musik mereka, lanjut ke menikmati gosip tentang mereka, lanjut ke memahami proses dan ritme pembentukan artis (aktris/aktor, boyband/girlband, solo singer) di sana. Bahkan, Ekonom Gila pernah membahasnya pula di sini. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap orang bebas dan bisa menjadi artis, artis di Korea harus diterbitkan oleh sebuah perusahaan manajemen artis. Dan akhirnya satu pertanyaan muncul: bagaimanakah perlakuan akuntansi perusahaan untuk para atis tersebut? Apakah mereka masuk aset, ekuitas, kewajiban, atau produk?


Perusahaan Manajemen Korea dan Artisnya
Ada banyak sekali perusahaan manajemen artis di Korea, antara lain: SM Entertainment (artis: TVXQ, Girls’ Generation, Super Junior, F(x), Shinee), YG Entertainment (artis: 2NE1, Big Bang), JYP Entertainment (artis: Wonder Girls, Miss A, 2AM, 2PM), dan Starship Entertainment (artis: Sistar, Boyfriend). Untuk mendapatkan artis, perusahaan manajemen ini melakukan berbagai macam cara, yang paling banyak dilakukan adalah mengadakan audisi.

Biasanya, audisi dilakukan untuk mencari talenta. Kasus girlband/boyband misalnya mencari orang-orang yang berbakat menyanyi dan menari, dan ada beberapa yang direkrut untuk visual (alias jual tampang). Di sinilah nantinya para artis harus menandatangani kontrak setelah lulus audisi untuk menjadi trainee dan akhirnya menjadi artis dari manajemen tersebut. Kontrak itu bisa bermacam-macam lamanya, salah satunya adalah “kontrak 13 tahun” dari SM Entertainment.

Setelah melalui proses menyakitkan di medan perang per-audisi-an dan teken tanda tangan kontrak, derita para artis ini tidak serta-merta berakhir karena masih ada yang namanya training. Masa training ini pun tidak main-main, berkisar dari satu sampai tujuh tahun untuk mengasah bakat para artis: menyanyi, menari, modelling, stage performance, camera facing, body shaping, dll. At the end, para trainee ini tidak semuanya diorbitkan. Ada yang dipindahkan ke agensi lain, ada yang akhirnya menjadi orang biasa karena satu dan lain hal. Bagi yang beruntung diorbitkan, tentu saja lagu, album, photo session, manggung, dan segudang aktivitas lainnya sudah dipersiapkan.


Para Artis Itu Masuk Akun Apa?
Terinspirasi oleh sebuah judul skripsi yang bertema “Perlakuan Akuntansi Pemain Sepak Bola Sebagai Aset di Klub XXX” (lupa pengarangnya, sepertinya anak BPPM Equilibrium dulunya) maka akhirnya perlakuan yang sama yang akan saya sarankan kepada para akuntan di SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, dan Starship Entertainment (narsis dan sedikit pe-de). Bagaimana bisa para artis itu masuk ke dalam aset? Aset tetap atau lancar? Bukannya seharusnya mereka diperlakukan sebagai produk dalam penjualan (sales)?
Opini saya untuk memasukkan mereka sebagai aset didasari oleh definisi aset yang saya peroleh. Menurut SFAC No.6 Paragraf 25, aset didefinisikan sebagai:
“Probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.”
Sedangkan menurut PSAK No.16 Paragraf 6, aset tetap didefinisikan sebagai:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Artis-artis yang sudah dideskripsikan di atas, memenuhi berbagai karakteristik aset yang disebutkan oleh SFAC No. 6 tersebut maupun PSAK No. 16, yaitu:
- Keuntungan ekonomi di masa mendatang, yang akan bisa didapatkan dari hasil manggung, penjualan album, maupun stage performance,
- Dikontrol oleh sebuah entitas, di mana di sini adalah perusahaan agensi tersebut,
- Dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang dan jasa, para artis itu dipergunakan untuk menyanyi dan menari yang akhirnya mengeluarkan produk berupa lagu dan album,
- Diharapkan untuk diperunakan selama lebih dari satu periode, kontrak yang ditandatangani selama bertahun-tahun (bahkan 13 tahun) tentu saja melebihi satu periode/siklus akuntansi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan membingungkan akan bisa terjawab, seperti di bawah:


Mengapa para artis itu tidak masuk sebagai produk? Karena jika mereka masuk sebagai produk, tentunya penjualan (sales) yang bisa dilakukan terbatas hanya satu kali saja. Jadi mereka bukanlah produk.


Lalu mengapa mereka bukan diperlakukan sebagai aset lancar? Karena aset lancar dan aset tetap dibedakan menurut periode akuntansinya (yang sangat pendek bagi aset lancar, kurang dari satu periode akuntansi) atau keinginan awal perusahaan dalam mendapatkan aset lancar untuk segera dijual kembali.
Pencatatan Artis Sebagai Aset Tetap

Para artis yang diperlakukan sebagai aset itu tentu memiliki nilai perolehan. Menurut Meigs dan Williams, biaya perolehan aset tetap meliputi (Allfajriansyah, 2008): “All expenditures that are reasonable and necessary for getting the asset to the desired location and ready for use.” Hal ini berarti, nilai perolehan yang akan dicatat oleh perusahaan tidak hanya nilai yang tercantum di dalam kontrak, tetapi juga biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, seperti biaya mengadakan audisi. Bagaimana dengan biaya training dan biaya hidup si artis? Tentunya itu akan masuk ke dalam biaya (expense) karena telah masuk sebagai biaya pemeliharaan aset.

Sebagaimana aset tetap lainnya, aset tetap berupa artis ini tentu akan bisa terdepresiasi. Lama waktu ekonomis yang diakui perusahaan dihitung berdasarkan lama waktu yang tercantum dalam kontrak. Jumlah biaya depresiasi per tahunnya bisa dihitung dari biaya perolehan aset dibagi waktu ekonomis (bisa dihitung dengan berbagai metode, baik metode garis lurus, dll).

Beginilah jika seorang Ekonom Gila diminta menjadi akuntan perusahaan agensi. Tentunya opini ini jauh dari sempurna, jadi mari berdiskusi! Any opinions are accepted! Akhirnya, Girls bring The Boys Out!

*screaming* *akibat nulis sambil dengerin semua lagu-lagu Korea*
#pesan sponsor: lagunya Ailee yang “Heaven” bagus banget loh! Atau Sistar yang “Ma Boy”. Cocok buat orang yang baru coba dengar genre musik Korea, haha~
*dari berbagai sumber

Selasa, 13 Maret 2012

It's About: Money Money Money!

Kalo Jessi J menyuarakan tentang melupakan uang dalam lirik lagu "Price Tag": It's not about money, ain't about the cha-ching, why is everybody obsessed, money can't buy happiness, dan forget about the price tag; di postingan kali ini justru uang, uang, dan uang menjadi pembahasan kita. Mengapa uang menjadi sangat penting? Mengapa pula uang menjadi sangat tidak penting (dengan berbagai kalimat penjelas yang bijaksana)?

Uang dan Kuasanya 

Sebuah curcol nih, beberapa hari yang lalu sebelum tidur saya menulis di status fb saya:
uang dapat membeli kasur, tapi bukan tidur yang nyenyak ~ mari tersenyum, menikmati tidur, dan tertidur.
Tentunya, ide "uang dapat membeli ~ tapi bukan ~" itu bukan ide asli saya dong, pasti udah pada sering baca yang begituan, dan lagi pengen alay aja nulis-nulis begitu. Seorang teman mengomentari: belilah obat tidur. Ehem, saya sependapat kalau maksud kata bijak "uang dapat membeli ~ tapi bukan ~" adalah sebuah kebijaksanaan bahwa: tidak semua hal dapat dibeli dengan uang, jadi jangan mendewakan uang, dsb; tetapi dengan kenyataan banyaknya opsi-opsi yang dapat kita pilih dengan uang, memungkinkan kita memperoleh tingkat kepuasan yang mendekati tingkat kepuasan yang kita inginkan. Meskipun nggak di level yang benar-benar kita inginkan, paling nggak hanya sedikitttttttt di bawahnya, sampai kata mendekati lebih pantas diganti dengan "nyaris".

Kenyamanan hidup di Jakarta dapat dengan mudah didapatkan dengan adanya uang, di manapun juga begitu sih. Cukup bawa diri dan sekoper baju bagus, pekerjaan dengan payout yang besar, dan semua hal diatasi dengan uang. Mau makan apa tinggal beli, baju masukin ke laundry, ke mana-mana naik taksi, kost dengan fasilitas yang gimana tinggal pilih, wiken bisa hepi-hepi dengan aktifitas yang disukai, kalau stress ya liburan ke luar negeri; simply work hard play hard! Tentang cinta, banyak yang sudah cukup bahagia dengan dapat mandiri secara finansial dan teman-teman sesama jomblo masih banyak.

Uang dan Wanita

Wanita menyukai uang, pria juga. Semua orang juga suka kaleeee... Mengapa pria lebih memilih wanita yang biasa-biasa saja daripada yang menyukai uang? Cewek juga nggak suka sama cowok matre, lebih malu-maluin daripada cewek matre ga sih??? Hahaha... jangan berakhir ke perang gender, memang masing-masing orang punya persepsi yang berbeda-beda, nggak harus gendernya apa kalo matre tetap aja matre.

Penjelasan wanita dan uang yang pernah dibahas di EG dapat diikuti di link ini dan ini. Secara pribadi, menurut saya kecintaan wanita pada uang tergantung pada pola pikir dan tingkat kekhawatiran wanita itu masing-masing. Uang memberi rasa aman karena dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan: uang penting untuk maintenance diri untuk kepuasan diri sendiri dan suami (penekanannya pada penampilan), uang penting dalam masuk dan bertahan dalam pergaulan (penekanannya pada gengsi), untuk pendidikan dan kebutuhan anak (penekanannya pada anak). Wanita yang lebih khawatir turun pamor karena penampilan cenderung menginginkan uang, mencintai uang, agar tetap terlihat oke. Krim antikerut tidak dapat memudakan usia, tetapi dipercaya dapat memudakan kulit wajah: nggak bisa kembali menjadi gadis muda, tetapi "nyaris" seperti gadis muda.

Satuan Moneter 

Supaya nyambung ya sama yang di awal: ngomongin Price Tag, keberaadan nilai nominal uang menjadi sesuatu yang memudahkan juga, selain bikin pusing. Bikin pusing sih kalo kita ngidam Birkin Bag Hermes yang asli, atau pengen iPad 3 yang keren tapi nggak punya cukup uang.

Bikin mudahnya, nilai satuan uang (satuan moneter) adalah satuan pengukur yang memudahkan kita dalam menilai suatu barang: relatif mahal atau murah untuk kita membelinya, terlebih barang yang sudah ada price tag-nya. Lebih ke fungsi uang sebagai alat tukar dan apakah kita ikhlas menukarkan uang sejumlah tersebut dengan suatu barang, atau lebih prefer untuk ditukar dengan barang lain. Lebih mudah untuk membandingkan antara dua barang/jasa juga. Lagi berandai-andai nih... coba kalau masih jaman purba, satu maskara Loreal harus dibayar dengan berapa ekor ayam? Hahaha... ogah juga kalo bawa tuh ayam hidup ke mana-mana.

Dalam akuntansi, penyimbolan dalam angka (satuan moneter uang) dipandang sebagai simbol yang paling tepat. Contohnya untuk elemen aset, item kas mudah saja tinggal dihitung uang kas yang ada, demikian juga dengan deposito dan piutang dagang telah ada nominalnya. Untuk persediaan? Di laporan keuangan angka yang dipakai bukan berapa buah persediaan, tetapi harganya (dalam satuan moneter). Ini maksud saya keberadaan uang yang memudahkan, karena ada fungsi sebagai satuan pengukur.

Minggu, 23 Oktober 2011

Akun Ikan (Edisi Revisi)

Oleh: Muwahid Ummah

Data yang dipublikasikan oleh salah satu media massa menyebutkan bahwa potensi kekayaan laut Indonesia mencapai 14.994 trilyun rupiah. Angka yang cukup fantastis dan merupakan yang terbesar dari seluruh negara yang memiliki wilayah perairan. Namun seringkali data-data seperti ini membuat kita merasa tertidur diatas sebuah gudang harta yang melimpah dan lupa atas apa yang harus kita lakukan dengan kekayaan yang masih berupa potensi ini. Kita tertidur dan tidak sadar bahwa ternyata harta dalam gudang itu sedang dicuri, sedikit demi sedikit oleh negara lain. Dan disaat yang sama, nelayan kita yang dalam setiap pelayarannya mengibarkan sang merah-putih belum merasakan kesejahteraan atas semua kekayaan dalam gudang harta yang bernama laut Indonesia ini. Lalu bagaimana Akuntansi dalam melihat nasib nelayan kita, apakah ia pernah bertanya “Apa kabar nelayan Indonesia?”.

Akuntansi seringkali dianggap sebagai alat untuk mengukur serta meningkatkan efetivitas dan efisiensi suatu industri. Namun disayangkan bagi para nelayan-nelayan kecil anggapan itu tidak berlaku. Disebabkan mereka sangat jauh dari wilayah aksi para akuntan. Sedangkan para mahasiswa akuntansi sibuk kuliah di kampusnya yang tentu saja letaknya jauh dari desa-desa nelayan hingga mereka tak pernah sempat untuk berkunjung ke desa-desa nelayan.

Tersebar stereotype bahwa nelayan di Indonesia merupakan sekumpulan orang yang berpenghasilan rendah. Hal itu terlihat jika kita memasuki perkampungan nelayan maka kesan kumuh begitu melekat. Jarang atau bahkan tidak ada seorang nelayan yang bukan bos nelayan memiliki kendaraan roda empat. Berbeda pada masyarkat di daerah perkotaan meski hanya pegawai biasa bisa memiliki mobil. Tentu hal ini perlu ditelisik lebih jauh lagi apakah hal pemandangan itu memang disebabkan faktor penghasilan nelayan yang rendah?.

Bagaimana mungkin laut Indonesia yang memiliki potensi ikan konsumsi yang seakan tidak terbatas hanya menghasilkan 7,87 juta nelayan miskin yang tersebar di 28.582 desa miskin yang setara dengan 25% penduduk miskin Indonesia (berdasarkan data dari pemerintah) yang berarti profesi nelayan merupakan penyumbang terbesar dari angka kemiskinan di Indonesia. Sungguh miris, ketika disaat yang sama bangsa ini dirugikan sedikitnya 3 miliar dollar akibat pencurian ikan oleh nelayan asing.

Di semester ketiga perkuliahan saya di Jurusan Akuntansi Unhas. Seorang dosen mata kuliah Wawasan Sosial Budaya Bahari (WSBB) mengungkapkan hasil penelitiannya di beberapa kampung nelayan di perairan Makassar. Ia berkata pandangan bahwa para nelayan berpenghasilan rendah sama sekali tidak benar. Jika kita cek dipasar pelelangan ikan hasil tangkapan para nelayan. Harga seekor ikan kakap merah ukuran sedang saja bisa mencapai ratusan ribu rupiah (perkilonya sampai Rp 48.000) Belum lagi jenis tangkapan ikan lainnya Tuna, Kerapu, Kepiting hingga Hiu yang tentu saja memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dosen WSBB saya (Muhammad Neil) pernah mengkalkulasi penghasilan bersih seorang nelayan sedikitnya mencapai Rp 5.000.000/ bulan jumlah yang tidak terlalu sedikit.

Setelah diteliti lebih lanjut ternyata pos pengeluaran terbesar keluarga nelayan ada pada anak mereka yang berumur 5-10 tahun. Dimana seorang ayah nelayan akan mengeluarkan uang dengan besaran Rp 5.000 setiap anak itu menangis untuk meminta jajan, dan tentunya tidak hanya sekali dua kali seorang anak kecil menangis dalam sehari, hingga tangisan anak nelayan bisa bernilai 50% dari seluruh penghasilan nelayan apalagi disaat mereka memiliki lebih dari satu anak kecil dalam satu waktu. Begitulah para Nelayan sangat menyayangi calon nelayan-nelayan selanjutnya. Pos terbesar kedua adalah biaya pembelian ataupun perbaikan Perahu. Sebab perahu merupakan alat utama dalam kehidupan nelayan yang bagi mereka lebih berharga dari sebuah Alpard sekalipun itu mungkin menjawab pertanyaan mengapa seorang nelayan jarang yang memiliki mobil. Disusul kemudian konsumsi harian dan untuk perbaikan rumah.

Dari beberapa infomasi di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penyebab sesungguhnya kemiskinan masyarakat nelayan adalah kurang teraturnya manajemen keuangan mereka. Mahasiswa akuntansi harus segera membuat Akun untuk Ikan nelayan kecil.Dari sini kemudian seorang mahasiswa akuntansi bisa mengambil perannya untuk membalas jasa nelayan yang juga telah ikut dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan ikan-ikannya. Mahasiswa akuntansi bisa membantu para nelayan untuk memberikan penyuluhan di desa-desa nelayan dalam mengatur pemasukan dan pengeluarannya. Membantu dalam mengefektifkan dan mengefisienkan alur penjualan hasil tangkapan, serta membantu menentukan cost yang tapat dalam maintanance kapal. Hingga membantu mengatasi tangisan dari para anak nelayan dengan program-program khusus. Tentu dengan bahasa yang sederhana yang tidak berkutat pada jurnal, neraca dan laporan keuangan saja. tentu kita juga butuh bantuan dari mahasiswa jurusan dan fakultas lain.

Sebenarnya tidak penting tentang semua data-data di atas, kita bisa saja tidak percaya. sebab yang lebih penting adalah saat kita bisa turun ke laut, mencium bau ikan yang amis di pelelangan, merasakan dinginnya papan kayu perahu nelayan yang sedang berlayar, serta menyelami keindahan terumbu karang yang terdapat diantara 81.000 kilometer garis pantai Indonesia, menyadari betapa besarnya karunia Tuhan atas negeri ini. Dengan semua itu semoga kita bisa mencintai negeri ini beserta rakyatnya dan dengan dasar cinta itu kita akan begerak dengan arif mengelola Sumber daya alam laut Indonesia yang luar biasa ini. Agar semua ini tidak menjadi seperti yang dikatakan Richard Auty, sebagai “Kutukan Sumber Daya Alam". Sumber daya alam melimpah yang hanya membuat kita malas dan bertikai. dan semua itu hanya menghasilkan kesengsaraan.


***

NB: Tulisan ini adalah edisi revisi dari Akun Ikan.

Jumat, 02 September 2011

Saham Masa Kini Dan Masa Lalu

By: Benjamin Ridwan Gunawan (Akhirnya... setelah 3 bulan absen hiks)

Warren Buffet, orang terkaya di dunia kedua! Actually at 2009. orang super kaya ini terlahir dengan kemampuan bermain saham yang begitu apik. Murid didikan sang legenda saham, Benjammin Graham ini membuktikan ajaran gurunya pada dunia masa kini dengan menjadi salah satu orang terkaya di jagat bumi ini!

Sudah banyak teman-teman yang sekarang bermain saham, dari orang tua, hingga yang muda. Sepupu saya saja yang masih SMA sudah jadi broker saham, WAW! (Sok dramatis).
Namun banyak juga kisah kelam dari jenis investasi yang mampu mengangkat Warren Buffet ini menjadi jajaran orang terkaya di permukaan bumi ini. Banyak yang jatuh berguguran, alias bangkrut dari bisnis ini. WHY?

Investasi saham mengklasifikasikan pemainnya menjadi dua jenis, yeah saya ulangi lagi, menjadi dua jenis (Mau diulang lagi yang ketiga kalinya? Saya kira tidak perlu).

JENIS PEMAIN SAHAM

1. Spekulan, atau bahasa Las vegasnya penjudi, atau bahasa jawanya Gambler.
2. Investor.
Apa bedanya antara spekulan dengan Investor dalam hal investasi saham ini? Benjammin Graham pernah berkata, "Investasi saham merupakan kumpulan informasi yang didapat dari berbagai analisis dan perhitungan yang matang sehingga dapat diambil sebuah keputusan yang tepat, pemain saham yang tidak melakukan hal tersebut disebut sebagai spekulan".

Apakah anda tahu, ajaran Benjammin Graham ini sudah banyak dilupakan oleh para pemain saham masa kini. Mereka bermain saham demi keuntungan jangka pendek semata, Laba, Gain atau uang segar. Apapun itu, pemain saham sekarang ini banyak yang melupakan ajaran-ajaran utama benjammin Graham, yang kini masih terus dilestarikan oleh muridnya, Warren buffet.

Investasi saham itu bukanlah sekedar berinvestasi dan besok anda menjadi kaya, tapi bermain saham harus dibayangkan sebagai anda adalah sang pemilik bisnis dari saham yang anda beli.

Bermain saham tidak hanya sekedar menganalisis laporan keuangan perusahaan, perusahaan itu merupakan jenis bluechip atau bukan. Tidak seenteng itu, Benjammin Graham mengajarkan agar kita menganalisisnya secara matang, dan ambil keputusan secara bijaksana.

Teknik Investasi Warren Buffet (yang kini terus dilestarikan oleh Warren Buffet)

Ada tiga analisis yang harus dilakukan sebagai pemain saham, dua analisis dasar yang diajarkan di kurikulum kita dan satu analisis yang muai ditinggalkan para pemain saham masa kini.

1. Analisis Teknis, Pelajari laporan keuangan dan lapoiran tahunan perusahaan yang akan di investasikan, pelajari laporan tersebut 5 sampai 8 tahun kebelakang. Menurut Benjammin Graham, pelajari semua laporan tahunan dari semua perusahaan yang listing yang sejenis. Misal, anda mau berinvestasi di bisnis manufaktur, dan terdapat 200 perusahaan yang listing, maka pelajari 200 laporan perusahaan manufaktur tersebut masing-masing 5-8 tahun kebelakang. Makanya Warren Buffet pernah bergumam investasi saham jaman sekarang makin rumit dengan bertambahnya perusahaan yang listing.

Berat? Yeah inilah yang dilakukan Benjammin Graham dan Warren buffet, kalau anda ingin sesukses mereka cobalah hal ini.

2. Analisis Fundamental, Laju perekonomian perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh sektor ekonomi saja, kondisi sosial, kondisi militer dan politik negara juga dapat mempengaruhi laju perusahaan. Bacalah koran setiap hari, bacalah lingkungan bisnis perusahaan yang anda investasikan settiap waktunya.

INGAT: Investai saham bukan sekedar investasi, tapi bayangkan anda sebagai pemilik bisnis dari perusahaan yang anda beli sahamnya.

3. Analisis Kualitas Manajemen, sebenarnya analisis yang ketiga ini bukan original temuan Benjammin Graham. Namun dari guru kedua Warren Buffet, Philip Fisher. Analisis ini menerangkan bahwa membaca kondisi perusahaan tidak bisa hanya secara kuantitas saja. Dan juga tidak cukup dengan membaca kondisi lingkungan di mana perusahaan itu berdiri. Baca juga kualitas manajemen dari perusahaan yang anda investasikan. Pelajari kehandalan manajemen perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Apakah tim manajemen merupakan tipe monoton atau tipe inovatif.

Menurut Philip Fisher, perusahaan dengan kualitas manajemen yang handal, mampu melewati masa krisis. Dalam kondisi sosial-politik-ekonomi negara sekacau apapun, perusahan akan terus bertahan dan mampu melampauinya.

Sekali lagi Saya INGATKAN: Investai saham bukan sekedar investasi, tapi bayangkan anda sebagai pemilik bisnis dari perusahaan yang anda beli sahamnya.

Satu hal lagi, Warren Buffet bukanlah tipe pemain saham short-term. Beliau menginvestasikan sahamnya pada perusahaan-perusahaan pilihan (yang telah dianalisis habis-habisan tentunya) dengan saham kepemilikan mayoritas, beliau mengimajinasikan dirinya sebagai pemilik bisnis tersebut dan mempercayai sahamnya untuk jangka yang sangat panjang.

Bagaimana Warren Buffet bisa kaya?

Beliau kaya dari dividen yang diperolehnya, karena saham yang dimilikinya adalah saham mayoritas (ingat, kepemilikan saham di atas 20% maka anda memperoleh hak dividen dari perusahaan).
Beliau juga memiliki perusahaan jasa keuangan Berkshire Hathaway, membantu orang-orang kaya lainnya untuk berinvestasi, dan memperoleh bagian persentase laba dari perusahaan tersebut.
Melalui Berkshire Hathaway, Warren Buffet juga membeli perusahaan-perusahaan yang hampir bangkrut dan menjayakannya kembali, tapi bagaimana caranya? Sama persis dengan tiga analisis yang saya paparkan di atas.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat! :)

Minggu, 14 Agustus 2011

Teka-Teki Akuntansi

Oleh: D. A. Rohmatika

Diambil dari status Facebook salah satu teman saya, sebut saja dia Putri (ya memang itu namanya, haha). Soalnya susah loh... Mau tahu? Begini katanya:

“Aku jadi pusing... Aku mau beli kapal jadi aku hutang A = 50 juta dan B = 50 juta sehingga totalnya = 100 juta. Aku membeli kapal dengan harga 97 juta, jadi uangnya sisa 3 juta. Untuk mengurangi hutang, aku mengembalikan 1 juta ke A, 1 juta ke B, dan 1 juta sisanya aku kantongi. Jadi hutangku dengan si A = 49 juta dan hutang dengan si B = 49 juta. Tetapi bila dijumlahkan = 49 juta + 49 juta = 98 juta + 1 juta di kantongku = totalnya ada 99 juta, padahal tadi awalnya ada 100 juta. Bagaimana ini???”

Pertanyaan ini jangan dikira remeh temeh nggak penting loh. Pertanyaan ini bahkan pernah diterbangkan sesuka hati di ruang T300 alias ruang yang biasa dipakai untuk pendadaran. Jadi, kunci pertanyaannya di mana? Nah, karena pertanyaan inilah si Penulis merasa ilmu akuntansi yang didapat 365 hari x 4 tahun ini ternyata memang benar-benar bermanfaat (lebih banyak manfaat daripada madharatnya *edisi Bulan Ramadhan*). Jadi di manakah kuncinya? Hmm... tahukah rumus dasar akuntansi yang selalu dipakai sejuta umat? Bunyinya:

Aset = Modal + Utang
Kenapa begitu? Karena para akuntan itu adalah orang yang “nyinyir”, “cerewet”, “banyak tanya” dan bukan orang gampangan, terutama gampang percaya (sebutan gampang untuk skeptis). Jadi, daripada omongan orang, dia lebih percaya dengan bukti yang bisa dilihat di depan mata, bisa diitung, diterawang, diraba (quizflash: mirip dengan karakter zodiak apa hayo?). Dasar si akuntan yang banyak tanya, kalau ada aset pasti dia tanya, dapat dari mana? Modal sendiri atau utang orang lain?

Nah, dalam kasus di atas ketika ingin membeli kapal, si aktor yang bingung (sebut saja Bunga) meminjam masing-masing uang 50 juta pada si A dan si B. Jadi, uang yang di tangannya ada 100 juta. Uang yang dipegang Bunga dinamakan aset. Ketika dia membeli kapal seharga 97 juta dan uangnya sisa 3 juta, namanya tetap saja aset hanya saja dalam bentuk uang kas dan kapal (sama-sama bisa dilihat kan? Ini buat lebih gampangnya, nggak termasuk intangible asset yaaa). Nah, saat Bunga mengembalikan uangnya ke si A dan si B masing-masing 1 juta, maka dia tinggal memiliki utang ke si A dan si B masng-masing 49 juta. Lalu uang yang dia pegang 1 juta bagaimana? Benar! Uang itu kalau dijumlah dengan harga kapal totalnya 98 juta, sama dengan total utangnya. Masih bingung? Begini gampangnya...

Aset = Utang + Modal
100 juta (kas) = 50 juta (pinjam si A) + 50 juta (pinjam si B) + 0 (modal sendiri)
97 juta (kapal) + 3 juta (kas) = 50 juta (pinjam si A) + 50 juta (pinjam si B)
Saat Bunga mengembalikan uang pada si A dan si B masing-masing 1 juta maka...
97 juta (kapal) + 1 juta (kas) = 49 juta (pinjam si A) + 49 juta (pinjam si B)
Mudah kan? Ternyata hanya seperti itu ya... hahaha~ Inilah salah satu kegunaan Akuntansi! :)

Jumat, 12 Agustus 2011

Akun Ikan

Oleh: Muwahid Ummah

Ilmu akuntansi dipercaya sebagai alat untuk mengukur  sekaligus meningkatkan efektivitas suatu industri. Begitupun untuk industri perikanan. Namun disayangkan ilmu akuntansi belum memberikan efek nyata bagi pelaku industri ini di tingkat hulu, yaitu nelayan kecil. Penelitian terhadap kehidupan nelayan oleh Pak Neil menunjukkan bahwa pendapat yang menyatakan nelayan berpenghasilan rendah merupakan sebuah stereotype. Dari pantauan Pak Neil di beberapa desa nelayan, penghasilan nelayan dalam satu kali melaut mencapai ratusan ribu rupiah. Hal ini sangat rasional sebab seekor ikan kakap merah ukuran sedang harganya bisa mencapai Rp 200.000,- sehingga jika dikalkulasi pendapatan nelayan kecil saja bisa mencapai lebih dari Rp 5.000.000,-.

Setelah ditelisik pengeluaran terbesar pada keluarga nelayan adalah pada anak kecil yang umumnya 5-10 yang menyerap konsumsi hingga 50%, menyusul perbaikan kapal di peringkat  kedua. Hal ini tentu disebabkan masih kurangnya kesadaran para nelayan untuk me-manaj keuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik.

Disini akuntansi bisa mengambil peranannya untuk mengawal nelayan kecil mulai dari pencatatan hasil tangkapan pada tingkat pengumpul hingga maintenance kapal. Tentunya akuntansi yang dikembangkan adalah akuntansi yang berbasis sosial sehingga mampu memberi kesejahteraan bagi nelayan Negeri Maritim ini.

***

Kamis, 11 Agustus 2011

Accounting Profession

Oleh: Muh Fatchul Ulum


Apakah itu profesi?? Kalo diterjemahkan dengan kamus besar bahasa orang awam (emangnya ada..!) profesi biasanya dikaitkan dengan pekerjaan/bidang pekerjaan. Misalnya orang yg bekerja sebagai seorang dokter bisa dikatakan profesinya adalah dokter, bekerja sebagai bintang film bisa dikatakan profesinya artis/aktor, CMIIW. Begitu juga dengan orang yang bekerja dalam bidang akuntansi bisa dikatakan profesinya adalah sopir angkutan (loh..), akuntan maksudnya (hehe).

Lalu apa sajakah jenis-jenis profesi akuntansi itu?? Tentu mahasiswa yang mengambil jurusan akuntansi ingin tahu apa sajakah profesi yang bisa digelutinya nanti setelah lulus kuliah. Mungkin sebagian besar mahasiswa akuntansi kalau ditanya “mau jadi apakah kalian nanti kalo sudah lulus kuliah??”, saya yakin sebagian besar dari mereka akan menjawab jadi akuntan, sebagian menjawab jadi auditor, atau bahkan ada yang menjawab jadi manten(pengantin), haha udah kebelet kali ya…? Ok, kembali pada jawaban mayoritas “ jadi akuntan”, trus pertanyaan dilanjutkan “jadi akuntan apa??” mungkin sebagian lagi pada bingung sambil dalam hati berkata “akuntan apa ya enaknya?? ya pokoknya akuntan lah.. la wong jurusannya akuntansi, masa jadi psikolog..! salah sambung cuy..”.

Baiklah biar mereka gak pada bingung, langsung saja penulis akan menjelaskan macam-macam profesi akuntansi menurut sepengetahuan penulis (jadi bila saya ada kesalahan mohon mangap selebar-lebarnya.. maksudnya mohon maaf sebesar-besarnya karena ini adalah debut pertama saya di EG ini, hehe).

Financial Accountant
Akuntan ini adalah akuntan yang berhubungan dengan penyusunan laporan keuangan kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan dengan laporan keuangan dari entitas/organisasi dimana dia bekerja. Karena pihak-pihak luar tersebut beragam kepentingannnya, maka laporan keuangan yang dihasilkan harus bersifat “general purpose”, oleh karena itu diperlukan suatu aturan dalam penyusunan laporan keuangan yang disebut “Standar Akuntansi Keuangan”. Akuntan ini beragam levelnya mulai dari clerk (tukang jurnal dan entry data), supervisor, sampai dengan kepala akuntansi tergantung luas organisasi.

Auditor
Auditor ini merupakan akuntan pemeriksa, dalam hal ini yang diperiksa adalah laporan keuangan yang disusun oleh financial accountant apakah sudah sesuai dengan Standar Akuntansi dan Prinsip-prinsip Akuntansi Berterima Umum (Generally Accepted Accounting Principles, bahasa kerennya getu), kemudian memberikan pendapatnya. Dalam perkembangan saat ini profesi auditor tidak hanya berhubungan dengan pemeriksaan laporan keuangan, tetapi juga pemeriksaan Sistem Pengendalian Internal dan Kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan-peraturan yang berlaku. Secara umum auditor ini ada 2, yaitu: internal auditor yang tak lain adalah karyawan perusahan itu sendiri (biasanya bertugas di bagian SPI) ,dan eksternal auditor biasanya disebut akuntan publik (akuntan ini bekerja di KAP).

Management Accountant
Akuntan ini berhubungan dengan penyediaan informasi keuangan untuk kepentingan internal. Informasi tersebut tersebut tentunya akan digunakan akan digunakan untuk proses pengambilan keputusan oleh manajemen peusahaan, misalnya monitor arus kas, penetapan harga dan produksi, investasi, pembelanjaan, dll.

Cost Accountant
Akuntan ini menurut penulis adalah bagian dari akuntan manajemen yang bertugas dalam monitor dan penetapan harga pokok produksi. Tentunya tidak semua perusahaan memiliki karyawan jenis akuntan ini, perusahaan manufaktur tentu butuh akuntan jenis ini tapi perusahaan yang usahanya di bidang financial service tentu tidak.

Tax Accountant
Sesuai dengan sebutannya akuntan jenis ini tentu tugasnya adalah mengenai segala sesuatu tentang perpajakan perusahaan. Dalam bahasa kasar seorang tax accountant ini berusaha bagaimana caranya perusahaan terbebani pajak sekecil mungkin tanpa melanggar peraturan perpajakan yang berlaku. Laporan keuangan yang digunakan untuk tujuan perpajakan berbeda dengan laporan keuangan untuk tujuan lain, bukan apa-apa tetapi karena konsep dan metode yang digunakan memang biasanya berbeda.

Akuntan Pendidik
Akuntan ini memang tidak serta merta disebut memiliki profesi akuntan, malahan sering disebut profesi pengajar/pendidik. Tetapi juga tidak sedikit dari mereka yang berprofesi sebagai akuntan profesional. Apabila dilihat dari kontribusinya , akuntan pendidik ini justru sangat mulia dan penting sekali keberadaannya dalam menghasilkan akuntan-akuntan profesional.

Nah.. itulah beberapa jenis profesi akuntan (setidaknya yang saya ketahui, hehe.. mungkin ada yang mau menambahkan). “Tapi apakah hanya itu profesi yang bisa digeluti oleh jebolan jurusan akuntansi???”, tentu tidak!! Banyak lulusan akuntansi yang berprofesi lain, tapi tentunya masih berhubungan dengan akuntansi atau setidaknya masih berhubungan dengan keuangan, misalnya: Budget & Cost Controller, Banker, Financial Analyst, Financial Consultant, Treasurer, dan lain sebagainya. Kalo tidak percaya coba lihat berbagai lowongan pekerjaan untuk posisi-posisi tersebut, pasti syaratnya adalah antara lain adalah lulusan akuntansi. Jadi?? Selanjutnya terserah anda..

Selasa, 28 Juni 2011

Kucing Garong’s Theory

Oleh  : Marisca Dwi Ariani

Pernah liat kucing yang hampir segede bayi? Orang-orang sering menamainya kucing garong, kucing yang suka nyuri ikan di meja makan, jahat, nakal, dan dibenci ibu-ibu. Yang namanya kucing garong walaupun diperlakukan baik sama majikannya, tetep aja suka nyari ribut. Entah memang sudah takdirnya jadi penjahat di dunia perkucingan ato bagaimana, sudah jadi rahasia umum kalo kucing garong itu selalu diidentikkan dengan hal-hal negatif.

Terdapat beberapa kesamaan perilaku “Si Kucing Garong” ini dengan manusia. Yak, yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang termasuk kaum oportunis, berpura-pura manis, slalu butuh pengawasan, dan cenderung egois. Misalnya aja nih ada perampokan, entah itu merampok barang atau pun merampok hati, slalu kucing garong yang disebut sebagai tersangka. Teringat lagu kucing garong yang identik dengan playboy cap kucing, hingga kartun Tom and Jerry, dari situ lah munculnya ide tulisan ini.

Dengan “the power of kepepet”, saya hendak menyambung tulisan Kak Oliv pada tanggal 20 Juni mengenai konsep laba itu sendiri, di sini saya mencoba mengulas pengelolaan laba dari sisi seekor kucing garong gendut yang oportunis dan egois. Di dalam dunia manusia, kejadian ini disebut dengan manajemen laba. Jadi manajemen laba ini adalah kecurangan yang dilakukan oleh manajer perusahaan untuk menaikkan, menurunkan, meratakan, atau menggeser periode pencatatan biaya untuk tujuan-tujuan tertentu demi kepentingannya sebagai agent perusahaan.

Yak, awal mula terjadinya manajemen laba ini dapat dijelaskan dengan Teori Keagenan. Konflik keagenan itu sendiri biasanya terjadi karena pemilik perusahaan (principal) memiliki sejumlah keterbatasan dan tidak dapat berperan aktif dalam manajemen perusahaan. Akibatnya, pemilik perusahaan menyerahkan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan perusahaan kepada para manajer profesional (agents). Manajer mempunyai tugas untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dipercayakan kepadanya untuk dikelola dan akan mendapatkan kompensasi atas kinerjanya.

Dalam teori ini kita asumsikan baik pricipal maupun agent sama-sama egois, mereka berupaya untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dirinya. Bagi pihak principal, mereka mengharapkan agar manajer mengelola sumberdaya yang dipercayakan kepadanya dengan baik demi menaikkan keuntungan principal itu sendiri. Sedangkan bagi agent, mereka berupaya untuk mencari cara untuk mendapatkan kompensasi sebesar-besarnya dengan mengelabuhi prinsipal maupun pihak eksternal perusahaan.

Selain perbedaan kepentingan, diantara principal dan agent terdapat perbedaan informasi perusahaan secara keseluruhan. Karena principal tidak secara aktif mengelola perusahaan, otomatis agent adalah pihak yang paling banyak memiliki informasi mengenai perusahaan. Hal ini lah yang sering disebut-sebut dengan istilah asimetri informasi.

Adanya konflik kepentingan serta asimetri informasi ini lah yang mendorong jiwa kucing garongnya seorang manajer untuk melakukan moral hazard, yaitu berupa tindakan manajemen laba.
Ada empat jenis manajemen laba :
1. Increasing :
Manajer akan menaikkan angka labanya demi mendapatkan kompensasi yang besar serta demi membuat kinerjanya tampak bagus. Hal ini juga dapat menarik para investor untuk berinvestasi karena angka laba merupakan hal yang sering dijadikan dasar pengambilan keputusan investor dalam menilai kondisi perusahaan sebelum mereka mengambil keputusan investasi.

2. Decreasing :
Manajer akan mengurangi angka labanya dalam modus penghindaran pajak. Selain itu, manajer menggunakan teknik decreasing ini dengan tujuan menghindari tuntutan kenaikan upah dan gaji dari karyawan apabila angka laba terlalu tinggi.

3. Smoothing :
Manajer akan membuat pergerakan angka labanya relatif stabil dari periode ke periode. Teknik smoothing dilakukan manajer dengan tujuan untuk menarik para investor, angka laba yang stabil dinilai lebih menggiurkan bagi investor karena tidak berisiko tinggi.

4.Big Bath :
Big Bath adalah suatu kondisi dimana manajer menggeser periode pengakuan biayanya, sehingga terkesan merugi pada suatu periode namun pada periode berikutnya mengalami kenaikan yang signifikan. Teknik ini bisa meningkatkan image positif di mata stakeholder maupun shareholder.
Masih bingung dengan big bath? Oke, saya beri contoh ini sebagai ilustrasinya :
Misalnya :
Pada ilustrasi di atas dapat kita lihat bahwa laporan yang melakukan bigbath ini menggambarkan seakan-akan manajer mampu menutup kerugian sebesar 200 pada tahun 2007 dengan menghasilkan keuntungan sebesar 600 pada tahun 2008.
Pada kenyataan sebenarnya perusahaan hanya mengalami kerugian sebesar 100 pada tahun 2007 dan dapat menutup kerugian tersebut dengan menghasilkan laba sebesar 400 pada tahun 2008.

Bagaimana pun bentuknya, manajemen laba adalah tindakan yang tidak etis oleh kaum profesional selevel manajer. Banyak terjadi perdebatan apakah ini bisa dikatakan bisa fraud atau bukan karena pada dasarnya ngga ada duit yang dirampok ama manajer. Dengan menimbang bahwa manajemen laba itu dibuat berdasarkan Standar Akuntansi yang berlaku, maka tidak bisa dikatakan bahwa hal ini termasuk fraud.

Ibarat kata, manajemen laba itu seperti wanita yang berpura-pura cantik dengan memakai bedak setebal 5cm, padahal aslinya jelek. Pertama kali lihat wanita itu pasti para lelaki bisa terpesona dibuatnya, mereka dibuatnya yakin dengan bedak 5cm yang ada dimuka. Apa pun jenisnya, bagaimana pun tingkahnya, yang namanya kucing-kucingan seperti ini adalah tindakan yang tidak baik. Tindakan seperti ini tidak mencerminkan keadaan sebenarnya dan berdampak pada salahnya pengambilan keputusan bisnis.

Oke, akhir kata saya cuman bisa memberi saran kepada para prinsipal, jangan pernah pilih manager yang mukanya mirip kucing.

Senin, 09 Mei 2011

Hotel Muliaccounting (A Paradox Answer to Pugo’s Article “Progonomics”)


Oleh: Priyok

Membaca cerita Pugo, membuat saya kembali ke masa muda saya. Bukan bermaksud sombong, tapi sebenarnya saya bisa saja naik pesawat kelas bisnis untuk pulang kampung ke Jakarta. Tapi waktu itu saya memilih Progo, 38.000 yang menyelesaikan masalah. Meski saya harus berdiri mulai dari Yogyakarta sampai Cirebon. Agar tidak terkesan curcol, saya akan mencoba sedikit-sedikit (lebih tepatnya belagu) menggunakan beberapa teori-teori yang pernah saya pelajari. Pengamatan ini saya alami berkebalikan dengan apa yang Pugo alami yang proletar.
Beberapa bulan setelah saya bekerja di perusahaan gali sumur, saya diajak oleh supervisor saya untuk makan-makan merayakan masa kerjanya yang sudah 20 tahun. Tidak tanggung-tanggung, saya diajak makan ke Hotel Mulia. Semula saya tidak terbayang apa-apa, hanya makan biasa. Tak dinyana, saya dibawa ke restoran mewah penuh glamour. Saya shock!!!Baju saya dibeli di Ramayana seharga 99.000, celana saya jebolan Pasar Senen 40.000, sepatu saya sepatu Cina beli di Atrium Senen 125.000..Tapi, saya diajak makan seharga 399.000++ (bagi yang g tau arti ++, itu artinya masih ada biaya tambahan seperti pajak atau service fee). Benar-benar luar biasa, 399.000 hanya untuk dibuang di jamban!!!Memang bukan makanan sembarangan, disana saya pertama kali makan kepiting alaska yang segede gambreng, makan kerang yang dalam film Mr. Bean, bahkan ikan salmon utuh dengan berat 2kg!!!(kalo mama saya beli diskonan di giant). Saya, orang katro, ndeso, udik, kampungan, benar-benar tidak tahu bagaimana behave di tempat tersebut. Saya benar-benar mati kutu!!!Tak tahu harus gaya apa, saya ambil makanan apa saja. Nyicipi. Terlihat sekali saya katronya.
Bagi kita yang kere-kere ini, tak pernah kita bayangkan untuk makan semahal itu atau beli tas yang harganya 1 juta. Dulu saya pernah berpikir bahwa cara memenangkan kompetisi yang terbaik adalah dengan memberikan harga terendah dengan value maksimal walau mengorbankan marjin. Cara pembentukan harganya pun mudah saja, berapa kos untuk membuat bahan tersebut lalu ditambahkan marjin sekian persen. Kalau saya dulu jualan sotomie dengan modal 3000 lalu saya jual 5000, yasudah untung saya 2000 titik. Saya benar-benar menggunakan basic dari akuntansi kos. Menentukan kos dengan tepat agar kita tidak sampai jual kemahalan atau jual kemurahan. Kalau kemahalan ga laris, kalo kemurahan ga miris.
Namun bisnis hari ini mengenal cerita yang lain. Ada value tak kasat mata, intangible, yang membuat teori katro di atas tak berlaku. Mungkin saya bisa bilang kematian akuntansi kos, the death of cost accounting (dengan catatan menggunakan paradigma yang lama). Karena faktanya ada kos yang tak bisa diukur namun tak membuat barang tersebut tidak laku walau kita pikir itu mahal harganya. Sebenarnya, selain makanan aneh-aneh tersebut, makanan yang tersedia adalah makanan-makanan biasa saya temui. Namun Hotel Mulia menawarkan prestise, gaya hidup, dan terangkatnya derajat apabila makan di sana. Sama halnya dengan merek-merek seperti ferrari, Victorinox, Raymond Well, Guess, YSL, Louis Vitton, D&G. Saya akui, kualitas mereka memang sangat baik, tapi kos intangiblenya jauh lebih mahal dari bahan bakunya. Sehingga semakin mahal harganya, semakin orang mau beli.
Aneh kan?saya juga aneh ketika melihat promo sendal Crocs di Sency yang antri sampai lantai 1, padahal tokonya di lantai 7!!!Come on, itu cuma sendal karet. Apa bedanya ma swallow, cuma kaya selop doang kalee. Harganya pun tak murah. Kini, harga tak lagi ditentukan oleh kos produksi ataupun perolehan. Pasar lah yang menentukan harganya sendiri. Lo aja mau bayar gw 100.000, kenapa harus gw jual 50.000...begitulah kira-kira.
Lantas bagaimana nasib cost accounting?tampaknya para ahli cost accounting harus berlaga di serie B. Walaupun tetap penting, keberadaan cost accounting tak lagi sevital dulu karena datanya sangat dibutuhkan oleh manajemen dalam mematok harga. Cost accounting kini hanya menjadi alat kontrol agar marjin yang diinginkan oleh manajemen berjalan dengan baik dan lancar jaya, kalaupun sebagai dasar penentuan harga, hanya menjadi pertimbangan sekunder dibanding data perilaku konsumen. Kalau dulu “Berapa nih kosnya?yaudah naikin 20% kita jual sekian”...kalau sekarang “Berapa kosnya?ah aman kita masih untung kok”.

Dasar Cewek Matre(alitas)!! *

Oleh: Benjamin Ridwan Gunawan

Materialitas, mungkin sudah bisa anda lihat dari judulnya, yang pengucapan sebenarnya adalah materialitas. Materialitas yang dimaksud di sini bukanlah tentang cewek matre yang sering kita ketahui dalam tulisan tentang psikologi cinta atau dunia seputar wanita (saya tidak jago dalam hal itu). Saya buat judul seperti di atas sebenarnya biar menarik saja, jadi saya mohon maaf bila isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre. Maaf bagi yang sudah tertipu keburu nafsu masuk ke tulisan ini). Tapi saya berharap isi dari tulisan ini akan memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi anda semua. Selamat menikmati.

Hmm.. Mungkin ada yang bertanya, mengapa tulisannya membahas tentang materialitas audit ya? Seperti tidak ada tema yang lain saja. Atau ada yang berfikir, “Ah.. Pasti isinya teori yang membosankan”. Di sini saya hanya ingin sekedar share ke anda semua tentang materialitas, karena kemarin beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget. Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh seminar ini tapi tidak pakai telor. Di dalam seminar itu topiknya adalah audit, dalam sub bagian topiknya yaitu materialitas audit. Penting kita ketahui (sebagai anak ekonomi tentunya) apa itu materialitas audit, karena bila anda semua nanti masuk dalam sebuah korporasi raksasa ataupun anda membuka usaha sendiri, anda akan menemukan istilah materialitas suatu ketika bisnis anda berkembang besar.

Bapak Alwi, beliau adalah Equity partner dari KAP Ernst & Young. Equity partner adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibaratnya posisi ini adalah CEO nya. Berhubung bapaknya sudah senior jadi materi yang dibawakannya juga berbobot, isi materinyapun juga tentang materialitas (cocok sudah, materinya berbobot nama materinya juga materialitas. Maaf tidak penting, lanjut).

Sebenarnya materi audit tentang materialitas ini adalah tema yang sering ditanyakan oleh teman-teman akuntansi. Berhubung kita kuliahnya di akuntansi yang notabene sudah dapat materi kuliah audit (bila anda mahasiswa semester empat ke atas tentunya), kadang kita suka gengsi kalau ditanya tentang “Apa itu materialitas?” Biasanya model percakapannya begini:

“Oi, apa sih materialitas itu?”
“Hmm.. materialitas itu adalah... bla bla bla” (ngomong ngalur ngidul)
“hah! Maksudnya??”
“Yaa pokoknya materialitas itu… bla bla bla” (makin ga solutif jawabannya)

Ya begitulah penyakitnya anak-anak akuntansi yang ilmunya masih setengah tapi gayanya sudah selangit. Kita suka menjawab sesuatu yang masih sedikit ilmunya, dengan gaya sok tahu seolah kitalah pakarnya. Nah di sini saya ingin sedikit berbagi sama teman-teman tentang apa itu materialitas. Di sini saya jujur juga masih sedikit ilmunya, dan saya juga tidak sedang berusaha jadi pakar yang sok tahu. Saya cuma mau menyampaikan ilmu yang saya dapat dari seminar kemarin.

Materialitas

Bagi teman-teman yang bukan dari akuntansi mungkin bingung ya dengan kata Materialitas ini. Materialitas, apaan tuh? Sejenis penyakit menular ya? Atau mungkin ada yang berfikir, materialitas itu orang yang suka duit, kayak istilah cewek matre. bukan, materialitas bukanlah tentang orang yang suka duit, juga bukan tentang sejenis bahan material bangunan.

Dalam bahasa audit, materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.

Nah lo, dari penjelasan seperti itu saja, teman-teman non-akuntansi dah bisa nangkap artinya apa belum? Jangankan anda, saya saja yang dari akuntansi juga bingung sendiri (Lho?).

Kalau dijelasin dengan teori-teori mau sampai besok minggu depan mungkin tidak bakalan kelar juga. Kalau dicontoh kenyataannya adalah seperti ini, sebuah perusahaan penjualan kredit motor lagi di audit. Piutang yang sebenarnya (setelah dihitung langsung) adalah 100 juta. sedangkan, di laporannya tertulis piutang sebesar 125 juta. Nah, kan ada selisih 25 juta tuh. Banyak apa sedikit 25 juta itu?

Contoh perusahaan kedua (sama-sama perusahaan penjualan kredit motor) yang lagi diaudit. Jumlah piutang yang sebenarnya adalah 100 juta, sedangkan di laporannya tertulis 102 juta. Ada selisih sebesar dua juta. Banyak tidak selisihnya?

Antara 25 juta sama dua juta banyakan yang mana? (sebenernya ini pertanyaan bodoh, anak TK juga tahu jawabannya). Maksudnya, bagi perusahaan yang punya kapasitas piutang hingga 100 juta, selisih 25 juta sama selisih dua juta lebih bisa ditolerir yang mana? Atau bahasa halusnya lebih bisa diampuni yang mana kesalahannya?

Kalo seumpama saya masih SD, saya pasti menjawab ya yang kesalahan pencatatan dua juta-lah. saya kan pinter. Sampai sini sudah nangkap maksudnya. Terus hubungannya sama materialitas itu apa? Oke, kembali lagi ke teori yang tadi tentang definisi materialitas (baca pelan-pelan ya), “besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.”

Antara 25 juta dan dua juta, yang lebih bisa ditolerir adalah yang dua juta. Ya walaupun buat kita anak mahasiswa dua juta itu besar (lumayan buat beli indomie telur plus es teh 400 kali). Tapi bagi perusahaan yang punya kapasitas piutang hingga 100 juta, angka dua juta itu adalah angka yang masih bisa diampuni, dan angka dua juta ini sudah bisa disebut sebagai bukan-materialitas. Sedangkan merunut definisinya, angka 25 juta-lah yang disebut sebagai materialitas, karena angka 25 juta ini menjadi jumlah minimal dalam perubahan pengambilan keputusan.

Ibarat kita anak kost nih, yang umumnya uang saku sebulan misal adalah satu juta. Suatu ketika kiriman kita tidak genap satu juta, misal cuma dikirim 990.000 rupiah. Kurang 10.000 nih, kalau anda adalah orang yang berbudi luhur dan punya kesabaran yang wajar, selisih angka 10.000 itu mungkin tidak jadi masalah buat anda. Anda kehilangan 10.000 tapi anda masih punya 990.000 rupiah. Angka 10.000 ini masih bisa ditolerir bagi keuangan pribadi anda. Kecuali kurangnya sebesar 100.000 rupiah, ini baru masuk kategori materialitas. Karena berkurangnya uang saku anda sebesar 100.000 mempengaruhi rencana belanja anda dalam satu bulan kedepan. Sudah paham.

Rumus yang dikasih bapak Alwi dalam menghitung materialitas adalah, 5% buat perusahaan publik, dan buat perusahaan non-publik bisa sampai 10%. Jadi kalau piutangnya ada 100 juta, jadi batas materialitasnya adalah 5% dari 100 juta, yaitu lima juta. Kesalahan pencatatan masih di bawah lima juta ini masih bisa diampuni.

Bagaimana dengan kesalahan pencatatan hingga 25 juta tadi? Sebagai perusahaan publik, hal tersebut berarti sudah memasuki materialitas, karena angka 25 juta ini dapat mempengaruhi pengambilan keputusan secara signifikan. Angka 25 juta ini dapat mengindikasikan terjadinya kecurangan di dalam perusahaan, yang dalam bahasa keren auditnya yaitu fraud (Materi fraud ini tidak bakal saya jelaskan di tulisan ini karena bakal jauh keluar dari topik). Kalau ada indikasi kecurangan, maka audit akan melakukan prosedur untuk menemukan penyebab kecurangan tersebut, dan seterusnya. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh, soalnya kalau saya lanjutkan bisa jadi satu buku. Panjang. Terima kasih sudah menyimak, semoga ilmu ini bermanfaat :D

*Ridwan Gunawan, seorang mahasiswa Akuntansi 2007 yang bercita-cita menjadi seorang CEO terbaik di dunia

Rabu, 04 Mei 2011

Antara Zubairism dan Soniism


Oleh: Titoeyt Cherry

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kedua dosen saya yang luar biasa yaitu Prof. Zubair Hasan salah satu pengajar senior di INCEIF (Malaysia) dan Pak Revrisond Baswir salah satu pengajar senior di FEB UGM. Mahasiswa FEB UGM khususnya para aktivis kenal sekali dengan Pak Revrisond Baswir. Beliau merupakan asisten dosen di jaman Pak Mubyarto yang berusaha menghidupi konsep ekonomi pancasila dengan mengubah menjadi konsep ekonomi kerakyatan (saya kebalik nggak ya?). Saya termasuk mahasiswa yang ngefans dengan Pak Soni, panggilan akrab beliau, karena pemikiran beliau yang amat kritis mengenai pemerintahan di Indonesia, utang dan korupsi. Meski terkadang konsepnya menjadi tidak populer, tetapi saya tetap ngefans beliau.

Bahkan, ketika saya mau mendaftar jadi staf junior di FEB UGM, saya meminta beliau untuk memberikan rekomendasi untuk memenuhi persyaratan administrasi tetapi dengan rendah hati beliau malah menelpon saya dan mengatakan beliau mendukung seratus persen tetapi tidak bisa memberikan rekomendasi mengingat beliau khawatir jika rekomendasi datang dari Pak Soni saya akan ditolak mentah-mentah sama FEB UGM.

Akhir cerita saya diterima di FEB dan terkadang saya mengirim email untuk berkonsultasi mengenai pilihan bidang kuliah master. Anti kapitalis! Itulah sikap Pak Soni tetapi Pak Soni setidaknya termasuk segelintir tokoh di Indonesia yang mau speak up dan tidak nunat nunut alias apa saja manut sama pemilik modal dari negara Paman Sam.

Begitu saya kuliah mengambil master program di International Centre of Education in Islamic Finance, saya lebih terkejut lagi. Rupanya di dunia ini ada orang yang jauh-jauh lebih anti kapitalis dari Pak Soni dan orang itu adalah dosen saya yaitu Prof. Zubair Hasan. Laki-laki India yang sudah berumur 79 tahun dengan perawakan fisik seperti albino itulah Prof. Zubair Hasan. Beliau tidak hanya pengajar senior tetapi beliau juga great scholar.

Konsep yang beliau bawa untuk menentang kapitalisme jelas yaitu ekonomi Islam. Begitu bencinya beliau dengan kapitalisme, ketika hari Valentine tiba dan beliau menerima kartu ucapan dari beberapa perusahaan kepada beliau, yang beliau lakukan bukannya senang atau sekedar menyimpan kartu ucapan itu malahan beliau menelpon balik perusahaan yang mengirimnya dan memaki si pengirim untuk semua nonsense ini. Valentine hanyalah ritual demi menghidupi bisnis coklat, bunga dan kartu ucapan, setidaknya semua orang tahu itu meski pura-pura atau tidak mau tahu.

Menentang kapitalisme bukan berarti menolak sistem yang sudah ada, tetapi kita harus memodifikasi sistem yang ada sesuai dengan faith dan worldview kita, itu sikap yang ditunjukkan Prof. Zubair Hasan. Kita tidak bisa menafikan sistem kapitalisme yang sudah mengglobal semenjak kejatuhan sosialis komunisme. Dan, sekarang sebenarnya ekonomi Islam diharapkan untuk menjadi primadona menjawab permasalahan yang tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh kapitalisme yaitu kemiskinan, inequality dan upaya pemerataan ekonomi.

Mengapa? Karena kapitalisme sebenarnya juga sebuah agama sama seperti Islam, Nasrani dan Yahudi. Kapitalisme adalah sebuah agama? Mungkin teman-teman ekonomi akan terkejut membaca tulisan saya ini, karena bertahun-tahun anak ekonomi khususnya akuntansi selalu dijejali pemikiran bahwa kapitalisme dengan sistem ekonominya bersifat netral. Yah, kapitalisme adalah sebuah keyakinan dan agama yang dibawa yaitu mengenai role of market atau peran dari pasar. Begitu kuatnya keyakinan ini, apapun yang terjadi di bumi ini tidak boleh menentang dari kerja atau mekanisme pasar, inilah doktrin yang dibawa pekerja berkerah putih dari IMF, World Bank dan Mafia mereka di seluruh dunia.

Lihat bagaimana sekutu bersama Amerika menyerang Libya, apakah mereka mengirim tentara demi rakyat Libya untuk merdeka dari Khadafi? Tentu tidak, CNN secara gamblang menganalisis motivasi negara-negara sekutu ini melakukan perang yang harga peralatan perang mereka mulai dari rudal dan pesawat tempurnya bisa jutaan dollar rupiah dan jawabannya bukan sekedar minyak di Libya. Minyak di Libya mengalami penurunan produksi dari jutaan barel per hari menjadi 400.000 barel per hari.

Lalu apa yang membuat sekutu lupa diri? Rupanya, mayoritas perusahaan asing yang bekerja sama entah minyak atau pertambangan di Libya bukan perusahaan Amerika atau perusahaan negara-negara barat melainkan perusahaan Cina. Mereka menggempur habis-habisan Khadafi demi mendapatkan proyek pertambangan di Libya.

Kisah ini mungkin tidak begitu jauh berbeda dengan Saddam Husein di Irak. Tidak ada alasan lain yang membuat Amerika menggempur habis-habisan dan menghabisi nyawa ratusan ribu penduduk sipil (top secret tapi sudah terkuak) karena perang mata uang dan minyak. Tidak ada teman abadi atau musuh abadi bagi kapitalisme. Saddam Husein membantu negara-negara Eropa bersatu dan menjadi kuat dengan menjual minyaknya dalam mata uang Euro yang pada saat itu Euro tidak berarti hanya beberapa sen saja. Saddam melakukan ini bukan karena baik hati kepada negara eropa tetapi muak dengan hegemoni Paman Sam yang utangnya terbesar di dunia dan seenak bodongnya mencetak dollar dan membawa ke berbagai negara dengan mengatakan ini uang. Singkat cerita, Saddam Husein ingin melemahkan dollar dengan caranya dan tentu Amerika tidak bisa terima ini.

Kembali ke kapitalisme tidak bisa menjawab permasalahan dunia. Kisah tentang Libya dan Irak hanya ingin sedikit menggambarkan sifat kapitalisme yang amat eksploitatif dan menghalalkan segala cara. Kapitalisme tidak akan bisa menjawab permasalahan kemiskinan dan tidak meratanya ekonomi di dunia dan rusaknya alam karena sifat dasarnya memang mengeksploitasi atau greedy. Kesenjangan atara miskin dan kaya yang semakin lebar, dan inequality di seluruh dunia (Human Development Report, 2010) sengaja dibiarkan.

Tetapi, tenang saja. Selama kita nunat nunut saja kepada pemilik modal Paman Sam, tentu kita tidak akan pernah digempur Paman Sam karena kita membiarkan ekonomi kita dirampas oleh mereka tiap detiknya. Baik Soniism dan Zubairism merupakan motivasi bahwa masih ada manusia-manusia yang pemikirannya tidak terkorup oleh kapitalisme dan saya bangga dengan mereka. Wallahu alam.